Jakarta Internasional Expo Akan Menjadi Arena Promosi Terbesar di Asia

Seiring dengan pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung tahun ini, Jakarta Fair Kemayoran (JFK) ke-47 kembali dibuka. Selama 31 hari pesta warga Jakarta ini akan memberikan kesempatan luas bagi sekitar 4 juta pengunjung untuk memenuhi kebutuhannya dengan target transaksi bisnis lebih dari Rp 4 triliun. Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan pertama 2014, JFK menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia (BI) memprediksi untuk tahun ini sektor perdagangan, hotel dan restouran akan tumbuh kuat hingga 6%. Kombinasi perhelatan rakyat tahunan dengan berbagai pertunjukan dan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan traksaksi bisnis dari berbagai sektor industri, seperti otomotif menjadikan JFK memainkan peran strategis untuk mendorong bergulirnya roda perekonomian Jakarta dan bangsa. Ajang JFK pun disiapkan untuk menjadi wadah bertemunya para pebisnis nasional dengan pebisnis manca negara, yang tentu berujung kepada masuknya devisa ke Indonesia. Pertanyaannya, seberapa besar kita mau memanfaatkan ajang pameran seperti JFK untuk memajukan industri dalam negeri. Bagaimana mengoptimalkan JFK sebagai etalase untuk memamerkan produk-produk dalam negeri agar meningkatkan nilai perdagangan nasional. Semua berpulang kepada kita sebagai bangsa Indonesia, berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun swasta menjadikan peran strategis JFK lebih terasa, agar perhelatan tahunan ini bisa menjadi sumbangsih dari Jakarta untuk Indonesia. Menurut Menteri Perindustrian Muhammad Solaeman Hidayat, sejak krisis 2008, pada waktu itu pertumbuhan industri sekitar 2,5% kemudian menanjak pada tahun 2011 mencapai 6,7%, tetapi tahun 2013 menurun lagi 5,56%. Namun demikian pertumbuhannya tetap nomor 2 di Asia. Hal itu disebabkan berbagai faktor eksternal, meskipun juga diakui bahwa ada masalah internal yang harus diperbaiki. Pertumbuhan yang menurun itu diharapkan akan kembali menanjak di tahun 2014, dan kita punya potensi untuk itu. Yang diinginkan para pengusaha, kata MS Hidayat, tingkat efisiensi pengelolaan ekonomi makro dan sektor riil dengan regulasi yang tepat.

Kemudian infrastruktur dipercepat supaya bisa memfasilitasi industri yang sedang tumbuh dan berkembang, serta insentif dan disinsentif tax – pajak yang bisa memberikan dorongan bagi industri yang kita butuhkan. Memberikan disinsentif terhadap hal-hal yang berkenaan dengan besarnya impor barang, memberikan proteksi dan previlage – perlindungan bagi tumbuhnya industri di dalam negeri. Untuk menaikan pertumbuhan, semua perangkat regulasi dan aturan dalam koordinasi dengan kementerian lain sedang digiatkan agar kita menjadi salah satu negara industri yang terpandang pada tahun 2025. “Road map-nya sudah dibuat,” tegasnya. Secara nominal industri kita memang terjadi perlambatan. Tetapi, kata Menteri Perdagangan Muhamad Lutfi, sebenarnya Indonesia sedang bertransformasi. Yang paling penting, produknya perlu dipromosikan. Transformasi itu, mungkin out put-nya turun.

Namun strukturnya jauh lebih baik. Sekarang Indonesia mengekspor otomotif tidak kurang dari US$ 4,5 miliar. Kelak ketika pabrik Toyota, Daihatzu, Suzuki dan pabrik Nisan yang kini sedang dikembangkan sudah selesai, lalu kapasitasnya dobel, produk otomotif setidaknya akan menjadi US$ 10 miliar. Sehingga membuat otomotif menjadi produk nomor 2 terpenting setelah kelapa sawit. Untuk itu, sebenarnya secara struktural Indonesia sedang bertransformasi menjadi negara yang tinggi teknologi dan industrinya. Tentang permintaan dari luar negeri, kata Lutfi, kita harus melihat bagaimana situasi ekonomi luar negeri. Ekonomi Eropa, misalnya, pertumbuhannya masih sangat ringkih. Ekonomi Amerika membaik, tetapi tidak sebaik yang diharapkan. Ekonomi yang pertumbuhannya cukup baik adalah Jepang. Sedangkan China yang selama ini tumbuh luar biasa, melemah. Itu masalah di luar negeri. Yang penting bagaimana pertumbuhan kelas menengah Indonesia menciptakan insentif tersendiri dan khusus yang belum pernah kita alami. Dulu, tahun 1980 – 1990-an orang datang untuk mendapatkan barang produk murah di Indonesia.

Namun sekarang mereka datang insentif utamanya adalah kelas menengah kita yang kuat dan mapan. Tugas JFK, kata Komisaris Utama PT Jakarta Internasional Expo, Murdaya Po, mempromosikan dan mendorong tumbuh berkembangnya produk-produk dalam negeri. Di negara lain seperti; Jepang, Tiongkok, Jerman dan lain-lain, acara sebesar JFK pada umumnya diselenggarakan oleh pemerintah. Tetapi, kita tidak mau kalah, JFK adalah pameran terlengkap, dari berbagai macam produk, dan terlama. Sehingga promosi itu bentul-betul bisa dilihat – dikunjungi oleh masyarakat Indonesia, juga dari luar negeri. Di Asia Tenggara tidak ada pameran sebesar dan selama JFK. Pengunjung JFK setiap tahun terus meningkat. Kalau 2012 baru mendekati angka 4 juta orang, tahun 2013 mencapai 4,4 juta orang tahun 2014 diharapkan bisa mencapai sedikitnya 4,5 juta orang. Transaksinya meningkat, dari Rp 3 triliun – Rp 4 triliun tahun 2014 bisa mencapai Rp 5 triliun.

Menurut hasil survei Universitas Indonesia (UI) ajang promosi ini hasilnya betul-betul luar biasa. Mengenai peran negara, ketika mencari pangsa pasar, negara yang menyelenggarakan – kotanya membantu. Di Jepang juga ada promosi tiada henti yang penyelenggaranya pihak swasta. Setiap 1 – 2 bulan produk yang dipamerkan selalu berbeda. Promosi itu bukan hanya bagi pasar Jepang, tetapi juga penting bagi pasar internasional. Di Jerman, Inggris dan berbagai negara lain juga ada promosi secara tetap. Dengan struktur pertumbuhan industri yang maju, setengah ekonomi ASEAN adalah ekonomi Indonesia, separuh penduduk ASEAN penduduk Indonesia, kelak JFK diharapkan bukan saja menjadi etalase Indonesia dan ASEAN, harus menjadi etalase Asia – dunia. Target pengunjung JFK 2014 sekitar 5 juta, sebagian besar adalah kelompok kelas menengah Indonesia. Para industriawan bisa memamerkan semua jenis produknya. Terutama produk industri kreattif, industri kerajinan, furniture, industri otomotif, motor dan ratusan industri lain yang sangat dibutuhkan Indonesia. Karena itu pemerintah harus memberikan back-up penuh terhadap pelaksanaan JFK. Sebab promosi itu akan sangat membantu tumbuhnya industri dan perdagangan dalam negeri, yang dampaknya bukan hanya memperkuat domestik, tetapi juga akan memperkuat hubungan perdagangan kita dengan luar negeri.

Kini saatnya, bersama-sama membuat strategi bagaimana memasarkan produk-produk dalam negeri sehingga bisa menguasai, bukan hanya domestik tetapi ASEAN di regional, maupun global. Ini juga akan menjadi percontohan dan updating dari produk-produk mutakhir yang teknologinya baik. Karena JFK sangat strategis, pemerintah diharapkan memberikan komitmen penuh atas terselenggaranya pameran. Salah satu yang sangat dibutuhkan adalah fasilitas. Promosi di Jakarta Internation Expo menurut rencana akan diadakan setiap bulan, dan puncaknya diselenggarakan dalam rangkaian ulang tahun Kota Jakarta. Dukungan yang diharapkan dari pemerintah agar JFK lebih optimal, dan benar-benar menjadi pertemuan antara konsumen dan produsen, menurut Murdaya, adalah infrastruktur yang memadai. Saat ini, transportasi umum seperti bus, ke JFK sulit.

Di negara-negara lain, pada umumnya pemerintah memberikan fasilitas memadai. Jika kita memang ingin menjadi luar biasa, sarana transportasi seperti bus way dan MRT perlu disediakan sehingga orang yang datang ke tempat pameran lebih mudah. “Kalau sekarang saja setiap hari 100.000 orang datang ke JFK, atau 10.000 – 20.000 orang ketika ada pameran biasa, tentu perlu angkutan yang memadai,” jelas Murdaya. Pada 1 Januari 2015 mendatang, ASEAN Economi Community – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mulai diberlakukan. Bagaimana menjadikan JFK sebagai ajang pasar ASEAN? Harus disadari bahwa industri kelas menengah kita perlu punya tempat. Rentang Indonesia dari barat ke timur yang mencapai 6400 Km, dan bertebaran 17.000 pulau lebih, perlu dipikirkan bagaimana orang Indonesia merasa memiliki JFK, dan menjadikan JFK sebagai etalase Indonesia dan ASEAN.

Dalam skala kecil, kata MS Hidayat, pihaknya memberikan tempat untuk pameran di Plaza Kementerian Perindustrian. Setiap bulan ada pameran, kadang sampai dua kali. Pameran diselenggarakan untuk setiap sektor dan jenis industri dari seluruh Indonesia secara bergilir setelah diseleksi, dan dianggap punya potensi – prospek. Peserta tidak dipungut biaya – gratis. Semua dibantu, difasilitasi sepenuhnya. Karena JFK telah menjadi even internasional, kata dia, harus diselenggarakan lebih baik, dan skupnya lebih luas. JFK harus menjadi program pemantapan untuk mempromosikan produk-produk unggulan, dan targetnya minimal pasar ASEAN. Hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, terutama dengan Pemerintah DKI Jakarta mesti dipererat. Hampir di semua negara maju, even seperti JFK menjadi even resmi nasional, diselenggarakan swasta dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Menurut rencana, kata Murdaya, ke depan akan segera dibangun satu hall megah di area 4,5 hektar. Hall ini akan menjadi hall terbesar di Asia, paling tidak di kawasan ASEAN. Tingkat dua yang tanpa tiang, mampu memuat 17.000 orang. Kalau ada pertunjukan musik kelas dunia atau pameran-pameran bisa diadakan di lantai dua. Lantai bawah juga mampu menampung 20.000 orang lebih. Hall yang designnya ditangani oleh designer kelas dunia itu 18 bulan setelah JFK 2014 usai, sudah selesai. Hotel bintang lima – bertaraf internasional, shoping mall dan aparatemen pun akan segera dibangun. Program pembangunan JIExpo untuk jangka pendek 1 – 2 tahun dianggarkan US$ 200 juta. Sedangkan anggaran jangka panjang 10 tahun, totalnya direncanakan US$ 8 miliar.

Menurut Murdaya, semua rencana sudah matang. Apa yang direncanakan JIExpo itu, kata MS Hidayat, akan mendukung program utama pemerintah – Kementerian Perindustrian, yaitu industrialisasi. Kementerian ini mendalami struktur industri, merubah – mentransformasi dari mengekspor bahan mentah menjadi membangun prosesing di Indonesia. Hal ini tentu membutuhkan promosi, membutuhkan forum untuk memperkenalkan produk-produk Indonesia. Untuk itu diperlukan ajang yang terpercaya, punya reputasi internasional. Dan itu bisa dibangun secara bersama-sama, terintegrasi. “Pesaing di luar negeri pun melakukan hal yang sama,” jelasnya.

Melihat potensi, pertumbuhan ekonomi, income – pendapatan per kapita dan kelas menengah yang semakin meningkat, saat ini sekitar 60 juta kelas menengah atau dua kali lipat dari penduduk Malaysia, maka Indonesia sangat memerluka fasilitas untuk eksibisi kelas dunia. Even internasional, pertemuan-pertemuan yang mendunia bisa dilakukan di Indonesia. Selama ini, kegiatan tingkat ASEAN lebih banyak diadakan di Singapur. Tentang potensi, M Lutfi memberi contoh, satu dari 3 daun pintu – jendela di Inggris adalah buatan Indonesia. Struktur dan kualitasnya sangat baik. Ini hanya satu contoh dari apa yang akan dilakukan Indonesia di masa mendatang. Selama ini, kata dia, yang terjadi spot – tidak terencana. Karena dianggap penting, setiap tahun Kementerian Perdagangan punya trade ekspose.

Ke depan, menurut Joko Widodo (Jokowi) dalam debat calon Presiden dan calon Wakil Presiden mengatakan akan memanfaatkan 150 perwakilan – Duta Besar Indonesia di seluruh dunia untuk menyebarkan informasi tentang potensi Indonesia. Jika diinformasikan bahwa di bulan Juni ketika ulang tahun Kota Jakarta juga diadakan Trade Expo Indonesia, tamu-tamu internasional akan masuk ke Indonesia dalam waktu yang sama. Sudah saatnya kita membangun kebersamaan dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku bisnis – swasta dan BUMN – BUMD maupun JIExpo. Produk-produk unggulan, otomotif dalam 2 tahun ke depan, misalnya, pasokannya akan tumbuh 100%.

Yang juga tumbuh kencang adalah industry kreatif; perhiasan berbasis mutiara, perak, emas, animasi, film, musik dan budaya. Khusus perhiasan, mutiara, perak dan emas, menurut M Lutfi, kwartal pertama tahun 2014 pertumbuhannya mencapai 152% dibandingkan kwartal pertama tahun 2013 silam. Juga perlu dipikirkan bagaimana memasarkan produk ikan dan produk perikanan. Saat ini penjualan produk ikan hanya US$ 4 miliar per tahun. Padahal luas laut kita 5,8 juta kilometer persegi. Hanya dengan perencanaan dan kerja sama yang baik diyakini bisa tercipta permintaan yang baik sehingga terjadi kebersinambungan daripada pusat-pusat promosi.

Indonesia begitu luas, memerlukan suatu kedekatan – koordinasi yang baik. Kita butuh etalase Indonesia – etalase ASEAN, dan bukan hanya menjadikan pasar Indonesia yang kuat, tetapi juga pasar regional. Dengan demikian Indonesia bisa menjadi pemenang. Produk yang dipamerkan di JFK 50% adalah produk industri kecil menengah (IKM), terdiri dari industri kreatif – kerajinan – handy craft. Menurut MS Hidayat, itulah kekuatan kita sekarang. Dan itu membutuhkan brand – membutuhkan market bukan hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Menyusun kalender even nasional, kata dia, sangat penting.

Disamping JFK Kementerian Perindustrian secara nasional juga menyelenggarakan pameran furniture internasional yang juga dikunjungi ribuan trader – pedagang besar – investor. Juga menyelenggarakan otomotif expo bertaraf internasional. Jika semua itu dirangkaikan dalam satu kalender even selama satu tahun penuh, bisa lebih efektif dan dikenal di dunia internasional. Seperti halnya kita juga mengenal International Even di Tiongkok, Jepang, Eropa – Jerman. Orang akan datang di suatu pameran pada even-even tertentu yang diminati. Dibandingkan tempat pameran lain, lokasi JIExpo ini luar biasa strategis. Berada di tengah-tengah kota, dari Istana Negara bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Dari Airport bisa langsung lewat tol. Dari Pelabuhan Internasional Tanjung Priok hanya butuh waktu 30 menit. (marjono)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *