Inspirasi Di Hari Guru Indonesia

Ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan negara tetangga kita, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang lebih awal merespon era digital menjadi cermin bening bahwa pemerintah harus secepatnya membuat kebijakan yang mengarah kepada percepatan dan peningkatan pendidikan di Indonesia.

Sungguh ironi di era internet of things saat ini pemerintah masih gagap melahirkan regulasi baru untuk mengejar ketertinggalan yang ada. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang bersentuhan langsung dalam proyek-proyek pengadaan sarana pendidikan harus berani pasang badan untuk memperjuangkan moderenisasi pendidikan di Indonesia.

Diskusi tentang persoalan tertinggalnya pendidikan di Indonesia jangan menjadi pembenar bahwa kita memang suka dengan suasana yang serba tertinggal. Maka di era revolusi 4.0, guru berpacu dengan waktu untuk terus berubah yang paralel dengan kebijakan para pemegang kekuasaan untuk memberi ruang dan kesempatan para guru untuk terus berkembang.

Revolusi industri 4.0 telah memulai memakan korbannya. Masuklah ke jalan tol. Betapa kasir-kasir cantik di pintu-pintu tol yang melayani pembayaran jasa jalan tol, kini mulai steril dari pandangan. Jalan tol sudah tidak butuh pelayanan manusia. Tugas melayani telah digantikan oleh mesin. Para costumer tak perlu berurusan dengan sepotong kartu manual di pintu masuk lalu membayar di pintu berikutnya. Para costumer cukup menempelkan kartu e-tol, dan bereslah urusan transaksi keuangan dengan Jasa Marga.

Wanita cantik yang melayani pembayaran jasa jalan tol telah menjadi salah satu korban revolusi 4.0. Karyawati yang selama ini melayani pembayaran jasa jalan tol tiba-tiba harus angkat kaki. Barapa jumlah pintu tol, dikalikan berapa banyak karyawan dan karyawati, sebanyak itulah mereka yang terhempas nasibnya oleh kehadiran kartu tol elektronik.

Diyakini, pemandangan seperti itu juga akan terjadi di bilik dunia lain, dan di sektor-sektor lain. Betapa kehidupan ini terus bergerak maju perubahannya. Perubahan yang telah membongkar kemapanan dalam sendi-sendi kehidupan. Zona-zona nyaman kini tidak menjadi nyaman lagi. Jabatan yang dulu menjadi incaran banyak orang sekarang bisa hilang.

Bagi seorang guru akan tetap menjadi daya dorong untuk melahirkan pribadi-pribadi unggul berkarakter, berkepribadian Indonesia. Kendati seorang guru di era industri 4.0 tak akan pernah tergantikan, tetapi kemampuan penguasaan terhadap perangkat teknologi tak bisa ditawar-tawar lagi. Para guru Indonesia menjadikan perangkat teknologi sebagai sahabat setia yang akan menemani pembelajaran di kelas bahkan di luar jam-jam sekolah sekalipun. Maksudnya, di mana saja guru berada, ia tak merasakan kebingungan untuk sekadar mempersiapkan tatap muka pembelajaran esok hari, di era internet of things.

Dalam waktu yang amat singkat seorang guru akan mendapatkan jawaban yang super cepat dengan mengunjungi link-link pendidikan yang tersedia. Seorang guru bisa berselancar di dunia maya untuk mempersiapkan diri mencari materi yang disimpan di “awan” agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Di sinilah urgensi pembelajaran TIK menemukan pembenarannya. Sudah saatnya guru dan siswa memiliki kemampuan yang relatif setara dalam penguasaan TIK.

Selama ini kita sudah cukup familiar tentang pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan. Ke depan pembelajaran menyenangkan ini akan banyak disemarakkan dengan media pembelajaran yang lebih hidup dan menarik berbasis teknologi. Tidak bisa tidak, para guru akan lebih banyak memanfaatkan sarana yang tak terlalu sederhana, seperti saat kita mendongeng dulu. Kehadiran media pembelajaran akan semakin menarik dengan kehadiran audio visual berbasis digital. (Prof. Agustitin)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *