IKOPIN – KPPD Segera Realisasikan Kerjasama

Usai penandatangan MoU – kesepakatan kerjasama antara Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta dengan Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), yang masing-masing diwakili oleh petingginya; H. Hasanuddin, B.Sy, SH, Ketua Umum KPPD, dan Prof. DR Ir.Burhanuddin Abdullah, MA,  Rektor Ikopin, rombongan dari KPPD DKI langsung menemui Direktur Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan, Ikopin, Indra Fahmi.

Indra menjelaskan bahwa dirinya, sudah hampir 4 tahun mendapat amanah sebagai Direktur Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan – Institut Manajemen Koperasi Indoesia (PIBI) Ikopin. Lembaga ini merupakan unit – bagian dari bidang riset dan kerjasama Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Rektor Ikopin No.056/Kept-Rektor/VIII/1995, tanggal 1 Agustus 1995. Pada waktu itu Rektor Ikopin Prof.DR Yuyun Wirasasmita.

Kelahiran PIBI didorong oleh kondisi kegiatan pembinaan Usaha Mikro, Kecil & Menengah dan Koperasi (UMKMK) yang selama ini menggunakan model pendekatan yang bersifat partial dan klasikal, yaitu kegiatan pembinaan UMKMK yang dilaksanakan terbatas kepada kegiatan-kegiatan pada bentuk pelatihan manajemen, tanpa ditindak lanjuti dengan kegiatan lainnya secara berkelanjutan.

Pada sisi yang lain, berdasarkan hasil pengkajian dan penelitian lapangan yang dilakukan menunjukan bahwa permasalahan yang dihadapi sebagian besar UMKMK ternyata sangat kompleks dan beraneka ragam, baik secara internal maupun eksternal. Beberapa faktor internal yang masih jadi masalah yaitu; kualitas sumber daya manusia (SDM) yang relatif masih rendah, modal yang terbatas, keterbatasan akses pasar, sistem pencatatan usaha yang rendah, perizinan usaha yang terbatas, terbatasnya akses terhadap lembaga keuangan dan akses informasi usaha yang masih rendah.

Adapun faktor eksternal lebih banyak berkaitan dengan iklim dunia usaha yang belum kondusif bagi pengembangan UMKMK dan penciptaan wirausaha baru di Indonesia. PIBI yang memiliki kepedulian dalam pengembangan UMKMK, senantiasa melakukan inovasi dan kreasi dalam program pembinaan UMKMK dengan menggunakan model pendekatan baru yaitu Pola Inkubator Bisnis.

Hal ini perlu dilakukan mengingat sifat dunia usaha yang dinamis dan permasalahannya yang cukup komplek, serta beraneka ragam, pengembangan UMKMK melalui Program Pendampingan yang terpadu, regular dan berkesinambungan sangat diperlukan untuk membantu menumbuhkembangkan kegiatan UKM dan Koperasi, sampai usahanya menjadi mapan dan mampu berjalan secara mandiri.

PIBI merupakan salah satu Pusat Inkubasi senior di Indonesia, bahkan menurut Indra Fahmi, tahun 1995 sampai tahun 2000 banyak sekali yang menjadikan PIBI sebagai inkubasi bisnis bagi pelaku usaha. PIBI bisa dikatakan sebagai pelopor. Tahun 1995 banyak sekali yang mengadakan study banding – belajar mengenai PIBI ini tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari beberapa negara tetangga.

Sebagai inkubator bisnis dan kewirausahaan rintisan di lingkup institusi perguruan tinggi koperasi yang sampai saat ini merupakaan satu-satunya di Indonesia, PIBI harus berjuang “sendirian” namun tidak pernah merasa lelah kemudian berhenti. Perjuangannya tidak sia-sia. Sejak 3 – 4 tahun terakhir telah banyak melakukan penetrasi. Jika di awal sekmennya lebih banyak menangani masalah beasiswa mahasiswa dari Papua. Sejak 4 tahun lalu (2015) yang semula namanya Inkubator Bisnis ditambah menjadi Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan.

Untuk Inkubatornya, PIBI sudah punya tenant – Usaha Kecil Menengah (UKM) Startup, Sejak tahun 1995 sudah lebih dari 150 UKM binaan. Akses-akses pasar, akses permodalan akses manajemen, akses teknologi dan akses informasi sudah dilakukan. “Banyak yang sudah berhasil, namun ada juga yang masih stagnan. Ini resiko bisnis,” jelas Indra.

Para pelaku UKM, lanjut Indra, juga diberikan pelatihan dan pendampingan. Fokus PIBI lebih pada pelatihan, bisa kearah manajerial, kearah perkoperasian, atau penyusunan business plan – rencana bisnis, dan sebagainya. Sumber dayanya para dosen dari Ikopin. Misinya; Menciptakan wirausaha baru yang tangguh, profesional dan mandiri dalam menjalankan dan mengembangkan usaha. Meningkatkan kualitas SDM, meningkatkan akses UMKMK ke pasar, lembaga keuangan, tenologi dan informasi, serta lembaga pemerintahan. Menciptakan jaringan kerjasama usaha diantara sesama UMKMK yang telah menjadi tenant maupun dengan lembaga lainnya.

Soal pendanaan, PIBI sama sekali tidak dibiayai oleh Ikopin, melainkan harus mandiri, mencari sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan. Karena PIBI mendorong koperasi berbisnis, mendorong UKM berbisnis, maka PIBI pun harus bisa berbisnis. Kekuatan PIBI ada di networking – jejaring. Dan akhirnya PIBI mampu memberikan kontribusi kepada Ikopin.

Indra mengakui, PIBI pernah mendapat bantuan Lab System Mikro dari Bank Bukopin, tetapi hanya sebentar kemudian diambil lagi. Alasannya kerahasiaan perbankan. Status kerjasama akhirnya meningkat menjadi Swamitra. Setelah dikaji, Swamitra itu mematikan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Ikopin. “Punya koperasi, tetapi manajemennya Bank Bukopin. Swamitra hanya sebagai outlet Bank Bukopin. Akhirnya kerjasama dihentikan,” jelas Indra.

PIBI sudah beberapa kali melakukan pelatihan bagi pegawai – karyawan yang jelang purna bhakti – pensiun. Pernah 7 kali memberikan pelatihan bagi karyawan Bank Indonesia (BI) yang jelang pensiun. Pernah memberikan pelatihan bagi karyawan PT Krakatau Steel, sebelum perusahaan baja plat merah itu goyang. Pernah berulang kali memberikan pelatihan untuk para karyawan Pupuk Sriwijaya (Pusri).

Langkah awal yang dilakukan, dari dasar logika, switching – perubahan mental terlebih dulu. Banyak top manajemen itu ngerti kalau disuruh melakukan manajemen korporat-korporat besar. Pernah yang diberi pelatihan level direktur atau pegawai golongan IV. Mereka ngerti tentang manajemen tetapi begitu disuruh mengelola, karena bagaimanapun kelak dia harus menjadi pengelola – pemilik, tidak bisa. Karena itu, kata Indra harus dilakukan witching mental dulu. Maka PIBI mengundang konsultan psikolog untuk mengubah cara berfikir sebagai pondasi.

Kemudian diajarkan tentang konsep rutin manajemen & opportunity managemen. Yang namanya opportunity bagi pelaku UKM tidak ada masalah. Ibarat orang jalan, UKM itu suka lari-lari kecil menemukan sesuatu. Tapi rutin manajemennya lemah. Sedangkan karyawan yang akan memasuki purna tugas rutin manajemennya kuat. Karena itu yang dikuatkan opportunity manajemennya.

UKM itu tidak berkembang persoalannya adalah uang – kurang permodalan. Sedangkan orang-orang yang mulai memasuki masa pensiun (MPP) keuangannya sudah cukup kuat, modal dari lembaga mereka. Tetapi lemah dalam hal opportunity sehingga bingung mau mulai dari mana, menggali ide bisnis seperti apa.

Bagi orang yang biasa dengan dunia bisnis, kata Indra, banyak ide. Bahkan saudara kita dari etnis Tionghaw sejak kecil sudah diajari bisnis. Sering, melayani anak dengan melayani konsumen, mereka lebih mengutamakan melayani konsumen. Anak, nangis-nangis sebentar tidak ada masalah. Mungkin juga sebagian orang Minang, orang Lampung, orang Tasikmalaya melakukan hal seperti itu, karena bukan budaya pegawai – karyawan.

Setelah cara berfikir calon wirausaha dari kalangan pegawai itu terbuka, diundanglah orang yang memiliki kisah sukses. Yang diundang, bukan pengusaha yang sukses, tetapi pengusaha dari pensiunan. PIBI punya jaringan orang sudah pensiun tetapi maju tak gentar untuk berbisnis. Seperti misalnya, pemilik pabrik keu Amanda, dia adalah pensiunan dari PT Pos & Giro. Dia mulai berbisnis setelah usia 50 tahun. AMANDA aartinya Anak – Mantu – Damai. Usaha yang dirintis dari kecil itu, kini sukses luar biasa.

Pelajaran berikutnya, MANUK – manajemen usaha kecil. Kalau manajemen perusahaan besar, mengelola aset miliaran, mereka sudah biasa. Tetapi kalau Manuk itu susah. Punya delimatika – problematika tersendiri. Bagaimana melayani konsumen dengan prima, bagaimana masalah pemasaran, soal keuangan – permodalan, akses informasi dan sebagainya. Semua diindentifikasi bagaimana mengatasi persoalan UKM.

PIBI juga main di area digital, mengajarkan bagaimana membuat website. “Bagi orang yang tidak terbiasa di bisnis kadang dianggap mengerikan. Pada tidak,” jelas Indra. Disamping ada simulasi, para calon wirausaha itu juga diajak kunjungan ke lapangan. Misalnya, ke pabrik tahu di Sumedang. Kunjungan ke lapangan itu ada yang hanya sekedar liat-liat saja bisnis ini, bisnis itu, tetapi ada juga yang praktek. Banyak orang yang tahu, tetapi tidak ngerti prakteknya. Misalnya membuat tahu, bagaimana proses membuat tahu dari awal, memilih kedelai yang baik, sampai tahu itu siap dimasak.

Namun akhirnya akan kembali ke basis peminatan calon wirausaha tersebut. Tidak bisa dipaksakan, harus di pertanian, misalnya, sementara yang diminati dibidang perbengkelan atau garmen. Untuk mengetahui bidang yang diminati calon wirausaha, diadakan kuisioner, kemudian dikelompokan, dan didekatkan. Tidak mungkin, kalau ada 40 peserta, lalu pilihannya juga ada 40 jenis, kemudian disiapkan materi yang berbeda-beda sesuai keinginan peserta. PIBI akan menyiapkan nomenklatur, pertanian, perbengkelan, peternakan, asesoris dan sebagainya, kemudian dilakukan mentoring bisnis, dan diskusi. Kalau mau berlanjut, ada pendampingan juga.

Namun yang terpenting, kata Indra, para birokrat – pejabat itu harus tahu juga bahwa bisnis itu sesuatu yang menggairahkan. Namun, harus dilakukan swiching karena bagi orang yang berusia 50 tahun duduk berjam-jam mendengarkan cerita baru memang tidak mudah. PIBI pernah membuat dua kelas, ada pesertanya yang satu level, ada juga yang beragam.

Ketika menangani pendidikan untuk karyawan PT Taspen yang akan pensiun, Direktur Keuangan mengatakan; disamakan saja, tempat juga tidak diistimewakan. Namun ada juga yang bilang; Muliakanlah karena mereka sudah mau pensiun. Hotelnya bintang 4. Ada juga pesertanya suami isteri. Karena tidak mungkin suaminya mulai binis jelang pensiun tanpa di-backup oleh sang isteri. Kata pimpinannya, sekalian memberikan kesempatan berbulan madu lagi. “Prinsipnya PIBI fleksibel, menyesuaikan keinginan mitra,” tutur Indra,

Setelah menorehkan sejarah baru pada 5 Juli 2019 KPPD akan segera merealisasikan pendidikan kewirausahaan bagi anggotanya yang 3 – 5 mendatang akan purna tugas alias pensiun. Setelah dapat ilmu, paling tidak tahun pertama belajar bisnis, hokinya di mana. Kalau sukanya ternak, ternak apa. Ayam, bebek, kambing, sapi atau yang lain. Ketika masuk tahun ketiga, dia sudah mulai jalan stabil. Sehingga ketika menerima SK Pensiun, 5 tahun kemudian tidak kaget, dan bisa fokus mengembangkan usahanya sendiri. Harapannya, mereka tetap bergabung menjadi anggota koperasi, dan pinjam modal di koperasi.

Pendidikan kewirausahaan dan manajemen bisnis ini menggunakan metoda  pendidikan orang dewasa (Androgogy) dengan pendekatan partisipatoris. Untuk itu teknik belajar yang digunakan adalah; study kasus, diskusi, bermain peran, simulasi, praktek dan pemagangan.

Lokakarya penyusunan rencana strategis (Renstra) ini menggunakan metode LFA (logical Framework Approach). Metoda ini dapat dimanfaatkan untuk perencanaan pembangunan ekonomi dalam suatu kawasan – community, perusahaan serta organisasi pelaksana tugas.

Kemudian program magang dilaksanakan di tempat usaha tenant PIBI sesuai dengan permintaan masyarakat. Untuk yang mengikuti program inkubasi bisnis maka otomatis akan mendapatkan kegiatan magang. Adapun bobot pembelajarannya 80% pada aspek teknis usaha dan 20% manajemen usaha. peserta akan dilibatkan langsung dalam operasi produksi dan pemasaran serta pemecahan masalah usaha sesuai dengan pengalaman yang dihadapi oleh tenant.

Pembekalan bagi pegawai suatu perusahaan – instansi berupa program kewirausahaan yang secara umum tujuannya membentuk wirausaha baru. Program ini untuk memberikan keyakinan bahwa usia bukan halangan untuk memulai suatu usaha dan mengarahkan bahwa setelah pensiun, seseorang memiliki potensi untuk berkembang menjadi wirausaha.

Pameran produk tenant PIBI diselenggarakan untuk dapat mengenalkan produk yang dihasilkan oleh tenant PIBI kepada calon rekanan (pembeli) dan masyarakat luas. Kegiatan ini dapat berupa kegiatan tunggal atau mengikuti event-event pameran lainnya. Riset sosial ekonomi untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi suatu wilayah serta memberikan alternatif solusi bagi penyusunan model pengembangan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.

Kajian ini untuk mengetahui; Potensi, peluang, hambatan, dan tantangan pengembanan suatu wilayah secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. PIBI sebagai lembaga inkubator bisnis yang sudah lama berdiri di Indonesia senantiasa mendampingi berbagai pihak dalam pendirian dan pengembangan inkubator bisnis dimanapun.

PIBI juga melaksanakan Pelatihan Standarisasi Produk dan Proses Pelelangan bagi UKM. PIBI berkomitmen untuk terus memajukan UMKMK, fokus membantu UMKM untuk bisa tumbuh dan berkembang. Hal ini dibuktikan dengan pelatihan standarisasi produk yang seringkali menjadi masalah bagi pelaku UMKM. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetesi UKM Tenant dalam memahami prosedur pengadaan barang – jasa.

Materi yang diberikan seputar prosedur dan syarat – syarat produk maupun kelembagaan usaha untuk mengikuti kegiatan pelelangan – tender pengadaan barang- jasa yang diadakan oleh instansi pemerintah – swasta. Khususnya pengadaan oleh instansi pemerintah baik Kementerian ataupun BUMN – BUMD serta dinas dan badan yang pendanaannya bersumber dari APBN – APBD.

PIBI juga menyelenggarakan Seminar Digital Marketing Bagi Pengusaha Start Up (cara promosi dan menjual secara online), dengan menggandeng komunitas anak muda yang terhimpun dalam Digital Youthpreneur. Top of FormBottom of FormPelaksanaannya berbentuk workshop, agar peserta dapat langsung mempraktekannya selama kegiatan berlangsung. Kegiatan iit salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi para pelaku usaha (Start Up) khususnya kompetensi marketing.

Dalam penerapan strategi pemasaran produk, kita senantiasa dihadapkan pada empat hal klasik, yaitu belum memahami perbedaan antara pemasaran (marketing) dan penjualan (sales). Sering mengandalkan harga murah sebagai strategi bersaing, belum memahami konsep service, belum membangun positioning and differentiation.

Menurut Indra, beberapa pengusaha Start-Up ada yang tidak menyadari bahwa ada kompetitor yang menawarkan manfaat produk-jasa sejenis yang relatif sama. Ada juga yang sudah menyadari hal ini, tetapi mereka pasrah dengan keadaan tersebut, kemudian terjebak dalam perang harga (price war).  Yang harus dilakukan pada kondisi saat ini adalah mempertajam differentiation dari manfaat yang ditawarkan, supaya berbeda dengan para kompetitor.

Tujuan besarnya supaya dapat memiliki positioning di pikiran dan hati konsumen. Jika sudah melakukannya maka konsumen sudah punya opsi untuk kembali kepada brand produk tersebut. Sekaligus menjadi brand endorser yang mengkomunikasikan brand tersebut kepada keluarga atau kolega mereka. Salah satu peluang untuk meningkatkan upaya tersebut adalah dengan membidik masyarakat pengguna internet. Jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 132 juta orang, 40 % diantaranya adalah penggila media sosial atau 106 juta orang. Penggilan internet tersebut, 85% di antaranya mengakses media melalui perangkat seluler.

Beberapa kelebihan penggunaan internet dalam implementasi bisnis adalah konsumen lebih aktif mencari apa yang diinginkannya dengan menggunakan media online, konsumen dapat mengakses berbagai informasi dengan lebih mudah, pemasar dapat menawarkan lebih banyak produk dan jasa. Pemasar dapat mengumpulkan informasi mengenai konsumennya dengan lebih cepat dan mudah.

PIBI juga telah berhasil menginisiasi Koperasi Warga Tani Pantastik Sumedang. yang bergerak di bidang budidaya tanaman hanjeli. Koperasi itu berhasil mengolah biji hanjeli menjadi beras dan tepung hanjeli berikut makanan olahannya. Langkah lain, melakukan penguatan pada Koperasi Lele Mandiri (Koplema). Budidaya (ternak) ikan lele merupakan salah satu peluang bisnis yang menguntungkan. Lele adalah salah satu ikan tawar yang paling diminati masyarakat Indonesia. Bisnis ikan lele pun tidak sulit, karena lele termasuk ikan yang mudah didapatkan dan cara perawatannya pun lebih mudah dibanding jenis ikan lainnya.

Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas pembudidaya lele yang tergabung dalam Koplema. PIBI membantu merealisasikan visi Koplema yang akan menjadikan koperasi ini mampu mewadahi dan mensejahterakan para petani ikan lele. Koplema mengkoordinasi para petani lele khususnya yang ada di Jawa Barat. Koperasi yang diketuai Suandi Juhud ini juga memberikan pelatihan tentang cara budidaya ikan yang baik. Koperasi yang berkantor di Jalan Siliwangi 308, Kuningan, Jawa Barat itu berupaya meningkatkan bargaining position supaya harga lele di petani tidak terlalu murah.

Misi Koplema ingin memudahkan petani dalam mendapatkan pasokan benih secara berkelanjutan dan pangsa pasar  yang kontinyu. Kini, Koplema yang didampingi PIBI sedang berupaya menghimpun para pembudidaya Lele yang tersebar di berbagai kota di Jawa Barat antara lain Kab Cirebon, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka dan Sumedang.

Menurut Indra, masih banyak UKM yang tidak bisa mengikuti tender lelang yang diadakan pemerintah. Di lapangan, banyak UKM belum bisa memanfaatkan peluang yang ada karena kurang memahami aturan pelelangan. UKM selama ini hanya bisa menjual produknya secara langsung pada konsumen (retail). Alhasil, sulit bagi mereka untuk meningkatkan omzet dan kinerja bisnisnya melalui pendanaan yang bersumber pada APBN ataupun APBD.

Dari identifikasi awal penyebab rendahnya UKM dalam mengikuti pengadaan barang dari pemerintah setidaknya ada tiga hal.Pertama, UKM tidak mengetahui secara sempurna dokumen apa yang harus mereka miliki bila akan mengikuti pelelangan. Kedua, tidak tahu cara menjajagi untuk mendapatkan Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP). Ketiga, UMKM tidak mengetahui cara mendapatkan password dari LPSE maupun cara mendaftar pada katalog elektronik.

Mengatasi kendala tersebut, PIBI berinisiatif mengadakan pelatihan proses pelelangan bagi UKM binaan. Pelatihan diadakan karena adanya peluang yang diberikan pemerintah dalam hal pengadaan barang yang bersumber dari APBN-APBD, pada UMKM.

Ada beberapa kebijakan pemerintah terkait pelelangan bagi UKM. Di antaranya, adalah menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha kecil, nilai paket kurang atau sama dengan Rp2,5 miliar diperuntutkan bagi UKM, mencantumkan produk usaha kecil dalam katalog elektronik, dan Penyedia non kecil bisa bekerja sama dengan usaha kecil dalam bentuk kemitraan, sub kontrak atau kerja sama lainnya.

Beberapa materi diberikan dalam pelatihan pelelangan ini, yakni tujuan dan kegunaan standarisasi produk, menyusun spesifikasi produk, menyusun harga perkiraan sendiri (HPS), menyusun 9 dokumen pelelangan, mengikuti proses e-Tendering, dan e-Purchasing, serta e-Katalog.

Upaya lain, PIBI juga memberikan pelatihan cara memulai ekspor kepada pelaku UKM. Saat ini begitu besar dan terbuka peluang bagi UKM untuk melakukan ekspor. Karena itu UKM harus paham teknis dalam melakukan ekspor. Sekarang ada ancaman banjirnya barang impor dan begitu mudahnya melakukan impor, seperti misalnya dari China. Mencermati hal tersebut, PIBI berinisiatif melaksanakan pelatihan bertajuk “Pelatihan Cara Memulai Ekspor” bagi para tenantnya. Dengan mengetahui melakukan ekspor barang itu tidak sulit, maka para UKM bisa ramai-ramai melakukan ekspor.

Calon eksportir juga wajib mempelajari berbagai jenis dokumen produk ekspor yang harus disiapkan, biaya dan harga jual produk ekspor, jenis barang yang bisa diekspor dan jenis-jenis pengangkutan produk ekspor. Dengan memahami hal tersebut pelaku UKM dapat mengerti seluk beluk melakukan ekspor serta bersemangat untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produknya yang berorientasi ekspor.

Pelaku UKM sektor ekonomi kreatif saat ini masih terhambat permasalahan pemodalan dan pemasaran yang membuat mereka tidak bisa berkembang hingga ke tingkat global. Persoalan yang dihadapi mengerucut kepada dua hal, yaitu pemasaran dan pemodalan. Untuk melakukan pemasaran yang gencar memerlukan modal yang tidak sedikit.

Sedangkan, untuk mendapatkan akses pemodalan biasanya lembaga keuangan seperti perbankan melihat apakah ada pasar potensial yang dimiliki oleh usaha tersebut. Bekraf saat ini sedang gencar mendorong agar ekonomi kreatif dapat menjadi kekuatan perekonomian Indonesia pada masa depan sehingga diharapkan produk lokal anak bangsa dan bisa merambah mancanegara. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *