Invasi dan Inovasi UMKM

Hingga saat ini Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Hal itu bisa dilihat dari besarnya jumlah UMKM di negeri ini. Pada tahun 2015, misalnya, tak kurang dari 56,5 juta unit UMKM menjadi sumber pertumbuhan karena UMKM mampu menyerap 107,6 juta lebih tenaga kerja.

Pertumbuhan antarsektor memperlihatkan peningkatan signifikan subsektor UMKM bidang industri kreatif, komunikasi, kuliner, dan trading. Sedangkan bidang pertanian dan industri pertumbuhannya stagnan. Yang muncul justru dua tipologi perkembangan UMKM.

Tipologi pertama, pertumbuhan jumlah UMKM cukup tinggi, tetapi eksistensinya kurang berkualitas. Kelompok pertama ini, jumlah pendatang baru cukup besar. Namun, pada saat bersamaan, UMKM yang tutup dengan berbagai penyebab juga tinggi. Pada tipologi pertama, biasanya UMKM muncul bersama akibat replikasi jenis dan bentuk usaha yang sudah berkembang. Cirinya, teknologi rendah, produk dan jasa tidak memberikan inovasi baru. Mereka datang karena mudah memasuki pasar tanpa regulasi. Mudah masuk, sebanding dengan mudahnya bangkrut lantaran kalah bersaing dengan usaha sejenis yang sudah ada.

Dalam kajian ekonomi disertasi Dr. Heliani dari Universitas Andalas menyebutkan, hanya sekitar 10% – 12% usaha mikro di Kota Bukittinggi yang mampu berubah menjadi usaha kecil. Naiknya usaha mikro menjadi usaha kecil terutama karena mereka mau melakukan inovasi, fokus, dan mau bersinergi dengan pemasok input dan pasar.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pendatang baru masuk pada kawasan dan jenis usaha serupa, bisa jadi kurang pengalaman memasarkan jenis produk yang sama, sehingga konsumen menjadi jenuh. Karena tu, mereka perlu memiliki kreativitas menciptakan inovasi-inovasi baru agar mampu menggaet konsumen dan memasarkan hasil produk atau dagangannya.

Di bidang perdagangan, UMKM ritel rumahan bisa kita temukan berjejer saling berdekatan di berbagai kota – daerah. Mereka menjual hasil produk yang hampir sama, sehingga sebagian berkembang, dan tidak sedikit yang tutup karena kalah bersaing. Demikian pula usaha di bidang kuliner, jika mereka tidak bisa menggali inovasi-inovasi baru, bukan mustahil akan gulung tikar. Begitulah yang dihadapi pasar barang sejenis.
Tipologi kedua, UMKM yang melakukan inovasi. Perubahan segmen pasar, bentuk, rasa, dan tampilan, menjadikan mereka bisa eksis. Di bidang usaha jasa angkutan umum, misalnya, yang menggunakan sistem digital (online) akan lebih cepat berkembang. Sebaliknya, pengusaha yang tidak berinovasi, peralahan-lahan akan tumbang. Demikian pula bidang usaha lainnya; fashion, pertanian, perikanan, yang tidak melakukan inovasi akan mudah gulung tikar. Apalagi jika tidak memperhitungkan efisiensi dan pesaing.
Produk yang mampu menjaring pasar nasional – pasar internasional adalah produk-produk inovafatif yang sesuai dengan selera konsumen. Kata kuncinya, inovasi. Riset-riset Perguruan Tinggi (PT) lebih banyak pada kajian ilmiah. Temuan berbagai   menjelaskan bagaimana problem yang dihadapi UMKM. Jawaban secara saintifik sangat perlu. Namun tidak hanya berada pada pemahaman ilmiah dan berhenti di situ (Elfindri 26/10/2017).

Tahapan setelah itu, bagaimana menggunakan hasil kajian ilmiah sebagai dasar untuk melakukan perubahan dalam skala laboratorium, uji coba, rekayasa, dan sebagainya. Proses yang disebut sebagai Invasi teknologi sedemikian rupa, sehingga hasil uji coba dalam skala laboratorium, usaha, dan uji bermanfaat untuk dijadikan dasar dalam proses pengembangan produk UMKM berikutnya.

Tahapan invasi ini masih sangat terbatas. Baru dilakukan oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset dan pengembangan pada perusahaan-perusahaan yang ada. Proses invasi memang tidak datang dengan mudah. Pada saat masyarakat belum menyukai ilmu pengetahuan – tidak terbiasa menemukan inovasi, diperlukan perjalanan dan proses menuju masyarakat yang suka akan pembaharuan dan inovasi.

Invasi bisa saja  pada skala kecil. Sedikit berubah, namun pas diperlukan oleh masyarakat. Diperlukan tes selera konsumen. Jika produk teknologi tinggi, invasi bisa skala biaya mahal. Tidak mudah menemukan dan menghasilkan dengan proses invasi  jika produk barang dan jasa sudah dikelola oleh dunia usaha dengan inovasi baru, unsur teknologi sudah dapat dicatat sebagai faktor produksi baru.

Pemerintah, dengan berbagai bidang kefungsiannya, dapat menyelenggarakan dan mendorong para inventor lahir. Tidak hanya dari perguruan tinggi, tetapi juga dari masyarakat. Menemukan kekuatan baru dan mengombinasikan inisiasi; pemerintah,  perguruan tinggi, dan dunia usaha – industri adalah mutlak diperlukan.

Dalam skala bulanan, kegiatan inventor– seseorang yang melakukan pekerjaan untuk mengkreasikan suatu hal yang baru – menciptakan – merancang sesuatu untuk kali pertama, dapat dilakukan secara meriah di tingat pemerintah daerah, dengan menyelenggarakan perlombaan design karya inventor, dinilai oleh dewan juri. Disiapkan dana murah untuk mereka yang masuk skala siap teknologi. Pada saat bersamaan bisa ditawarkan kepada pemenang UMKM untuk mendapatkan pembiayan dengan dana murah guna melakukan penetrasi pasar.

Upaya ini tidak sekadar gelaran teknologi tepat guna (TTG) atau sejenisnya, tetapi sebagai upaya menyelenggarakan lomba produk dan inovatif bagi inventor yang ada di daerah-daerah. Ketika inventor itu meyakinkan, baik dari bisnis maupun teknis, maka proses keberadaan mereka, pengurusan izin dan penyediaan modal dari kredit murah dapat dibantu melalui sistem yang mudah dan intensif oleh pemerintah setempat.

Hanya dengan dilakukan secara berulang dan terarah, invasi akan melahirkan inventor yang menghasilkan rekayasa produk barang dan jasa. Mereka akan masuk, kemudian pada kelompok di mana tipologi tumbuh dan berkembangnya UMKM akan menguasai pasar dan kuat tampil dengan cara baru.

(Yuke Yurike, S.T., M.M., Wakil Kompartemen Tetap  Kamar Dagang Indonesia Bidang UKM)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *