Implementasi Kepemimpinan Holistik

Pada dasarnya kepemimpinan itu tidak ditentukan oleh pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang. Kepemimpinan muncul bukan dari kondisi eksternal dari outer beauty of human being – keindahan seseorang melainkan dari Inner beauty of spiritual human being – keindahan jiwanya. Kepemimpinan muncul dari sebuah proses panjang dan sebuah keputusan untuk menjadi pemimpin.

Ketika seseorang menemukan core belief – keyakinan dasar dan Core value – nilai-nilai dasar yang dijadikan pegangan hidupnya, ketika seseorang menetapkan visi dan misi hidupnya, ketika seseorang merasa inner peace – damai dalam dirinya, memiliki karakter yang kokoh – integritas, ketika ucapan dan tindakannya mampu memberikan pengaruh kepada orang lain secara suka rela, ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulh seseorang menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Kita semua pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kita.

Sesuai judul tulisan, yang menekankan pada kata ‘holistik’ maka perlu dipahami pengertian ‘holistik’ tersebut. Kata ‘holsitik’ berasal dari kata “whole’ – artinya; seluruhnya, sepenuhnya. ‘Whole”; 1. Containing all component parts; complete. 2. Not divided or disjoined; in one unit. 3. Constituting the full amount, extent, or duration.

Kata ‘holistik’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai pengertian “ciri pandangan yang menyatakan bahwa keseluruhan sebagai suatu kesatuan lebih penting dari pada satu-satu bagian dari suatu organisme”.

Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), “leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good“.

Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Anderson (1988), “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance“.

Kata khalifah pertama kali dipakai al-Quran untuk Nabi Adam as., yang diangkat Allah sebagai wakil-Nya di bumi. Untuk bekal tugasnya itu, Adam as., diajari Allah dengan nama-nama benda di sekitarnya, meskipun malaikat merasa keberatan akan kemungkinan terjadinya kerusakan dan penumpahan darah antara sesamanya.

Rupanya tugas khalifah tidak cukup hanya dengan bertasbih dan bertahmid saja, tugas khalifah untuk memakmurkan bumi hanya mungkin dicapai, dengan konsep nama-nama benda, atau pengetahuan konseptual. Tanpa pengetahuan konseptual kemungkinan besar hutan akan meranggas tanpa memberi makna bagi kehidupan manusia, lautan sepi tanpa kapal yang mengarunginya, untuk keperluan hidup manusia, sepanjang malam gelap gulita tanpa lampu penerang. (Asy’arie, 2010. h: 117)

Untuk mengetahui definisi yang benar, maka harus diambil definisi menurut syara. Kata khilâfah banyak dinyatakan dalam hadis, misalnya: إنَّ أَوَّلَ دِيْنِكُمْ بَدَأَ نُبُوَّةً وَرَحْمَةً ثُمَّ يَكُوْنُ خِلاَفَةً وَرَحْمَةً ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكاً جَبَرِيَةً» Artinya: Sesungguhnya (urusan) agama kalian berawal dengan kenabian dan rahmat, lalu akan ada khilafah dan rahmat, kemudian akan ada kekuasaan yang tiranik. (HR al-Bazzar).

Kata khilâfah dalam hadis ini memiliki pengertian sistem pemerintahan, pewaris pemerintahan kenabian. Ini dikuatkan oleh sabda Rasul saw.: Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi, dan akan ada khalifah yang banyak. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pernyataan Rasul, “Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi,” mengisyaratkan bahwa tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Khalifah hanya menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan politik, yaitu memimpin dan mengurusi umat. Dari kedua hadis di atas dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah. Orang yang mengepalai pemerintahan atau yang memimpin dan mengurusi kaum Muslim itu disebut Khalifah.

Walaupun kepemimpinan seringkali disamakan dengan manajemen, kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manajer dinyatakan secara jelas oleh Bennis and Nanus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat (“managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing,”). Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.

Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang berbasis pada etika religius dan kepemimpinan dalam nama tuhan; yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis tuhan. Dalam memimpin makhluk-makhluknya. Pemimpin spiritual bukan hanya mempengaruhi pengikutnya pada tujuan organisasi melalui pemberdayaan, lebih dari itu ia mengemban misi amar makruf, nahi munkar dan transendensi (membangkitkan iman).

Kepemimpinan dalam nama Tuhan adalah kepemimpinan dengan penuh kasih sebagaimana sifat Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang. Dengan demikian jenis kepemimpinan ini adalah kepemimpinan yang menebar rahmatan lil alamin. Berikut dikemukakan pokok-pokok karakteristik kepemimpinan spiritual yang berbasis pada etika religius (akhlakul karimah): kejujuran sejati, fairness, semangat amal shaleh, membenci formalitas dan organized religion, sedikit bicara banyak kerja, personal best, keterbukaan menerima perubahan, dicintai, visioner dan focus pada persoalan di depan mata, doing the right thing, disiplin dan Fleksibel, smart – hangat dan endah hati.

Ketika ditanyakan siapakah tokoh paling dahsyat dalam merubah kehidupan umat manusia dari 100 tokoh yang pernah ada? Maka jawabannya adalah Rosulullah. Hampir tidak ada tokoh dalam sejarah yang ditulis, dipelajari, dibahas, dan dijadikan panutan dalam setiap ucapan, persetujuan, larangan dan perilakunya, selengkap, sedetil, dan sebanyak Nabi Muhammad SAW. Jumlah halaman dan buku yang ditulis mengenainya tidak terhitung jumlahnya, seolah pena telah kehabisan tinta untuk melukiskan betapa luas hidayah dan rahmat Allah yang dibawanya

Teladan kepemimpinan sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah SAW karena ia adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven. Holistic karena beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan leadership dalam berbagai bidang termasuk di antaranya: self development, bisnis, dan entrepeneurship, kehidupan rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang akur, sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan yang bermoral dan mencerahkan, sistem hukum yang berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu serta memastikan keamanan dan perlindungan warga negara.

Kepemimpinan holistik yang diindikasi dengan keberhasilan di semua bidang ini memungkinkan disandang Rasulullah, karena Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang sempurna (insan kamil)yang didukung oleh sifat fathonah (kecerdasan), yakni kecerdasan yang meyeluruh pula (Holistic Intelligence). Ini dapat dibuktikan. Pengertian orang cerdas yang digariskan Rasulullah adalah: alkayisu man daana nafsahu wa’amila lima ba’da mautih. Orang cerdas adalah orang yang mampu mengelola nafsunya dan melakukan amal untuk apa sesudah matinya.

Melalukan amal sesudah matinya, tentu terkandung banyak sekali makna dan jenis kecerdasan yang harus dimiliki. sebagai misal aspek Pengetahuannya (intelektual), aspek actionnya (gerak, kinestesis untuk jihad misalnya), apek kecerdasan phisic (latihlah berenang, naik kuda, memanah), aspek finansial (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah), aspek visi (ajarilah anak-anakmu karena mereka akan hidup pada zaman yang lain dengan zamanmu) dll.

Dari sirah Rasul kita dapat mengambil tarbiyah, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang holistik, yang mampu memberi suluh bagi umat yang berbagai tipe, kita harus memiliki kecerdasan yang lengkap, kecerdasan yang holistik. Dengan kecerdasan hokistik inilah kita akan menjadi manusia holistik, manusia yang lengkap atau dalam bahasa agama disebut sebagai insan kamil.

Inti kepemimpinan sukses Rasulullah adalah kesempurnaan Rasul memahami bagaimana mengaplikasikan pesan-pesan ilahiah secara menyeluruh tanpa terjebak kelemahan manusiawi (Rasul bersifat maksum). Know –How inilah hal yang membedakan pemimpin yang berprestasi, yang memberikan hasil, dengan pemimpin yang tidak berkinerja. Ini adalah cirri-ciri pemimpin yang mengetahui apa yang mereka lakukan, yang membangun nilai hakiki jangka panjang dan mencapai target jangka pendek.

Hambatan dalam upaya menemukan seorang pemeimpin yang dapat berprestasi adalah penampilan kepemimpinan. Sering kita melihat seorang terpilih untuk menjalankan tugas kepemimpinan atas dasar pembawaan dan karakteristik pribadi yang dangkal seperti: daya tarik kecerdasan mentah, karakter yang mengesankan dan keterampilan berkomunikasi yang hebat, kekuatan visi yang berani dan kesan sebagai pemimpin alami.

Tentunya kecerdasan, kepercayaan diri, keberadaan, kemampuan berkomunikasi, dan visi adalah penting. Tetapi kecerdasan tinggi tidak menjamin seseorang mempunyai keahlian membuat keputusan yang tepat. Untuk menjadi pemimpin yang sukses diperlukan 8 M yaitu; Melakukan posisioning, Mengidentifikasi pola perubahan eksternal, Memimpin system social perusahaan, Menilai seseorang, Membentuk tim kerja pemimpin, Mengembangkan tujuan, Menetapkan prioritas dan Menangani berbagai tekanan social.

Kecerdasan Holistik tidak terbatas pada kecerdasan mental (IQ) dan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) belaka, namun juga kercerdasan fisik (PQ), kecerdasan finansial (FQ), kecerdasan musikal (MQ), dll. Untuk mengembangkan semua kecerdasan itu, diperlukan proses pendidikan (termasuk pelatihan di dalamnya) juga proses pembudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hanya aspek aspek tertentu saja yang dikembangkan, maka hanya aspek itulah yang berkembang. Ini yang memungkinkan munculnya Orang Pintar tapi melakukan korupsi. Orang berpendidikan tinggi tapi melarat dan lain-lain. (Penulis adalah;

Oleh: Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, M.Pd, M.Si, Ph.D

Guru Besar Bidang Perekonomian Indonesia Dan Ekonomi Koperasi – Penulis Tetap di Majalah UKM)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *