Ika Tri Wilujeng : Memberdayakan Perempuan Dengan Bir Pletok

Namanya bir. Namun tidak seperti bir pada umumnya, memabukkan karena mengandung alkohol. Karena jenis bir yang satu ini tidak sedikit pun mengandung alkohol. Di beberapa daerah ada bir lokal yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Di Jakarta ada bir lokal khas Betawi, namanya Bir Pletok. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada juga bir lokal, namanya Bir Jawa.

Baik bir Jawa maupun bir pletok memiliki citarasa khas. Keduanya kaya rempah dan keduanya, ketika diminum memberikan kesegaran luar biasa. Warnanya kuning cerah dengan lapisan busa di atasnya. Ketika direguk, rasanya mak nyuuuuus! Terasa sekali segarnya campuran aneka rempah. Rasa hangat pun segera menjalar di kerongkongan. Kalau pergi ke Yogyakarta, cobalah minum bir Jawa. Bir ini punya julukan keren. Magical drink. Bahan bakunya, rebusan kayu secang, cengkih, kayu manis, jahe, dan mesoye. Semula airnya berwana merah. Tetapi setelah ditetesi perasan jeruk nipis, warnanya berubah menjadi kuning cerah.

Menikmati bir Jawa terasa mantap jika dikocok terlebih dahulu sampai berbuih. Tinggal pilih; mau minum yang dingin atau hangat. Pilihan dingin menjadi favorit sebagian besar penggemarnya. Bir Jawa, bir lokal telah menjadi minuman favorit di hotel-hotel berbintang di kota gudeg itu. Pernah berkunjung ke Restoran Bale Raos di lingkungan Keraton Yogyakarta? Di restoran ini, kita bisa menikmati bir Jawa sambil mendengarkan uyon-uyon atau gending-gending Jawa.

Tak usyah jauh-jauh ke Yogyakarta, karena sejak awal tahun 2001, Restoran Bale Raos membuka cabang di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ternyata, di sini bir Jawa juga menjadi menu utama. Demikian pula bir lokal Betawi, Bir Pletok, menjadi menu unggulan di beberapa restoran di Ibukota. Kalau kita pergi ke Restoran Huize Triveli di Jakarta Pusat, bisa ketagihan minum bir pletok. Menyeruput bir pletok terasa begitu lembut seolah bukan dari rebusan rempah. Bir lokal ini diramu sedemikian rupa, sehingga stigma jamu yang melekat pada minuman berbahan baku produk herbal itu benar-benar hilang.

Bahan baku bir pletok, tak jauh berbeda dengan bir Jawa. Rebusan rempah, cengkih, kayumanis, jahe, secang, dan gula jawa. Bir pletok juga menjadi minuman favorit pada peringatan HUT Kota Jakarta setiap tanggal 22 Juni. Tetapi, Huize Triveli berinovasi dalam menyajikan bir pletok. Bir pletok dingin disajikan dengan cita rasa es cream vanilla. Es cream yang mengapung di permukaan bir pletok memberi warna kesegaran baru. Sebenarnya, ini merupakan perjalanan rasa. Penikmat bir pletok dapat merasakan hangat dan dingin sekaligus. Bagi penyuka minuman hangat pun tetap dapat menikmati bir pletok yang disajikan dengan  biskuit. Bir pletok hangat paling pas dihirup pelan-pelan ketika musim penghujan dan udara  dingin.

Di Yogyakarta, bir Jawa hanya dapat ditemui di lingkungan Keraton Yogyakarta. Bir pletok juga hanya di temukan di tempat-tempat tertentu di Jakarta. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta terus berusaha mempopulerkan bir lokal ini melalui ibu-ibu rumah tangga atau produk rumahan. Kalau kebetulan ke wilayah Jakarta Barat, tepatnya di Jln. Adikarya, Kedoya Selatan, pasti akan melihat papan besar penunjuk arah “Sentra Produksi Bir Pletok”. Papan penujuk arah itu menuju ke sebuah rumah produksi bir pletok milik Bu Rismi Madjah di sebuah gang sempit. Konon, dulu banyak warga di daerah itu yang membuat bir pletok. Tetapi, sekarang tinggal dia sendiri. Usaha ini sudah digeluti Bu Rismi  selama 25 tahun lebih.

Baik bir Jawa maupun Bir Pletok dibuat dengan cara merebus semua bahan baku rempah sampai mendidih. Bir biasanya diendapkan dari satu jam sampai semalaman untuk kemudian disajikan. Semakin lama disimpan, semakin enak. Tetapi produsennya memilih menyajikan dalam keadaan masih segar. Di Betawi, bahan baku bir pletok sangat beragam. Berbeda dengan Huize Trivelli yang hanya menyajikan rempah berupa cengkih, kayu manis, jahe, secang, dan gula jawa. Bu Rismi memiliki daftar lebih panjang untuk bahan baku bir pletok. Ia menambahkan juga buah pala, kembang peku, lada hitam, kapulaga, serai, daun pandan, dan daun jeruk.

Meski cara pembuatannya mudah, masyarakat cenderung mulai terpisah dari bir jawa maupun bir pletok. Rismi yang memproduksi bir pletok botolan dan bir pletok  bubuk mengatakan, masyarakat Betawi hanya mengonsumsi bir pletok pada acara pernikahan dan satu pekan setelah Idul Fitri, yakni pada Lebaran Betawi. Sama-sama menjadi simbol perlawanan terhadap minuman beralkohol, bir Jawa dan bir pletok memiliki sejarah panjang, Bir Jawa diciptakan di lingkungan Keraton Yogyakarta dan menjadi minuman kesukaan Sultan Hamengku Buwono VIII. Bir Jawa sengaja diciptakan agar orang Jawa tidak terseret minum minuman beralkohol ketika bergaul dengan penjajah Belanda.

Sultan Hamengku Buwono VIII juga selalu menjamu tamu-tamunya dengan bir jawa ketika sedang berlibur di Vila Kaliurang. Dinginnya hawa lereng Gunung Merapi di Kaliurang terusir ketika mereka menyeruput bir Jawa. Ketika tamu Belanda mengangkat gelas berisi bir beralkohol, Sultan pun memilih mengangkat gelas bir jawanya. Bir pletok asli Betawi dinamai dari bunyinya ketika bir itu pertama kali disajikan. Dulu, bir pletok disajikan dalam gelas bambu. Bir pletok segera berbunyi “pletok-pletok” ketika bir yang sudah dicampur es batu dikocok dalam gelas bambu. Bir pletok diciptakan untuk menjauhkan orang Betawi dari bir beralkohol. Rempah-rempah yang digunakan untuk membuat bir pletok pun dekat dengan keseharian warga Betawi tempo dulu.

Dulu, secang menjadi tanaman pagar, tetapi sekarang harus dibeli. Bir pletok pun makin populer kala itu karena memiliki khasiat, di samping rasanya yang enak. Jahe, misalnya, berkhasiat sebagai penghangat badan. Sedangkan secang menghilangkan panas dalam.

Bagi Ika Tri Wilujeng (30 tahun) yang tahun 2016 memprakarsai terbentuknya Komunitas Kampung Muara di Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, kemudian bisnis bir pletok adalah sesuatu yang baru. Lewat komunitas tersebut, Ika, kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 23 Desember 1986, memberdayakan belasan ibu rumah tangga menjadi perempuan mandiri secara ekonomi.

Apa yang dilakukan ibu-ibu di Komunitas Kampung Muara? Ika yang Sarjana Ilmu Komunikasi itu mengemukakan bahwa ide pembentukan komunitas bermula dari kegemarannya menanam aneka tanaman herbal di pekarangan rumahnya. Sebelum menetap di Jakarta, ia sudah menekuni bisnis daun mint di kampung halamannya, Surabaya. Hobi berkebun itu terus dilanjutkan ketika pindah ke Jakarta tahun 2016.

Awalnya, Ika mengajak ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah untuk ikut menanam tanaman herbal. Tetapi, Ibu Is, salah seorang sesepuh menginformasikan bagaimana sulitnya mengajak mereka beraktivitas, karena kondisi ekonomi warga memang agak memprihatinkan. Keingnan berbagi pengalaman kepada warga sekitar untuk menghilangkan rasa jenuh, lantaran di rumah tak ada siapa-siapa, pernah disampaikan kepada sang suami, Ananda Budiantoro. Mendapat dukungan orang yang dicintai, Ika merasa plong. “Mulanya, setiap pagi langganan susu kedelai dengan Bu Is. Beberapa ibu rumah tangga merespons cukup positif terhadap ajakan saya,” kenangnya.

Setelah beberapa bulan melakukan kegiatan menanam berbagai tanaman herbal termasuk jahe, Ika memikirkan bagaimana caranya agar tanaman herbal itu memiliki nilai tambah. Sehingga kaum ibu itu bisa memperoleh sumber pemasukan tambahan untuk keluarga. Kegiatan pemberdayaan yang dirintis Ika semakin menarik banyak kaum perempuan. Suatu hari Ika berkenalan dengan salah seorang Ibu yang telah punya keahlian, Ibu Rani, ahli meracik ramuan bir pletok. Ika pun terinspirasi untuk mengolah bahan herbal menjadi minuman khas Betawi, bir pletok, sebagai ladang bisnis bersama. “Pabrik bir” kecil-kecilan itu di rumah Ika. Dengan sukarela anggota komunitas menawarkan alat-alat dapur untuk digunakan sebagai proses produksi. “Saya bersyukur, ketika hasil produksi ditawarkan ke masyarakat di lingkungan kelurahan dapat sambutan positif,” urai alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya itu.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Ika sadar bahwa bir pletok racikan Bu Rani punya potensi pasar yang menjanjikan. Karena itu, bersama 15 ibu-ibu tetangganya pada Mei 2016 membentuk perkumpulan yang diberi nama Komunitas Kampung Muara. Bersama komunitas, mereka memproduksi bir pletok sebagai kegiatan bisnis. Dan masa depannya cukup menggembirakan. Bir pletok produksi Kampung Muara itu kini semakin banyak dipesan orang. Bahkan pemasarannya sudah menyeberang ke luar Pulau Jawa.

Jika awal pemberdayaan hanya menghasilkan Rp50.000 per bulan per orang, namun seiring berjalannya waktu, penghasilan meningkat Rp300.000 – Rp500.000 per orang per bulan. Jadi, setiap bulan mereka semacam menerima gaji. Keuntungan dari kegiatan bisnis itu dibagi rata. Semula, setiap barang terjual uangnya langsung dibagi. Namun anggota komunitas mengusulkan, pembagian dilakukan sebulan sekali agar keuntungannya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga. Dengan terus meningkatnya penghasilan mereka, meningkat pula kesejahteraan keluarga. Walau kadang orderan sepi, kegiatan produksi terus bergairah. “Harapannya, tahun 2018 ada perkembangan yang signifikan,” ujarnya.

Produksi bir pletok Komunitas Kampung Muara saat ini rata-rata mencapai 200 botol per bulan. Satu botol dijual Rp30.000, maka total penjualan per bulan bisa mencapai Rp6 juta. Penjualannya tidak lagi swadaya, tetapi melibatkan reseller. Selain usaha tanaman herbal dan bir pletok, Komunitas Kampung Muara mulai merambah bisnis produk kuliner lain, seperti Cilok Cihuy dan Seblak Sayur. Saat sepi pembeli, karena ada warga yang kondisinya memadai dan sersedia membeli, hasil produk anggota komunitas tetap ditampung sehingga mereka tetap bisa ‘gajian’ setiap bulan.

Komunitas Perempuan Kampung Muara pernah dapat kunjungan dari Dinas  Kelautan, Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Provinsi DKI Jakarta dan memperoleh bantuan rak hidroponik. Dengan ada fasilitas tersebut, memberikan kesempatan kepada anggota komunitas untuk menyalurkan hobi bercocok tanam di rumah masing-masing makin terbuka, tidak pusing memikirkan lahan.

Awalnya, kata Ika, merasa prihatin melihat ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah. Rata-rata ibu rumah tangga, menganggur. Padahal, mereka punya potensi untuk maju. Sejak terbentuk komunitas Perempuan Kampung Muara, kemudian diberdayakan dan dilakukan pendampingan untuk mengembangkan usaha kecil menengah (UKM), akhirnya mampu meningkatkan perekonomian keluarga.

Sebagai inisiator yang terus berinovasi, dan berhasil, Ika Tri Wilujeng akhirnya dipercaya menjadi pengurus posyandu, Kelompok Kerja (Pokja) V PKK Kelurahan, lalu Kecamatan, hingga Walikota. Dia juga sering  menjadi mentor di berbagai kegiatan di beberapa wilayah DKI Jakarta, khususnya keterampilan ibu-ibu rumah tangga.

Jika arisan, ada saja warga yang usul untuk mengembangkan kreativitas. Juga di organisasi wanita kelurahan, kecamatan maupun walikota. Sampai-sampai, kekurangan waktu untuk mengurus Habibi buah hatinya yang baru berusia 3 tahun. Itu konsekuensi dari kiprah mengurus banyak orang. Puas dan bahagia, termasuk suami, kata dia, manakala usaha ibu-ibu binaan khususnya warga Kampung Muara bisa berkembang.

Di rumahnya, di Gg. Muara V No. 6, Kampung Muara, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Tika juga menjual bir pletok dan aneka jus dengan label Bir Pletok Bu Is. Ketika ditanya kenapa tidak memakai label Bu Ika, dia bilang, Bu Is adalah tokoh masyarakat yang berjasa membangkitkan semangat ibu-ibu untuk mengembangkan perekonomian warga melalui usaha bir pletok. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *