Gabriel Pito. Sorowutun,S.Ak – Demi Pelayanan & Belajar Koperasi “Rela Tak Digaji”

Ibarat sebuah kapal induk, yang membawa puluhan pesawat tempur, ratusan tank dan kendaraan lapis baja, juga jutaan ton logistik, ribuan pasukan serta anak buah kapal (ABK), membutuhkan seorang komandan yang bijak dan taktis mengatur strategi, berani ambil keputusan penuh resiko. Nahkoda pun harus lincah mengemudikan kapal raksasa mengarungi lautan luas dengan gunung-gunung karang yang membahayakan. Agar pelayaran aman dari kemungkinan serangan musuh, harus pula dikawal dengan kapal-kapal tempur modern nan canggih.

Itulah gambaran Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air yang dalam Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) oleh Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), secara keanggotaan diposisikan diurutan pertama nasional dengan jumlah anggota per 31 Desember 2019 sebanyak 231477 orang dan aset Rp 1,168 triliun lebih. Panglima sebagai pengambil kebijakan dituntut berfikir taktis, kreatif dan inovatif,  bijak adalah Yokobus Jano. Sedangkan nahkoda – pengemudi kapal induk Gabriel Pito Sorowutun. ABK-nya seluruh staf manajemen yang di masing-masing kantor cabang, cabang pembantu dikomandani oleh manajer, diperkuat pimpinan komite.

Yang buta bisa melihat, yang lumpuh bisa berjalan. Sebuah kalimat yang menimbulkan pertanyaan besar. “Kok bisa?” Bagi umat Kristiani, kalimat tersebut tidak asing, karena tertulis dalam kitab suci, Injil. Mungkin saja ada yang tidak pernah baca, namun setidaknya pernah dengar karena sering disampaikan oleh Pastor atau Pendeta dalam homily Misa – Kebaktian. Itulah yang menjadi Visi Misi Kopdit Pintu Air, sebuah lembaga perekonomian yang didirikan oleh orang-orang kampung, Dusun Rotat, Desa Lodagahar, Kec. Nita, di lereng gunung Kimang Buleng, kurang lebih 30 Km dari Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, bukan semata-mata cacat fisik. Matanya tidak bisa melihat, atau kakinya yang lumpuh. “Orang bodoh tidak sekolah, tidak bisa baca – tulis, mereka bisa dikatakan buta – lumpuh, dan miskin. Kewajiban kita, harus menggendong yang lumpuh dan menuntun yang buta supaya bisa jalan. Artinya, yang waras dan punya ilmu harus menolong, menuntun, menggendong, mengentaskan dari kebodohan dan kemiskinan” urai Jano Ketua Kopdit Pintu Air menjelaskan kepada Majalah UKM, di ruang kerja kantor pusat nan megah, di Dusun Rotat.

Implementasinya, lanjut dia, siapa pun boleh menjadi anggota Kopdit Pintu Air. Tidak ada seleksi, juga tak ada berbagai persyaratan seperti koperasi lain. “Orang gila pun boleh jadi anggota Kopdit Pintu Air,” kata Jano serius. “Juga tidak ada pembatasan usia. Yang penting ada umur – hidup. Karena hidup matinya seseorang hanya Tuhan yang tahu,” kata General Manager (GM) Gabriel yang bergabung dengan Kopdit Pintu Air sejak tahun-tahun awal, (1997). Jiwa koperasi, kata Jano, adalah gotong-royong, kebersamaan, saling membantu. “Artinya, yang lumpuh harus digendong, yang buta dituntun. Kamu susah aku bantu, aku susah kamu bantu,” tegas Jakub.

Karena tidak ada seleksi, sambung Gabriel, yang semula hanya ingin belajar tetang perkoperasian, khususnya Koperasi Kredit – Credit Union (CU) maka banyak masyarakat yang tertarik ingin menjadi anggota Kopdit Pintu Air. Karena banyak anggota yang belum paham, apa tujuan menjadi anggota koperasi, selain pinjam uang dan ingin mendapat pelayanan jika mengalami kesulita, sakit, misalnya, tugas pengurus dan manajemen adalah melaksanakan pendidikan agar anggota memahami visi misi lembaga.

“Semua anggota wajib mengikuti pendidikan,” tegas Gabriel yang kini masih tercatat sebagai salah seorang mahasiswa S2 di Unipa, Maumere. Pendidikan bagi anggota dilaksanakan oleh semua cabang setiap bulan. Soal pemahaman visi misi lembaga, kata dia, masih harus kerja keras. Membentuk karakter anggota untuk paham tentang koperasi, tidak mudah. Banyak yang masuk menjadi anggota, belum tahu tujuannya menjadi anggota koperasi. Yang paling dipahami ingin pinjam uang, atau ingin mendapatkan pelayan, misalnya, kalau sakit dapat bantuan.

Jangankan anggota yang sebagian besar tani ternak nelayan dan buruh (TNNB) dimana pendidikannya masyoritas rendah. Dari sisi karyawan yang setidaknya lulusan SMA sederajat belum semua memahami visi misi lembaga secara baik. “Memahami saja belum, apalagi menjiwai. Namun mereka punya semangat kerja keras, dan jiwa pengabdian terhadap lembaga sangat tinggi,” jelas Gabriel, seraya melanjutkan,  hal itu bisa dilihat dari kinerja mereka, khususnya dalam merekrut anggota baru. Peningkatan jumlah anggota rata-rata 1000 orang per bulan, karena ketika turun ke masyarakat mereka memberikan pelayanan sesuai.

Kinerja karyawan yang sebagian terbesar anak-anak muda, memang sangat membanggakan. Itu lantaran mereka terus dimotivasi, bahwa lembaga koperasi ini milik sendiri. Koperasi itu dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Anggota sebagai pemilik, sekaligus pelanggan – konsumen. Karena karyawan juga anggota koperasi, kinerjanya baik agar lembaganya terus berkembang dan maju, membanggakan.

Soal kebanggaan menjadi karyawan koperasi, belumlah menjadi impian anak muda. Walau gajinya kecil, mereka lebih bangga menjadi karyawa bank, atau pegawai pemerintah – aparat sipil negara (ASN). “Dulu, mencari pegawai lulusan SMA untuk Toko Swalayan Pintar, sulit. Bukan karena tidak ada, tetapi tidak mau,” kata Jakobus. Mereka tahu, lanjut dia, Swalayan Pintar adalah salah satu unit usaha Pintu Air.

“Saya sendiri dulu juga tidak pernah punya cita-cita menjadi karyawan koperasi. Lantaran ingin tahu tentang koperasi, khususnya pola manajemen Koperasi Kredit, ketika lewat melihat ada papan nama, Kopdit Pintu Air. Maka saya memberanikan diri masuk ke kantor koperasi. Ketika ada seorang karyawan keluar dari kantor saya sampaikan niat saya. Oleh karyawan tersebut dipertemukan dengan Pak Yakob. Mungkin dikira mau melamar pekerjaan, Pak Jakob bilang, kami tidak ada gaji. Namun setelah saya jelaskan pingin belajar tentang koperasi, diizinkan,” cerita Gabriel tentang perkenalannya dengan Kopdit Pintu Air (1997), yang justru ingin bejalar, mendapatkan ilmu berkoperasi.

Disamping belajar manajemen dan pengelolaan koperasi, yang oleh Jakubus sendiri diakui waktu itu belum menerapkan aturan baku, melainkan dikelola semacam arisan, namun Gabriel tekun belajar, dan setiap ada pertemuan bulanan selalu hadir. “Tujuan saya memang belajar, tidak pernah minta dibayar. Kebutuhan pergi – pulang kantor, cukup jalan kaki. Kebetulan ikut saudara yang rumahnya tidak terlalu jauh. Waktu itu yang penting dapat makan, dan dapat rokok sebatang pun sudah puas,” tutur alumni Seminari yang mengaku terbiasa dengan berbagai aturan ketat di sekolah calon imam Katolik, dan sangat menghindari kebiasaan buruk, seprti minum-minum.

Tekun belajar, kerja keras dan jujur, membuat Yakobus percaya “muridnya” ini akan mampu membesarkan Kopdit Pintu Air. Itu sebabnya ketika Gabriel minta izin pulang ke Lembata, meski hanya ingin berlibur, tidak diizinkan. “Mungkin kawatir saya tidak kembali. Dalam hati saya bertanya, sudah pas kah disini? Walau tak diizinkan pulang, bukan kemudian minta digaji. Waktu itu masih muda, belum mikir kebutuhan keluarga,” kata Gabriel yang kini telah mencapai karir puncak sebagai GM.

Mendapat penghasilan kali pertama sebagai karyawan, 1999 langsung ditabung di koperasi. “Menabung sedikit demi sedikit untuk menjadi anggpota. Ketika dimasukan jadi anggota koperasi itulah kebanggaan. Karena sebagai anggota berarti memiliki koperasi, bukan sebagai pegawai atau karyawan,” jelasnya. Sebagai orang yang ikut berjuang membangun lembaga dari awal, dan dipercaya mengendalikan manajemnen, kehati-hatian demi keberklanjutan lembaga dan menjaga kinerja tetap baik, menjadi tanggung jawab besar.

“Senang, tetapi belum bisa mengukur. Karena dari awal tidak ada suatu orientasi apa pun. Yang terpikir, ingin memberikan pelayan terbaik kepada semua, terutama kepada anggota,” jelasnya. Yang harus terus terjaga dengan baik adalah pelayaran kapal besar yang sudah sampai; Surabaya, Jakarta, Jogyakarta, Jabar, Kateng, Kaltim dan beberapa daerah lain yang sudah disurvei. Di rimba raya koperasi-koperasi besar, tantangannya berat. Berani masuk, untuk memenangkan persaingan secara sehat, harus dengan perhitungan cermat.

Yang diinginkan, lanjut Gabriel, visi misi lembaga bisa terukur. “Kalau boleh dibilang sebagai kebanggaan, dulu berada diurutan ke-3, sekarang di urutan pertama dalam gerakkan Credit Union. Itu kerja yang terukur, tetapi visi misinya masih harus terus diperjuangkan. Keterukurannya baru jumlah anggota,” jelasnya terus terang.

Sebagai GM yang diharapkan kepada karyawan agar mereka semakin mencintai lembaga, dibuktikan dengan kinerja yang baik. Persoalan SDM di manajemen, juga hal yang sangat penting, dan krusial. Itu sebabnya secara formal dia menimba ilmu di perguruan tinggi. Karyawan pun masih ada kuliah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kinerja. Ke depan, bukan saja jumlah anggota makin besar kebutuhan kualitas pelayanan prima adalah keniscayaan. Untuk itu, kata Yakobus, sekarang sudah mulai dipikirkan untuk mendirikan sekolahan dari TK sampai perguruan tinggi. Bahkan rumah sakit pun sudah dalam perenungan.

Anggota Koperasi, kata Gabriel, sebenarnya sudah divasilitasi oleh Puskopdit Swadaya Utama bisa kuliah di Unipa. Namun ada baiknya kalau Kopdit Pintu Air sendiri bisa menciptakan kerja sama dengan pihak perguruan tinggi. Kuliahnya bisa di kantor, di aulua Sumur Yakob. Atau di ruang-ruang lain. Jika itu terjadi, karyawan pulang kerja tidak langsung pulang ke rumah, tetapi kuliah di kantor. Karyawan yang masih SLA cukup banyak, sekitar 30%.

Sebenarnya bisa saja bukan hanya karyawan, para anggota yang masih ingin kuliah pun bisa ikut. Kalau ada masyarakat yang ingin kuliah di Kopdit Pintu Air, misalnya, ada baiknya mereka menajdi anggota. Sehingga ke depan peran koperasi bukan hanya soal kegiatan usaha, tetapi juga berperan di sekotor lain yang dibutuhkan masyarakat.

***

Duet kepemimpanan sejak awal KSP Kopdit Pintu Air dibangun memang sangat harmonis, membuahkan hasil luar biasa. Di tengah kondisi dan situasi dunia, lebih dari 200 negara, termasuk Indonesia mengalami krisis ekonomi akibat wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Kopdit Pintu Air masih mampu tumbuh mengesankan. Pengurus dan manajemen mampu menaikan jumlah anggota sangat signifikan, juga melakukan ekspansi pelayanan dengan system online – realtime. Dari sisi keanggotaan pada tahun buku 2018 hanya 195.302 orang, tahun 2019 mengalami peningkatan menjadi 231.477 orang, mencapai 91,17% dari target 253.892 orang per 31 Desember 2019.

Pengurus dan manajemen juga berani melakukan ekspansi ke berbagai daerah di luar Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga sampai akhir Desember 2019 KSP Kopdit Pintu Air telah memiliki 51 Kantor Cabang (Kacab) dan 6 Kantor Cabang Pembantu (KCP). Untuk menaikan status dari KCP menjadi Kacab harus memenuhi persyaratan, di antaranya jumlah anggota telah mencapai 900-an orang dengan aset minimal Rp 8 miliar.

Keberhasilan lain melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2019 secara online (E-RAT) 26 – 27 Juni 2020. Andai tidak terjadi wabah Covid-19, Kopdit Pintu Air berencana menggelar pesta akbar untuk merayakan tahun perak, ulang tahunnya ke-25. Berbagai acara Pesta Perak telah dirancang sejak lama namun tidak mungkin dilaksanakan. Seluruh dunia harus patuh dengan Protocol Kesehatan yang diputuskan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan payung hukum protokol kesehatan kita adalah Inpres No 6 Tahun 2020 .

Dengan diterapkannya sistem pelayanan online, bukan saja meningkatkan kualitas kinerja administrasi dan keuangan, anggota juga dipermudah dalam transaksi keuangan. Semua rael time, dapat diketahui saat itu juga. Capaian kinerja keuangan per 31 Desember 2019 untuk simpanan terealisasi 95,73% dari target kenaikan 30%. Simpanan non saham atau simpanan sukarela terealisasi 103,63% dari target 30% dan pinjaman beredar terealisasi 74,28% dari target 80%. Sedangkan surplus hasil usaha (SHU) terealisasi 77,78% dari target 60% dan pertumbuhan aset 68,28% dari target 80%. Dari capaian tersebut nahkoda sebagai pengemudi kapal induk mampu berlayar dalam badai dan gelombang lautan dengan aman sampai berlabuh di tanjung harapan.

Capaian kinerja pengurus dan manajemen di tengah resesi ekonomi dunia yang luar biasa, banyak perekonomian negara mengalami minus pertumbuhan termasuk Indonesia juga minus. Kita bersyukur perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan yang signifikan pada triwulan III 2020. Titik balik atau turning point pemulihan ekonomi di triwulan III 2020 ini juga tercermin dari data ekonomi yang menunjukkan adanya perbaikan di berbagai sektor.

Pada triwulan III 2020, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar -3,49% (YoY); membaik dari triwulan sebelumnya yang sebesar -5,32% (YoY). Hal ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah (turning point) dari aktivitas-aktivitas ekonomi nasional menunjukkan ke arah zona positif. Seluruh komponen pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi pengeluaran mengalami peningkatan, maupun dari sisi produksi. Perbaikan kinerja perekonomian didorong oleh peran stimulus fiskal atau peran dari instrumen APBN di dalam penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional.

Sementara itu, penyerapan belanja negara mengalami akselerasi atau peningkatan pada triwulan III, yakni tumbuh 15,5% hingga akhir September (periode Q3). Hal ini terutama ditopang oleh realisasi bantuan sosial dan dukungan untuk dunia usaha, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). BPS juga mengonfirmasi bahwa percepatan realisasi belanja negara yang meningkat sangat pesat pada Q3 telah membantu peningkatan pertumbuhan konsumsi Pemerintah yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 9,8% (YoY). Angka pertumbuhan 9,8% dari konsumsi pemerintah meningkat sangat tajam apabila dibandingkan triwulan II yang mengalami negatif -6,9%, turning pointnya melebihi 17%.

Konsumsi rumah tangga juga menunjukkan tren perbaikan di triwulan III, yang sebelumnya -5,5%, menjadi -4,0% di triwulan III. Hal tersebut didukung oleh belanja pemerintah dalam rangka perlindungan sosial yang meningkat sangat tajam. Perbaikan ekonomi domestik diharapkan akan terjadi secara bertahap. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk pemulihan ekonomi nasional.

Berbagai kebijakan, baik pada sisi fiskal yang dengan terus menerus melakukan upaya pemulihan melalui insentif dari sisi perpajakan, belanja negara, baik dari pusat dan daerah, dan dukungan dari pembiayaan diharapkan akan terus mendorong berbagai kegiatan sektoral dan di daerah. Pemerintah akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, serta Lembaga Penjamin Simpanan, untuk memastikan sektor keuangan dapat terjaga stabilitasnya dan bisa mendukung pemulihan ekonomi.

Meskipun kinerja pengurus dan manajemen Kopdit Pintu Air menorehkan prestasi membanggakan, Ketua Pengawas, Barnabas Hening memberikan beberapa catatan, dan minta jajaran pengurus – manajemen mengurangi biaya belanja aset tidak bergerak. Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban yang disajikan oleh pengurus Tahun Buku (TB) 2019, terbaca biaya untuk belanja aset tidak bergerak telah mencapai 12,74% dan sudah melampaui standar minimal 5% atau naik 7,47%. Nilai aset tidak bergerak Rp145,6M (12,47%) dari standar dibawah 5% atau 7,47% lebih besar.

Kopdit Pintu Air yang berbasis keanggotaan dari masyarakat kecil, kalangan bawah berpendidikan rendah, karena dari nelayan, sesuai wilayahnya dimana Nusa Tenggara Timut (NTT) merupakan kepulauan, kemudian dari kelompok tani, ternak dan buruh (NTTB) maka pendampingan kepada anggota untuk meningkatkan kualitas hidupnya menjadi sangat penting. Para anggota diarahkan untuk memiliki kegiatan produktif. Sehingga pinjaman ke koperasi tidak digunakan untuk konsumtif, melainkan untuk modal usaha. Sebuah koperasi yang anggotanya mempunyai kegiatan produktif,  akan berkembang lebih cepat karena anggota punya penghasilan untuk mengansur pinjaman, dan pinjam lagi di koperasi.

Dalam rangka pemberdayaan anggota, sejak beberapa tahun terakhir KSP Kopdit Pintu Air membangun usaha-usaha riil berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) yang sahamnya dimiliki oleh anggota. Karena menurut UU No 25 tahun 1992 KSP tidak dibenarkan berbisnis di luar simpan pinjam maka koperasi hanya sebagai penyertaan modal agar usaha-usaha riil tersebut bisa berjalan lancar. Sebab, belum semua anggota setor saham yang ditentukan sebesar Rp 250.000,-

Usaha riil yang telah dibangun antara lain pengolahan garam yang dihasilkan oleh petani, rumah produksi pemurnian minyak kelapa yang bahan bakunya dibeli dari anggota, swalayan yang bisa menampung produk-produk rumah tangga anggota, mengelola distinasi wisata dan pertanian lahan kering. Hasil olahan tersebut dibandrol dengan merk dagang; Minyak Pintar, Garam Pintar, Swalayan Pintar Asia, kemudian pantai wisata seluas kurang lebih 4 hektar, Pintar Asia Beach, yang hanya berjarak sekira 7 Km dari Kota Maumere.

Pintar Asia Beach menawarkan panorama wisata pantai nan eksotis8, pasirnya bersih, deretan mangrove remaja sangat indah, deretan pohon kelapa produktif yang tertata rapi, membuat pecinta alam untuk berkunjung menikmatinya. Taman wisata baru itu diresmikan oleh Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi tepat di Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020. Komisaris Utama PT. Pintar Asia, yang tidak lain adalah Ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano mengatakan; “Kawasan wisata milik seluruh anggota Kopdit Pintu Air ini akan ditata menjadi tempat wisata terintegrasi selaras alam.”

Perpaduan wisata bahari (pantai), mangrove (ekowisata), agrowisata (kelapa), dan pertanian lahan kering, menjadikan kawasan itu benar-benar sebuah spot wisata yang indah, tidak hanya untuk berwisata tapi juga media edukasi produktif bagi masyarakat. Tidak ada niat untuk merubah tatanan alam pepohonan kelapa yang sudah ada karena ini kekuatan utama. Pengelola hanya akan mempercantik kawan dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap.”

Unit usaha sektor riil  yang dikembangkan merupakan karya besar sekaligus pemicu kebangkitan ekonomi dan pariwisata Flores. Inilah karya besar Kopdit Pintu Air sebagai investor juga bukti Cinta Tanah Air, warisan bagi generasi mendatang. Di pantai wisata yang juga akan dibangun hotel berbintang itu anggota bisa berjualan berbagai jenis souvenir, oleh-oleh. Itulah upaya pemberdayaan anggota. Bagi anggota yang membuka warung atau toko, bisa menjual minyak dan garam yang telah dimurnikan oleh Rumah Produksi Pintar dengan harga lebih rendah dari warung lain tetapi sudah untung karena beli dari pabrikan.

Kerja keras bahu-membahu antara pengurus dan manajemen selama 25 tahun mengumpulkan orang-orang kecil untuk menuju sejahtera bersama, telah menorehkan hasil. Sejahtera, parameternya memang sulit. Tetapi siapa pun yang menjadi anggota (231.477) atau 788 karyawan (kantor pusat dan cabang) dan 925 komite (aktivis) Kopdit Pintu Air, merasa bangga. Jika dahulu mencari karyawan lulusan SMA saja susah, kini bertebaran lulusan sarjana. Belum lagi yang ingin bergabung – melamar yang harus melalui seksi ketat. Dapat dimengerti karena mengelola aset dengan angka triliun harus penuh kehati-hatian.

Keberhasilan pengurus – manajemen kerja keras bahu-membahu membangun lembaga ekonomi untuk kesejahteraan bersama, menciptakan lapangan kerja guna mengurangi pengangguran dan kemiskinan mendapatkan apresiasi dan pengakuan dari banyak pihak. Antara lain, penghargaan dari tingkat Kabupaten dan Provinsi. Bahkan pada puncak acara Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 12 Juli 2015 di Kota Kupang, NTT, Kopdit Pintu Air menyabet tiga penghargaan Nasional sekaligus.

 Yaitu Satya Lencana Pembangunan Bidang Perkoperasian dari Presiden Ri Joko Widodo, yang diserahkan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Koperasi Award Tahun 2015 dan Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015 Bidang Simpan Pinjam dari Menteri Koperasi dan UKM. Berbagai penghargaan kemudian ditanggapi dengan bekerja lebih keras, bekerja cerdas, bekerjasama dan bekerja jujur untuk setiap unsur yang ada di dalam koperasi,  sehingga tidak cuma mampu menghasilkan ide-ide dan kesepakatan semata, namun juga menghasilkan sesuatu yang riil. Sebab menurut Thomas Alva Edison, kejenius dan kesuksesan adalah 1% ide dan 99% kerja keras. (adit – mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *