Gubernur NTT Tantang Gerakkan Koperasi

 “Kita tidak ada desain, bagaimana untuk mengekerjakan potensi besar. Apakah koperasi tidak bisa menguasai; kopi, cokelat, minyak kelapa, ikan, daging sapi, babi dan ayam di NTT? Bisa! Pasti bisa! Pintu Air kerja di bawah pohon cokelat, dan tanah miring saja bisa sukses. Spirit yang ada itulah yang harus dijaga. Koperasi juga harus menjadi tulang punggung perubahan karakter di Nusa Tenggara Timur.” Begitu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menantang dan membakar semangat gerakkan koperasi di NTT.

Nusa Tenggara Timur yang terkenal dengan eksotisme pulau-pulau dan alamnya menjadikan modal dalam hal pariwisata dan pengembangan ekonomi rakyat. Apalagi, semenjak Pulau Komodo dipilih sebagai salah satu anggota dari 7 Keajaiban Dunia, NTT semakin dilirik oleh para wisatawan, baik pelancong lokal – Nusantara maupun dari berbagai mancanegara. NTT yang terdiri dari 22 kabupaten dan 1 kota juga termasuk provinsi yang getol pengembangan ekonomi daerahnya melalui koperasi. Wilayah yang terdiri dari 1.192 pulau ini juga telah memiliki ribuan unit koperasi sebagai lembaga ekonomi kerakyatan.

NTT adalah provinsi koperasi, dan banyak koperasi besar berprestasi nasional. Ada Koperasi Simpan Pinjam Koperasi Kredit (KSP Kopdit) Obor Mas, KSP Kopdit Pintu Air, KSP Kopdit Ankara, KSP Kopdit Songgosay, KSP Kopdit Swasti Sari, dan  Credit Union (CU – sebutan lain dari Kopdit) Kasih Sejahtera, CU Bahtera Sejahtera, CU Sinar Saron, dan sebagainya. Boleh dibilang, NTT merupakan surga bagi pertumbuhan koperasi di Indonesia.

Di Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) NTT tercatat ada 4.137 unit koperasi, dengan jumlah anggota sebanyak 1.206.390 orang. Dari total itu didominasi oleh koperasi yang bergerak di bidang simpan pinjam 3.319 unit, dari aspek modal yakni modal sendiri mencapai Rp 2,3 triliun dan modal luar Rp 4,3 triliun lebih dan aset Rp 6,3 triliun.

Penyelenggaraan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-68 tahun 2015 di Kupang merupakan penantian panjang warga di seluruh wilayah timur Indonesia. Pasalnya, Kupang menjadi kota pertama di wilayah timur Indonesia yang mendapat kerhormatan menjadi tuan rumah. Gebyar acaranya menjadi sebuah apresiasi dan motivasi untuk menguatkan komitmen pemerintah dan masyarakat NTT menjadikan NTT sebagai provinsi Koperasi.

Salah satu tradisi yang dipegang teguh oleh gerakkan koperasi, khususnya Kopdit, kata General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama Maumere, Fransu, dalam setiap pertemuan selalu diriwayatkan tentang Jas Merah – jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jika melupakan sejarah, kita akan “dikutuk” oleh sejarah itu sendiri. Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.

Begiu juga Kopdit yang besar, Kopdit yang maju selalu menghargai nilai-nilai sejarah yang diwariskan oleh Credit Union. Pada 200 tahun silam Frederich William Raiffeisen mewariskan credit union untuk menyelamatkan kaum miskin, membantu kaum miskin untuk menyelamatkan diri sendiri dengan menabung dari kekurangan, dari apa yang dimiliki. Dan tabungan tersebut digunakan dengan sesama anggota.

Sedangkan Pater Albrecht Karim Arbie,SJ, adalah pendiri CU di Indonesia tahun 1967. Sebelum tahun 1969 ibu-ibu di Paroki Watublapi membentuk kelompok arisan. Pada 1 Januari 1969 kelompok arisan ibu-ibu Watublapi itu berubah menjadi CU Lepo Woga. CU ini digagas P Heinrich Bollen,SVD dan Yosef Doing. CU Lepo Woga dikelola Yosef Doing sebagai ketua, Romanus Woga sebagai sekretaris dan Hendrikus Mana sebagai bendahara. Itulah cikal bakal gerakkan CU di Provinsi NTT.

47 tahun silam, tepatnya 4 November 1972 Yosef Doing bersama kawan-kawan menggunakan sebuah ruangan kecil di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, untuk merintis Kopdit Obor Mas, yang kini digawangi GM Leonardus Frediyanto Moat Lering, guna membantu para guru yang terlilit lintah darat dan rentenir. Kemdudian 24 tahun yang lalu, tepatnya 5 April 1995 Yakobus Jano bersama 49 teman-temannya di bawah pohon kakau, di tanah miring yang menyebabkan kursi yang diduduki juga miring, bersepakat mendirikan Kopdit Pintu Air. Credit Union memang berasal dari kampung, namun secara pelan-pelan akhirnya merambah jauh sampai di kota-kota besar Metro Politan.

Hal yang sama juga dialami Gebernur NTT. Dia adalah orang yang berasal dari kampung, dan dari keluarga miskin. Tetapi hari dini gubernur NTT itu termasuk salah seorang yang sukses sebagai pengusaha besar, dan memiliki pesawat jet pribadi. Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, ketika hamba-Nya meminta dan mau kerja keras, selalu dikabulkan. Kopdit Pintu Air juga ingin memiliki pesawat untuk membuktikan bahwa koperasi punya rasa percaya diri, dan mampu membangun dari apa yang dimiliki, sehingga menjadi sebuah lembaga usaha yang sukses.

NTT menjadi surganya koperasi, terkhusus koperasi kredit. Di NTT ada 5 Puskopdit yaitu Puskopdit Swadaya Utama di Maumere, Puskopdit Flores Mandiri di Ende, Puskopdit Timor di Kupang, Puskopdit Manggarai Raya, dan Puskopdit Sumba. Dari 5 Puskopdit tersebut memiliki 144 anggota Kopdit primer yang sudah menghimpun 769.217 anggota, dan memiliki total aset sebanyak Rp 5 triliun lebih. Jika ditarik rasio, aset terbesar dimiliki Kopdit Pintu Air dan Kopdit Obor Mas.

***

“Saya sangat senang setelah bertemu dengan para pendiri; baik dari KSP Kopdit Pintu Air maupun KSP Kopdit Obor Mas. Saya melihat ada semangat yang luar biasa. Saya ingin sekali untuk kita bersama-sama dalam semangat membangun NTT,” kata Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat memotivasi, membakar semangat dan menantang gerakkan koperasi, khususnya anggota Kopdit Obor Mas dan Kopdit Pintu Air serta mahasiswa Universita Nusa Nipa (Unipa), Maumere, yang memadati Seminar Sehari dengan nara sumber tunggal Gubernur NTT. Seminar dengan tema; Mendorong Peningkatan Usaha-usaha Produktif Anggota Melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Untuk Mencapai Kesejahteraan, diselenggarakan oleh Kopdit Obor Mas dan Kopdit Pintu Air di Kampus Unipa, pada 6 Mei 2019.

Gubenur mengakui; “Betul bahwa NTT adalah provinsi ketiga termiskin, provinsi ketiga literasi terendah, provinsi dengan tingkat pendidikan terendah. Kalau dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM-nya); ekonomi rendah, pendidikan rendah, dan kesehatan rendah. Jadi, orang NTT itu kurang sehat, bahkan tidak sehat. Kurang pintar, bahkan tidak pintar. Dan kurang sejahtera karena ekonominya rendah. Itu IPM secara nasional. “

Sebenarnya, lanjut Viktor, paling enak itu jadi orang miskin. Kalau dia mau kerja keras, bisa menjadi orang kaya. Dan sebaliknya paling susah orang kaya tiba-tiba menjadi miskin. Kalau orang miskin bekerja sungguh-sungguh, kerja keras, dan inovatif bisa menjadi kaya. Perubahan itu akan baik buat kita. Daripada yang sudah kaya tiba-tiba menjadi miskin, dia bisa bunuh diri. “Karena itu saya senang, secara moral dan spirit yang dimiliki KSP Kopdit Pintu Air maupun Obor Mas adalah spirit yang memberikan energy positif di daerah ini,” tuturnya.

Karena itu dia menginginkan bukan saja membangun koperasi, tetapi juga dibukukannya kisah-kisah inspiratif dari kedua koperasi itu untuk dibagikan kepada seluruh masyarakat di NTT. Dengan adanya cerita-cerita inspiratif, kita mampu memberikan dorongan kepada seluruh masyarakat dan generasi penerus bahwa kita tidak miskin. Kita mampu membuat prestasi. Dan sejarah itu dapat dikerjakan dengan baik oleh 2 koperasi ini. “Sebagai gubernur, saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kopdit Pintu Air maupun Kopdit Obor Mas,” tegasnya.

Bicara koperasi, menurut Gubernur yang juga salah seorang pengusaha sukses, adalah bicara tentang perlawanan. Cerita orang koperasi adalah cerita orang-orang yang punya fighting spirit – hidup adalah perjuangan. Karena memang sejarahnya itu mereka melawan. Melawan kaum kapitalis, melawan orang-orang kaya. Jadi, koperasi adalah kumpulan orang-orang yang bekerja sama untuk melawan kelompok-kelompok penindas pada sektor-sektor ekonomi. Menurut sejarah di Eropa, koperasi berdiri untuk melawan revolusi industri zaman itu. Di NTT, koperasi bertumbuh hebat, dan harus lebih hebat karena tak ada lawan.

Ketika kali pertama koperasi didirikan adalah untuk melawan korporasi-koperasi yang mendominasi seluruh sektor untuk membuat masyarakat dalam keadaan sulit. Kita tahu sejarah koperasi dunia sampai dengan credit union yang dimunculkan di Jerman dan di belahan dunia lain, memang perlawanan. Dalam sejarah, di Indonesia muncul tahun 1950-an saat Muhammad Hatta (Bung Hatta) untuk membendung kapitalis perlawanannya tidak serius seperti yang dibangun di NTT. Karena di NTT, menurut Viktor tidak ada korporasi hebat, jadi, the real business man itu koperasi. Tetapi koperasi belum membangun korporasi. Kini saatnya koperasi menuju korporasi.

“Kalau koperasi menjadi korporasi, secara hati nurani moralitasnya koperasi karena kekeluargaan, tetapi pengembangan bisnis dan pekerjaan-pekerajaannya, harus korporasi. Saya senang mendengar koperasi di NTT berdiri tahun sekian, karena gigih berjuang, punya anggota sekian, tabungannya sekian, dan aset sekian. Namun, yang kita lupa adalah jantung dan intisari serta bentuk komitmen sesama kita. Produknya apa saja, membiayai siapa, dari mana asalnya, dan hari ini jadi apa dia. Kalau membiayai nelayan, nelayannya di mana. Nelayan dari apa, dan menjadi nelayan apa sekarang. Karena KSP tidak boleh berubah menjadi korporasi – PT, dia tetap koperasi tetapi para anggota harus bertumbuh berkembang dan maju seperti layaknya korporasi. Itu yang harus kita persiapkan,” urai Gubernur.

Karena itu, lanjut dia, koperasi di NTT tidak boleh hanya tertarik punya uang sekian banyak. Tetapi dia harus tertarik dan bangga bahwa produknya sekian. Dan produknya akan menguasai di seluruh NTT. Contoh, minyak sereh atau minyak kelapa harus dikuasi oleh korporasi yang asalnya datang dari koperasi. Para anggota koperasi yang membangun usaha (PT) untuk menguasai minyak sereh dan minyak kelapa di seluruh NTT. “Harus! Dan tugas pemerintah ada di sana. Koperasi tidak akan hebat luar biasa, kalau pemerintahnya tidur,” katanya berapi-api, penuh semangat.

Peran dan tugas pemerintah di mana pun berada, menurut Viktor, hanya ada dua saja. Pertama, sebagai regulator. Kalau melihat koperasi yang ada sudah cukup, perlu lompatan buat regulasi-regulasi untuk membantu mereka, agar berjalan dengan baik. Kedua, sebagai fasilitator. Memfasilitasi pada akses-akases keuangan yang lebih baik, lebih besar, lebih menguntungkan. Membantu fasilitasi mereka untuk akses pasar dan memanbu fasilitasi pada pengetahuan, inovasi-inovasi yang muncul. Itu tugas pemerintah. Sayangnya ini tidak jalan. Pasar tidak jalan, dan inovasi tidak ada.

Akses keuangan ada, Kopdit Obor Mas menjadi salah satu dari 3 koperasi di Indonesia sebagai penyalur KUR. Tetapi kita harus mampu konsulidasikan anggota sehingga KUR itu ke mana arahnya jelas. Kita akan bangga menyatakan, misalnya, pertumbuhan ekonomi NTT 7 koma sekian persen, datang paling banyak dari koperasi. Itulah pertumbuhan ekonomi yang riil. Sebaliknya, walau pertubuhan ekonomi mencapai 7% atau lebih, tetapi datang dari ekspansi kelompok korporasi besar, ini tidak riil. Nelayan, peternak dan petani tetap miskin. Berbeda jika pertumbuhan ekonomi datang atas sumbangsih kelompok tani, ternak dan nelayan yang merupakan mayoritas masyarakat NTT, maka dipastikan kesejahteraan ada di sana, angka kemiskinan pun akan turun.

Gubernur mengajak dan mendorong gerakkan koperasi untuk bersama-sama mulai mendesain produk. Koperasi itu nanti urusan internal bangga dengan uang, dan keluar bangga dengan produknya. Apa produk Kopdit Pintu Air, dan apa produk Kopdit Obor Mas. Kebanggaan itu bukan hanya bangganya kelompok – anggota, atau bangganya koperasi, tetapi juga bangganya NTT, karena produk itu diproteksi oleh pemerintah menjadi kekuatan Nusa Tengga Timur.

Contoh, minyak kelapa. Kalau semua koperasi di NTT mengkondisikan ada  minyak kelapa, maka minyak dari luar NTT ditahan, diutamakan minyak kelapa produk NTT dulu. Kalau kurang baru minta tambah. Jadi, jangan seluruh minyak goreng dari luar masuk NTT, kemudian produsen minyak kelapa NTT mati. Itu yang akan didorong oleh pemerintah. “Sebagai pemerintah – gubernur saya ingin agar produk-produk dari NTT diperkenalkan kepada masyarakat luas. Misalnya, produk ikan suir yang bisa membuat masyarakat daerah perdesaan mendapatkan protein yang cukup supaya tidak ada istilah stunting – kurang gizi. Maka produk ikan suir dari NTT yang mengandung protein tinggi itu harus diproteks – dilindungi agar bisa masuk sampai ke desa-desa. Itu pekerjaan pemerintah bersama-sama koperasi. Semua produk, khususnya makanan dan minuman yang dihasilkan di NTT harus dilindungi.” tegasnya.

Koperasi, lanjut dia, pekerjaannya membangun ekonomi rakyat. Jika pemerintah punya fikiran yang sama, maka proteksi nomor satu kepada koperasi sebagai lembaga yang bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong ekonomi rakyat. Di NTT tidak ada lembaga sesolid koperasi. Komitmen dan praktek hari demi hari culture – budaya yang terbentuk, bersama rakyat adalah membangun ekonomi rakyat. Aneh, kalau pemerintah tidak tahu produk apa saja yang dihasilkan koperasi. Sebagai gubernur, Viktor berpesan, baik kepada Kopdit Pintu Air mau pun Kopdit Obor Mas; “Saya tidak mau lapor ke saya setiap tahun laporan keuangan. Laporkan bahwa kami menguasai produk AX di kabupaten A, akan menuju kabupaten B, lalu menuju ke kabupaten C, dan seterusnya. Itu berarti ekonomi kita lari dikendalikan dengan baik,” katanya serius.

Kenyataannya sekarang, kata dia melanutkan, tidak tahu apa yang dikendalikan. Kita bicara ekonomi …., ekonomi…., ekonomi, tetapi barang keluar terus. Panen coklat, tetapi coklat tidak ada di NTT. Panen kopi, kopi pun tak ada di NTT. Padahal NTT, khususnya Kabupaten Kupang, Manggarai dan Ngada adalah daerah penghasil kopi yang luar biasa. Kopi keluar dari NTT lebih dari 10.000 ton per tahun. Kemudian yang datang ke NTT, kopi olahan merek Kapal Api. Ini pemerintah yang tidak tahu punya kekuatan ada di mana. Punya kopi banyak tetapi minum kopi produksi dari orang lain. “Kini saatnya menuju masa pertobatan,” tegas Viktor.

***

Pemerintah harus kerja sama dengan koperasi yang punya fighting spirit, masuk  melalui akses pendampingan, akses pasar, akses keuangan, inovasi tentang kopi terbaik, ikan terbaik, daging terbaik dan macam-macam inisitaif. Siapa bilang tidak mampu menyiapkan daging terbaik? Di NTT banyak sapi tetapi dijual ke luar. Diakui oleh Viktor bahwa selama ini tidak pernah mau menuju hal yang baik. Koperasi di Eropa; Jerman, Perancis, Belanda yang dibangun ratusan tahun silam tetap bertahan sebagai koperasi-koperasi hebat menguasai perekonomian di negara-negara tersebut.

Orang antar daging, antar ice cream semua dari koperasi. Produk-produklah yang mereka kuatkan. Jadi, orang mengenal koperasi dari produknya. Barang terbaik datang dari koperasi, orang pun sudah tahu nama koperasinya. “Koperasi memberikan pelajaran begitu hebat. Karena itu mari kita belajar sama-sama. Saya mau belajar, bapak ibu juga belajar. Karena itulah rohnya koperasi, bersama-sama – cooperative,” ajak Gubernur. Di NTT menurut Viktor, sebenarnya tidak ada orang miskin. Yang ada, orang tidak tahu mau kemana? Karena jalan tidak ada. Dia bingung, mau kerja apa. Pekerjaan banyak tetapi tidak diarahkan.

Contoh, NTT adalah salah satu provinsi pengkonsumsi daging babi terbesar, tetapi babi tidak ada. Di Kabupaten Kupang saja, misalnya, kebutuhan babi sekitar 100.000 ekor per tahun. Tetapi babinya tidak ada 100.000 ekor. Hasil ternak tidak mencukupi terpaksa harus mendatangkan dari daerah lain. Potensi besar itu tidak ada yang mengerjakan. Termasuk koperasi satu pun tak ada. Koperasi bisa masuk, dan menguasai babi di seluruh NTT. Koperasi juga bisa menguasai ayam.

Setiap akhir tahun, inflasi yang terjadi di Provinsi NTT selain disumbang oleh transportasi udara akibat harga tiket pesawat yang tinggi, juga meningkatnya kebutuhan telor dan daging ayam. Karena akhir tahun banyak orang NTT yang merantau pulang kampung untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Belum lagi kunjungan turis, baik wisatawan lokal maupun manca negara liburan akhir tahun untuk menikmati keindahan alam NTT yang exotis, seperti padang rummput – savanna di Sumba, Danau Kalimutu yang airnya 3 warna, di Ende, Flores atau ke Pulau Komodo menyaksikan binatang purba, Komodo, yang dilindungi dunia.

Selama ini, menurut Viktor, tidak ada desain kerja bagaimana mengekerjakan potensi besar tersebut. Apakah koperasi tidak bisa menguasai; kopi, coklat, minyak kelapa, ikan, daging sapi, babi dan ayam di NTT? Bisa! Pasti bisa! Pintu Air kerja di bawah pohon cokelat, dan tanah miring saja bisa sukses. Spirit yang ada itulah yang harus dijaga. Koperasi juga harus menjadi tulang punggung perubahan karakter di Nusa Tenggara Timur. Ini tantangan.

“Kita harus berani menyatakan; tahun sekian NTT tidak lagi inflasi karena telor dan daging ayam,” tegas Gubernur. Kalau membaca literasi, lanjut dia, sudah 35 tahun NTT selalu mendatangkan telor dan daging ayam dari daerah lain. Karena itu dia mendorong koperasi-koperasi di NTT segera masuk menangani produk-produk yang dibutuhkan masyarakat luas seperti; sampo, pasta gigi, sabun cuci, dan sabun mandi. Kebutuhannya sangat besar.

“Siapa di ruangan ini yang mandi pakai sabun produk koperasi – produk NTT?” tanya Gubernur kepada audience, disambut gelak tawa. “Saya satu-satunya. Walau pun kadang terasa gatal, pakai terus. Saya membuktikan bahwa saya cinta produk Nusa Tenggara Timur,” tegas Gubernur menjawab pertanyaan yang disambut apluse gemuruh. Koperasi, lanjut dia, harus ada yang memproduksi sabun, sampo dan sebagainya. Dari 5 juta penduduk, dikitnya 4 juta orang madi pakai sabun. Tidak mungkin orang mandi pakai daun papaya, pasti pakai sabun. Baru urusan mandi saja potensinya sangat besar. Sekitar Rp 3 triliun disumbang ke Pulau Jawa. Karena sabun dan sampo itu pabriknya memang di Pulau Jawa.

Ikan datang dari luar membanjiri NTT. Kita tidak sedang eksekludif, kata Gubernur, namun sedang membangun ekonomi rakyat. Karena uang terbatas, harus mampu memproteks sumber-sumber dari mana bisa tumbuh. Salah satu harus mampu mengatur pengeluaran, memutar uang Rp 3 triliun itu di NTT. Jika berhasil, multi player efeck ekonominya luar biasa. Yang akan diuntungkan, koperasi! Tugas pemerintah, menyiapkan, memfasilitasi dan membuat regulasi. Stop barang-barang sejenis masuk NTT, karena sudah diproduksi secara masal di NTT.

Orang NTT banyak menanam buah-buahan tetapi tidak ada industri pengolahan jus. Kopdit Pintu Air dan Kopdit Obor Mas harus menjadi pelopor industri pengolahan jus. Koperasi harus menjadi korporasi. Soal pemasaran, pertama kepada para bupati. “Misalnya, Bupati Sikka beli 10.000 botol. Jika tidak terserap, lapor gubernur. Gubernur, kami punya produk luar biasa, mohon dibantu pemasarannya,” katanya memberi solusi pemasaran. Dengan terus membakar semangat, dia katakan; “kita harus bangun market – pasar sendiri. Tunjukan, tanpa orang luar pun mampu. Jadi jangan pernah ada produksi tak terjual. Kalau ada produk dari masyarakat tidak terserap pemerintah harus diambil – dibeli.

***

Pengusaha itu orang yang berjuang seperti Koperasi Pintu Air dan Obor Mas. Kalau orang datang ikut tender proyek, itu bukan pengusaha, melainkan kontraktor. Mereka sekedar menyusu – menetek. Namun sebagai kontraktor pun harus ikut berperan bagaimana mengembangkan ekonomi rakyat. Jika tidak ikut berperan, tidak boleh ikut tender proyek-proyek berikutnya. Sebagai kontraktor, harus ambil peran, membeli produk-produk NTT untuk diedarkan di lingkungan karyawannya, misalnya. Anggota DPRD, terutama pimpinan-pimpinannya, harus mendukung dan membeli produk-produk NTT sendiri.

Sebagai gubernur dia mengatakan sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) untuk menentukan batas harga eceran terendah produk NNT, seperti; daging sapi hidup, senilai Rp 30.000.- juga minyak kelapa, harga ikan, dan sebagainya. Kalau ada tengkulak masuk mau beli di bawah harga terendah, tidak boleh, karena akan menyengsarakan rakyat. Di atas harga eceran terendah, Rp 35.000,- per Kg, misalnya, Alhamdulillah. Kalau harga di bawah Rp 30.000 pemerintah wajib beli. Untuk masa depan rakyat NTT berbagai cara harus dilakukan. “Dengan kerja keras terus menerus dan menghasilkan produk-produk terbaik – unggulan dari setiap koperasi akan digemari masyarakat,” katanya yakin.

Keinginan yang sifatnya masih berupa himbauan, namun diperkirakan akan mendapatkan perlawanan keras dari masyarakat adalah; “koperasi tidak boleh kasih pinjam untuk pesta kawin, atau pesta-pesta lainnya.” Ada orang pinjam uang untuk membangun kandang – berternak ayam. Sebenarnya sudah jalan. Ketika anaknya lulus kuliah di Jakarta pulang, dibatlah pesta syukuran, dan ayam separuh kandang habis. Dia lupa, modal untuk ternak ayam itu uang pinjam. Mestinya, anak lulus kuliah biar saja dia kerja. Investasi namanya. Berbeda untuk orang sakit, harus dibayar. Setelah sembuh dia akan bisa melakukan langkah-langkah yang lebih baik, bekerja penuh semangat.

Pinjam uang harus untuk kegiatan produktif, itu yang benar. “NTT ke depan, tak boleh lagi ada uang dihambur-hamburkan untuk pesta kawin. Sudah miskin hoby pesta. Uang itu hanya untuk mereka yang sekolah dan sakit. Koperasi, khususnya Kopdit Obor Mas dan Pintu Air harus menjadi motor penggerak kegiatan produktif. Jika tidak dirubah culture – budayanya bagaimana mereka bisa menjadi lebih sejahtera. Anggota harus didorong menjadi wirausaha. Dan setiap anggota dari kedua koperasi itu dilarang pinjam uang untuk pesta. Ini tantangan!” tegasnya.

Menurut Viktor, kita ini miskin karena punya budaya pesta luar biasa, dan tidak berhenti-berhenti. Anak lulus sekolah – kuliah bikin pesta lebih hebat dari biaya sekolah – kuliahnya.  Punya babi hanya 2 ekor  dipotong satu, tinggal seekor. Baru diterima sebagai calon Aparat Sipil Negara (ASN) pun pesta. Habis pesta baru befikir, bagaimana bayar utangnya. Di Peranci, Inggris, Belanda atau di negara-negara lain yang koperasinya maju, apakah mereka pesta luar biasa? Tidak! Mereka kerja luar biasa, namun tetap sederhana. Kalau sudah sukses luar biasa, pesta boleh-boleh saja. Larangan pesta hanya berlaku untuk orang miskin.

Viktor mencontohkan pengalaman dirinya, dan mengaku dari keluarga miskin – kurang mampu. Sepatu hanya satu-satunya, setiap hari dipakai pergi – pulang sekolah. Alasnya pun bolong. Pas musim hujan, kaos kakinya basah dan bau. Jika musim kemarau, kakinya melepuh karena panas. Soal makan sehari-hari pun apa adanya. “Minta uang ayah untuk beli sepatu, tidak dikasih. Tetapi ketika ada saudara mau menikah, kambing 1 ekor dikasih untuk pesta. Andai kambing itu dijual untuk beli sepatu, beli pakaian bayar sekolah dan sebagainya, kelihatan hebat sekali saya,” kenang Viktor yang kini telah menjadi pengusaha ssukses dan memiliki pesawat jet pribadi.

Karena pernah merasakan betapa beratnya perjuangan hidup sebagai keluarga miskin, maka dia berfikir, budaya pesta itu harus diubah. Dia mengaku, sekarang sedang dimarahi banyak orang gara-gara mendorong masyarakat tidak berpesta. Sebenarnya, semakin banyak orang tidak berpesta, semakin bagus. Intinya, kita perlu melakukan investasi kepada mereka yang sakit dan yang sekolah.

Mimpi membangun perekonomian masyarakatharus dilakukan kerja sama dalam sebuah kolaborasi kelembagaan. Dan kolaborasi kelembagaan itu antara pemerintah, masyarakat khususnya koperasi, bersama dengan perguruan tinggi akan mampu membuahkan hasil kalau terus menerus dilakukan penelitian. Koperasi tidak boleh bergerak hanya konvensional, tetapi harus mulai menuju bisnis modern. Pemerintah melakukan penelitian, hasilnya diperkenalkan kepada koperasi, sehingga koperasi bisa maju bersama.

Menurut Gubernur Viktor, hasil laut NTT adalah penyumbang 40% mutiara dunia. Tetapi di NTT sendiri tidak ada mutiara. Kalau mau memakai mutiara NTT belinya di Hongkong. Koperasi harus bergerak berbisnis mutiara di NTT. Panen mutiara terbaik pemerintah pun harus terlibat. “Seluruh mutiara terbaik harus ada di NTT, bukan di Hongkong. Kalau hasil panen mutiara tidak laku, pemerintah yang beli. Bukan hanya mutiara, penyumbang rumput laut terbaik di dunia, sekitar 35% juga dari NTT. Namun, rumput laut itu panen hilang-panen hilang. Padahal orang-orang Eropa makan rumput laut yang asal tidak tahu dari NTT, bangganya luar biasa.

“Dan kita, orang NTT tidak pernah tahu rumput laut terbaik itu bentuknya seperti apa. Koperasi harus berperan besar. KSP mesti kerja sama dengan koperasi yang membangun produk. Jadi, koperasi memberikan pinjaman kepada koperasi. Itulah nyang namanya kolaborasi kelembagaan. Agar kita kuat, tidak berjalan secara individu. Pemerintah akan masuk akses-akses keuangan yang lain. Kelak, orang NTT tidak ada yang miskin. Miskin itu karena dibiarkan oleh pemerintah dan lingkungan. Yang sedang dibangun Kopdit Pintu Air dan Kopdit Obor Mas adalah melawan lingkungannya,” jelas Gubernur NTT.  (adityo – marjono)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *