Film Bioskop “I Leave My Heart in Lebanon – Garuda 23”

Angkat Kisah Pasukan Perdamaian

Setelah meraih sukses lewat film “Toba Dream”, rumah produksi T.B. Silalahi Pictures, kembali mewujudkan proyek film layar lebar berjudul “I Leave My Heart In Lebanon – Garuda 23”. Film ini boleh dikatakan sebagai film nasional pertama yang mengangkat kisah tentang seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengemban tugas dalam misi menjaga perdamaian di daerah konflik Lebanon.

film2Film tersebut telah melakukan syuting perdana, Jumat (29/7/2016) di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Benni Setiawan dipercaya sebagai sutradara. Selanjutnya syuting film dilakukan di Indonesia dan Lebanon.

Sebelum melakukan proses syuting, secara simbolis Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyematkan baret biru muda kepada Rio Dewanto. Suami Atiqah Hasiholan itulah yang akan memerankan Kapten Satria, tokoh utama.

“Sejak tahun 1957 sampai dengan tahun 2015, TNI selalu terbaik dari semua negara yang bertugas dalam Misi Perdamaian Dunia PBB, untuk mewujudkan perdamaian berdasarkan kemanusiaan dan keadilan.” Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, usai melaksanakan syuting perdana, di Ruang VIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

“Tentara Nasional Indonesia terbaik karena bekerja dengan hati, selalu berusaha merebut hati dan pikiran masyarakat di manapun prajurit bertugas,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan, bahwa sebelum melaksanakan penugasan dalam misi PBB di negara orang, prajurit TNI selalu mendapat briefing mengenai tugas dan tanggung jawabnya BUDAYAtidak sama dengan di Indonesia.

Menurut Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, bahwa dari 124 negara dalam Misi Perdamaian PBB, sekarang TNI menempati rangking ke-10 dalam kontribusi pengiriman pasukan.
“Kita berambisi untuk menjadi lima besar negara pengiriman pasukan, hal ini dilakukan dengan mengirimkan 4.000 peacekeepers,” ujarnya.

Terkait Film “I Leave My Heart In Lebanon”, Panglima TNI mengucapkan terima kasih kepada TB Silalahi Center yang telah bekerjasama dengan TNI membuat film ini, yang terinspirasi dari true story penugasan prajurit yang tergabung dalam Kontingen Garuda 23.
Panglima TNI juga menuturkan bahwa film ini semuanya dibuat dengan sangat teliti, sangat profesional dan diawaki oleh Aktor dan Aktris ternama serta Sutradara Profesional Benni Setiawan.

“Syuting film ini dilakukan di Indonesia dan di Lebanon, ini merupakan film kolosal,” ucapnya.

“Kalau Anda sebagai Warga Negara BUDAYAIndonesia yang bangga terhadap negaramu, tontonlah film ini, pasti akan meningkatkan kebanggaan,” demikian pesan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Sementa itu, dalam konferensi pers di Kampoeng Bangka, Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/6/2016), T.B. Silalahi menceritakan bahwa ide produksi film tersebut berawal ketika dia berbincang dengan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

“Ketika itu Panglima TNI menghampiri saya, dia meminta bikinlah film tentang pasukan TNI yang ada di dunia. Selama ini kan kita hanya melihat prestasi TNI yang hanya di dalam negeri saja,” ujar TB Silalahi.

Menurut TB Silalahi, film ini tidak hanya menggambarkan kegiatan TNI secara teknis, tapi juga ada sisi humanismenya.

“Kalau film ini hanya menggambarkan kegiatan TNI secara teknis, film dokumenter jadinya, maka dari itu kita juga angkat ada sisi humanismenya. Kisah perkenalan Kapten Satria yang diperankan Rio Dewanto dengan Rania yang diperankan artis dari Lebanon bernama Jowy Khoury,” tuturnya.

T.B. Silalahi mengatakan, film yang disutradarai oleh Benni Setiawan itu akan melibatkan personel TNI dengan persenjataan lengkap.

“Film ini dibantu oleh TNI dengan fasilitas TNI dan personel TNI. Satu hal yang surprise dan tidak pernah terjadi di film Indonesia. Dan,saya tegaskan bahwa film ini tidak dibiayai oleh TNI, tapi fasilitas didukung TNI. Fasilitas yang diberikan TNI sangat luar biasa,” papar mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI itu.

Zairin Zein selaku produser, mengatakan film ini tidak melulu menampilkan tentang senjata dan tentara.

“Film tentang kemanusiaan, human. Ada kisah cinta juga, seorang TNI yang jatuh cinta pada gadis Lebanon, yang memang cantik-cantik,” ungkap Zairin.

T.B. Silalahi bersama timnya memilih Lebanon sebagai negara yang akan diceritakan. Dia ikut serta melakukan riset ke Lebanon yang dimulai pada Desember 2015. Dalam misi perdamaian, pasukan Garuda 23 tidak hanya memberikan pengamanan untuk daerah konflik, tetapi juga memberikan perhatian sosial kepada masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.

Persiapan dari para pemain sudah dilakukan sekitar satu setengah bulan lamanya. Selain reading skenario, para pemain melakukan latihan fisik layaknya tentara.

Film itu dibintangi Rio Dewanto sebagai Kapten Satria, Jowy Khoury sebagai Rania, Yama Carlos sebagai Lettu Arga, Boris Bokir sebagai Serka Gulamo, Jajang Wildan sebagai Ujang, Revalina S. Temat sebagai Diah, Baim Wong sebagai Andri, Deddy Mizwar sebagai Ayah Diah, dan Tri Yudiman sebagaqi Ibunda Diah.

(Hardo Sukoyo)

This entry was posted in Layar Budaya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *