Industri Jawab Tantangan Era 4.0

Sejak tahun 2018, pemerintah Indonesia telah menyusun road map – peta jalan untuk mengimplementasikan industri tahap empat bertajuk Making Indonesia 4.0. Guna menghadapai era digital ini, keberpihakan pemerintah bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), sangat diperlukan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan; “Sektor industri harus segera menjawab tantangan era digital ini.” Strategi pemerintah antara lain menetapkan 5 sektor manufaktur unggulan untuk memperkuat fundamental struktur industri Indonesia. Kelima sektor tersebut, yaitu industri makanan dan minuman, otomotif, elektronik, kimia, dan tekstil,” papar Wakomtap Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang UKM, Hj.Yuke Yurike ST MM kepada UKM di ruang kerjanya.

Wanita kelahairan Bandung, Jawa Barat, 22 Feberuari 1975 yang juga Bendahara Umum Himpaunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya itu  mengemukakan, era digital membuka peluang otomatisasi mengganti pekerjaan manusia dengan teknologi. Hal itu harus dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional – Kepala Bapapenas, Bambang Brodjonegoro menyatakan optimistis, industri 4.0 dan transformasi digital melalui sektor niaga. Bappenas memprediksi akan ada peningkatan pelayanan transportasi daring sebesar 22% per tahun. Selain itu,  bisnis rintisan berbasis teknologi juga bermunculan.

Industri 4.0 dan ekonomi digital membwa perubahan baru terhadap pembelinya. Pelaku usaha di industri 4.0 harus bisa membaca keiginan konsumen. Untuk menghadapi era digital, ada tiga hal yanag perlu dilakukan dalam mengelola suatu organisasi. Pertama, organisasi harus membentuk dan memperkuat jaringan kerja sama yang baik dengan sumber daya manusia (SDM ) di lingkungan kerja, sehingga mereka dapat terus bertahan dan berinovasi. Kedua, penguasaan teknologi digital serta kemamuan analisis data menggunakan sistem data besar (big data). Ketiga, harus investasi dalam pembangunan SDM yang inovatif dan adaptif.

Organisasi harus memiliki SDM inovatif dalam setiap pelayanan dan produk baru yang dikeluarkan. Karena kompetitor juga akan melakukan hal yang sama, terus berinovasi. Ketua Asosiasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UMKM Indonesia (Akumindo), M Ikhsan Ingratubun menuturkan, era digital harus dilihat sebagai alat. Bukan tujuan. Dengan begitu, pelaku UMKM harus mau bersaing. Salah satunya, dengan masuk market placelokapasar. Kini, transaksi lokapasar sudah triliunan rupiah. Baik dari teknologi finansial (tekfin) legal dan ilegal, sudah mencapai Rp 15 triliun digelontorkan untuk UMKM.

“Pada dasarnya, UMKM selalu siap menuju era digital. Pertanyannya, apakah penyedia platform digital, seperti lokapasar dan e-commerce – niaga elektronik mau menjual produk UMKM buatan Indonesia sebagai mayoritas atau justru lebih banyak barang import. Banyak start-up besar menjual produk impor. Jadi, UMKM sifatnya hanya reseller dengan menggunakan teknologi digital,” urai Yuke.

Yuke yang juga menjabat Wakil Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP-KNPI) menambahkan, belum lagi soal persaingan harga barang dagangan. Ia berharap dukungan pemerintah terhadap UMKM untuk menghadapi era digital ditunjukkan melalui keberpihakan kepada produk UMKM lokal. Begitu juga degan kebijakan pemeritah dalam melakukan pengadaan barang dan jasa.

Misalnya, penggunaan APBN – APBD ada ketentuan membeli produk-produk lokal. Proses tender dalam pengadaan barang dengan mencari harga termurah dan kualitas yang bagus menimbulkan pertanyaan. Apakah pemerintah berkeinginan membeli produk lokal walau harganya sedikit lebih mahal.

Untuk menghadapi era digital, UMKM sudah menyiapkan SDM dan keterampilan. Sayangnya, pelatihan yang dilakukan tidak dilanjutkan pemerintah dengan membeli produk UMKM lokal. Jika produk-produk UKM tidak ada pasarnya bisa dipastikan UKM tidak akan bisa berkembang dan naik kelas.

Bagi Indonesia, fenomena revolusi industri 4.0 memberikan peluang  untuk merevitalisasi sektor manufaktur dan menjadi salah satu cara untuk mempercepat pencapaian visi Indonesia untuk menjadi 10 ekonomi terbesar di dunia. Perubahan menuju ekonomi berbasis jasa disadari membawa pengaruh terhadap industri manufaktur. Revitalisasi industri manufaktur penting untuk menahan merosotnya kontribusi sektor ini terhadap perekonomian dan tetap terciptanya lapangan kerja.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara mengatakan, fokus pembangunan industri pada era 4.0 akan memperkuat sektor hulu. Yakni penyiapan bahan baku harus secara maksimal dimanfaatkan. “Dikuatkan di hulunya. Di industri antara, agar bahan baku lebih kuat. Bahan baku harus dimanfaatkan,” kata Ngakan.

Dengan pembangunan dan pengembangan industri 4.0, lanjut dia, Indonesia bakal memperoleh peluang yang menguntungkan. Peluang-peluang itu antara lain;  meningkatkan efisiensi, terpacunya produksi, hingga peningkatan daya saing di kancah regional maupun internasional. Selain itu, pengembangan industri 4.0 juga dinilai bakal memacu peluang pekerjaan di sektor hulu. Diproyeksikan hingga 2030 akan ada pertumbuhan ekonomi melebihi 5%. Tanpa pengembangan itu, hanya akan berada di kisaran 5%. Dengan asumsi itu, penyerapan tenaga kerja tahun 2030 bisa mencapai 30 juta.

Dari sisi peningkatan industri, Kemenperin terus memacu pengembangan kapasitas dan kualitas SDM industri. Bagi tenaga kerja yang sudah ada, pemerintah  akan terus melakukan peningkatan kapasitas mereka. Pemerintah berupaya pula membekali dengan keterampilan baru sehingga di ke depan penyerapan tenaga kerja di industri akan mengalamai perubahan. Akibat dari industri 4.0 akan ada jenis pekerjaan lama yang hilang, namun juga akan muncul jenis pekerjaan baru. Maka, perjalnaan dari idustri lama ke industri 4.0 itu disebut sebagai transformasi industri.

Memasuki usia jelang 8 dasawarsa, tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia akan terpulang kepada generasi muda. Bonus demografi yang mayoritas berusia 16 – 45 tahun meniscayakan tulang punggung pembangunan ada di tangan anak muda. Hal itu disadari pemerintah lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam Sholeh menilai, di era industri 4.0, pemuda harus berani tampil, berani menumbuhkan jiwa kreativitas – kewirausahaan untuk mengimbangi perkembangan zaman. Kemenpora siap menjadi mitra anak muda dalam mengembangkan bakat dan semangat berusaha. “Anak-anak muda yang memiliki kreativitas dan motivasi serta terawat belajarnya diberikan stimulasi. Kuliah yang riil di tengah masyarakat, bukan hanya tatap muka kelas, dan memanfaatkan sumber belajar beragam. Salah satunya,  entrepreuneurshipkewirausahaan” paparnya.

Lembaga ini juga meluncurkan sejumlah program untuk mendorong lahirnya pemuda yang punya jiwa kepemimpinan dan kreativitas untuk bersaing di era revolusi industri 4.0. Salah satu dari bentuk usaha itu adalah menggulirkan program Pemuda Pelopor. Tujuannya untuk menjaring bakat anak muda dari tingkat daerah hingga pusat. Pemuda Pelopor melalui sebuah proses kompetisi dan persaingan untuk mencari bakat terbaik, sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada pemuda yang memiliki pengabdian pada lingkungannya. (sutarwadi.k)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *