Inovasi Kuliner Nusantara

Zaman menggiring perkembangan tren kuliner Nusantara. Kini banyak menu kuliner asli Indonesia dipadu dengan menu dari negara lain. Termasuk negara Eropa dan Amerika Serikat. Perpaduan itu dikenal dengan nama fusion.

Sajian khas fusion bisa ditemui di berbagai restoran kelas atas sampai kelas gerobak di kaki lima. Sebut saja burger isi daging rendang – spageti daging rendang. Inovasi ini bisa menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat penikmat hidangan lezat. Meski terdengar aneh, perpaduan menu ini merupakan sebuah inovasi yang sangat baik. Kombinasi antara kuliner Indonesia dan kuliner luar negeri  sah-sah saja. Yang penting, halal.

“Kombinasi itu datang belakangan. Yang penting menguasai dasarnya dulu. Menguasai bumbu rendang, kemudian dipadu dengan membuat burger. Karena sudah menguasai resep membuat rendang, memadukannya akan lebih mudah,” kata Ny Grace N Rianti pemilikCatering Grasindo Pradana dalam perbincangan dengan Majalah UKM di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Koki yang baru saja terima anugerah Adikarya Wisata 2019 dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinisi DKI Jakarta atas kerja kerasnya sepanjang tahun itu menambahkan, sebelum mengombinasikan antar menu, koki sebaiknya menguasai semua bahan dasar dan keseimbangan formula resep aslinya. Sehingga, ketika menguasai semua bahan, kombinasi menu bisa dilakukan sebagai bentuk inovasi. Mengenai rasa, kombinasi kuliner Nusantara dan kuliner luar, pembuat inovasi harus memastikan, rasanya memang benar-benar nikmat. Jika koki sudah merasa pas dengan resep ramuhannya, maka hidangan itu juga nikmat untuk orang lain” ujarnya.

Ny. Grace berpendapat, perpaduan menu yang berbeda sangat disarankan. Sebagai koki yang ahli dalam makanan barat atau western, dia menyebut, masakan western juga ada beberapa yang fleksibel dan bisa dikombinasikan dengan kuliner Indonesia. Bagaimana kita bisa membuat makanan western, tapi rasanya tetap seperti rendang, gulai, pakai saus makanan Indonesia.

Namun, ada Chef diplomat yang sering keluar negeri tidak diperbolehkan membuat makanan fusion. Orang luar negeri tak mengetahui di mana letak Idonesia dan seperti apa masakan asli Indonesia. Maka dia lebih suka membawa masakan asli Indonesia untuk disajikan kepada orang-orang luar negeri. Karenanya diajarkan oleh pemerintah untuk memasak seautentik mungkin, sepedas mungkin. Apa adanya, agar disukai banyak orang asing. Saat ini semakin banyak orang Indonesia memasak berdasarkan resep. Ketika orang mulai mengerti memasak berdasarkan, pengembangan menu pun akan lebih banyak variannya.

Kondisinya sangat berbeda dengan 5 – 10 tahun yang klalu. Es cendol, misalnya, dulu, hanya cendol, gula merh, dan santan. Tapi sekarang ada tambahan tape, mutiara, dan sebagainya. Faktor teknologi juga sangat membantu memasak menjadi lebih mudah. Potensi kuliner Indonesia sangat besar untuk digaungkan ke mancanegara. Jika kita membuka kuliner di manca negara, diharapkan pemerintah pun mendukung. Misalnya, ada jadual penerbangan secara rutin untuk pengiriman bahan baku, bumbu-bumbu dan sebagainya dari Indonesia. Hal seperti ni dilakukan oleh pemerintah India, Korea dan Vietnam.  

Dengan ribuan pulau yang membentang di 34 provinsi, banyak orang yang belum tahu jumlah pasti kuliner di Indonesia. Dengan ragam kultur budayanya, Indonesia memiliki banyak jenis makanan yang tersebar di setiap daerah. Penelitian dari pakar kuliner senior Prof Dr Ir Murdijati Gardjito membuktikan kalau jumlah kuliner yang ada di Indonesia mencapai ribuan. Daftar itu pun masih bisa berkembang karena menurutnya masih banyak kuliner yang belum dia ketahui namanya. Menurut pengajar di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta itu, ada 3.259 itu yang sudah diketaui namanya.

Prof Mur juga mengatakan sebagai negara dengan biodiversity yang besar Indonesia dianugerahi kekayaan bahan baku kuliner yang besar, mulai dari rempah-rempah sampai sayur dan buah-buahan. Kita punya lebih dari 200 sayur, 400 buah, 1.600 rempah. Jadi, kita bisa membayangkan seberapa besar dapur Prof. Mur  yang telah menulis 60 buku kuliner Indonesia ini.

Penelitiannya dilakukan sejak 2014 sampai 2016 serta dipublikasi 2017. Metodenya melalui pemetaan berbasis IT.  Berikut ini profil kuliner Indonesia;

  1. Makanan utama: 208
  2. Makanan pendamping dengan santan: 292
  3. Makanan pendamping sup: 554
  4. Makanan pendamping tanpa sup: 959
  5. Makanan ringan basah: 750
  6. Makanan ringan kering: 263
  7. Complementary: 84
  8. Minuman: 147

Menurut Prof Mur, makanan tersebut dipengaruhi oleh beragam budaya mulai China sampai Belanda. Daftar lengkapnya sebagai berikut: Sumatera bagian barat dipengaruhi India dan Arab, Sumatera bagian timur dipengaruhi China dan Malaysia Jawa bagian utara dipengaruhi China, Arab, dan Belanda, Kalimantan bagian barat dipengaruhi China dan Malaysia, Sulawesi bagian utara dipengaruhi Spanyol
Maluku dipengaruhi Portugis dan Belanda.

Kombinasi makanan bisa dijadikan sebuah langkah untuk memperkenalkan kuliner Indonesia di kancah internasional. Pakar kuliner Indonesia, Sisca Soewitomo menuturkan kuliner Indonesia sebenarnya bisa bersaing dengan kuliner khas luar negeri. Kuncinya, dipromosikan secara baik. Terlebih bumbu rempah Indonesia telah mudah didapatkan di berbagsi negara. Ternasuk Amerika Serikat. Di sana ada juga toko yang menjual bahan-bahana masakan dari vietnam dan Thailand yang bisa dimanfaatkan karena masakan Indonesia tak beda jauh dengan masakan kedua negara itu.

Masayarakat Indonesia yang ada di Amerika bisa membuat opor karena bahan-bahan masaknya telah tersedia di sana. Tinggal menambahkan bawang merah, bawang putih, kemiri, dan santan.  Dalam membuat kuliner Indonesia di luar negeri, sebaikanya disesuaikan dengan kesukaan dan lidah orang-orang negara tersebut. Misalnya, untuk membuat masakan Manado, Sulawesi Utara yang terkenal  rasa pedasnya dianjurkan untuk menurunkan tingkat pedasnya jika memang akan disajikan untuk orang asing. Namun, penampilannya tetap diusahakan semirip ungkin dengan aslinya.

Industri kuliner di Indonesia berkembang pesat. Penikmat kuliner juga makin melimpah. Di kota-kota besar, waktu jam makan, baik siang maupun malam hari, bersama keluarga menikmati menu kuliner, mulai dari lesehan di trotoar, sampai di mall-mall, menjadi tren. Banyak mall yang menutup gerai retiil menggantinya dengan kuliner. (Sutarwadi.K)

This entry was posted in Kiat Sukses, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *