Indonesia Akan Memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Terbesar di Dunia

Selama ini investor, dari luar negeri yang masuk ke Indonesia hanya melihat wilayah Jawa sebagai tujuan investasi. Akibatnya pembangunan terpusat di Jawa, dan pemerataan kesejahteraan sebagai cita-cita kemerdekaan tersendat, terutama Indonesia wilayah timur.

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah sebuah pola induk perencanaan ambisius dari pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi ini akan didukung berdasarkan potensi demografi dan kekayaan sumber daya alam, dan dengan keuntungan geografis masing-masing daerah.

Untuk mendukung penguatan MP3EI Pemerintah telah menetapkan Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional, yang antara lain mengatur strategi program, peta panduan, dan renacana aksi dalam memperbaiki kinerja logistik Indonesia sebagaimana diatur dalam Perpres No 26 tahun 2012. Dalam lampiran Perpres itu, disebutkan bahwa MP3EI disusun mengingat membesarnya peran Indonesia dalam perekonomian global. Indonesia menempati urutan ekonomi ke 17 terbesar dunia. Karena itu Indonesia diharapkan terlibat dalam berbagai forum global dan regional seperti ASEAN, APEC, G-20 dan berbagai kerjasama bilateral lainnya. Lebih lanjut dipaparkan bahwa keberhasilan Indonesia melewati krisis ekonomi global tahun 2008, mendapatkan apresiasi positif dari berbagai lembaga internasional.

Sementara itu, keberadaan Indonesia di pusat baru gravitasi ekonomi global, di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, mengharuskan negeri ini mempersiapkan diri lebih baik untuk mempercepat terwujudnya suatu negara maju dengan hasil pembangunan dan kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. Luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak dan sumber daya alam terkaya menempatkan Indonesia sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara. Indonesia perlu memposisikan dirinya sebagai basis ketahanan pangan dunia, pusat pengolahan produk pertanian, perkebunan, perikanan dan sumber daya mineral serta pusat logistik global.

MP3EI dan ASEAN connectivity; meluasnya jaringan kapital nyatanya, keberadaan MP3EI tidak terlepas dari peran negara-negara dan lembaga-lembaga keuangan internasional. Lembaga-lembaga seperti International Monetary Fund (INF), Word Bank (WB), dan Asian Development Bank (ADB) menyiapkan dana besar untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur. Sebelum pertemuan APEC di Rusia, pertemuan internasional negara-negara anggota G-20 telah menjadikan infrastruktur sebagai fokus perundingan. G-20 ingin menerapkan skema penyediaan dan pembiayaan infrastruktur dalam rangka menolong krisis. Pertemuan APEC di Rusia kemudian menyepakati bahwa akselerasi investasi infrastruktur adalah startegi penting untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan di Asia Pasific.

***

APEC beranggotakan 21 negara dan lembaga keuangan internasional seperti ADB, WB, dan institusi-institusi bisnis lainnya. Bisa dikatakan bahwa inisiatif-inisiatif untuk membuka peluang investasi global secara lebih luas melalui pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang didengungkan dalam pertemuan APEC, G-20 dan ASEAN berjalan seiring. Tetapi, ide tentang konektivitas ASEAN ini pertama kali bukan diusulkan oleh Indonesia, melainkan oleh Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva pada pembukaan pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-42 pada Juli 2009 di Thailand. Ia mengatakan bahwa community of connectivity –  keterhubungan komunitas dimana semua barang, orang, investasi dan inisiatif bisa berjalan tanpa hambatan, seharusnya menjadi tujuan ASEAN tahun 2015.

Usulan Abhisit tersebut ditindaklanjuti dalam beberapa pertemuan ASEAN selanjutnya. Pada 24 Oktober 2009, para pemimpin ASEAN merancang Masterplan on ASEAN Connectivity yang kemudian disepakati dalam KTT ASEAN ke-17 di Hanoi, Vietnam, pada 28 Oktober 2010. Masterplan ini adalah dokumen strategis untuk ASEAN connectivity dan rencana aksi 2011 – 2015 untuk menghubungkan ASEAN melalui pembanugnan infrastruktur fisik, konektivitas institusional dan konektivitas orang. Bagi negara ASEAN, konektivitas itu penting karena ASEAN adalah pasar 573 juta orang dengan daya beli yang cenderung meningkat. Sedangkan Indonesia adalah pusat pertumbuhan ASEAN. Dengan demikian, ASEAN community akan menyediakan pasar lebih besar, lebih efektif dan kompetitif. Potensi ASEAN inilah yang kemudian dilirik oleh negara-negara maju dan lembaga-lembaga keuangan internasional.

Lembaga-lembaga tersebut memandang ASEAN sebagai pasar yang menjanjikan untuk ekspansi modal mereka. Keterkaitan MP3EI dengan perekonomian ASEAN rupanya menemukan benang merahnya. Namun integrasi dapat dilakukan jika ASEAN inter dan intra connectivity dapat tercipta, sehingga perpindahan barang, orang dan jasa dapat dilakukan dengan cepat, murah dan leluasa. Untuk itu negara-negara kepulauan di ASEAN perlu menggalakkan pembangunan infrastruktur darat, laut dan udara guna menunjang integrasi antar sesama negara ASEAN dan antar negara ASEAN dengan kawasan dan dunia. Hal itu diperkuat dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa perbaikan infrastruktur di Indonesia akan meningkatkan konektivitas ASEAN dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi di lingkup APEC dan dunia.

Pemerintah mencontohkan proyek MP3EI kerjasama dengan negara-negara ASEAN, di antaranya Indonesia – Malaysia – Thailand  Growth Triangel (IMT – GT) juga tercantum dalam Koridor Ekonomi MP3EI, dengan contoh kerjasama jaringan listrik ASEAN yang diberi nama ASEAN Power Grid yang berkapasitas 600 MW antara Semananjung Malaka, Malaysia dan Pulau Sumatera dan menjadi bagian dari proyek Melaka – Pekanbaru Interconnection dalam program kerjasama subregional IMT – GT.

Dari Perpres No 32 tahun 2011 terlihat betapa pemerintah menginginkan Indonesia menjadi negara maju dengan cepat. Itu sebabnya masterplan ini menggunakan pendekatan percepatan transformasi ekonomi, bukan pendekatan business as usual. Masterplan ini menggunakan slogan; locally integrated, globally connected. Ia menggunakan pendekatan spesial, membagi Indonesia menjadi 6 koridor ekonomi, yaitu koridor ekonomi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Malauku.

Masing-masing koridor ekonomi memiliki tema sesuai dengan potensinya; koridor Ekonmi Sumatera sebagai Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional. Koridor Ekonomi Jawa sebagai Pendorong Industri dan Jasa Nasional; Koridor Ekonomi Kalimantan sebagai Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang dan Lumbung Energi Nasional; Koridor Ekonomi Sulawesi sebagai Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional; Koridor Ekonomi Bali – Nusa Tenggara sebagai Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional; dan Koridor Ekonomi Papua – Kepulauan Maluku sebagai Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional.

MP3EI ini fokus pada 8 program utama, yaitu; pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan telematika, serta pengembangan kawasan strategis. Pengembangan kawasan dengan penentuan koridor-koridor tersebut menurut pemerintah dapat memberi dampak spill over – melampaui batas dan mendorong pertumbuhan kawasan-kawasan sekitarnya secara lebih cepat.

***

Pembangunan yang dilakukan di Sumatera Utara untuk menarik investor meliputi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Sei Mangke, dimana kawasan ini akan dibangun industri terpadu, salah satunya Industri kelapa sawit. Proyek ini dimulai dari bahan baku sampai menjadi produk olahan jadi, shingga memiliki nilai jual yang tinggi. Provinsi Sumatera Utara mempunyai kapasitas produksi kelapa sawit hampir 1,2 juta ton per hari. Dengan kapasitas demikian besar, CPO tidak hanya di ekspor ke luar negeri tetapi diolah di KEK Sei Mangke. Olahannya mulai dari Olein Chemical, sampai 100 macam turunan lainnya.

Provinsi Sumatera Utara telah menyediakan lahan seluas 2.002,27 Ha yang dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama telah selesai hampir 104 Ha dan tahap kedua sekaligus jalan sudah hampir sampai kepada 640 Ha. Sisanya merupakan tahapan ketiga sehingga total 2.002,27 Ha. Proyek yang sudah dibangun ada power pland dan infrastruktur jalan juga sudah ada. Sarana pendukung lainnya pengembangan jalan tol Medan – Kualanamu – Tabing Tinggi. Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai HUB Internasional untuk pengembangan wilayah barat. Inilah yang ditawarkan kepada investor untuk masuk ke kawasan KEK Sei Mangke.

Ada sedikit kendala di KEK Sei Mangke, yaitu masalah tata ruang. Tetapi hal itu menghambat minat investor untuk berinvestasi. Beberapa investor telah masuk, salah satunya PT Unilever Indonesia Tbk, yang akan mulai membangun pabrik tahun ini. Nilai investasinya hampir Rp 4 triliun. Diharapkan investor-investor lain akan segera masuk. Di dalam pengembangan kawasan ekonomi ini tidak hanya mengharapkan pembangunan sektor industry saja, tetapi juga pengembangannya. Sekarang sedang dibangun Pusat Pengembangan Kelapa Sawit oleh pemerintah. Semua sektor akan dibangun dalam KEK untuk mensukseskan MP3EI.

Yang sekarang menjadi perhatian adalah Kalimantan yang akan dikembangkan melalui Trans Kalimantan Ekonomi Zone yang luasanya 26.500 hektar, dan akan menjadi kawasan terbesar di dunia. Dari PU juga sudah masuk membuat jalan, tetapi pembangunan pelabuhan belum. Paling tidak harus disiapkan 12 pelabuhan untuk masing-masing industri, plus satu pelabuhan yang besar.

Kawasan investasi di Indonesia yang direncanakan ada sekitar 162 buah. Itu harus menjadi fokus kita, dan dipastikan didukung oleh infrastruktur yang baik; listrik, jalan, transportasi, dan air, agar kawasan industri itu terpenuhi kebutuhan dasarnya. Hubungan antara bahan baku menuju kawasan investasi atau kawasan industri juga ke pelabuhan – hilirnya harus dijaga supaya pelayanannya mencapai standar. Dan itu harus tesebar di seluruh Indonesia. Konektivitas punya implikasi pada kesinambungan pelayanan ke kawasan industri.

Disamping itu, konektivitas dalam MP3I juga menjamin bahwa pelayanan ada kesinambungan antara moda-moda transportasi. Karena Indonesia Negara besar,  pulaunya ada 17.000-an, harus dipastikan bahwa jalan punya hubungan yang baik dengan pelabuhan, dengan penyeberangan, dengan bandara dan sebagainya. Jalan itu sendiri dimulai dari jalan Negara, jalan provinsi sampai jalan kabupaten. Keseimbangan pembangunan tidak hanya ke pelabuhan saja, tetapi juga ke arah pendukung utama, atau interland-nya, agar pemerataan pembangunan terjadi dengan baik. Harus ada pula konektivitas kebijakan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, agar menajdi satu kesautan ekonomi yang kuat. Mampu bersaing dengan orang luar, tahan terhadap fluktuasi kondisi internal yang sering mengganggu.

***

Karena MP3EI merupakan proyek raksasa, pemerintah menganggap perlu melibatkan sektor swasta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, kalau diproyeksikan buget pemerintah sampai  2015 – 2017 tidak cukup. Pemerintah sudah punya infrastruktur fund, tetapi itu tidak cukup.

Biasanya, investor yang mau berinvestasi US$ 2 juta ke atas, mereka juga memperhitungkan membangun investasi infrastruktur sendiri. Tetapi yang di bawah US$ 2 juta, mereka mengharapkan infrastruktur dibangun oleh pemerintah pusat maupun daerah, atau pihak lain, misalnya, lewat PPP (Public Privat Partnership). Yang paling dibutuhkan sekarang adalah jalan dan pelabuhan. Karena lebih banyak untuk transportasi. Dan itu perlu insentif fiscal, keringanan pajak, kemudian depresiasi harus cepat.

Dalam 2 – 3 tahun terakhir infrastruktur di Indonesia sudah cukup banyak yang dibangun, dan sebagian sudah dioperasikan. Bahwa masih kurang banyak, iya. Pelabuhan udara kita lihat seperti Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara, perluasan Bandara Ngurah Rai, juga pelabuhan Tanjung Prok, Tanjung Perak diadakan perluasan sehingga membuat kapasitas pelabuhan menjadi meningkat.

Kalau kita sering dengar lintas timur Sumatera rusak parah, sekarang sudah jauh lebih baik. Bahkan di daerah-daerah seperti Dumai yang dulu sering menjadi persoalan, pelabuhannya sering tidak optimal, sekarang dilayani dengan kondisi yang sangat prima. Trans Kalimantan juga sudah kelihatan sangat baik. Papua Barat, Merauke, Manokwari, Jayapura, Sorong dan tempat-tempat strategis yang menjadi pelabuhan, termasuk di Manado, Bitung dan masih banyak lagi infrastruktur yang dibangun.

Di wilayah timur Indonesia yang sekarang kuat usahanya di bidang perikanan kelautan, pangan dan energi. Untuk pangan dan energi sudah disiapkan di Merauke. Di sana ada tebu, jagung, padi, dan sebagainya. Lahannya sangat luas. Mencari lahan luas seperti di Papua, sudah tidak ada lagi di Jawa. Infrastrukturnya, jalan dan pelabuhan sudah disiapkan cukup baik. Tetapi kita tidak boleh mengandalkan sebagai jalan satu-satunya. Karena di Papua banyak sungai besar, kita bisa menggunakan pelabuhan sungai, pelabuhan laut, jalan dan udara. Di Bitung telah dibangun pelabuhan yang kedalamannya cukup, demikian pula di Maluku.

Di kawasan timur, prioritasnya di bidang pariwisata. Sudah dipersiapkan di Flores. Berbeda dengan yang lain, karena pariwisata jangkauannya banyak, jaringan jalanya harus luas, tidak harus besar. Di daerah-daerah itu perlu dukungan pelabuhan udara. Lombok, sudah cukup baik, Ngurah Rai juga cukup luas. Jaringan jalan menuju ke semua pulau yang terhubung dan terkonek dengan pelabuhan-pelabuhan harus baik. Saat ini, sebagian sekitar 40% sudah dikerjakan. Mungkin mulai akan terasa tahun depan, karena akan lebih banyak lagi yang bisa diselesaikan.

Itu bukti bahwa infrastruktur sudah mulai menggeliat, dan akhirnya kelak akan menjadi tulang punggung untuk pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi secara bertahap perbaikan-perbaikan itu dilakukan melalui perencanaan menyeluruh. Kita prioritas yang fokus dulu, yang paling tinggi daya ungkit pertumbuhan ekonomi, lalu yang lain-lain diberikan prioritas berikutnya.

Dengan adanya MP3I ini infrastruktur sudah kelihatan. Untuk persiapan infrastruktur, kita lebih baik dari India, misalnya, walaupun masih rendah dari China. Tetapi, mengingat pertumbuhan investasi yang semakin tinggi, infrastruk yang ada saat ini masih jauh, kalau kita ingin mengejar target  pada  2025 negara 10 besar dunia, dengan GNP antara US$ 15.000 – US$ 15000 per kapita. Usaha pemerintah saat ini tentu kita hargai, tetapi masih perlu usaha yang ekstra keras. Kita harus fokus pada daerah-daerah yang memang memerlukan infrastruktur dan  berinvestasi. Infrastruktur itu bukan hanya jalan, jembatan, tetapi juga energi listrik, air bersih. Dalam zaman investasi modern ini perlu infrastruktur tambahan, misalnya, gas, dan ICTV. (adt – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Indonesia Akan Memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Terbesar di Dunia

  1. Keberhasilan Indonesia memajukan ekonominya patut mendapat pujian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *