Indonesia Belum Sexy bagi Investor

Kita semua kaget ketika produsen Blackberry memilih Malaysia dibandingkan Indonesia sebagai pusat produksi mereka di luar negeri. Bayangkan, Indonesia adalah pasar terbesar Blackberry di Asia. Setiap tahun 4 juta unit  Blackberry terserap di pasar Indonesia dengan nilai sekitar Rp10 triliun. Sementara Malaysia hanya 10%-nya atau 400.000 unit. Pemerintah Indonesia merasa dikerjai oleh produsen HP dari Kanada itu.

Kehebatan Indonesia sebagai ekonomi nomor 17 terbesar di dunia, potensi pasar Indonesia luar biasa, ternyata tidak menjadi daya tarik. Apa sebabnya yang sedang kita hadapi, dan bagaimana kita harus memperbaiki kondisi kita supaya kemudian menjadi daya tarik investor dunia benar-benar mau menanamkan modalnya di Indonesia.

Kebijakan Indonesia adalah produsen harus membuka perakitan dan market jika produk dan jasanya memiliki pasar besar di Indonesia. Raksasa software dunia seperti microsoft dan google pun tidak keberatan membuka markasnya di Indonesia. Oleh karena itu penolakan produsen Blackberry di Indonesia adalah sebuah tamparan bagi Indonesia. Oleh karena itu Indonesia harus makin cepat memperbaiki kekurangannya. Atas ulah produsen Blackberry tersebut pemerintah Indonesia segera memberlakukan tarif bea masuk yang tinggi bagi produk Blackberry.

Kalau kita belajar menggunakan kasus Blackberry ini, pelajaran terpenting bahwa struktur industry telekomunikasi belum siap. Ditandai bahwa bahan-bahan baku untuk industri telepon ini masih harus diimpor. Di satu pihak bahan-bahan baku untuk industri telepon itu masih dikenakan bea masuk, ada yang 5% – 10%. Ini tidak menarik bagi industri untuk berproduksi di dalam negeri. Seharusnya masuk ke Indonesia nol.

Sedangkan di Malaysia sudah mempersiapkan industri dengan baik. Ada komponen bahan baku yang sudah diproduksi di Malaysia. Di sana juga ada satu kawasan industri yaitu Malaysia Multimedia Corridor. Semua aspek atau infrastruktur untuk mendukung industri telekomunikasi juga tersedia dengan baik.

Yang membuat negeri kita ini tidak cukup menarik bagi investor, tidak sexy, cukup banyak. Infrastruktur; jalan, listrik, gas, perangkat keras maupun perangkat lunak, kita masih relatif terbatas. Iklim investasi masih bermasalah, dan masih belum menarik, ada sinkronisasi peraturan yang masih belum baik. Kemudian ada persoalan pusat dan daerah, soal kepastian hukum yang menjadikan para investor berpikir ulang. Berita korupsi di Indonesia yang begitu menakutkan itu juga menjadi pertimbangan bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Sebenarnya Indonesia sudah berusaha mengejar ketertinggalan, di mana pemerintah telah membuat Master Plan Percepatan Pembangunan Indonesia (MP3I), Tujuannya agar pembangunan tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Namun menyebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Namun sumber daya manusia (SDM) terampil masih terpusat di Jawa. Membangun Infrastruktur di luar Jawa juga mahal, tidak terjangkau APBN. Sedangkan swasta harus berpikir dua kali. (@@@)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *