H. Sugiharto : Tidak Mencapai Target namun Tetap Untung

DSCN2903Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, setiap ada penyelenggaraan pesta demokrasi – Pemilihan Umum (Pemilu), baik pemilihan anggota legislative (DPR) maupun pemilihan Presiden, koperasi selalu terdampak. Dan tahun 2014 sebagai tahun politik juga berdampak pada kegiatan usaha koperasi. “Kegiatan usaha koperasi sedikit menurun, karena usaha anggota juga terpengaruh oleh gegap gempita Pemilu,” kata Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya, H. Sugiharto, ketika berbincang dengan Majalah UKM, sesaat sebelum dimulai Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2014 yang dilaksanakan pada 22 Februari 2015 silam.

Perkembangan tahun 2014, kata dia, dari awal memang sudah diperhitungkan, kurang menguntungkan. Terbukti targetnya tidak mencapai 100%, tetapi juga tidak rugi, karena capaiannya masih 95% dari yang direncanakan. Pertumbuhannya juga tidak cukup signifikan. Ada faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi capaian tersebut. Dari internal, kurang kerja lebih keras. Sedangkan faktor eksternal, dari anggota karena usaha mereka terganggu, kalah bersaing. Yang punya usaha warung, misalnya, kalah bersaing dengan Alfamart sehingga usahanya bangkrut. Ada juga yang terkena penertiban Pemda DKI Jakarta, karena pedagang kaki lima (PKL) jualannya di pinggir jalan, barang-barang dagangannya diangkut Satpol PP.

“Para pedagang kecil itulah yang selama ini mendapat pelayanan dari koperasi. Kalau mereka hanya berhenti dari menabung, tidak begitu menjadi persoalan. Tetapi kalau berhenti mengembalikan pinjamannya, itu yang menjadi masalah,” jelas Sugiharto yang telah memimpin KSU Tunas Jaya sejak koperasi yang berawal dari arisan warga itu didirikan 38 tahun silam. Anggota yang punya kegiatan usaha, kata dia, cukup banyak. Mereka berjualan di sekitar Pasar Tanah Abang, Kuningan, Pasar Senen, Pasar Jatinegara. Di daerah tersebut penertiban PKL besar-besaran. “Padahal, di daerah itulah basis anggota KSU Tunas Jaya. Mereka ada yang jual pakaian, mainan anak-anak, jual makanan dan sebagainya. Anggota Tunas Jaya sekarang sudah menyebar kemana-mana, tidak hanya di daerah Pejompongan,” tegasnya.

Terkait dengan program pengembangan ke depan, kata dia, sepanjang faktor normatif dapat dikendalikan sedemikian rupa, koperasi pasti akan dapat berkembang dengan baik. Pendekatan terbaik kepada anggota, dari berbagai aspek. Meningkatkan kesadaran anggota berkoperasi, termasuk tanggung jawab memenuhi kewajiban dan menggunakan hak-haknya. Tentang pengembangan keanggotaan, pada dasarnya menganut azas keterbukaan. Warga yang memenuhi syarat, boleh menjadi anggota. Namun dari segi pelayanan usaha, harus selektif. Pengalaman yang sudah ada dijadikan guru yang baik untuk menghindari terjadinya kenaikan pinjaman bermasalah.

“Kendala terbesar pelayanan simpan pinjam, adalah bagaimana mengendalikan terjadinya pinjaman bermasalah – kredit macet. Yang tidak terbayang, ketika anggota terkena musibah, kena penertiban, tempat usahanya digusur. Kalau mereka langsung dapat penggantian, bisa cepat recovery-nya. Tetapi jika tidak dapat penggantian, bisa bermasalah,” jelasnya. Volume USP KSU Tunas Jaya, lanjut Sugiharto, lebih besar dibandingkan dengan kegiatan usaha toko. Boleh dibilang, usaha toko yang tinggal satu-satunya, saat ini sedang stagnan. Karena warung-warung anggota kalah bersaing akhirnya mereka tidak kulakan ke toko koperasi. Dulu, toko koperasi itu sebagai grosir, tempat anggota kulakan. “Karena mereka usahanya menurun, otomatis belanjanya juga turun,” katanya.

Sugiharto mengakui, walau secara umum program kerja tahun buku 2014 dapat dilaksanakan, namun hasilnya belum maksimal seperti yang diharapkan. Anggota KSU Tunas Jaya kini tercatat sebanyak 1.789 orang, karyawan 50 orang. Rencana Anggaran Pendapatan tahun buku 2014 tercapai 92% sedangkan rencana biaya tercapai 95% dan sisa hasil usaha (SHU) tercapai 71% dari rencana. Pertumbuhan aset naik 7% dari Rp 32,7 miliar menjadi Rp 35 miliar. Volume penjualan tercapai Rp 672 juta. Tabungan dan simpanan-simpanan anggota tumbuh 14%, modal sendiri tumbuh 2,5%, dan likuiditas mencapai 170%, solvabilitas 112% dan rentabilitas 11,7%.

DSCN2916
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun 2014 mempengaruhi usaha para anggota, mengurangi pendapatan – keuntungan, yang pada akhirnya berdampak pada usaha koperasi. Persaingan warung sembako makin terpojok oleh maraknya waralaba Alfamart, Indomaret di tengah-tengah kampung anggota yang pada akhirnya warung anggota mengalami kemunduran, bahkan banyak yang tutup – gulung tikar. Untuk meningkatkan perkembangan koperasi, Sugiharto menyadari perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Yang tidak kalah penting, membangun militansi dan komitmen anggota untuk tetap mencintai koperasinya. (dm)

 

 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *