Frans Laten, S.E., Ak. : Credit Union Sebagai Ideologi Ekonomi

Kepedulian Gereja Katolik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas awalnya dimulai dari program Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), salah satu bidangnya pemberdayaan kelompok masyarakat melalui Credit Union (CU), yang sering pula disebut Koperasi Kredit (Kopdit). Credit Union diambil dari bahasa Latin Credere yang artinya percaya dan Union berarti kumpulan. Maknanya, kumpulan orang yang saling percaya dalam satu ikatan pemersatu dan sepakat bekerja sama, menabung uang sehingga tercipta modal bersama, dipinjamkan kepada anggota untuk kegiatan produktif dan kesejahteraan.

Program pemberdayaan yang dimulai dari lingkungan Paroki pada awal tahun 1970-an itu kini telah menyebar dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Hasil nyata gerakan CU dalam mengentaskan kemiskinan dapat dilihat dari semakin banyaknya yang menjadi anggota. Dengan makin banyak orang bergabung ke CU berarti orang merasakan manfaat ber-CU. CU bukan semata-mata bisnis keuangan, tetapi sekolah kehidupan di mana anggota dituntut selalu solider, saling berbagi, bergotong-royong mewujudkan; Kesejahteraan yang berkeadilan. Data yang diperoleh dari Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), payung organisasi gerakan Credit Union di Indonesia, total CU primer tercatat 899 unit, dengan jumlah aset gerakan sebesar Rp27,721 triliun dan jumlah anggota individu 2.865.721 orang.

Dari hampir 3 juta orang yang menyatu dalam kebersamaan, dan ingin sejahtera melalui CU, kini bukan hanya umat Katolik, tetapi juga umat lain dari; Kristen Protestan, Islam, Hidu, Budha, dan Konghucu. Dalam perkembangannya, diperkirakan hampir 60% anggota CU bahkan umat non Katolik. Mereka pun berasal dari berbagai komunitas (petani, pedagang, buruh, karyawan, nelayan), golongan dan suku yang ada di Indonesia; Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Dayak, Bali, Flores, dan sebagainya.

General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Frans Laten, S.E., Ak. menyebutnya; Credit Union adalah ideologi, yang mampu menjadi pemersatu bangsa Indonesia. Dicontohkan, Credit Union Semangat Warga (CUSW), yang lahir dari lingkungan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur yang masuk dalam jejaring BKCU Kalimantan, 100% anggotanya umat Muslim. Credit Union Angudi Laras (CUAL), Purworejo, Jawa Tengah, didirikan oleh umat Kristen Jawa, anggotanya sebagian umat Muslim. Credit Union Microfimanfe (CUMI) Pelita Sejahtera, yang didirikan oleh umat Katolik Blok Q, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar 40% anggotanya juga umat Muslim. Di daerah lain pun banyak CU yang anggotanya sebagian besar justru bukan umat Katolik.

Ada contoh lain, kini dari luar negeri, Korea Selatan. Data statistik per Desember 2015, dari 15,1 juta penduduk Korea Selatan, 5,7 juta (31%) anggota CU. Tetapi dari 5,7 juta penduduk Korea Selatan anggota CU itu hanya 7% (399.000 orang) saja yang umat Katolik. Karena itu, tidak salah jika CU dikatakan sebagai ideologi ekonomi untuk menyejahterakan masyarakat luas, tanpa membedakan; kelompok, suku, ras, agama. Siapa pun yang mempunyai niat baik, solider, mau bekerja sama – gotong royong, dan ingin sejahtera bersama boleh menjadi anggota CU. Di Negara-negara Eropa, Amerika, juga Kanada CU merupakan lembaga perekonomian yang kokoh. Di Negara tetangga kita, Singapura, NTUC yang konon menguasai sekitar 60% perdagangan juga dibangun dari anggota CU.

“Di Indonesia, Credit Union sebagai ideologi untuk menyejahaterakan orang-orang miskin terus berkembang semakin pesat” kata Frans yang telah mengakhiri masa baktinya sebagai GM di BKCU Kalimantan, September 2017 karena memasuki masa pensiun. Posisinya digantikan rekan yuniornya Erowin, S.Hut. CU juga tidak boleh membatasi diri hanya sebagai pemberi pinjaman. Tujuan utama CU adalah mengontrol penggunaan uang memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang, dan memberdayakan mereka untuk mandiri. Itu pesan pendiri CU, Frederich William Raiffeisen, Walikota Flammersfield (1849), Jerman, mewanti-wanti kepada aktivis CU.

Ada dua misi sejati CU yang harus berjalan bersamaan. Misi ini harus menjadi roh penggerak dalam semua CU, yaitu misi ekonomi dan misi sosial. Misi ekonomi CU menjadi lembaga keuangan yang sehat, aman, dipercaya, dan menyejahterakan anggota. Misi sosial untuk menolong anggota meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat hidup layak, bermartabat, mandiri, dan bahagia.

Dalam perkembangannya, keseimbangan implementasi kedua misi tersebut belum berjalan sesuai yang dipesankan Raiffeisen. Pelaksanaan dan pencapaian misi ekonomi umumnya lebih dominan dibanding misi sosial sehingga CU mulai lebih fokus menjadi lembaga keuangan; belum menjadi lembaga pemberdayaan anggota. Menyadari kondisi tersebut, mulai tahun 2015, BKCU Kalimantan menyusun road map – peta jalan bagi 44 CU yang ada dalam koordinasinya.

Misi Puskopdit BKCU Kalimantan adalah; Memperkuat Gerakan Credit Union Melalui Tata Kelola yang Terintergrasi untuk Meningkatkan Kualitas Anggota Secara Berkelanjutan. Visinya; Menjadi Gerakan Credit Union Nusantara Berbasis Komunitas yang Terintegrasi, Tangguh, dan Berkelanjutan. Bagaimana CU mampu meningkatan kualitas anggota berbasis komunitas? CU yang ada dalam jejaring BKCU Kalimantan menuangkan misi pokok melalui program pemberdayaan anggota. Secara spesifik, pemberdayaan anggota dilakukan melalui pendampingan kelompok binaan.

Dalam banyak contoh, anggota yang diberdayakan memberikan dampak positif langsung bagi keberlanjutan lembaga, yakni lancarnya pengembalian pinjaman, bahkan dengan tingkat kelalaian nol persen. Simpanan anggota bertambah karena ada sumber penghasilan tambahan. Secara umum, dengan pemberdayaan, anggota mendapatkan manfaat maksimal. Menurut Frans, jika pemberdayaan kelompok binaan dan komunitas dampingan dilakukan terus menerus secara masif akan mengembalikan jatidiri CU sebagai lembaga pemberdayaan yang mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral, fisik anggota dan memandiri. Ini bukti bahwa Credit Unión merupakan ideologi ekonomi yang mampu menyejahterakan masyarakat.

Kualitas pertumbuhan CU harus dijaga agar mampu bertumbuh dan berkembang secara sehat dan aman sehingga mendorong keberadaannya secara terus-menerus. Penerapan tata kelola yang baik dan benar menjadi kunci bagi keberlanjutan CU. Penerapan manajemen risiko menjadi suatu keharusan sehingga berbagai risiko dapat terkelola dengan baik. Risiko tidak selalu menjadi ancaman bagi perkembangan CU, namun risiko yang terjadi tanpa disadari oleh pengelola dapat memberikan dampak negative. Ada CU yang masih berjuang keluar dari permasalahan yang terjadi karena terlambat menyadari masalah tersebut.

Untuk mengembangkan CU, kata Frans, tidak ada kata lain harus memampukan SDM melalui pendidikan dan pelatihan. Baik di jenjang manajerial umum, maupun hal-hal teknis yang menyangkut sikap dan segala macam. Intinya, dalam pelatihan selalu dikatakan; Jika kita ingin maju, harus punya komitmen bersama, tidak mungkin sendiri-sendiri. Segala sesuatu bisa diwujudkan dengan kerja keras secara bersama-sama.

Peran kaum muda yang sehat, enerjik, cerdas, dan kreatif sangat diperlukan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, juga pengembangan CU. Namun nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari tak dipungkiri banyak kekhawatiran yang timbul, terutama akibat perilaku hidup, pergaulan yang salah, dan akhirnya terjerumus dalam kehidupan yang kurang bermutu, seperti; narkoba, pergaulan tidak sehat, penggunaan teknologi yang keliru, miras dan lain sebagainya. Hal itu tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, juga menjadi perhatian gerakan CU Internasional. BKCU Kalimantan sangat mendukung gerakan Indonesia dan turut serta meningkatan kapasitas peran kaum muda; mendalami peran, mempersiapkan fisik dan mental kaum muda yang enerjik, kompeten, dan kreatif, mampu berkarya di masyarakat.

Untuk itu BKCU Kalimantan menyiapkan paket training khusus untuk aktivis kaum muda yang bertujuan mengajak aktivis menjadi leader bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, sehingga kelak mampu menjadi fasilitator dan motivator. Materi training, tentang jatidiri anak muda, tahap-tahap kehidupan, membedakan keinginan dengan kebutuhan, manusia pembelajar dan pemanfaatan teknologi yang benar, merintis wirausaha, kesehatan reproduksi dalam siklus hidup, dampak penyalahgunaan narkoba bagi anak muda dan kerjasama tim.

***

Frans Laten yang selalu berpenamilan sederhana, low profile – kalm, saat ini memang tidak lagi berada di jajaran eksektif BKCU Kalimantan. Karena peraturan lembaga, usia 55 tahun harus pensiun. Namun komitmennya untuk kesejahteraan masyarakat, terlebih bagi kelompok bawah, orang-orang miskin, dan terpinggirkan tidak pernah padam. “Pinginnya menjadi fasilitator CU saja. Mungkin tidak popular, tetapi beberapa hal yang dulu diajarkan sekarang sudah kurang diperhatikan. Itu yang harus ditebarkan lagi,” tegasnya. Membagikan ilmu kepada gerakan Credit Union hanyalah salah satu cara; Memberikan cahaya lilin dalam kegelapan – ikut menggarami dunia.

Cerita tentang cita-cita, Frans mengaku; awalnya ingin menjadi pastor, karena pamannya yang bungsu juga pastor. Setamat SMP sempat mendaftar ke Seminari, dan lulus tes. Dalam perjalan waktu yang sangat singkat, 1 bulan sebelum masuk sekolah, tiba-tiba berubah pikiran ingin jadi pegawai negeri. Ketika diajak teman menemui ayahnya yang pegawai pertanian – penyuluh lapangan, Frans ayuuk saja. Mendengar cerita ayah temannya tentang Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Pemerintah Daerah Kalimantan Barat (Kalbar), yang tidak berbayar, bahkan jika praktik malah dapat uang saku, Frans tertarik. Apalagi orang tua memang kurang begitu mampu membiayai sekolah di Seminari. Bangga menjadi pegawai negeri berseragam dengan berbagai atribut, tawaran mendaftar ke SPMA diterima dengan senang hati. Bahkan 4 teman lainnya juga mendaftar, dan lulus tes.

Jalan hidup Tuhan-lah yang menentukan. Gagal menjadi pegawai negeri, Frans berkarya di PSE Keuskupan Agung Pontianak. Di sinilah titik awal berkenalan dengan gerakan Credit Union. Itu pun tanpa disengaja. Tahun 1983, Frans diutus PSE untuk mengikuti pelatihan kader tani di Ungaran, Jawa Tengah. Materi utama dalam pelatihan itu tentang Pertanian dan Pemerintahan Desa. Ilmunya, bagaimana menata desa agar desa itu bisa memberikan harapan kebahagiaan kepada masyarakat melalui metode pertanian terpadu. Salah satu materi yang dibicarakan sehari dalam pelatihan adalah tentang CU.

Frans mengaku, senang ikut pelatihan pertanian karena ilmu yang diperoleh dari SPMA bertambah. Pelatihan diarahkan khusus bidang ekonomi sosial kemasyarakatan. Karena itu peserta diajak melihat masyarakat yang kondisi ekonominya pas-pasan, bahkan lebih ke bawah lagi, orang-orang miskin yang tidak mendapatkan perhatian dari lembaga – pemerintah agar mereka bisa keluar dari kungkungan kemiskinan. Dari situ akhirnya tampak, mereka yang hidup berkekurangan membutuhkan fasilitasi gerakan perekonomian, khususnya CU. Namun selesai pelatihan, ilmu CU tidak dipraktikkan secara khusus. Frans diarahkan membentuk kelompok-kelompok tani sekaligus melakukan pendampingan.

Ketika mengikuti training ke-2 waktunya cukup lama, 1982 – 1983. Kegiatan kali ini diselenggarakan oleh Yayasan Mulia, pelaksana program Komisi PSE Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam rangka mencetak kader pimpinan PSE Keuskupan, agar jika Ketua PSE pensiun – berhenti ada penggantinya. Pelatihannya keliling dari Jogya, Semarang, Lumajang, dan Palembang. Selain proses pembelajaran, juga pengenalan bentuk-bentuk kemiskinan masyarakat dari satu daerah ke daerah lain seperti apa, solusinya bagaimana, dan fasilitasi yang perlu diberikan apa saja. Salah satu materi yang dipelajari lagi-lagi tentang CU. Karena dua kali ikut pelatihan tentang CU, dan menarik, Frans sangat berharap di Keuskupan Aggung Pontianak ada CU baru untuk memandirikan dan menyejahterakan orang-orang miskin dan tertinggal di Kalbar.

Harapan Frans menjadi kenyataan, ketika Pius Alfred ketua PSE Keuskupan Agung Pontianak berkeinginan membentuk Lembaga Keuangan Masyarakat Pedesaan. Maka tahun 1985 dikumpulkanlah cendekiawan muda Katolik, termasuk dari kalangan akademisi – mahasiswa dan diundang falitator dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I), sekarang Inkopdit, untuk memberikan pelatihan tentang Credit Union. Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari pada bulan April 1985, difasilitatori oleh H. Woerjanto dan Theodorus Trisna Ansarli. Pelatihan dasar sampai pembukuan sederhana pun diajarkan.

Dari kursus dasar itu, pada 12 Mei 1985 melahirkan Credit Union Khatulistiwa Bakti (CUKB) Pontianak, yang anggotanya dari para peserta pelatihan. Menurut Frans, yang masuk dalam jajaran pengurus sebagai bendahara, pembentukan CUKB yang sering disebut CU Laboratorium, tidak serta merta seusai pelatihan, namun ada jeda waktu 1 – 2 minggu. “Alasannya, orang habis pelatihan biasanya semangatnya tinggi, dan mudah mengatakan; Iya…. iya, tetapi setelah dibentuk mereka tidak menyadari ternyata tidak cocok,” jelas Frans.

Sebagai pengurus – bendahara, Frans harus mempersiapkan berbagai keperluan lembaga mulai dari nol (0), termasuk merekrut calon staf. Sementara dia sendiri juga masih berstatus sebagai karyawan PSE. Dua orang karyawan awal di CUKB adalah Serapina, dan Jhon. Karena Serapina yang kini menjadi salah satu karyawan inti di BKCU Kalimantan itu lulusan SMEA, dia cepat menyesuiakan diri dengan pekerjaan adminstrasi, tata buku, dan hitung-menghitung. Tugas-tugasnya dikerjakan dengan baik. Lantaran CUKB dilahirkan oleh PSE, maka, merupakan bagian dari pelayanan, karya, dan program yang harus disupport oleh PSE. Termasuk honor staf pun masih dari PSE.

Setelah CUKB cukup bagus dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan bidang lain di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) masih banyak pekerjaan, maka pelayanan teknis oleh Frans diserahkan sepenuhnya kepada staf, agar mereka lebih konsentrasi kerja. Sebagai pengurus – bendahara, Frans tetap mengawasi jangan sampai kegiatan CUKB menjadi hancur seperti CU-CU sebelumnya. Sebagai karyawan PSE, tugas Frans menangani pekerjaan di luar CU, utamanya memfasilitasi perekonomian dan model usaha tani yang dilakukan kelompok-kempok binaan yang dibentuk oleh PSE. Bahkan, setelah tidak lagi di PSE (1993) dan bergabung dengan LSM lain, punya tanggung jawab mendampingi 30-an Kelompok Usaha Bersama (KUB), dengan kegiatan utama pemberdayaan, simpan pinjam, dan memperbaiki pola pikir. Fokus wilayah kerjanya di daerah transmigrasi.

Sebagai CU Laboratorium, sekaligus merupakan CU perdana pada fase kedua CU di Kalbar, CUKB menjadi tempat belajar dan praktik bagi mereka yang akan mendirikan CU, atau sejumlah CU yang ingin mengembangkan lembaganya. Bahkan koperasi simpan pinjam (KSP) pun, seperti KSP Kodanua, Jakarta juga pernah melakukan study banding ke CUKB. Banyak pula instansi pemerintah, Dinas Koperasi, lembaga swasta, dan perguruan tinggi berkunjung untuk menimba ilmu dari CUKB.

Fase pertama gerakan Credit Union di Kalbar (1976 – 1985), banyak CU bermunculan. Tetapi, kata Frans, usianya tidak panjang, mati pun tak diketahui di mana kuburnya. CU Lantang Tipo yang didirikan pada 2 Februari 1976 yang kini menjadi CU terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota per Desember 2016 sebanyak 182.587 orang dan aset sebesar Rp2,591 triliun, merupakan satu-satunya CU yang mampu bertahan. CU Lantang Tipo yang berkantor pusat di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalbar, telah memiliki 50 kantor cabang yang tersebar di seluruh Kalbar.

Seiring perjalanan waktu, CUKB yang saat ini diketuai DR. Sesilia Seli, M.Pd., yang tidak lain adalah isteri Frans Laten, terus berkembang, dan kini berada di urutan ke-6 dari 10 besar nasional, atau urutan pertama dalam jejaring BKCU Kalimantan dengan total anggota per Desember 2016 sebanyak 51.637 orang dan kekayaan Rp564,385 miliar. Banyak yang berpendapat, tidak cukup banyak pasangan aktivis (suami isteri) yang dalam waktu bersamaan menjadi nakhoda, tetapi berbeda lembaga, Frans di BKCU Kalimantan (sekunder), Sesilia Seli di CUKB (primer), tetapi keduanya meraih sukses. BKCU Kalimantan merupakan Puskopdit terbesar di Indonesia, dan CUKB juga masuk 10 besar nasional, dan terus mempersiapkan diri dengan tata kelola yang lebih baik guna meraih access branding ACCU, predikat yang didambakan setiap CU di Asia.

***

Pelatihan-pelatihan yang diprakarsai oleh PSE melahirkan beberapa CU lainnya di Kalbar, termasuk CU Pancur Kasih (1987) yang didirikan oleh Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Karena sudah berdiri lebih dari 3 CU, maka diperlukan suatu badan yang mengurusi dan mengkoordinir CU di Kalbar. Kemudian terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalbar (BK3D) yang diketuai oleh A.R. Mecer. Sejak saat itu CU mulai berkembang pesat di Kalbar. Banyak CU yang lahir berkat pemberdayaan dan fasilitasi BK3D Kalimantan Barat, yang kemudian menjadi BKCU Kalimantan.

Awal tahun 2000-an merupakan tonggak sejarah baru bagi BKCU Kalimantan, di mana prinsip dan filosofi Credit Union diterapkan dengan konsisten sesuai dengan situasi dan kondisi lokal. Karena CU di Kalbar memiliki kekhasan tersendiri, sehingga CU di wilayah ini disebut leading factor perkembangan CU di Indonesia. Kemudian orang mengenal CU di Kalbar sebagai laboraturium perekonomian berbasis kerakyatan. Tidak heran jika kemudian banyak orang dari dalam dan luar negeri mempelajari – study banding tentang konsep CU di Kalbar. Dan banyak dari mereka minta difasilitasi agar BKCU Kalimantan mendukung pendirian CU di wilayahnya. Satu persatu di luar Kalbar berdiri, dan terus berkembang dengan konsep khas Kalimatan Barat. Dimulai dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan permintaan terus mengalir sampai Papua, NTT, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera, dan Riau.

CU tak boleh mati, kata Frans, merupakan statemen yang harus diwujudnyatakan. Sebagai idelolgi, dan karena kondisi koperasi waktu itu kurang begitu bagus, maka dalam berpromosi tidak menggunakan nama koperasi, namun konsisten menggunakan nama Credit Union. Ketergantungan kepada pihak lain, tak boleh dilakukan karena yang lain itu keberadaannya juga terbatas. Kita harus membangun perekonomian secara bersama, diawali dari individu-individu. Dan tidak boleh berharap banyak dari pihak mana pun. Lebih-lebih dari pihak pemerintah yang kemampuannya juga terbatas. Sedangkan masyarakat yang harus diperhatikan sangat banyak.

Keterbatasan lembaga-lembaga lain harus menjadi pemacu untuk memperbaiki kehidupan kita masing-masing. Jika perekonomian keluarga sudah mulai membaik, dan tertata, baru kemudian membantu yang lain. Omong kosong kalau kita membantu orang lain, sementara diri sendiri belum pada posisi yang mampu membantu. Bila hal itu terjadi, pasti gerakan itu menjadi semu.

Meski Frans telah pensiun sebagai karyawan, namun sebagai aktivis tidak akan mau berhenti. Yang ada dalam pikirannya, ingin selalu mengumandangkan kesiagaan kepada gerakan agar tidak terjadi guncangan – pengaruh dari luar. Sebenarnya, kata dia, kalau dibilang pengaruh luar, juga tidak sepenuhnya dari luar, dari dalam pun ada. Artinya, kondisi SDM dan pimpinan yang ada di CU harus dijaga terus agar mampu menyaring informasi ilmu yang sepintas dilihat modern, tetapi jika salah langkah justru akan bisa menghancurkan.

Dicontohkan, walau diakui tidak 100% benar, awalnya orang pinjam tidak ada jaminan. Kini, secara tidak disadari banyak CU terpengaruh dengan dunia perbankan. Jika ada anggota yang pinjam, misalnya, staf yang menangani tidak terlalu tahu karakteristik anggota yang meminjam, maka ketika pinjam melebihi plafon harus ada jaminan tambahan. Mereka mengukur dari nilai jaminan, bukan dari karakter anggota tersebut. Karena itu, pola demikian praktik yang mulai agak miring. “Boleh mengikuti modernisasi teknologi, ilmu pengetahuan, dan manajerial yang terus berkembang, tetapi harus dikaitkan dengan filosofi dan nilai-nilai dasar dari pembentukan sebuah CU, yaitu; pemberdayaan masyarakat, menolong mereka yang tidak mampu, orang-orang kecil, miskin,” tegasnya.

Bisa saja manajemen tidak mau mengambil risiko terjadi kredit lalai, sehingga harus ada pengamanan. Cara berpikir seperti itu tidak salah. Pertanyaannya, kata Frans, kalau diteliti lebih jauh, yang macet-macet ada jaminannya, apa bisa dijual dengan mudah? Ada kemungkinan, nilai jaminan yang diberikan oleh anggota juga lebih kecil dari nilai pinjaman. Diduga, walau diakui harus dikaji ulang, pinjaman lalai juga tidak terlalu menjadi beban berat bagi staf – pengurus. Buktinya, walau utang belum dibayar, menyalurkan pinjaman tetap lancar. Bila dapat tabungan dari orang-orang kaya, ketersediaan modal – ketersediaan simpan cukup besar untuk memenuhi pinjaman anggota yang membutuhkan. Jika terjadi macet, biasanya analisis rasio dan persyaratan-persyaratan tidak dipatuhi. Akibatnya mulai kelimpungan.

Saat ini anggota ada yang punya simpanan sampai miliaran, sementara dia tidak pinjam. Artinya, tidak punya kontribusi kepada lembaga. Sementara dia mendapatkan jasa atas simpanan tersebut. Ini tidak ada perimbangan. Anggota yang berpikir menabung saja, memang belum ada 10%. Tetapi jika tabungannya sampai ratusan juta atau miliar, tetap menjadi persoalan. Mereka hanya ingin mendapatkan jasa lebih besar daripada menyimpan di bank. Pada umumnya mereka bukan pengurus, bahkan bukan aktivis CU.

Persoalan yang sekarang lagi ngetrend di kalangan pengelola bisnis keuangan, di samping masalah non performance loan (NPL) di antaranya idle money – uang yang belum digunakan, seperti uang tunai yang tersimpan dalam peti. Dana nganggur terbentuk setelah terpenuhi seluruh keperluan harian, kebutuhan anggota, termasuk asuransi, dana darurat dan sebagainya. Agar tidak terjadi uang mengendap, menerima simpan besar harus diimbangi dengan kemampuan memasarkan. Pengelola CU kadang hanya bangga melihat simpanan besar, namun kurang membuat analisis rasio-rasio, dan tidak inovatif mengelola dana. Hal seperti itu seharusnya bisa direm.

Dalam konteks ilmu modern – orang perbankan tidak masalah. Mereka lebih senang jika yang pinjam itu besar-besar. Karena secara administratif dan operasional, ngurus yang kecil-kecil dengan yang besar persyaratannya sama. Hitungannya, yang besar akan dapat besar, yang kecil akan dapat kecil. Sama capeknya, tetapi dapatnya beda. Namun, filosofi CU harus menolong yang kecil-kecil. Jika pun mereka wiraswasta kelasnya juga masih usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). “Kondisi sekarang, kebanyakan tenaga muda, yang berfikir dan bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari bangku kuliah. Daya dorongnya untuk melihat masyarakat sekitar boleh dibilang kurang,” jelas Frans.

Karenanya, lanjut dia, harus dijaga. Sekarang mulai disadari, dan sudah ada yang mengerem, menerima dalam jumlah besar. Terutama dari anggota yang tidak mau pinjam. Di CU banyak produk simpanan; ada simpanan saham (simpanan pokok), simpanan sukarela, simpanan pendidikan, simpanan perumahan, simpanan harian, simpanan unggulan, dan sebagainya. Produk unggulan itulah yang mereka kejar karena jasanya memang cukup besar. Di beberapa CU sudah ada yang mulai membatasi setoran dalam jumlah besar. Misalnya, dalam 1 bulan hanya boleh menyimpan maksimal Rp20 juta. Kalaupun punya uang Rp50 juta, tidak bisa simpan sekaligus. Preventifnya, semua harus sama-sama patuh terhadap peraturan CU, karena peraturan itu dibuat secara bersama-sama yang dinaungi oleh BKCU Kalimantan.

Kalau kembali ke awal-awal CU, sebenarnya diarahkan ke hal-hal sederhana yang membuat anggota dalam kebersamaan cukup tinggi. Memberikan jasa agak tinggi karena ada persaingan kurang bagus. Bila sesama CU menganut aturan yang sudah ada tidak masalah. Namun, jika tidak dipatuhi, ini yang repot. Misalnya, BKCU sudah melakukan audit, monitoring, dan evaluasi, serta pendampingan. Tetapi rekomendasi yang diberikan kurang dipraktikkan dengan maksimal. “Itu yang saya katakan, apa yang dibuat CU bersama-sama BKCU Kalimantan, kepatuhan operasional – pelaksanaannya masih belum maksimal,” jelas Frans.

Saat ini, lanjut dia, tuntutan anggota sebagian besar agar bunga pinjaman turun akibat kebijakan pemerintah terkait dengan suku bunga pinjaman usaha kredit rakyat (KUR) yang terus diturunkan dari 22% per tahun menjadi 12% kemudian turun lagi menjadi 9% per tahun. Menurut Frans, sebenarnya tidak ada masalah. Kini mulai dianalisis, angka yang layak berapa. Yang harus diperhatikan jangan hanya melihat pinjamannya saja, simpanan pun harus dilihat. Singkatnya, jika suku bunga pinjaman diturunkan, jasa tabungan juga harus diturunkan. Kalau bunga pinjaman turun, tetapi jasa simpanan tinggi, tidak imbang. “Bila mengikuti pasar, dua-duanya harus imbang,” tegasnya.

Suku bunga KUR sebenarnya bukan 9%, tetapi bila dikalkulasi bisa 11%. Sebab, bank memberikan biaya-biaya lain, sementara di CU tidak ada biaya. Yang pasti, bank mengasuransikan pinjaman atas nasabah. Artinya, bank mengeluarkan biaya asuransi yang juga dibebankan kepada nasabah. Sedangkan di CU semua menjadi tanggungan lembaga, dan semua terbuka. Dan jasa simpanan di CU pun tetap masih di atas pasar. Artinya, masih lebih tinggi daripada bunga simpanan di bank. (d marjono)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *