Homo Cooperativus sebagai Sintesis (II)

IMG_7133Secara empiris, gotong royong dan musyawarah mufakat melekat dan melembaga dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ada istilah-istilah lokal yang merujuk pada kedua aktivitas tersebut seperti sabilulungan, gugur gunung, gentosan, kompenian, tetulong layat, marsiadapari, marsiurupan, tonggo rojo, marapot, guro-guro aron, nganting manuk, erunggu, rimpah-rimpah, abin-abin, muan nakan peradpuen, runggu zikarah dan lain lain identik dengan gotong royong dan musyawarah. Kemudian dalam perkembangannya pelembagaan dari budaya gotong royong dan musyawarah ini tidak hanya diimplementasikan dalam aktivitas informal, tapi juga berlaku dalam organisasi-organisasi formal.

Namun memang perlu diakui, dewasa ini, dengan semakin derasnya arus globalisasi berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk budaya gotong royong dan musyawarah mufakat. Padahal seperti opini dari Boni Hargens, seharusnya arus modernisasi, liberalisasi, dan globalisasi semestinya tidak meniadakan suatu negara jatuh dalam percaturan global, tidak menghancurkan rasa kebersamaan sebagai satu bangsa, tidak mendegradasi budaya dan kearifan lokal, asal saja negara tersebut ditopang oleh identitas nasional yang kuat.

Budaya gotong royong dan musyawarah mufakat merupakan realitas yang perlu direvitalisasi guna semakin menajamkan gagasan tentang siapa Manusia Indonesia.  Dalam konteks ini, penulis mencoba untuk melakukan pencarian konsep sintesis dari identitas masyarakat Indonesia berdasar pada warisan budaya yang telah dijelaskan sebelumnya. Adalah Homo Cooperativus, istilah yang memadai dan merepresentasikan sintesis dari budaya gotong royong dan musyawarah mufakat untuk jadi identitas Manusia Indonesia. Homo Cooperativus memang bukan istilah baru, setidaknya sudah mulai dikenalkan tahun 1950an. Akan tetapi istilah ini, dari analisa yang telah dipaparkan di muka, relevan dengan karakter Manusia Indonesia yang diredefinisi.

Homo Cooperativus diperkenalkan Georg Draheim (1903-1972), seorang pemikir yang karier profesionalnya diabdikan untuk kehidupan perkoperasian di Jerman. Secara etimologis, Homo Cooperativus terdiri dari kata homo yang artinya manusia dan cooperativus yang berarti bekerjasama. Secara sederhana istilah ini bisa diinterpretasikan sebagai manusia yang suka bekerjasama. Dalam pemikiran Draheim Homo Cooperativus dijelaskan sebagai manusia yang hakikatnya memiliki kepentingan pribadi namun menyadari penuh bahwa untuk mencapai ragam kepentingannya itu perlu melakukan kerjasama dengan yang lain.

Dalam karyanya, Die Genossenschaft als Unternehmungstyp, Draheim menjelaskan bahwa kerjasama tersebut terikat pada nilai: empati (empathie) dan kasih sayang (liebe). Maka dalam artian ini berarti bentuk-bentuk kerjasama yang terjalin dalam sindikat seperti transaski narkoba yang membutuhkan “jejaring kerjasama” yang luas, atau tindakan korupsi yang memerlukan “trust” dan “jalinan komunikasi” yang tinggi antar sesama oknum pejabat tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari Homo Cooperativus. Justru Homo Cooperativus ada untuk menentang dan melawan segala yang bisa merugikan orang banyak.

Konsep Homo Cooperativus bertopang pada situasi yang riil. Bukan sekedar hasil dealetika idealisme yang berjarak dengan kondisi nyata. Manusia diakui memiliki kepentingan pribadi, maka ihwal wajar setiap manusia memiliki hasrat dan kebutuhan yang berbeda untuk memenuhi aktualisasinya. Namun selain mengejar kepentingan pribadi, Homo Cooperativus memiliki rasa sosial yang sadar tentang perlunya hidup bekerjasama, saling menghargai dan membantu antar satu sama lain. Individu dalam Homo Cooperativus tetap diagungkan namun bukan untuk menuju individualisme.

Individu-individu memiliki nilai individualitas yang darinya karena berbeda-beda maka diperlukan kolektivitas atau kerjasama agar tujuan dari masing-masing bisa terpenuhi. Mengenai hal ini kiranya senada dengan apa yang dikemukakan salah satu founding fathers Indonesia, Moh. Hatta bahwa individualitas berbeda hal secara prinsipil dengan individualisme. Individualitas adalah soal kesadaran atas harga diri, yaitu tentang karakter kekukuhan watak seseorang yang bisa diapresiasi oleh orang lain. Karenanya individualitas satu kesatuan semangat dengan solidaritas. Sedangkan individualisme menuntut individu bisa bebas lepas tidak terikat dari masyarakat dan mendahulukan hak individu daripada hak masyarakat, oleh karenanya individualisme tidak bisa memajukan kemakmuran rakyat.

Analisa dari Moh. Hatta ternyata berjejak sampai saat ini dan bahkan lebih relevan dengan koteks kondisi kontemporer sebagai kritik terhadap kondisi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Karena sekarang masyarakat terjebak dalam individualisme yang mengejar keuntungan-keuntungan bagi pribadi sendiri. Implikasinya disparitas sosial dan ekonomi di Indonesia cukup besar.

Homo Cooperativus berada dalam posisi beyond antara gagasan manusia liberal yang memuja kebebasan individu secara berlebihan serta manusia komunis yang hendak menghilangkan anasir-anasir individu seperti kepemilikan pribadi. Oleh karenanya konsep ini memposisikan manusia tidak seperti “malaikat” yang naif karena hidup selalu demi orang lain. Juga tidak memposisikan  manusia seperti “setan” yang hidupnya hanya demi dirinya sendiri.

Selanjutnya Homo Cooperativus dalam bidang sosial ekonomi diaktualisasi dalam corak produksi yang memberdayakan. Senada dengan yang dijelaskan sebelumnya tentang budaya gotong royong, maka cara-cara yang ditempuh oleh para Homo Cooperativus adalah dengan cara-cara yang humanis, tidak melakukan eksploitasi antar sesama. Oleh karenanya dalam gagasan ini kegiatan membantu dan tolong-menolog tidak ditujukan dalam rangka (sekedar) karitatif tapi juga memberikan peluang kepada semua pihak untuk lebih mampu berdaya.

Homo Cooperativus ini masih dapat dilihat praktiknya dalam keseharian masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah atau desa-desa tertentu dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kepentingan bersama selalu dihasilkan oleh publik, warga desa, yang kemudian bermusyawarah, dan tercapai mufakat. Hasil dari mufakat tersebut dilaksanakan bersama-sama dengan bergotong-royong.

Potensi yang telah ada harus terus menerus dihidupkan dalam ingatan masyarakat dan disebar menjadi “imaji bersama” bagi masyarakat Indonesia. Imaji bersama ini yang kemudian dikonversi menjadi definisi Manusia Indonesia. Secara perlahan definisi ini diinstitusionalisasi menjadi kesadaran akan “Indonesia” yang dicita-citakan. Manusia Indonesia adalah Homo Cooperativus: manusia yang gemar bergotong royong dan bermusyawarah. Untuk mengilustrasikan kontruksi definisi tentang Manusia Indonesia bisa dilihat dalam diagram berikut:

Kontruksi Definisi Manusia Indonesia

bagan

Koperasi sebagai Aktualisasi Homo Cooperativus

Setelah menjelaskan tentang Homo Cooperativus sebagai definisi Manusia Indonesia, selanjutnya adalah mencari institusi yang bisa menjadi motor penggerak dari semangat gotong royong dan musyawarah bagi masyarakat Indonesia. Dalam konteks ini penulis mengambil salah satu contoh bentuk konkret dari realisasi gagasan Homo Cooperativus, yaitu koperasi. Koperasi adalah asosiasi yang tepat bagi berkumpulnya orang-orang yang punya tujuan yang sama untuk memenuhi aspirasi sosial, ekonomi dan budaya. Koperasi adalah ruang aktualisasi bagi individu-individu yang hendak self-help dengan cara bekerjasama.

Sebenarnya dalam konstitusi Indonesia pada Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, secara terang menjelaskan tentang pentingnya menciptakan dan mengakomodasi budaya serta kearifan lokal seperti gotong royong dan musyawarah dalam urusan perekonomian nasional. Oleh karenanya bentuk perekonomian yang disusun adalah hasil dari kerja oleh, dari, dan untuk rakyat yang berlandaskan asas kekeluargan. Interpretasi yang sering didengungkan akan hal ini yaitu koperasi. Karena koperasi melakukan aktivitas ekonomi secara gotong royong dan mengedepankan musyawarah. Namun sayangnya apa yang terjadi mencerminkan ketidaksesuaian dengan harapan, dalam ranah praktik masih bak panggang jauh dari api. Perkoperasian di tanah air masih belum bisa berkembang pesat jauh dari kata jargon sokoguru ekonomi Indonesia. Karena perlu satu kajian tersendiri, dalam paper ini penulis tidak melakukan penjelasan tentang hal permasalahan koperasi.

Terlepas dari permasalahan yang masih menyelimuti perkoperasian Indonesia tidak lantas mereduksi substansi dari koperasi itu sendiri. Koperasi tetap menjadi ‘ruh’ yang perlu didorong untuk terus maju sebagai sistem perekonomian Indonesia untuk meng-counter sistem kapitalisme yang begitu hegemonik di Indonesia. Kaitan dengan maksud dari paper ini dialamatkan untuk melihat gagasan tentang Homo Cooperativus sebagai definisi Manusia Indonesia ternyata menemui relevansinya, bahkan telah tersedia instrumen yang bersifat praxis ─ koperasi. Dengan kata lain, Homo Cooperativus menjadi sesuatu yang benar-benar berjejak dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. (tamat)

Oleh: Dodi Faedlulloh

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *