IKSP-lah Benteng Pemberdayan Ekonomi Rakyat

Globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Jika kita tidak mampu menyesuaikan diri, kita akan digulung oleh zaman.

Konsekuensi globalisasi ada 4 hal yaitu; arus barang dan jasa bebas. Produk-produk dari luar negeri bebas masuk ke Indonesia. Oleh karena itu harus ada yang berani menghadapi. Kalau produk, berarti koperasi produsen yang harus mampu menghadapi.

Pertanyaannya, kemana sekarang koperasi produsen kita? Tidak ada! Padahal sudah diarahkan melalui UU No 25 tahun 1992, juga ada koperasi produsen. Mestinya, koperasi produsen kita juga mampu menghasilkan produk-produk global, seperti produk-produk dari luar negeri yang membanjir ke Indonesia sekarang ini. UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian dimaksudkan bisa menghantarkan koperasi dalam percaturan global. Sehingga tahun 2020 ada produk-produk global yang dihasilkan oleh koperasi. Itu dari segi barang. Jasa pun harus demikian.

Saat ini jasa banyak sekali yang masuk ke Indonesia, seperti; jasa penerbangan, transportasi, pengiriman uang, telekomunikasi, informasi dan sebagainya. Yang harus menjawab tantangan tersebut tentu koperasi jasa. Sekarang kemapanan koperasi jasa kita? Juga tidak ada. Globalisasi yang Negara tidak mampu mencegah itu adalah arus investasi – arus uang. Kita justru mengundang investor masuk ke Indonesia sebanyak-banyaknya. Semakin banyak investor yang masuk, Negara kita ini dipercaya negara lain. Mestinya koperasi kita kalau sudah surplus….., surplus semua harus berani berinvestasi.

Dari globalisasi itu ada yang menjadi target sasaran neolib yang membonceng di belakang globalisasi. Yang menjadi target mereka, pertama menguasai sumber daya alam. Semua negara yang sumber daya alamnya melimpah pasti menjadi target sasaran neolib untuk dikuasai. Dan itu sudah terjadi di Indonesia. Ke mana koperasi kita? Kalau kita tidak segera masuk berinvestasi mengelola sumber daya alam hanya akan kebagian limbahnya saja.

Kemudian yang kedua, neolib masuk ingin mengusai sektor ritil. Negara yang penduduknya banyak akan menjadi target sasaran pengembangan perusahaan-perusahaan dari luar untuk mengembangkan ritil-ritil modern. Untuk ini yang harus bisa menjawab adalah koperasi konsumen. Lalu yang ketiga, yang menjadi sasaran adalah menguasai konsumsi penduduk. Penduduk suatu bangsa yang sifatnya masih banyak konsumeristis akan menjadi sasaran utama. Dia akan mengembangkan inovasi produk-produknya untuk memenuhi nafsu konsumeristis suatu bangsa.

Mereka bisa saja leluasa menciptakan kamera – HP seri 1, seri 2, seri 3 dan sebagainya. Dan orang didorong untuk ganti, ganti, dan ganti lagi. Padahal fungsinya untuk nanya sudah mandi atau belum, sudah makan atau belum, sekarang di mana, sama siapa atau hal-hal remen temeh lainnya. Sasaran yang keempat adalah menguasai sektor uang. Ini yang paling berbahaya bagi lingkungan KSP. Sektor keuangan itu ada makro, dan ada yang mikro. Yang makro seperti pasar modal, bursa berjangka, bursa efek dan sebagainya sudah banyak dikuasai oleh asing, termasuk perbankan.

Perbankan itu ada Peraturan Pemerintah (PP) No 29 tahun 1999 dimana bank asing boleh menguasai 99% modal. Dan kita diam saja. Jadi Republik Indonesia yang punya Indonesia Raya, punya Garuda Pancasila, punya Bendera Merah Putih hanya dikasih modal 1%. Dimana harga diri kita. Itulah yang harus kita sikapi. Karena itu di IKSP harus punya think thank juga, jangan kredit saja yang diurusi. Sekarang bank-bank asing itu modalnya yang masuk sudah Rp 3.068 triliun. Kalau dengan Rp 3.068 triliun itu serta merta ditarik keluar, langsung lemas ekonomi Indonesia.

Dengan penguasaan modal yang demikian besar, ada over likuid, mulailah dia mendesak-desak supaya bisa masuk ke kredit mikro, dimana di situ sebenarnya ada koperasi simpan pinjam. Karena itu saatnya sekarang koperasi simpan pinjam bersatu. KSP-KSP menjadi anggota IKSP. Jika berhimpun jadi satu akan menjadi kekuatan yang sangat besar untuk melawan kekuatan asing tadi. Kita harus mulai memikirkan bersama langkah perjuang ke depan. KSP-lah Benteng Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.

Andalan pemberdayaan ekonomi rakyat tinggal KSP. Bank itu hanya mukanya saja yang manis. Hatinya belum tentu manis. Apalagi kita tidak melakukan azas resiko terhadap bank asing. Kalau kita membuka bank di China tidak boleh menerima Yuan. Kalau kita sok mudah, memberikan keistimewaan kepada bank-bank asing. Mereka bebas menerima tabungan uang rupiah. Sudah asing, dijamin lagi.

Karena itu dalam UU No 17 tahun 2012 ditegaskan bahwa pemerintah harus membentuk Lembaga Penyamin Simpanan Koperasi (LPSK) untuk menjamin simpanan anggota. Hanya saja bentuk penjaminannya seperti apa, sekarang belum diketahui karena PP-nya belum diterbitkan. Yang jelas, tentu tidak bisa secara otomatis, tetapi harus melalui penilaian-penilaian dengan berbagai persyaratan. Dalam rangka inilah menjadi sangat penting, yang namanya USP menjadi KSP. Karena Lembaga Penjamin Simpanan pasti dasarnya adalah penerapan manajemen resiko. Kalau koperasi itu usahanya macam-macam, maka resikonya juga macam-macam.

***

Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2012 yang ditunjukan oleh pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 6,3% yang didukung pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat 5%. Pengeluaran konsumsi pemerintah naik 7%, pembentukan modal tetap bruto 12,3%, ekspor barang dan jasa sebesar 1,9% serta impor barang dan jasa 10,9%. Sehingga struktur PDB tahun 2012 didominasi oleh komponen pengeluaran rumah tangga sebesar 53,5%. Pembentukan modal tetap bruto dan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah memberikan kontribusi masing-masing sebesar 32,9% dan 9%. Sedangkan peranan ekspor dan impor masing-masing sebesar 24,3% dan 26,6%.

Tantangan yang harus dihadapi adalah struktur perekonomian Indonesia secara special sampai dengan 2012 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi PDB sebesar 57,5%, kemudian sdiikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,6%, Pulau Kalimantan 9,5%, Pulau Sulawesi 4,8% dan sisanya 4,6% tersebar di pulau-pulau lainnya.

Beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2013 diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 6,5% dsari 6,3% pada tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh Bank Indonesia (BI) yang juga akan mempertahankan suku bunga acuan pada tataran tetap rendah sehingga menarik masyarakat untuk melakukan pinjaman, dan adanya kepercayaan konsumen yang kuat akan penghasilan di masa depan, ketersediaan lapangan kerja, dan kondisi usaha, sehingga meningkatkan permintaan domestik.

Dengan adanya tantangan dan prakiraan tersebut di atas, serta upaya pemerintah melalui Kemenko UKM, maka sektor UMKM sebagai salah satu pendukung pertumbuhan ekonomi, diperkirakan juga akan mengalami pertumbuhan lebih cepat lagi pada tahun 2013. Hal itu ditunjukan oleh kenyataan bahwa pada tahun 2012 berdasar pada data perkreditan BI diperoleh informasi pertumbuhan kredit UMKM mencapai 34%, sementara total pembiayaan saja hanya mengalami peningkatan 24%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku gerakan koperasi Indonesia, termasuk anggota Induk Koperasi Simpan Pinjam (IKSP) memberikan kontribusi yang lebih besar untuk merealisasikan pertumbuhan sektor UMKM di Indonesia.

Menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengaju pada prakiraan pertumbuhan PDB sebesar 6,5%, dan tingkat inflasi dapat dipertahankan sebesar 5,3%, serta kondisi sosial politik yang realtif aman, sehingga kiprah IKSP menjadi lebih mudah dalam menjangkau anggota dan calon anggotanya di seluruh Indonesia.

Berbeda dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya, IKSP sebagai koperasi simpan pinjam sekunder mengkhususkan kegiatan usahanya untuk melakukan pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro yang berbadan hukum koperasi yaitu Koperasi Simpan Pinjam (KSP), atau semua koperasi yang memiliki unit usaha simpan pinjam (USP). Kegiatan pemberdayaan dari IKSP mencakup memberikan jasa pembiayaan, mengerahkan jasa simpanan, dan juga memberikan jasa pendampingan manajemen, perkuatan kelembagaan dan peningkatan kompetensi personil koperasi.

Melewai usia ke-15, menunjukan bahwa IKSP mampu menjaga eksistensinya dalam gerakan koperasi Indonesia. Di sepanjang waktu itu perkembangan ekonomi, sosial dan politik sangat bergejolak. Dimulai dengan adanya krisis ekonomi sampai dengan perubahan politik menjadi era reformasi, ternyata tidak membuat IKSP surut dalam perjuangan memberdayakan gerakan koperasi. Bahkan bila dilihat dari pertumbuhan jumlah anggota terlihat adanya peningkatan dari hanya 10 unit KSP pada tahun 1997 hingga menjadi 65 anggota atau 112 koperasi yang dilayani pada tahun buku 2012.

Dari dari Kemenkop UKM menyebutkan bahwa di seluruh Indonesia jumlah KSP dan koperasi yang memiliki unit simpan pinjam (USP) adalah 96.064 unit atau bertumbuh sebesar 34,6% dalam setahun. Sementara itu data dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) menyebutkan bahwa selama 3 tahun beroperasinya LPDB (2008-2010) telah memberdayakan 367 unit KSP – USP. Hal tersebut menjelaskan bahwa pangsa pasar pelayanan IKSP kepada KSP maupun USP serta KJKS masih sangat luas.

Sebagai koperasi sekunder tingkat nasional yang telah beroperasional selama 16 tahun, IKSP telah berhasil menjaga jumlah anggotanya yang tersebar di 14 Provinsi di Indonesia. Lebih dari itu, jumlah anggota selama tahun 2012 bertambah sebanyak 10 unit koperasi. Pertambahan itu utamanya didukung dengan peningkatan pelayanan IKSP dalam menyalurkan dana pembiayaan kepada anggota dan calon anggota.

Penyaluran pembiayaan modal kerja kepada koperasi anggota IKSP tidak lepas dari diperolehnya tambahan kepercayaan LPDB dan perbankan, sehingga IKSP memperoleh tambahan modal pinjaman sebesar Rp 35 miliar yang penyalurannya dimulai sejak Maret 2012. Dibandingkan periode sebelumnya, dalam buku 2012 IKSP menunjukkan peningkatan pemberian pembiayaan kepada anggota dan calon anggotanya. Jumlah pembiayaan yang disalurkan IKSP selama tahun 2012 mencapai Rp 44 miliar, meningkat lebih dari 3 kali lipat dibandingkan tahun 2011 yang baru berhasil menyalurkan dana sebesar Rp 12,5 miliar.

Berbeda dengan periode sebelumnya, pada tahun 2012 IKSP relatif berhasil meningkatkan jumlah asetnya, sekaligus melakukan diversifikasi aset produktifnya. Selayaknya, peran IKSP yang selalu mengupayakan perkuatan tambahan modal kerja bagi anggota – calon anggotanya, maka IKSP pada tahun 2012 berhasil memacu pencairan pinjaman yang diberikan sebesar Rp 44 miliar.

Sejak awal beroperasinya, yaitu tahun 2000, IKSP tampaknya selalu menjadi andalan anggota dan calon anggotanya dalam memperoleh alternatif sumber pendanaan bagi modal kerjanya. Dalam tahun 2012 pertumbuhan simpanan dari anggota – calon anggota mencapai 16,5% atau Rp 633,2 juta, dibanding pertumbuhan pinjaman sebesar Rp 60,3%. Kontribusi pertumbuhan dana simpanan, memang bertumpu pada simpanan sukarela.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya permodalan IKSP akan bertumbuh saat IKSP menyalurkan pembiayaan kepada anggota – calon anggota. Komponen modal yang memberikan kontribusi pertumbuhan tertinggi adalah simpanan wajib khusus yang disetorkan oleh para anggota – calon anggota yang juga merupakan agunan tunai dari fasilitas pembiayaan yang diperolehnya dari IKSP.

Pertumbuhan simpanan wajib khusus perbandingan tahun 2012 tersebut adalah Rp 2,04 miliar atau 46,01% dari tahun 2011. Meski pun demikian simpanan pokok IKSP di tahun 2012 tumbuh dengan rasio pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 23% atau Rp 60 juta dari tahun 2011. Pertumbuhan ini adalah hasil dari adanya pertambahan jumlah anggota IKSP sebanyak 12 koperasi primer baru yang bergabung dengan IKSP. (my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *