H Hasanuddin BSy, SH : “15 Menit Pinjaman Tak Cair, Telpon Saya”

DSCN7024Menyesuaikan kebutuhan dan kondisi terkini, bagi Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, menjadi keharusan. Itu sebabnya, tahun silam (2015) pengurus menyelenggarakan rapat anggota khusus (RAK) guna menyempurnakan anggaran rumah tangga (ART). Disamping itu, pengurus juga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota guna mempersiapkan kader-kader profesional. Hal itu dilaporkan oleh Ketua KPPD, H Hasanuddin BSy, SH pada rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2015 yang dilaksanakan pada 25 Februari 2016, di Wisma Antara, Jakarta. Laporan pertanggungjawaban itu merupakan laporan tahunan keempat bagi pengurus periode 2012 – 2016.

Secara umum, kata Hasanuddin, selama 4 tahun terakhir perkembangan KPPD cukup menggembirakan. Pencapaian target sisa hasil usaha (SHU) yang menjadi prioritas pengurus, misalnya, dapat tercapai. Banyak pula upaya lain yang dilakukan pengurus untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Namun dia juga mengakui bahwa masih ada  kekurangan, dan harapan anggota yang belum dapat terpenuhi. Karena itu di tahun terakhir masa bakti kepengurusan sekarang, kata dia, akan terus berupaya memenuhi harapan anggota.

Dilihat dari kinerja pengurus – pengawas – manajemen, memberikan gambaran konkret bahwa KPPD terus mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Dari sisi aset, misalnya, kalau tahun 2011 baru mencapai Rp 43,87 miliar, di akhir tahun 2012 telah naik menjadi Rp 67,37 miliar, lalu melonjak lagi tahun 2013 menjadi Rp 77,88 miliar, dan tahun 2014 telah mencapai Rp 89,11 miliar, dan akhir tahun buku 2015 mencapai Rp 98,43 miliar. Dari aset yang saat ini hampir Rp 100 miliar, tidak ada Rp 1,- (satu rupiah) pun pinjaman dari bank – pihak ketiga. “Semua aset, murni milik koperasi, yang dihimpun dari anggota,” tegas Hasanuddin. Kenaikan aset juga diikuti dengan kenaikan SHU. Kalau SHU tahun buku 2011 baru mencapai Rp 985,88 juta, tahun 2012 meningkat menjadi Rp 1,282 miliar, dan terus meningkat sampai tahun buku 2015 SHU menjadi Rp 2,369 miliar.

Yang meningkat bukan hanya kualitas usaha sehingga menghasilkan SHU semakin besar, kualitas pelayanan kepada anggota juga terus ditingkatkan. Pelayanan kepada anggota yang mau pinjam, misalnya, hanya membutuhkan waktu 10 – 15 menit. “Paling lambat 15 menit harus cair. Kalau tidak cair, telpon saya,” kata Hasannuddin meyakinkan. Dengan catatan, lanjut dia, semua persyaratan lengkap, gajinya tidak habis dipotong Bank DKI, atau masih bisa dipotong untuk angsuran di KPPD. Kepada anggota yang meminjam, juga diasuransikan, bekerja sama dengan Asuransi Bumi Putera 1912 dan MNC Life, sehingga jika anggota yang meminjam itu meninggal dunia, dan masih punya kewajiban melunasi pinjamannya, maka pihak asuransilah yang akan melunasi pinjaman tersebut. Dengan demikian ahliwaris yang ditinggalkan tidak terbebani utang. Peningkatan kualitas pelayanan itu diungkinkan karena sumber daya manajemen (SDM) KPPD juga terus ditingkatkan.

DSCN7058Setiap menjelang hari raya idul fitri, KPP juga membagikan bingkiskan kepada semua anggota yang sampai 31 Desember 2015 tercatat 9.462 orang. Bingkisan  berupa vocher belanja di Indomaret, dengan nilai sebesar Rp 400.000,- dan tidak bisa diuangkan. Untuk tahun 2016, kata Hasanuddin, nilainya akan ditingkatkan menjadi Rp 500.000,- Dengan demikian maka anggaranya juga meningkat menjadi Rp 3,7 miliar. Kepada anggota yang meninggal dunia, KPPD juga memberikan uang duka sebear Rp 1 juta. “Inilah maka berkoperasi,” kata mantan aktivis mahasiswa tahun 1970-an itu. Tentang jumlah anggota yang masih relaitf kecil, sementara jumlah pegawai negeri sipil (PNS) DKI Jakarta, sekitar 70.000-an, Hasanuddin mengatakan; “menjadi anggota koperasi itu sifatnya sukarela, tak boleh dipaksa. Mungkin, karena di setiap satuan kerja pemerintah daerah (SKPD), bahkan sampai di tingkat kelurahan pun ada koperasinya.”

Dalam upaya meningkatkan kepercayaan dan kebersamaan kepada anggota, setiap tahun pengurus bukan hanya membagikan SHU, vocher belanja, dan door prize yang jumlah dan nilainya terus ditingkatkan, juga ada kejutan-kejutan baru bagi anggota yang aktif menabung, meminjam dan tanpa retur. Pada RAT tahun 2014, hadiahnya antara lain; 4 unit sepeda motor merek Honda dan Yamaha, 5 unit tv LED LG 42 inc, 5 unit lemari es dua pintu, 5 unit  mesin cuci, dan 5 unit AC. KPPD juga memberikan hadiah kepada anggota berupa tv LED 29 inc sebanyak 200 unit yang diundi setiap kelipatan 50 anggota diberikan 1 unit. Kecuali hadiah seperti tahun 2014, kejutan baru pada RAT tahun buku 2015 yaitu hadiah menunaikan ibadah umrah ke tanah suci untuk 5 orang.

Terkait dengan kegiatan usaha, menurut Hasanuddin, kegiatan simpan pinjam tetap menduduki ranking pertama. Anggota tidak hanya disuruh rajin menabung, tetapi juga diminta rajin meminjam. Supaya anggota aktif bertransaksi dengan koperasi itulah maka diberikan berbagai hadiah yang diundi. Kegiatan usaha lainnya ada kredit barang seperti; teve, kulkas, sepeda motor, penyewaan rumah kost, dan penyewaan ruang usaha – kantor. “Ketika tunjangan kerja daerah (TKD) mengalami sedikit tersendat, anggota lari pinjam uang ke koperasi. Total anggota yang pinjam hampir Rp 1 miliar. Karena itu, mau tak mau KPPD harus punya stock modal,” jelas Hasan seraya berharap agar anggota semakin meningkatkan tabungannya sebagai persiapan pensiun.

Pada pertengahan tahun 2015 dengan terpaksa, kata Hasan, dengan terpaksa harus menutup salah satu sektor usahanya – toko koperasi yang berlokasi di Balai Kota DKI Jakarta dan di Dinas Olahraga dan Pemuda Kompleks Dinas Teknis Jakarta Timur. Terkait hal tersebut Pengurus KPPD DKI Jakarta telah menyampaikan surat permohonan tempat usaha untuk toko koperasi, namun sampai saat ini belum terealisasi. Pada tahun 2015 KPPD juga menjalin kerja sama usaha dengan pihak ketiga, antara lain dengan PT Oke Vision sebagai penyedia teve berbayar dan PT Dwimitra Raya Sejati penyedia jasa pembayaran transaksi online.

Koperasi bisa berkembang dan maju, kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, dalam pengelolaannya ada beberapa kata kunci. Kunci yang utama adalah kejujuran. Baik pengurus maupun anggota harus sama-sama punya komitmen perilaku jujur. Lalu, keterbukaan – transparan, sehingga anggota dapat pengikuti perkembangan koperasi, bisa tahu pertamahan aset dan pengurangan aset, tahu siapa saja yang utangnya paling besar, paling rajin menabung dan meminjam, juga tertib mengangsur Dan sebagainya. Dengan keterbukaan itu bisa saling kontrol. “Kita juga tak ingin KPPD hanya mentok sampai di sini saja. KPPD harus terus berkembang dan menjadi lebih besar karena punya potensi sangat besar. Cuma bagaimana caranya pengurus KPPD bisa menumbuhkan kepercayaan para anggota, dan memberdayakan anggota,” tutur Wagub.

Pengurus, lanjutnya, juga dituntut untuk terus berkreasi – berinovasi, misalnya, bagaimana mempersiapkan anggota setelah purna tugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) bisa berwirausaha. Agar setelah pensiun tidak keluar sebagai anggota koperasi, 2 – 3 jelang pensiun mereka perlu diarahkan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang kewirausahaan. Untuk praktek usaha, mungkin diawali dari kecil-kecilan dulu, buka warung – buka bengkel, pinjam modal dari koperasi. Bila mereka sudah memulai usaha sebelum pensiun, ketika pensiun akan lebih fokus mengembangkan usahanya. “Sering kali setelah pensiun mereka binging, tidak tahu apa yang harus dilakukan? Padahal masih terbuka berbagai macam peluang untuk melakukan kegiatan produk, mengisi masa purna tugasnya. Kalau tidak ada kegiatan – aktivitas, mereka semakin tidak sehat. Semua penyakit bisa muncul,” jelas Djarot.

Jika seseorang sudah keluar dari zona nyaman, dan tidak ada kegiatan yang positif, lanjut Wagub, PNDSCN7024S itu berada di zona nyaman, masuk kerja pagi jam 8, pulang jam 5 sore, begitu terus sepanjang tahun, setelah tidak punya kegiatan seperti masuk penjara. “Saya mengharapkan, pengurus KPPD perlu membuka awasan dan pola pikir anggotanya. Saya yakin, karena mereka sudah punya banyak pengalaman, kalau digali betul dan didorong akan muncul jiwa wirausahanya,” kata Wagub penuh semangat. Ikut koperasi, kata dia, bukan sekedar bisa pinjam. Koperasi seperti KPPD, juga bukan sekedar untuk simpan pinjam. Kalau hanya tempat simpan pinjam, bikin saja bank. Koperasi harus mampu pemberdayaan anggota. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *