Jadilah Pemimpin DJITU

Di tengah-tengah era bisnis, peran pembangunan di sebuah negara ditentukan oleh kalangan dunia usaha. Indonesia tidak terkecuali. Kontribusi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap pembangunan hanya tinggal 26%. Sedangkan 74% pembangunan nasional bertumpu kepada kalangan dunia usaha.

Kalangan dunia usaha selalu melihat momentum dan kesempatan untuk bisa bergerak maju. Indonesia bersyukur, sebagai negara yang prural, multi cultural, kita mempunyai banyak momentum untuk bisa memajukan bangsa dan negara ini. Kita mengenal Tahun Baru Muharam, Tahun Baru Masehi, dan juga Tahun Baru Imlek. Baru saja kita melewati Tahun Baru Imlek – 2565, merupakan tahun kuda kayu. Kuda selalu digambarkan sebagai hewan yang mampu menahan beban berat, mampu bekerja keras, cantik, dan cinta kebebasan. Menurut para ahli feng sui, tahun kuda kayu juga dikatakan sebagai tahun yang menguntungkan, sekaligus tahun penuh ketidakpastian dan tantangan.

Kondisi ini cukup tepat untuk menggambarkan perekonomian Indonesia tahun 2014 di tengah ketidakpastian ekonomi global. Indonesia harus tetap tumbuh di atas 6%, sementara Indonesia juga harus menghadapi hajatan politik, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Tantangan terbesar justru ada di pundak para pengusaha. Di satu sisi pengusaha harus berhati-hati menghadapi transisi kepemimpinan nasional, di sisi lain harus memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi. Sebab bagaimanapun pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada para pengusaha dan investor.

Stabilitas merupakan kunci sukses, atau tidaknya transisi kepemimpinan serta menggambarkan kedewasaan bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh sekaligus mengantisipasi ketidakpastian di tahun politik,  menurut Komisaris Utama PT Kalbe Pharma, Dokter Bunjamin Setiawan, yang paling penting bukan semata-mata kerja kerasnya – kerja otot, melainkan kerja otak. Sebab otak manusia akan menyebabkan lain daripada yang lain. Karena itu, untuk bangsa Indonesia yang paling penting adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Indonesia memiliki potensi SDM cukup besar, nomor 4 terbesar di seluruh dunia. Potensi itu harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Caranya, karena otak yang penting, maka pendidikan menjadi sangat penting. Oleh sebab itu, pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA sederjat sampai Perguruan Tinggi harus bebas, tidak bayar. Dengan demikian Indonesia akan cepat maju.

Untuk menghadapi tantangan ekonomi 2014, ada 5 pilar penting yaitu; Pertama, tersedianya SDM yang berkualitas. Karena SDM-lah yang akan menentukan segalanya. Kedua, kesehatan. Manusia harus sehat supaya bisa berprestasi. Ketiga, institusi-institusi, baik lembaga pemerintah maupun swasta mesti benar-benar reaktif, dan bekerja cepat. Keempat, perusahaan-perusahaan harus cepat menangkap momentum. Kelima, teknologi harus terus dikembangkan. Yang tidak kalah penting, penelitian yang terus menurus. Tetapi anggaran dana penelitian Indonesia ini kecil sekali. Hanya sekitar Rp 12 triliun per tahun. Dana penelitian di seluruh dunia saat ini sekitar US$ 1,2 triliun. Amerika paling besar, sekitar US% 400 miliar, disusul China US$ 200 miliar, lalu Jepang, kemudian Jerman dan Korea.

Dibandingkan Negara-negara lain, kesempatan untuk terus maju bagi Indonesia sangat besar. Bersama China dan India, energi market Indonesia akan berkembang cepat. Terutama dengan adanya ASEAN Community – komunitas masyarakat Asean. Saat ini total GDB Asean mencapai US$ 2,3 triliun. Indonesia dengan jumlah penduduk paling besar, 250 juta, dari total penduduk Asean 600 juta jiwa. Potensi itu harus kita manfaatkan. Perusahaan-perusahaan Indonesia, hendaknya jangan hanya melihat di Indonesia saja, tetapi harus mengepakan sayap usahanya ke luar negeri. Setiap ada celah kesempatan harus dimanfaatkan. Indonesia, penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kemudian rumput laut sebelumnya Philipina No 1, sekarang Indonesia yang No 1 di dunia. Belum lagi kakao, karet dan banyak lagi. Kebijakan pemerintah tentang hilirisasi, sangat tepat. Karena akan memberikan nilai tambah.

Pemimpin Indonesia masa depan, menurut Bunjamin harus benar-benar memperhatikan SDM, dan mampu menciptakan manusia DJITU. Yang disebut manusia DJITU adalah orang yang memiliki karakter; DDisiplin, dedikasinya tinggi. JJujur, dan Jeli. Kejujuran itu sampai saat ini masih sakit-sakitan. Jeli melihat peluang-peluang. IInovatif, inisiatifnya mesti banyak. TTegas, teliti, tanggung jawab. UUlet, tidak cepat putus asa, dan maunya selalu unggul nomor satu. Akan lahir pemimpin masa depan yang DJITU, jika rakyatnya juga DJITU. Sebab, seorang pemimpin sejati itu lahirnya dari rakyat, bukan dari pemimpin.

Seperti halnya Bunyamin, Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Christianto Wibisono juga berpendapat bahwa potensi Indonesia luar biasa. Persoalannya, bagaimana mengoptimalisasikan SDM kita. Masalah kita ini sitemik. Sistemnya, tidak memungkinkan orang berprestasi, berkinerja mencapai hasil maksimal, karena masih dikuasai oleh mental SMSSenang Melihat orang Susah atau Susah Melihat orang Senang. Mestinya, orang yang the best diberi kesempatan – peluang supaya Indonesia menjadi the best. Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Dalam kontek itu, maka kita menghadapi problem bahwa industrialisasi ketinggalan. Selama 15 tahun setelah Orde Baru (Orba), praktis industri terhenti. Kita harus betul-betul membangun lagi industri supaya Indonesia masuk dalam jalur global production. Sekarang para produsen itu berproduksi sendiri-sendiri, dan tidak ada yang masuk dalam jalur global production – produk dunia sehingga sektor industri ekspornya merosot – akibatnya devisit – lalu rupiah pun jatuh. Seperti lingkaran setan.

Selama ini kita hanya menggali batu bara lalu dijual ke luar negeri, menambang bauksit diekspor mentah. Sekarang perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan mulai disuruh membuat pabrik untuk pemurnian – mengolah hasil perkebunan, baru boleh diekspor. Meski agak telat, kita sudah mulai dengan proses itu agar industrialisasi betul-betul memanfaatkan sumber daya yang ada, sehingga mendapatkan nilai tambah. Termasuk bidang pertanian, selama ini kita ngomel, pertanian begini-begini saja. Pembangunan pertanian hanya menjadi wacana. Ke depan, pertanian Indonesia harus dimodernisasi. Tidak bisa kita mengandalkan 40 juta petani gurem, lahanya hanya 0,25 hektar untuk bersaing dengan pertanian Eropa – Amerika. Pemerintah harus membuka lahan pertanian skala besar di Sumatera – Kalimantan – Sulawesi – Papua, supaya menghasilkan pertanian skala besar. Kalau tidak, kita tak kan mampu bersaing. Ekspor pangan terbesar di dunia adalah Eropa dan Amerika. Industrialisasi, tentu tidak hanya bikin pesawat terbang atau kapal selam, tetapi termasuk industri pertanian.

Terkait dengan bonus demografi, dari populasi penduduk Indonesia yang saat ini mencapai lebih dari 250 juta jiwa, sekitar 10% – 25 juta usianya di atas 50 tahun. Akibatnya penyakit-penyakit degenerative mulai muncul, dan biayanya mahal sekali. Nomor satu penyakit kanker, biaya sangat mahal. Lalu penyakit nereo degenerative dan penyakit demensia, semua memakan biaya. Tetapi orang-orang tua ini sebetulnya masih bisa dimanfaatkan. Banyak orang yang usianya 70 – 80 tahun masih mau aktif. Prof. Emil Salim, usianya sudah 84 tahun masih aktif, Prof. Subroto 90 juga masih aktif, dan masih banyak lagi. Yayasan Adiyuswa bersama alumi FK UI ingin memanfaatkan profesor-profesor itu supaya mereka tetap berkreasi. Semoga pemerintah mau memanfaatkan orang-orang adiyuswa (tidak mau disebut lansia).

Bonus demografi – usia produktif memang besar, namun yang terpenting skill – ketrampilan kinerja harus betul-betul ditingkatkan sehingga kualitas seseorang itu lebih tinggi daripada yang ada sekarang. Pada umumnya yang muda-muda ingin sekali belajar meningkatkan ketrampilan tetapi kesempatannya kurang. Karena itu pemerintah harus aktif memikirkan bahwa setiap orang punya hak mendapatkan pekerjaan. Sebab yang muda-muda itu setiap hari tumbuh besar. Jika mereka tidak dipersiapkan dengan baik, kita akan rugi sekali. Tidak semua Negara punya kondisi seperti Indonesia.

Tugas Presiden RI ke-7 – hasil pemilihan presiden 2014, menurut Christianto harus memimpin Indonesia, memanfaatkan aset penduduk secara optimal. Yohanes Surya, salah seorang pakar fisika dan matematika menemukan bibit-bibit unggul, di mana banyak anak Indonesia mampu berprestasi kelas dunia, meraih medali emas dalam olimpiade fisika – matetematika. Secara umum Indonesia memang masih rendah, namun tidak perlu minder – rendah diri bahwa kita masih ketinggalan. Saat ini kita memang masih ketinggalan, tetapi jika mau kerja keras mengejar keberhasilan potensi kualitas bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain. Terbukti, anak-anak Indonesia yang dilatih secara serius mampu meraih prestasi dunia. Hal ini perlu dilembagakan agar benar-benar menjadi bonus, tidak menjadi beban.

Ada riset di Amerika bahwa pendapatan per kapita tertinggi di Amerika, bukan etnis Yahudi – orang bule yang selama ini kita kenal, tetapi etnis India. Seandainya orang India di India pendapatannya sama seperti orang India di Amerika, maka GDB India sudah 2 kali lipat dari sekarang. Artinya, orang sukses itu tidak hanya dimonpoli orang Yahudi, tetapi semua orang – semua bangsa berhak dan bisa menjadi top, kalau memang diberi peluang – kesempatan besar.

Banyak tantangan berat yang dihadapi Indonesia di tahun 2014. Untuk membuat ekonomi lebih kokoh, kita harus membangun optimisme. Di sisa masa pemerintahannya yang tinggal kurang lebih 7 bulan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hendaknya membuat gebrakan yang serius bahwa birokrat betul-betul memberikan pelayanan efektif, efisien dan fasilitas umum kepada masyarakat. Soal izin usaha, misalnya, bisa selesai paling lama 1 minggu. Sekarang mengurus perizinan saja berbulan-bulan. Soal mengurus bisnis ini ranking Indonesia berada di urutan 66 dunia, kalah dari Vietnam. Tugas utama birokrat adalah melayani masyarakat. Siapa pun presidennya, harus membenahi birokrasi yang masih sangat memprihatinkan ini. Kalau tidak, kita akan terpuruk terus. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *