IKSP Citra Mandiri seperti Anak Ajaib

Perkembangan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Citra Mandiri, Bali, seperti anak ajaib. Akhir Maret 2013 asetnya telah mencapai Rp 80 miliar lebih, belum termasuk penguatan modal yang diterima dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) sebesar Rp 8 miliar yang diterima pada 26 April 2013. Padahal Citra Mandiri yang baru menginjak usaia remaja, 13 tahun, setahun yang lalu asetnya baru Rp 58 miliar.

Dengan pertumbuhan yang demikian cepat, kata General Manager (GM) Citra Mandiri, I Wayan Sudarta, keberadaan koperasi ini benar-benar memberikan manfaat kepada warga Banjar Panti. Warga banjar yang otomatis anggota koperasi kalau mau mencari pinjaman untuk biaya sekolah – kuliah anaknya mudah. Anggota yang mau pinjam untuk berwirausaha, atau untuk menambah modal usahanya, juga mudah. Manfaat lain keberadaan Citra Mandiri, untuk pembangunan pura atau banjar warga tidak dibebani iuran karena biaya ditanggung oleh koperasi.

Dijelaskan bahwa setahun terakhir perkembangan yang paling menonjol adalah dari sisi usaha. “Apa yang kami capai merupakan usaha sebelumnya, baik dari sisi pengelolaan pengelolaan, penerapan teknologi, juga kesungguhan dalam melayani. Pelayanan adalah ketulusan dalam memberikan yang terbaik bagi anggota dan keluarganya” tutur Wayan yang minta pensiun muda dari BNI 46 kemudian mengelola koperasi.

Terkait dengan kinerjanya, untuk tahun buku 2013, pengurus menargetkan aset bisa mencapai Rp 64 miliar. Namun baru dua bulan target tersebut telah terlampaui. “Tetapi buat kami, ini belum cukup. Sebab begitu banyak rasio – kebutuhan anggota yang harus dipenuhi. Belum lama ini kami menyalurkan permodalan tahap ketiga kepada anggota Rp 1,5 miliar. Kami tahu, sebenarnya hal itu melampaui batas limit. Tetapi kalau tidak diberikan modal tambahan kegiatannya justru akan macet,” jelas Wayan yang tahun 2007 silam memperoleh Satyalencana Wirakarya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, atas prestasinya mengembangkan koperasi yang dibangun dari komunitas arisan anggota banjar.

Soal target pendapatan dan profit, kata Wayan, setiap bulan bisa dipantau. Dari Januari sampai April, perkembangannya mencapai lebih dari 100%. Target aset sudah terpenuhi pada bulan Februari. Target laba, setiap bulan lebih dari Rp 100 jutaan. Karena itu KSP Citra Mandiri benar-benar ajaib. Pendapat terbesar, kata Wayan, biasanya pada minggu keempat tiap bulan. Ada kecenderungan mencari pertengahan bulan, atau closing date penjualannya tanggal 25 – 26. Karena itu masuk akal juga kalau hampir 80% yang masuk di minggu ketiga atau keempat.

Diakui Wayan bahwa anggota KSP Citra Mandiri kini baru mencapai 300-an orang. Menurut kriteria Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), meski aset KSP Citra Mandiri lebih dari Rp 80 miliar, belum termasuk kopereasi besar, tetapi baru masuk katagori koperasi potensial. Untuk masuk kategori koperasi besar minimal anggotanya 1000 orang, dan asetnya Rp 10 miliar. “Kami sedang berupaya mengembangkan jumlah anggota. Anggota keluarga yang dilayani sudah disiapkan software khusus untuk menjadikan mereka anggota,” jelas Wayan Sudarta.

Karena KSP Citra Mandiri koperasi banjar keanggotaannya terbatas hanya anggota banjar dan jandanya. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD – ART) membatasi diri yang boleh menjadi anggota koperasi hanya anggota banjar (kepala keluarga). Untuk memenuhi kreteria 1000 anggota menjadi koperasi besar, gampang. Tinggal merubah AD – ART, bahwa semua warga banjar – suami, isteri dan anak-anak otomatis anggota koperasi, jumlahnya pasti di atas 1000 orang. Tidak berbeda jauh dengan yang diterapkan Credit Uniuon (CU). Dengan filosofi menolong diri sendiri, kalau dalam satu keluarga, entah suami atau isteri menjadi anggota CU, yang lain, termasuk anak-anaknya disarankan menjadi anggota CU.

Terkait dengan ketentuan Undang-Undang (UU) No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian, pengganti UU No 25 tahun 1992, kata Wayan, harus dipahami sepenuhnya bahwa UU itu dilahirkan untuk melindungi anggota dan lembaga koperasi. UU itu memang harus dipahami oleh pengelola. Kalau pengelolanya paham, kata Wayan, tidak ada masalah. “Kami sudah menyikapi UU tersebut. Jika di perjalan ada nasabah yang non anggota, harus disampaikan bahwa pelayanan Citra Mandiri hanya untuk anggota saja. Kalau mau mendapatkan pelayanan syaratnya harus menjadi anggota, membayar setoran pokok dan Sertifkat Modal Koperasi,” kata Wayan seraya menambahkan bahwa untuk mengelola aset Rp 80 miliar, dituntut kehati-hatian.

Menjawab pertanyaan, tentang perbandingan modal sendiri dengan modal yang diperoleh dari pihak ketiga, seperti misalnya pinjaman dari bank atau dari LPDB sehingga pertumuhan asetnya luar biasa, secara jujur Wayan mengakui bahwa perbandingannya memang belum ideal. Perkembangan aset demikian tinggi karena ada kepercayaan dari pihak ketiga. Saat ini, kata dia, sedang berusaha meningkatkan kemampuan modal sendiri untuk mendekat angka ideal. “Bukan berarti Cutra Mandiri tidak punya modal, tetapi memang belum berimbang. Kami masih harus kerja keras untuk mencari angka ideal tersebut,” katanya.

Kalau dari luar sudah memberikan kepercayaan kepada lembaga, anggota harus lebih mempercayai. Karena itu anggota akan didorong untuk menyimpan uangnya di koperasi. Dan itu sudah ditunjukan oleh para anggota. Dengan menggunakan jasa Citra Mandiri baik untuk menyimpan maupun untuk mendapatkan pinjaman. Karena Citra Mandiri betul-betul lembaga keuangan mikro ingin dekat dengan mereka. Begitu banyak debitur yang fisibel tetapi tidak bankebel.

Fisibel dari sisi usaha, karena mereka benar-benar memiliki kegiatan usaha produktif. Namun mereka tidak bisa mengakses lembaga perbankan. Dari pembukuan, manajemen, lapaoran-laporan, mereka tidak punya, bahkan tidak bisa membuat. “Tetapi itu kami yakini sangat fisibel dibiayai. Koperasilah yang harus menjembatani mereka,” jelas Wayan. Kegiatan usaha anggota Citra Mandiri, kata dia, pedagang. Ada juga yang memilik home stay – rumah sewaan.

Untuk membangun home stay itu dibutuhkan modal cukup besar. Namun karena di daerah Sanur prospek rumah sewaan prospeknya cukup menjanjikan, banyak yang tertarik membangun home stay. Kalau rasio modal tidak bertambah kecukupan, akan terganggu. Bila sampai terganggu berarti pengelolaan lembaga tidak sehat. Agar pertumbuhan aset seimbang dengan pertumbuhan anggota, kata Wayan, manajemen akan melakukannya secara gradual, bertahap dan terus menerus. Langkah pertama mengedukasi mereka dengan melakukan sosialisasi. “Merubah pola pikir memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan,” katanya optimis. (dm)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *