Ide Adalah Modal Utama Ekonomi Kreatif

Proses globalisasi dan konektivitas mengubah cara orang bertukar informasi, berdagang, konsumsi, dan berbagai hal lainnya. Perubahan dunia yang sangat dinamis dengan segala kompleksitasnya menuntut manusia untuk lebih kreatif dan inovasi dalam melakukan kegiatan ekonomi. Ekonomi kreatif – creative economy suatu konsep perekonomian di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengedapankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia (SDM) sebagai faktor produksi yang paling utama.

Menurut United Nasition Coference on Trade and Development (UNCTAD), ekonomi kreatif adalah konsep ekonomi yang berkembang berdasarkan aset kreatif yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Dengan kata lain, konsep creative economy lebih mengedepankan kreativitas, ide, dan pengetahuan manusia sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Kreativitas akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi, dan pada saat yang bersamaan ramah lingkungan serta menguatkan citra dan identitas budaya bangsa.

Dan kita perlu melakukan lompatan-lompatan dari perekonomian yang sebelumnya mengandalkan sumber daya alam (SDA) dan pertanian. Setiap pegiat ekonomi dapat menciptakan industri kreatif lebih dari satu sektor, sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing. Misalnya, seseorang atau organisasi yang bergerak di bidang jasa dan desain bisa juga melakukan bidang jasa periklanan online bila memang memiliki kemampuan di bidang tersebut.

Sebenarnya industri kreatif sudah ada sejak lama di Indoensia. Namun dulu disebut dengan istilah ekonomi industri, dan ekonomi informasi. Penggunaan istilah ekonomi kreatif mulai dikenal tahun 2001, ketika John Howkins menerbitkan bukunya yang mengulas tentang industri kreatif. Ekonomi kreatif semakin populer tahun 2006 sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, industri kreatif semakin berkembang dengan terbentuknya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang berfungsi untuk menaungi industri kreatif di Indonesia. Presiden Jokowi yang berlatar belakang Insinyur, pengusaha mebel yang selalu berkreasi mendesain produk, memberikan perhatian besar terhadap masa depan industri kreatif.

Ekonomi kreatif merupakan upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya terbarukan. Mengacu isi buku digital Pengembangan Industri Kreatif Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Perdagangan, saat ini setidaknya ada 14 sektor industri kreatif, antara lain; periklanan, arsitektur, pasar barang seni, handicraft – kerajinan, kuliner, desain, fesyen, film, video, dan fotografi, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan computer dan piranti lunak, radio dan televise, riset dan pengembangan.

Ada beberapa karakteristik pada ekonomi kreatif, antara lain; Unsur utama kreativitas, keterampilan, dan talenta – bakat seseorang yang memiliki nilai jual melalui penawaran daya kreasi intelektual, menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja Produk yang dihasilkan (barang dan jasa) memiliki siklus hidup singkat, margin – keuntungan tinggi, beraneka ragam, persaingan tinggi, dan dapat ditiru. Industri kreatif diharapkan membantu perekonomian Indonesia dengan berbagai cara seperti; membuka lapangan kerja baru, menekan angka pengangguran, menciptakan masyarakat yang kreatif, kompetisi dunia bisnis yang lebih sehat dan meningkatkan inovasi di berbagai sektor.

Kontribusi  ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan sektor ekonomi kreatif mengalami peningkatan setiap tahun sekitar 5,76 %. Artinya berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan. Bekraf harus bekerja, bekerja, dan berlari cepat untuk memfasilitasi percepatan pembangunan di sektor ekonomi kreatif. Harus disadari bahwa untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif memerlukan kebersamaan, memerlukan sinergi dari semua pihak pelaku ekonomi kreatif. Sinergi akan mendorong karya-karya kreatif mendapatkan nilai tambah lebih besar, sekaligus untuk menghadapi persaingan dengan produk-produk ekonomi kreatif impor.

Berbagai inovasi dan kreativitas yang dihasilkan para pelaku industri kreatif tentu memerlukan wadah untuk mengekpresi karyanya.  Salah satunya tempat pameran yang representatif yang memberi ruang dan kesempatan bagi pelaku industri kreatif seperti Indonesia Convention Exhibition di BSD City yang  memiliki fasilitas Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibition (MICE). Fasilitas MICE ini bisa menjadi media untuk mempromosikan berbagai jenis produk ekonomi kreatif Indonesia, sehingga mampu mendorong tumbuhnya pelaku ekonomi kreatif lainnya yang dapat mendukung ekonomi regional dan nasional.

Seorang kreator, Slamet Pujiarso, karyanya terbilang cukup fenomenal. Karena tidak hanya sekadar mendaur ulang sampah menjadi sejumlah produk bercitarasa tinggi. Seperti tas sandang wanita, tas laptop, tas seminar, topi, hingga sejumlah produk lainnya. Di balik itu, luar biasanya dia memberdayakan kaum lanjut usia (lansia) yang usianya rata-rata di atas 60 tahun. Kini, 92 lansia binaan itu setiap minggu  memperoleh penghasilan cukup lumayan. Slamet mengaku, modal awal menekuni usaha daur ulang hanya Rp500.000.

Awalnya, tahun 1998 ketika gejolak politik dan perekonomian tanah air cukup memanas, berimbas menghantarkan Slamet menjadi salah satu korban PHK dari sebuah perusahaan. Namun dia tidak patah semangat. Karena anak dan isteri, tetap harus diberi makan, ia berusaha mencoba berbuat sesuatu. Sebab untuk melamar ke perusahaan lain, juga banyak yang gulung tikar.

Karena memang sejak kecil senang membuat kerajinan tangan, Slamet melihat sebuah peluang dari sampah-sampah yang begitu banyak berserakan. Tidak hanya botol bekas, bahkan hingga plastik bekas kemasan berbagai produk ia pungut. Yang kemudian dirangkai menjadi sejumlah kerajinan tangan. Baik itu bunga hias, dekorasi hiasan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, serta produk-produk kerajinan lainnya. Namun hasilnya tetap saja hanya cukup untuk biaya sehari-hari, tanpa terlihat adanya tanda perubahan.

Setelah mendengar curahan hati seorang nenek, timbul sebuah ide baru dalam diri Slamet. Dalam benaknya bertanya, bagaimana caranya supaya bisa menganyam. Karena dulu Tangerang terkenal dengan anyaman pandan, dan nenek ini juga pintar menganyam. Namun karena banyak lahan pertanian dan pandan digusur untuk industri-industri besar banyak warga kehilangan mata pencaharian dari menganyam pandan.

Dari sini timbul pemikiran Slamet untuk mengangkat kembali kearifan lokal yang telah punah, dengan memanfaatkan sampah industri sebagai media alternatif. Akhirnya ia mulai coba-coba mencari media yang tepat untuk digunakan sebagai bahan anyaman. Kebetulan dia mendapat kemasan limbah alumunium foil bekas pembungkus tube pasta gigi. Itu dibelinya dari seorang pemulung. Dia coba sambung-sambungkan, kemudian dirajang untuk bahan anyaman. Usahanya berhasil, tapi prosesnya terlalu lama, karena banyak sambungan.

Karena permintaan si-nenek yang bisa menganyam, membuat Slamet semakin bersemangat. Ternyata, apa yang dihasilkan, mendapat respon positif. Tidak hanya dari masyarakat sekitar, ketika mengikuti pameran produk kerajinan, produk yang dihasilkan Slamet dilirik banyak orang. Sehingga dia semakin bergairah mencari bahan baku sampah. Berbagai cara dilakukan termasuk menghubungi perusahaan penghasil limbah. Akhirnya ada perusahaan yang bersedia memberikan limbahnya. Karena ukurannya lebih besar, ketika dipotong-potong lebih panjang dan lebar. Sepanjang medianya bisa dijadikan anyaman hasilnya bisa LUMINTU (Lumayan Itung-itung Nunggu Tutupnya Umur).

Karena banyak warga yang ingin bernostalgia masa-masa menganyam dulu, satu persatu mereka datang ke LUMINTU minta dilibatkan – diberi kesempatan. Usia mereka rata-rata di atas 60 tahun, bahkan, kata Slamet ada yang 98 tahun. Mereka ada yang tinggal di daerah Cipete, Kebalen, Pondok Kacang, Jombang, dan sekitarnya. Mereka datang ambil bahan dibawa pulang, untuk dianyam di rumah masing-masing. Setiap lembar anyaman dihargai Rp12.000 – Rp50.000, tergantung ukurannya. Ukuran terbesar 1,5 x 2 meter. Bagi yang benar-benar sudah terampil, seminggu mereka bisa dapat penghasilan Rp80.000 per minggu. Lumayan punya penghasilan sendiri, tidak minta uang jajan anak – cucu.

Produk kerajinan tangan yang diproduksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peluang pasar tinggi. Buktinya, permintaan untuk jenis produk ini menempati posisi cukup tinggi bagi pasar Eropa dan Amerika. Pasar ini juga sangat terbuka di Jepang meski Jepang dikenal sangat pemilih dalam menentukan barang yang dibelinya. Data dari Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), menggambarkan selain kerajinan, sangat terbuka pasar bagi produk; perhiasan, aksesoris, obat-obatan herbal, minyak aroma therapi, teh, gift product, produk kulit, produk perikanan bahkan sumpit. Permintaan dari berbagai negara melalui hubungan dagang Indonesia terus meningkat.

Untuk menggalang peluang pasar ekspor Kemendag membuka perwakilan perdagangan di berbagai negara. Dari situlah daftar produk didapatkan berdasar jumlah permintaan yang terus meningkat. Selain itu Kemendag juga menggelar program mengundang para calon buyer dari berbagai negara ke Indonesia untuk melihat langsung keunggulan produk dalam negeri teutama produk UMKM. Para calon buyer itu datang atas pembiayaan Kemendag dan mereka harus melakukan transaksi dengan nilai tertentu sepulang dari Indonesia.

Untuk itu para pelaku UMKM diharapkan pintar membidik peluang eksport bagi produk-produk mereka UMKM. Pelaku UMKM harus mampu membangun jaringan pemasaran baru melalui jaringan internet. Jaringan perdagangan online adalah salah satu kanal yang saat ini sudah menjadi saluran perdagangan yang sangat prospektif. Melalui teknologi on line ini UMKM bisa memasarkan produknya dengan murah karena biaya operasionalnya kecil sekaligus menjangkau pasar luas tanpa batas. Media online juga memungkinkan UMKM membidik pasar-pasar yang lebih luas dan ragam produk yang lebih banyak untuk dipasarkan. (Yesi)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *