Film Bioskop “Lasjkar di Tapal Batas”

Kisah Tidjan dan Lasjkar Rakyat Bogor Melawan Belanda

Di tengah menggeliatnya dunia perfilman Indonesia saat ini, hampir setiap minggu, publik dihibur dengan berbagai film nasional yang tayang di jaringan bioskop di Indonesia. Di tengah menggeliatnya dunia perfilman Indonesia saat ini, hampir setiap minggu, publik dihibur dengan berbagai film nasional yang tayang di jaringan bioskop di Indonesia. Belanda pada masa Agresi Militer II Belanda atas Indonesia.

Menurut Letsman Tendy, Executive Producer Bidar Batavia Group, film perjuangan berlatar belakang sejarah tidak mudah untuk dapat diterima oleh masyarakat penyuka film Indonesia. Karena kebanyakan masyarakat Indonesia masih lebih memilih untuk menonton film-film komedi atau drama dan film-film buatan Hollywood. Untuk itulah, Lestman Tendy hanya mematok target yang realistis untuk jumlah penonton film “Lasjkar di Tapal Batas” di bioksop. Yakni hanya sebanyak 250 ribu penonton.

Karena pada prinsipnya, Lestman Tendy membuat film berdasarkan ‘mood’-nya. “Saya membuat film berdasarkan ‘mood’. Cukup 50 persen mood saya menyukai proposal yang diajukan. Baru saya akan memproduksinya,” tutur Letsman, dalam sebuah kesempatan.
Letsman Tendy yang terjun ke dunia BUDAYAfilm karena hobi itu menambahkan, “Saya memproduksi film tidak ingin terpengaruh oleh film-film yang sedang laris seperti sejumlah film komedi yang saat ini sedang laris dan film drama yang juga banyak diminati penonton”.

Keberanian Letsman mengambil langkah yang berbeda dari kebanyakan produser dan rumah produksi, patut diacungi jempol. Karena Letsman berani membuat film drama sejarah perjuangan bangsa Indonesia, di tengah maraknya sinetron dan film drama bertaburkan bintang remaja.

“Rasa nasionalime dan juga ingin menyampaikan fakta sejarah bahwa di wilayah Bogor pun pernah terjadi perjuangan melawan Belanda. Bogor pun memiliki seorang pejuang pemberani bernama Tidjan, pejuang yang terlupakan, yang sebagian besar warga pun mungkin belum pernah mendengar nama dan kisahnya,” tandas Lestman saat menjelaskan alasannya membuat film “Lasjkar Di Tapal Batas”.

Sinopsis
Film “Lasjkar di Tapal Batas” besutan sutradara Bayu Prayogo ini berkisah pada Eforia kemerdekaan tahun 1945, membuat rakyat Bogor marah ketika Belanda kembali ingin menjajah Indonesia. Banyak rakyat Bogor yang sukarela menjadi pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan negeri ini, dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang akhirnya disebut “Lasjkar Rakjat” (sipil bersenjata).

Salah-satunya adalah Tidjan (Gorz Kurniawan), pemuda yang lahir tahun 1930 itu turut prihatin dan membenci Belanda, ditambah dengan kejadian Rawagede, Karawang, pada akhir tahun 1947, di mana 400 lebih rakyat jelata dibantai oleh Belanda.

filmTidjan marah! Dia pun ikut bergabung dengan Lasjkar Rakjat bersama ketiga sahabat karibnya sejak kecil (Enim, Anau, dan Rais). Mereka bergabung dengan Lasjkar Rakjat yang dipimpin oleh Djulu. Aksi-aksi mereka sangat merugikan pihak Belanda. Di sisi lain, Tidjan merasa dilema karena orang tuanya dan kekasihnya yang bernama Nonon (Tere Gunawan) tidak mendukung kalau dia harus ikut bertempur.

Kisah ini dipadu pula dengan kehidupan zaman sekarang, di mana ada pemuda bernama Akbar (Arvin Ryan) yang juga mempunyai sifat yang sama dengan Tidjan (setia kawan, pemberani, dan jago beladiri). Namun sayang, dia suka berkelahi (tawuran). Suatu hari Akbar bertemu dengan Nonon Tua (Yati Surachman) yang banyak memberinya nasihat. Akbar sadar dan ingin menjadi orang yang berguna untuk bangsa seperti almarhum Tidjan.
Film “Lasjkar di Tapal Batas” dibintangi oleh Gorz Kurniawan, Pong Hardjatmo, Yati Surachman, Wita KDI, Tere Gunawan, dan Sonia Selvans. Film ini tayang di jaringan bioskop Indonesia Agustus 2016.

Data Film
Judul: Lasjkar di Tapal Batas
Genre: Drama Perang
Format: Hd Dcp
Durasi: 80 Menit
Tahun Produksi: 2015
Rumah Produksi: Pt Bidar Batavia Group
Executive Producer: Letsman Tendy
Sutradara: Bayu Prayogo
Hari Produksi: 90 Hari
Pemain:
Gorz Kurniawan sebagai Tidjan
Sonia Selvans sebagai Kokom Tere Gunawan sebagai Nonon
Arvin Ryan sebagai Akbar
Wita KDI sebagai Ntin
Yati Surachman sebagai Nonon Tua
Pong Hardjatmo sebagai Sya’inan
Syakir Daulay sebagai Tidjan Kecil
Pipit Pilus sebagai Juri.

(Hardo Sukoyo).

This entry was posted in Layar Budaya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *