Jakarta Timur Sentra Kerajinan Mebel di Ibukota

MAU mencari mebel dengan harga miring? Atau mereparasikan mebel Anda yang sudah usang? Datanglah ke sentra industri mebel di Jln. Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu, dan Jln. Bekasi Raya Kelender, Jakarta Timur. Di sepanjang jalan itu, berderet rapat toko mebel. Anda akan leluasa memilih perabotan rumah, sesuai selera.

Di bursa itu tersedia lengkap; kursi tamu, meja makan, kursi teras, meja kantor, lemari, tempat tidur, dan sebagainya. Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Tergantung kualitas barangnya. Anda pun bisa membeli yang masih mentah, belum dipelitur.

Sejak tahun 1960-an di daerah Pondok Bambu dan Klender, yang penduduknya mayoritas warga Betawi asli, telah tumbuh kegiatan pembuatan mebel. Usaha rumahan itu dikembangkan anak cucu mereka, kemudian menjalar ke tetangga kanan kiri.

Data konkret memang sulit didapat, namun diperkirakan ada 4.000-an lebih, usaha kecil menengah (UKM) berkembang di daerah ini, dan mampu menyerap 20.000 lebih tenaga kerja, sehingga menjadi sentra industri mebel terbesar dan terlengkap di Jakarta. Pasarnya pun merambah sampai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya (Papua), bahkan sampai mancanegara, tidak hanya di kawasan ASEAN, tapi jauh menyeberang lautan, sampai Eropa, Amerika, dan ke Timur Tengah.

Kalau pasar ASEAN sudah lama. Untuk menggapai sukses, para perajin mebel punya kiat jitu. Selain memasarkan di show room dan di pameran-pameran juga bekerja sama dengan perhotelan dan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Kerja sama dengan marketing hotel cukup efektif. Ekspor di kawasan ASEAN antara lain; Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, sedangkan ke Timur tengah antara lain; Saudi Arabia, Kuwait, Yordania, dan Eropa.

Walau produknya sering diikutsertakan pameran di luar negeri, tetapi para perajin tak selalu mengikuti pameran. Mereka hanya memanfaatkan tamu hotel yang telah menjadi rekanan bisnis. Kalau kirim barang 5 kontainer, misalnya, setengah kontainer di antaranya untuk pameran.

Menurut mereka, pasar mebel Indonesia di Eropa Amerika masih menarik dan mendominasi. Beberapa tahun terakhir, pasar Timur Tengah, Dubai, misalnya, cukup menjanjikan. Karena di Negara tersebut banyak pembangunan. Orang di sana tertarik dengan produk-produk kita, karena kualitas kayu jati kita sangat bagus, dan masih jarang yang punya. Ada pesaing dari Vietnam, tetapi kualitas jati kita masih lebih baik.

Para perajin kebanyakan bermodal kecil. Bahkan ada yang modalnya, nol, bermula sebagai tukang. Upah yang diterima itu ditabung, untuk beli kayu dijadikan dagangan, titip dengan pemilik toko. Lantaran produknya bagus, pemilik toko pun membuka kesempatan untuk memproduksi sebanyak-banyaknya. Bahkan modal untuk beli bahan baku pun diberikan. Konsekuensinya, kualitas produk harus terjaga dan ditingkatkan

 

Pasar mebel memang turun naik, mengikuti perkembangan ekonomi di Indonesia. Dan bisnis mebel ini musim-musiman. Kalau musim kenaikan anak sekolah agak sepi. Kursi yang dipasarkan di daerah Kelender – Pondok Bambu, Duren Sawit, dan Pulo Gadung ada dua jenis, kursi yang menggunakan per (sofa) dan kursi kayu. Kursi-kursi yang dipasarkan ada yang terbuat kayu jati, sono keling, dan kayu mahoni.

Tetapi yang menjadi andalan memang meja kursi yang terbuat dari kayu jati dan kayu sono keling. Kedua jenis kayu itu kualitasnya sangat baik, awet dipakainya. Memang agak mahal dibandingkan dengan kayu jenis lain. Ongkong-ongkongan, model yang sedang digandrungi masyarakat. Ada beberapa jenis ongkong-ongkongan, antara lain; ongkong Korea, ongkong bambu, ongkong anggur, ongkong ketupat. Ada juga jenis romawi, yaitu romawi pot, romawi selendang, romawi Amerika, romawi Mesir dan dari jenis raffles ada raffles kepang, raffles ukir, raffles papan, dan juga kursi Betawi.

Pola pengembangan usaha pada umumnya memang tidak terlalu muluk-muluk. Yang dipertahankan adalah kualtas produk. Pendekatan kepada konsumen, diangap sangat penting. Sekarang yang lagi ngetren, model minamlis, tetapi model klasik dari dulu bertahan. Menjual mebel jenis klasik relatif agak lama, tapi harganya juga lebih tinggi, ada di kisaran Rp10 juta per set kursi tamu.

Soal persaingan, merupakan nilai positif buat pedagang. Kita akan semakin meningkat kalau ada persaingan. Persaingan adalah pemacu dan penyemangat untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Persaingan juga memacu untuk membangun kebersamaan. Berdagang mebel ini kenikmatannya susah dijelaskan, mungkin karena tuntutan kehidupan. Yang jelas, dagangan tidak basi, keuntungannya lumayan, Kalaupun rusak, lama. Namanya kayu jati, pasti awet.

Memperkenalkan produk kepada khalayak, adalah kesulitan awal yang pasti dialami oleh pemain baru. Tapi setelah konsumen mengenal, secara tidak langsung mereka akan mempromosikan dari mulut ke mulut. Harga barang-barang produksi dari para perajin itu pasti lebih murah dibandingkan produk dari pabrik besar. Pasar mebel di Indonesia secara keseluruhan, cenderung ada penurunan. Kondisi ekonomi yang belum jelas menahan keinginan keinginan masyarakat untuk membeli mebel. Penurunan omzet usaha permebelan berkisar 20% – 40%. Tetapi bagi mereka yang sering mengikuti pameran justru ada peningkatan.

Kata para pengrajin, persaingan dengan produk impor memang berat. Produk kita menang di kualitas, sedangkan produk impor menang di desain atau model. Produk dari luar negeri kebanyakan dari kayu lapis, produk kita dari kayu solid atau asli. Kita harus membuat produk unggulan baru sesuai permintaan pasar, terutama pasar lokal. Sebenarnya, dengan adanya pembangunan perumahan dan perkantoran, masa depan usaha permebelan cukup baik. Setiap ada pembangunan rumah atau gedung pasti membutuhkan mebel.

Bisnis mebel tak telpas dari masalah seni. Setiap produk mebel, apakah itu ukiran dari Jepara, atau daerah lain, yang masing-masing berbeda, sedikit banyak menampilkan unsur-unsur seni. Setiap manusia, disadari atau tidak, senang dengan seni, dan keindahan. Ketika seseorang menyenangi suatu produk mebel, artinya dia senang dengan keindahan yang ditampilkan oleh mebel itu sendiri. Memang, kadang kala tak diucapkan, misalnya; “Saya senang minimalis, senang ukiran.” Dengan merasa senang itu sudah menggambarkan bahwa dia menyenangi bentuk seni itu. (my)

 

 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *