H.R. Soepriyono S.AB Kuncinya Semangat Kerja Keras, Jangan Lemah Lembut

Keberadaan koperasi jelas telah memberikan kesejahter­aan bagi anggotanya. Koperasi tersebar di seluruh Tanah Air dengan berbagai layanan usaha, antara lain;  sim­pan pinjam, toko, jasa, produksi. Koperasi di Indonesia banyak yang maju. “Faktanya memang, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua mampu memberikan pinjaman kepada anggotanya sampai Rp2,5 miliar,” kata Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Prof. DR Rully Indrawan.

Karena itu kita perlu melakukan koordinasi dan konsolidasi, serta kerja sama antar koperasi. Kita masih harus kerja keras untuk membangun citra positif koperasi yang selama ini sering sekali terdengar cerita dan berita yang kurang begitu nyaman, seperti; koperasi bangkrut, pengurus koperasi ditangkap polisi, dan sebagainya. Dengan melakukan koordinasi dan konsolidasi kita bisa menciptakan citra positif.

Koperasi-koperasi besar diharapkan mampu memberikan penyadaran kepada gerakan koperasi pada umumnya, bahwa gerakan koperasi punya sutu pemahaman; Bersaing dan Bersanding. Itulah makna berkoperasi. Contoh, KSP Kodanua besar di posisinya sendiri, Kospin JASA besar di posisinya sendiri, Kokarga juga besar di posisinya sendiri. KSU Tunas Jaya besar di bidangnya sendiri. Ibarat tim sepak bola, masing-masing pemain berada di posisinya sendiri sehingga menjadi sebuah tim yang kuat – hebat untuk memenangkan setiap pertandingan. Itulah koperasi Indonesia yang kita harapkan.

Jika semua praktisi dan aktivis gerakkan koperasi menyadari bahwa kerja sama adalah makna berkoperasi, maka koperasi Indonesia akan menjadi hebat – kuat dan benar-benar sebagai sokoguru perekonomian nasional. Koperasi itu usahanya harus besar, tata kelolanya harus baik dan profesional, sehingga pelayanan kepada anggota juga prima. Hanya koperasi besar yang mampu memberikan pinjaan sampai miliaran. Dan KSP Kodanua telah menunjukkan kemampuannya sebagai koperasi besar dengan tata kelola yang baik, profesional. Koperasi sehat dan kuat, menjadi keharusan. Hanya koperasi yang sehat akan mampu berkelanjutan. Hanya koperasi kuat yang mampu membantu yang lemah.

Gerakan koperasi harus mampu membuat koperasi menjadi kebanggaan. Itu sebabnya bisnis koperasi harus terintegrasi, pendidikan terintegrasi, pelayananan kepada anggota juga terintegrasi. Dengan begitu nilai koperasi menjadi meningkat dan akhirnya menjadi kebanggaan. Saat ini harus diakui, bekerja di koperasi masih belum cita-cita, apalagi kebanggaan. Para sarjana, atau bahkan anak-anak lulusan SLTA lebih bangga menyebut bekerja di PT Anu, daripada menyebut bekerja di koperasi. Padahal soal gaji, karyawan koperasi bisa jadi gajinya lebih besar daripada yang bekerja di PT Anu, dan berkantor di jalan protokol, seperti di Jln. Jenderal Sudirman, atau Jln. Thamrin.

Taat azas akan mampu membangun citra positif koperasi yang pada akhirnya menjadi kebanggaan. Di mass media masih sering ada berita pengurus – pengelola koperasi ditangkap polisi karena menyalahi ketentuan. Ditangkap karena menipu, koperasi abal-abal, dan sebagainya. Koperasi ini memang organisasi yang mudah ditiru oleh orang jahat. Dalam konteks taat azas, anggota harus ikut memonetor. Kalau ada tanda-tanda yang menyimpang dari kehidupan berkoperasi segera laporkan kepada Deputi Bidang Pengawasan, Kementerian Koperasi dan UKM.

KSP Kodanu telah menunjukan kinerja yang baik. Rasio-rasio keungan juga baik. Terbukti, kinerja tahun buku 2018 menghasilkan surplus hasil usaha (SHU) cukup signifiikan. Koperasi, seperti halnya seperti halnya KSP Kodanua, sangat bermakna saat ekonomi global mengalami masalah serius. Sejak tahun 2013, perekonomian kita mengalami pelambatan secara sistematis. Namun kita bersyukur, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5%. Artinya, ekonomi kita sehat. Dan hanya 3 negara di dunia ini yang pertumbuhannya mencapai di atas 5%, yaitu; China, India dan ketiga Indonesia. Inflasi kita sejak Indonesia termasuk paling kecil. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing – dolar Amerika pun cukup moderat.

Bank Indonesia (BI) menyatakan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi tetap terkendali. Inflasi IHK tercatat 0,55%, melambat dibandingkan inflasi bulan sebelumnya 0,68%. Dengan perkembangan itu, tercatat inflasi IHK mencapai 2,05% atau secara tahunan tercatat 3,28% lebih rendah dari inflasi bulan lalu sebesar 3,32%. Penurunan inflasi dipengaruhi oleh penurunan inflasi kelompok volatile food sejalan dengan berakhirnya pola musiman terkait Ramadan dan Lebaran. Kelompok volatile food mencatat inflasi 1,7%, menurun dibandingkan inflasi bulan lalu sebesar 2,18%.

Inflasi inti tetap terkendali, meski pun sedikit meningkat dibandingkan level bulan sebelumnya. Inflasi inti tercatat 0,38%, meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,27%. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 3,25%, meningkat dibandingkan inflasi bulan lalu sebesar 3,12%. Inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Ke depan, BI harus tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah, guna memastikan inflasi tetap rendah dan stabil yang diperkirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasaran inflasi 3,5% plus minus 1% pada 2019.

Pertumbuhan ekonomi baik, tetapi kesempatan kerja, banyak yang mengatakan tidak ada. Padahal sebenarnya, ada perubahan orang bekerja. Orang yang sering dikatakan konglomerat, saat ini tidak selalu berpenampilan pakai jas dan berdasi. Mereka hanya pakai celana pendek, pakai kaos dan bersandal. Kenapa? Karena pola kerjanya sudah berubah. Jadi sebenarnya, kondisi perekonomian kita baik untuk berusaha. Bisa dikatakan kondisi saat ini kondisi yang tepat bagi koperasi dan anggota koperasi untuk mengembangkan usahanya.

Harus diakui, simbul-simbul ekonomi kerakyatan tercermin dari perkembangan koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang sebagaian adalah anggota koperasi. KSP Kodanua, seperti dijelaskan oleh ketua umumnya, H.R. Soepriyono, S.AB. bahwa sekitar 60% – 70% anggota KSP Kodanua adalah pelaku UMKM dari berbagai jenis usaha. Ada yang membuka warung tegal (Warteg), penjual gado-gado, membuka warung kelontong di rumahnya atau pedagang pasar.

Harus jujur dikatakan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh sebagian besar pelaku UMKM. Kita tidak pelu kaget melihat perusahaan besar dan modal besar, tetapi kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan kontribusi kepada kesempatan kerja, ternyata masih ditekan oleh UMKM. Angkatan kerja kita 97% terserap di sektor UMKM. Perusahaan besar bermodal besar hanya menyerap tenaga kerja 3% saja dari anggkatan kerja kita. Karena itu kita jangan salah mempersepsikan tentang UMKM.

Menurut laporan pertanggungjawaban pengurus, usaha KSP Kodanua tahun buku 2018 mengalami sedikit penurunan. Hal itu berpengaruh pada besarnya jumlah surplus hasil usaha (SHU) yang tercatat sebesar Rp1,760 miliar. Sedangkan aset tercatat Rp152,134 miliar. KSP Kodanua memiliki 22 cabang, dan semua kantor, mulai dari kantor pusat maupun kantor cabang adalah milik lembaga – KSP Kodanua sendiri. “Menghadapi persaingan bisnis keuangan yang begitu ketat, kuncinya semangat kerja keras, jangan Lemah Lembut,” tegas Soepriyono.

Untuk meningkatkan permodalan, sekaligus kesejahteraan anggota, mulai tahun buku 2019 KSP Kodanua membuat terobosan dengan program fir to fir. Soepriyono menjelaskan bahwa fir to fir ini untuk anggota. Hasilnya juga untuk anggota. Contoh, ada anggota dari Cabang Bogor, namanya Maman. Dia menginformasikan kepada pengurus via WA, ada saudara dari Sukabumi mau pinjam uang ke KSP Kodanua.

Karena pinjamannya cukup besar, Rp1 miliar, pengurus akan melakukan survai untuk menentukan besaran pinjaman yang akan dikabulkan. Setelah diproses, dengan berbagai pertimbangan sesuai SOP, ternyata hanya dikabulkan Rp100 juta,- dengan ketentuan dia harus mengangsur luna dalam 1 tahun. Karena Maman yang “membawa” peminjam, maka dia berhak menerima fee – jasa kerja sebesar 0,5% dari jumlah pinjaman yang disetujui. Ini adalah terobosan pemasaran.

Sedangkan terobosan untuk mendapatkan modal, anggota mencari penabung. Misalnya, Maman merayu saudaranya yang mendapatkan ganti rugi karena sawahnya tergusur untuk proyek pembangunan jalan Tol. Karena lahannya luas, ganti ruginya pun miliaran (Rp1 miliar). Karena Maman pandai merayu, uang ganti rugi tersebut ditabung di KSP Kodanua, di Tabungan Berjangka selama 2 tahun. Untuk itu Maman berhak menerima fee 0,5% dari jumlah uang yang ditabung atau setara Rp5 juta.

Tahun ini, 2019, KSP Kodanua juga masih membuka lowongan kerja. Khusus untuk marketing, pendidikan minimal S1. Sedangkan untuk petugas lapangan, minimal SLTA. Kedua lowongan kerja itu. Pelamar boleh pria, boleh wanita. Meskipun harus melalui seleksi, namun diutamakan dari putra-putri anggota. Di Cabang Banten, kata Soepriyono, sudah ada petugas lapangan baru, masih dalam masa percobaan. Jika berdampak positif akan dilanjutkan, jika tidak, akan distop.

Dalam setiap pelaksanaan RAT, KSP Kodanua selalu berusaha memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Karena semua anggota peserta RAT sudah menerima buku laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas, maka tanggapan atas laporan tersebut, maupun usulan-usulan disampaikan secara tertulis. Kali ini, anggota yang memberikan tanggapan dan usulan tertulis sebanyak 712 orang. Dari jumlah tersebut  dikelompokan menjadi 28 kelompok untuk dijawab pengurus maupun pengawas.

Salah satu usulan dari anggota, untuk melayani anggota agar lebih efektif sebaiknya KSP Kodanua tidak hanya jemput bola mengambil simpanan atau angsuran pinjaman. Koperasi dituntut untuk ter­us berkembang, baik dari sisi teknologi maupun manajemen. Apalagi di era ekonomi digital saat ini, koperasi harus siap menyesuaikan diri ter­hadap perkembangan teknologi.

Bila KSP Kodanua ingin maju, salah satunya bagaimana bisa mewujudkan kesejahteraan anggota koperasi melalui digital economy. Dengan system online, akan jauh lebih efektif. Menjawab usulan anggota, Soepriyono mengatakan: “Pengurus sudah memikirkannya. Tetapi karena biaya pemasangan system online cukup besar, semua harus dipersiapkan dengan baik, termasuk mempersiapkan SDM-nya.”

Koperasi memang harus bisa mengatasi perubahan zaman yang begitu cepat. Manajemen koperasi simpan pinjam pun diminta menerapkan manajemen modern, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital. Koperasi bisa menjadi be­sar jika mampu menggunakan teknologi yang aplikatif sesuai dengan perkembangan za­man. Jangan sampai koperasi tertinggal dengan fintech atau lembaga pembiayaan lainnya.

KSP Kodanua, yang sudah memasuki usia 42 tahun, artinya sudah mampu menga­tasi berbagai kendala sekaligus bisa menangkap peluang. Manajemen koperasi saat ini harus berpola manajemen modern. Yang pasti, koperasi modern itu yang tiada hari tanpa pelatihan, IT dan transaksi online.  Koperasi yang baik juga harus mampu melaku­kan kaderisasi di tingkat pengu­rus dan pengawas dengan baik. Kaderisasi bisa dilakukan melalui pelatihan-pelatihan. Di samping itu, koperasi juga harus menya­dari era sekarang, era bunga pinjaman rendah, single digit. Karena era bunga tinggi sudah berlalu.

Meski begitu, yang harus tetap dikedepankan adalah pelayanan ter­hadap anggota. Pengurus, pengawas dan manajemen sebagai pelayan anggota harus mampu mengedapankan keramahtamahan, murah senyum, tidak jutek, dan pelayanan prima. Kelebihan koperasi yang tidak dimiliki lembaga perbankan, atau lembaga keuangan lainnya adalah, koperasi bisa melakukan temu anggota, tour, silaturahmi dan semua kegiatan sosial lainnya. Ada hubungan manu­siawi yang tidak bisa diukur dengan uang. Itulah koperasi. (adit)

 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *