Ideliasme dan Komitmennya Untuk Credit Union

Penampilannya selalu terkesan sederhana, low profile – kalm. Namun dia tipe pekerja keras, idealis. Komitmennya kuat, terlebih untuk kesejahteraan masyarakat kelompok bawah, orang-orang miskin, terpinggirkan. Misi mensejahterakan masyarakat diemban sejak masih di Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Pontianak, awal tahun  1980-an sampai sekarang.

Lembaga itu memfasilitasi proses pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) yang ada di masyarakat. Karena PSE lembaga gereja, mulainya dari kalangan umat. “PSE ditujukan utamanyanya untuk masyarakat ekonomi lemah. Mereka perlu bantuan, bimbingan dan perlu fasilitasi untuk membebaskan dari kemiskinan,” tutur Frans Laten mengawali perbincangannya dengan Majalah UKM, di Orchad Hotel, salah satu hotel berbintang di kawasan pusat bisnis di Jln Gajah Mada, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) dua pekan silam. Intinya, kata Frans, PSE itu memfasilitasi masyarakat – umat untuk mulai mengenal kehidupannya, mengetahui bahwa kondisi keuangannya terganggu, kurang beruntung, dan termarjinalkan. Mereka diberi semacam penyadaran.

Keberadaan PSE Keuskupan Agung Pontianak memberi kesempatan kepada Frans memperdalam – berlatih visi misi gerakkan pemberdayaan ekonomi dengan pelatihan selama 1 tahun. Selama pelatihan berpindah-pindah dari Jawa Timur sampai Palembang. Selain proses pembelajaran, juga pengenalan bentuk-bentuk kemiskinan masyarakat dari satu daerah ke daerah lain seperti apa, solusinya bagaimana, dan fasilitasi yang perlu diberikan apa saja.

Menurut Frans, ketika mengikuti pendidikan – pelatihan (1981) lebih banyak diarahkan untuk melihat masyarakat – umat yang kondisi ekonominya pas-pasan, dan bahkan lebih ke bawah lagi, orang-orang miskin yang tidak mendapatkan perhatian dari lembaga – pihak pemerintah yang memfasilitasi agar bisa keluar dari kungkungan kemiskinan. “Itu yang membuat saya semakin tertarik dengan karya pemberdayaan,” katanya seraya menambahkan bahwa dalam proses pendidikan dan pelatihan juga diperkenalkan tentang perkoperasian. Tahun 1985 Frans mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dasar Credit Union (CU) yang pelaksanaannya difasilitasi oleh PSE Keuskupan Agung Pontianak, fasilitatornya dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I), sekarang menjadi Induk Koperasi Kredit (Inkopdit).

Dalam pelatihan tersebut, disamping peserta diajak untuk bersama-sama melihat mau kemana arah gerakkan, juga diarahkan khusus bidang ekonomi sosial kemasyarakatan, bagaimana membangun perbaikan ekonomi, dan memberdayakan diri untuk keluar dari kungkungan kemiskinan, diawali dengan melakukan perancangan ekonomi keluarga. Dari situ akhirnya semakin nampak bahwa mereka yang hidup berkekurangan sangat membutuhkan fasilitasi gerakkan perekonomian, khususnya tentang CU. CU dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang didasari oleh saling percaya. Dan bukan hanya sekedar mengumpulkan orang, tetapi orang diajak untuk mempunyai keyakinan, memiliki rasa solidaritas untuk membangun perekonomian kelompok, sekaligus perekonomian individu. Cara pengembangan ini perlu dimiliki semua orang.

Memulainya, ada filosofi yang diberikan oleh CU, yaitu riakan air dari pelemparan batu di dalam kolam, melingkar seperti spiral. Dimulai dari satu titik, lalu berkembang lebih luas, dan semakin meluas. Landasannya, kelompok orang yang saling percaya. “Itu yang mendasari gerakkan Credit Union. Cita-citanya memang besar, tetapi harus dimulai dari yang kecil, dari titik jatuhnya batu kecil – kerikil. Dari situ pengembangan dilakukan, diarahkan dan ditunjukan bagaimana kita harus memulai membangun perekonomian tanpa harus bergantung orang lain,” urai Frans, membeberkan gerakkan CU memberdayakan masyarakat.

Ketergantungan kepada pihak lain, kata Frans, tidak boleh dilakukan karena yang lain itu keberadaannya juga terbatas. Kita harus membangun perekonomian secara bersama, diawali dari individu-individu. Dan tidak boleh berharap banyak dari pihak manapun, termasuk dari pihak gereja. Lebih-lebih dari pihak pemerintah yang kemampuannya juga terbatas. Sedangkan masyarakat yang harus diperhatikan sangat banyak. Bahkan hampir seluruh komponen, boleh dikatakan kerjanya hanya berharap dan meminta-minta kepada pemerintah. Sementara sumber dana yang dimiliki pemerintah untuk mempernaiki kehidupan masyarakat sangat terbatas.

Keterbatasan lembaga-lembaga lain itu, kata Frans, harus menjadi pemacu untuk memperbaiki kehidupan kita masing-masing. Jika perekonomian keluarga sudah mulai membaik, dan tertata, baru kemudian membantu yang lain. Omong kosong kalau kita membantu orang lain, sementara diri sendiri belum pada posisi yang mampu membantu. Bila hal itu terjadi, pasti gerakkan itu menjadi semu. Bila sudah terbangun dengan kelompok-kelompok kecil, kita membantu memfasilitasi yang lain. Perubahan perbaikan pada diri kita masing-masing, menjadi ciri individu ditularkan kepada individu-individu yang lain, atau kelompok lain agar bisa bersama-sama melakukan perbaikan, perubahan yang akhirnya dapat dinikmati bersama. Sinkronlah dengan azas CU atau azas Koperasi; dari – oleh dan untuk anggota.

Sebagai petugas lapangan dari PSE Keuskupan Agung Pontianak, kata Frans, tugasnya lebih fokus membentuk kelompok-kelompok tani. Mereka difasilitasi, lalu diajak untuk memulai aktivitas penyadaran pemberdayaan. Masuk gerakkan Credit Union bukan benar-benar dari nol. Karena di PSE sudah punya gambaran perbaikan pengembangan ekonomi masyarakat, dan sinkron dengan gerakkan Credit Union, tinggal melanjutkan. Bicara soal CU, kata Frans, setelah dilihat hari demi hari, bulan ke tahun, bukan hanya bicara eknomi ansih, tetapi lebih pada gerakkan pemberdayaan.

Kaitannya dengan perekonomian, karena skala pengukurannya lebih jelas, ada parameternya, ada angka-angka indikatornya. Namun yang tidak tampak, juga tidak kalah penting, seperti perbaikan sikap, perbaikan pola pikir, maupun perbaikan perilaku dari para anggota. Bahkan hal tersebut menjadi sangat penting sebagai pondasi. Untuk anggota baru tentu tidak serta merta dapat memahami hal itu dengan baik. Apalagi dari luar, yang dilihat tentu angka-angkanya saja. Padahal parameter yang tidak tampak itu lebih dominan untuk mengendalikan, dan mengembangkan CU.

Frans yang kini telah menduduki puncak karir sebagai General Manager (GM) Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, dulu namanya Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) yang beranggotakan 46 primer, benar-benar full time menangani CU baru mulai tahun 1990-an sebagai bendahara CU Khatulistiwa Bakti. Setelah tidak lagi di PSE (1993) Frans bergabung dengan sebuah Yayasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Di Yayasan itu ada 30-an Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menjadi tanggungjawabnya. Kegiatan utamanya tentang pemberdayaan, simpan pinjam dan memperbaiki pola pikir. Fokus wilayah kerjanya di daerah transmigrasi.

Di pertengahan tahun 1996 Frans tidak lagi di CUKB, dan melepas kegiatannya di KUB, lalu bekerja di sebuah asuransi. Tetapi hanya mampu bertahan sekitar 6 bulan, karena jiwanya tidak bisa lepas dari gerakkan Credit Union. Ketika BK3D ditata kembali, dan Frans dipecaya sebagai wakil ketua pengurus, membidangi pendidikan dan pelatihan (Diklat) hatinya “pulang kandang.” Karena pelaksana-pelaksana teknis belum ada, semua pekerjaan dirangkap oleh bendahara, sekretaris, termasuk wakil ketua. Karena pengurus mengalami kesulitan dalam melaksanakan – mengaktualisasikan program kerja, dalam suatu rapat menyepakati mencari orang yang bisa bekerja penuh.

Suatu hari, Frans dapat informasi dari seseorang, akan dijadikan manajer. Alasannya, karena sudah punya bekal ilmu pengetahuan hal-hal teknis dan non teknis berkaitan dengan gerakkan credit union. Informasi itu benar. Karena prospeknya cukup bagus, tawaran menjadi manajer diterimanya. “Aneh, tetapi nyata. Jabatannya manajer, tetapi tidak punya staf,” jelas Frans yang kala itu digaji Rp 450.000,- jauh di bawah penghasilannya ketika kerja di asuransi yang mencapai Rp 800.000,- dan sangat jauh dari gaji sang isteri yang sudah di atas Rp 2 juta. “Gajiku memang lebih besar dari gaji dia, tetapi aku sabar aja,” komentar sang isteri, Sesilia Seli, dosen program S2 Universitas Tanjungpra (Untan), merangkap Kepala Program Studi (Kaprodi), sambil terus memeloti pekerjaannya di laptop.

“Saya memilih gaji kecil, disamping idealisme dan komitmen terhadap gerakkan, prospeknya waktu itu sudah kelihatan. Kondisinya waktu itu memang belum apa-apa. Tetapi kalau credit union ini berhasil dikembangkan, pasti perbaikan income, akan mengikuti. Setelah dirembuk dengan isteri, akhirnya memilih menjadi tenaga full time di BKCU Kalimantan,” jelas Frans yang “kerasan” menempati ruangan berukuran 2 X 3 meter selama 6 tahun, di gedung bantuan dari Jerman, yang kini ditempati CUKB. Sebagai manajer tanpa staf, Frans harus menyusun tatalaksana, dan mekanisme kinerja seorang diri. Setelah menata teknis pekerjaan berkaitan dengan program kerja dia minta kepada pengurus untuk merekrut karyawan. Karena lembaga, BKCU belum mampu memberikan jasa – honor sesuai kondisi kebutuhan, dimulai dari tenaga magang.

Untuk mengembangkan CU – Koperasi pada umumnya, tidak ada kata lain harus memampukan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan. Baik di jenjang manajerial umum, maupun hal-hal teknis yang menyangkut sikap dan segala macam. Intinya, kata Frans, di dalam pelatihan selalu dikatakan; “Jika kita ingin maju, harus punya komitmen bersama, tidak mungkin sendiri-sendiri. Segala sesuatu bisa diwujudkan dengan kerja keras secara bersama-sama.” Kita juga harus melakukan perubahan cita-cita yang lebih tinggi, sehingga selalu memacu semangat kerja.

Menurut pengakuan Frans, dari perjalanan – perjuangan demikian panjang, yang didapat pun banyak sekali. “Kalau direnungkan, semua yang saya miliki berasal dari gerakkan Credit Union. Jika pun ada kontribusi dari yang lain, paling banyak hanya 10%,” jelasnya seraya menambahkan bahwa sejak 1996 sampai saat ini seluruh hidupnya diberikan kepada gerakkan CU. Karena sikap dan pekerjaannya seperti itu, mau tidak mau – suka tidak suka, sang isteri akhirnya ikut mencintai gerakkan CU, dan kini telah dipercaya oleh anggota CUKB yang berjumlah 44.171 orang, dengan aset lebih dari Rp 368 miliar. “Akhirnya, keluarga memberikan support luar biasa dan tak ternilai,” jelasnya bangga. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *