Jangan Dibiarkan Orang Hanya Sebagai Penonton

Berdasarkan geografis, Dusun Rotat, sebuah dusun terpencil yang masuk Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) letaknya cukup jauh dari Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka. Perjalanan dengan sepeda motor, Maumere – Dusun Rotat ditempuh hampir 1 jam. Jalannya mulus dan sepi, tetapi karena banyak tanjakan berkelok-kelok, dan tikungan tajam pengendara harus ekstra hati-hati. Bagi yang belum pernah berkunjung ke Dusun Rotat, perjalanan mengasyikkan karena di kanan kiri jalan pemandangannya indah dan asri.

Dari dusun terpencil itu kesejahteraan warga masyarakat yang dibangun secara bersama-sama, gotong-royong dilembagakan melalui Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air, menggema ke berbagai pelosok dusun, sampai ke seluruh negeri tercinta, Indonesia. Secara alami, Dusun Rotat memang di perbukitan, dan merupakan kawasan sumber mata air. Namun, nama Pintu Air, mengandung makna tersendiri. “Tidak ada rumah yang tiada pintunya, juga tiada kehidupan tanpa air,” kata Yakobus Jano, suatu sore membuka perbincangan dengan Majalah UKM, di ruang kerjanya, tentang Kopdit Pintu Air yang didirikan bersama 49 teman lainnya pada 1 April 1995.

Secara spiritual, lanjutnya, dalam iman Katolik, Pintu Air diartikan Yesus. Dalam Alkitab, Yesus berkata; “Akulah pintu, barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.” (Yoh. 10:9 ). Dan, “Akulah air kehidupan, barang siapa minum air dari padaKu, ia tidak akan haus untuk selamanya.” (Yoh.4:14 ) “Bagi yang percaya kepada Yesus, tidak ada yang mustahil. Semua bisa terjadi. Kami mengimani itu,” tegasnya.

Berpijak pada iman yang kokoh dan harapan yang teguh dengan cinta kasih sebagai hukum tertinggi, di bawah rimbunan pohon kakao, beralaskan seadanya, Yakobus, putera asli Dusun Rotat, mengajak warga Desa Ladogahar, kula babong – berembuk bersama, bagaimana mengatasi kondisi sulit yang dialami masyarakat. Saat itu banyak warga meninggalkan kampung halaman, merantau ke tanah seberang mencari pekerjaan. Karena keterampilannya rendah, kesempatan yang terbuka di luar negeri hanya menjadi pembantu rumah tangga. Bagi Yakobus, hal itu menimbulkan keprihatinan tersendiri.

Untuk mengatasi kesulitan, dan meningkatkan kesejahteraan, tidak ada cara lain kecuali terjalin kerja sama, dan tolong-menolong. Agar kerja sama dan tolong-menolong terus berkesnimbungan, maka dibentuklah organisasi – lembaga. Koperasi dengan ruh gotong-royongnya, oleh Yakubus dan teman-temannya dianggap sebagai sarana paling tepat. Maka dibentuklah Koperasi Usaha Bersama Simpan Pinjam (KUBSP) Pintu Air, dengan modal yang terkumpul sebesar Rp500.000.

Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-3 (1998), Pastor Setyobudi Pareira yang memimpin rapat mengatakan; “Pintu Air itu sebenarnya Yesus.” Karena Pastor yang membaptis, kata Yakobus, maka dalam mengajak masyarakat berkoperasi, Yesus selalu dikedepankan. Diyakini, jika bersamaNya pasti tidak ada yang sulit. Dan benar, masyarakat pun suka karena misinya gotong-royong murni, saling membantu. Sesuai lingkungan di kampung, menyampaikannya juga dengan bahasa kampung; Aku susah kamu bantu, kamu susah aku bantu. Ketika kita melakukan suatu kebajikan kepada orang lain, impactnya akan kembali ke kita juga. “Jika kita membantu orang, dengan sendirinya orang pun akan membantu kita, walau bukan orang yang kita bantu itu, tetapi orang lain yang bisa membantu,” jelas Jakobus yang kala mendirikan Kopdit Pintu Air masih berstatus karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Pintu Air dipilih sebagai nama koperasi, sebenarnya juga suatu bentuk protes kepada Pemerintah Kabupaten Sikka. “Pintu Air itu ironi, sindiran kepada pemerintah agar memerhatikan masyarakat Dusun Rotat – Desa Ladogahar. Saat itu warga yang bermukim di pegunungan bergejolak, berjuang karena kesulitan air. Untuk masyarakat tempat lain, pemerintah berusaha mendatangkan air dari jauh. Secara alami, Dusun Rotat letaknya di perbukitan, dan di bawah dusun merupakan sumber mata air. Kami menjaga kawasan air, tetapi tidak menikmatinya. Yang menikmati air dari Wair Pu’ang, mereka yang bermukim di dataran rendah, seperti masyarakat Nita, Koting, Nelle, Wairpelit, dan masyarakat Kota Maumere,” urai Jakobus yang dalam RAT ke-19, tahun buku 2014 pada 28 Februari 2015, sekaligus pemilihan pengurus periode 2015 – 2020, kembali dipercaya oleh anggota untuk memimpin Kopdit Pintu Air.

Diakui Yakobus, meskipun Kopdit Pintu Air kini telah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dengan jumlah anggota per 31 Desember 2016 mencapai 153.362 orang, dan aset Rp612.343.637.227, bukan berarti berjalan di atas permadani. Hal itu bisa diikuti dari pertumbuhannya, di mana saat didirikan 1 April 1995 jumlah pendiri 50 orang, kemudian tahun 1996 bertambah menjadi 74 orang, di tahun 1997 anggotanya menjadi 105 orang, tahun 1998 saat krisis melanda Indonesia pertambahan anggota lumayan banyak menjadi 164 orang, namun tahun 1999 hanya meningkat sedikit menjadi 185  orang, dan tahun 2000 baru mencapai 198 orang, kemudian tahun 2001 menjadi 232 orang dan tahun 2002 menjadi 329 orang.

Melihat perkembangan selama 7 tahun begitu lambat, maka dibuatlah rencana strategi (Renstra) jangka panjang 10 tahun, 2002 – 2012 jumlah anggota Kopdit Pintu Air harus mencapai 30.000 orang. Untuk itu dicetak selebaran dan pasang spanduk di mana-mana bahwa Kopdit Pintu Air tahun 2012 anggotanya akan mencapai 30.000. Banyak yang mengatakan; “terlalu ambisius”. Ada yang mengatakan, “gila”, logikanya tidak jalan. Selama 7 tahun anggota baru 329 orang, tetapi 10 tahun kemudian harus menjadi 30.000 orang.

Untuk mencapai mimpi, semua pengurus, pengawas. dan terutama manajemen dimotivasi, tetapi mereka ragu. Setiap orang punya impian, tekad Yakobus pun bulat. Mengutip firman Tuhan; “Imanmu sebesar biji sesawi, kamu akan pindahkan gunung ke laut.” Apa kata orang tak didengar, iman landasannya. “Jika mengandalkan Tuhan, merencanakan sesuatu harus di luar kemampuan manusia. Kenyataannya, terlampaui. Tahun 2012 anggota Kopdit Pintu Air mencapai 37.492 orang. “Inilah kebesaran Tuhan,” tutur Yakobus penuh syukur, seraya menambahkan bahwa pada 24 Agustus 2012 Kopdit Pintu Air memperoleh legalitas – badan hukum (BH) nomor; 02/PAD/BA/XXIX/VIII/2012.

Keberhasilan itu, lanjut dia, bukan karena doa semata, tetapi juga dibarengi kerja keras, kerja cerdas, disiplin, full time sampai malam, dan jujur. Sebelum bekerja, semua wajib berdoa. Karena banyak karyawan yang Muslim mereka berdoa secara Islam, dan yang Katolik berdoa secara Katolik. Dalam berkoperasi tidak dibeda-bedakan. Semua suku, dan semua umat beragama boleh menjadi anggota Kopdit Pintu Air.

“Berkoperasi itu urusan kemanusiaan tidak menyebarkan agama. Yang namanya saling membantu, tidak membeda-bedakan; suku, agama, ras, antargolongan (Sara). Ketika sosialisasi, petugas lapangan juga masuk ke wilayah-wilayah yang mayoritas umat Muslim. Mereka sampai ke kampung-kampung, dan desa-desa terpencil. Ada yang mau masuk menjadi anggota bersyukur, karena itu yang diharapkan, tidak ada pun tak masalah. Yang penting kabar gembira telah disampaikan kepada masyarakat luas. Semua karena kuasa Tuhan, Kopdit Pintu Air disambut dengan suka cita,” urainya. Setelah target 30.000 anggota terlampaui, mimpi baru pun bermunculan, misalnya; pingin punya swalayan, dan itu juga telah tercapai.

Selama tahun buku 2016, aktivitas utama Kopdit Pintu Air tetap pelayanan jasa keuangan. Prestasi kinerja diantaranya menempati ranking ke-4 nasional dalam jejaring Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Kalau pada tahun buku 2015 jumlah anggota baru mencapai 115.253 orang, menempati urutan ke-5 ranking Inkopdit, pada tahun buku 2016 meningkat menjadi 153.362 orang, dan ranking naik ke urutan 4 nasional. Untuk mendukung visi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) dengan target tahun 2020 total jumlah anggota 10 juta orang, maka Kopdit Pintu Air mematok target jumlah anggota tahun 2020 sebesar 550.000 orang. Dengan sisa waktu yang tinggal 4 tahun, dihitung dari tahun buku 2017 – 2020 maka seluruh jajaran pengurus, pengawas, dan manajemen harus kerja keras bersama-sama.

Untuk mengembangkan jenis usaha, namun tetap bernaung di bawah bendera koperasi dalam RAT, diputuskan untuk mendirikan koperasi yang berbadan hukum Koperasi Serba Usaha (KSU), maka didirikanlah KSU Pintu Air Asia (PAS). Baik Kopdit Pintu Air maupun KSU PAS berstatus primer provinsi. Saat ini PAS yang beralamat di Jln. Diponegoro, Kota Uneng – Maumere, melayani warga sekitaran. Seperti kebanyakan Swalayan, KSU PAS juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan harga relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Karenanya KSU PAS juga menjadi pusat kulakan bagi anggota yang membuka warung kelontong di rumahnya. Terutama anggota yang jauh di pedesaan.

Kini pun tengah membangun kantor pusat di tempat kelahirannya. Kantor megah berlantai 3 tingkat itu menjadi kebanggaan masyarakat, ikon Dusun Rotat sebagai lambang kebersamaan orang-orang kampung. Biaya pembangunan dipikul gotong-royong semua anggota. Setiap anggota cukup urunan 2 ekor ayam seharga Rp100.000. Untuk menyampaikan program kepada anggota yang sebagian besar orang kampung, kata Jakobus, harus dengan cara yang cerdas. Kalau diminta urunan uang Rp100.000 diskusinya bisa lama. Tetapi bila ditentukan 2 ekor ayam seharga Rp100.000 mereka lebih cepat mengatakan sanggup. “Metodenya, bisa diangsur bisa juga dibayar tunai.Terserah semampunya membayar. Masing-masing dikumpulkan di kantor cabang dan cabang pembantu. Jangka waktunya ditentukan 2 tahun, sehingga bila diangsur Rp5.000 setiap bulan dalam waktu tidak sampai 2 tahun sudah lunas.

Dalam RAT tahun buku 2016, dilontarkan gagasan baru, sebelum ulang tahun ke-25 (2020) Kopdit Pintu Air sudah harus punya pesawat terbang. Pesawat tersebut untuk transportasi umum (komersial), bukan hanya untuk kepentingan Kopdit Pintu Air sendiri. “Saya sadar, pasti ada yang sinis. Tetapi juga yakin, pasti ada yang merespon baik,” tegasnya. Sebelumnya, lanjut dia, mau beli kapal laut. Tanah di pinggir pantai untuk pelabuhan pun telah dibeli. Rencananya untuk pelayaran perintis melayani kawasan Indonesia Timur. Ternyata, bisnis transportasi laut itu sangat rumit. Urusan perizinan; izin bongkar muat, tidak mudah. Belum lagi soal keamanan dan pengelolaan kapal pun ribet. “Relatif lebih simple bisnis transportasi udara. Pesawat tidak harus dikelola sendiri, tapi bisa bergabung dengan maskapai penerbangan yang sudah ada,” jelasnya.

Karena targetnya 2020, tinggal 3 tahun lagi. Kini sudah melakukan penjajakan dengan pihak-pihak terkait yang akan diajak kerja sama. Informasi harga pesawat pun telah dihimpun, ada yang Rp30-an miliar, Rp50 miliar, Rp100 miliar, dan banyak juga yang harganya di atas Rp150 miliar. Karena sejak awal harus ada keterbukaan, semua anggota dipersilakan mencari informasi tentang harga pesawat dan spesifikasinya untuk dibahas bersama. Direncanakan pesawat tersebut berkapaistas 100 penumpang. Bila anggota telah mencapai 300.000 – 400.000 orang, diperkirakan nominal terendah setiap anggota Rp200.000 atau 4 ekor ayam. Namun, karena ditentukan nilai nominalnya, dan dibutuhkan modal cukup besar, diperbolehkan satu anggota bisa punya 2 saham, 3 saham, atau 5 saham atau Rp1 juta. Tetapi harus dibatasi, misalnya, maksimal, 10 lembar saham – Rp 2 juta. Lembaga usahanya tetap koperasi.

“Ada yang mengusulkan cari saja anggota yang punya potensi. Saya bilang, kalau yang tidak mampu disingkirkan, itu tidak adil. Tidak membangun kebanggaan sebagai anggota koperasi. Yang adil, semua anggota terlibat,” tegas Yakobus. Hanya saja, lanjutnya, besar kecilnya saham tergantung kemampuan. Yang terpenting semua anggota memiliki. Sehingga menjadi kebanggaan tersendiri, merasa punya pesawat terbang walau modalnya hanya 4 ekor ayam. Setiap orang yang hidup di negeri ini harus dilibatkan, jangan dibiarkan dia hanya menjadi penonton. Semua harus menjadi pemain, walau dengan kontribusi kecil – terbatas. Anak cucu akan bangga karena orang tuanya punya pesawat. Kalau ada yang dibiarkan hanya sebagai penonton, itu salah. Indonesia sudah 72 tahun merdeka, tetapi masih banyak masyarakat yang dibiarkan menjadi penonton. “Tugas kita, mereka harus dilibatkan untuk bertanggung jawab atas negeri yang dihuninya,” tegas Yakobus penuh semangat.

Yakobus mengaku, angan-angan awalnya sangat sederhana, agar kehidupan anggota lebih sejahtera, membangun rumah layak huni, anak-anaknya mengenyam pendidikan yang lebih baik, dan membangun ekonomi di daerah sendiri. Namun di dalam perjalanan juga harus melihat perkembangan dunia sesuai zamannya. Karena itu mulai berpikir ke arah seperti investor besar. Punya pesawat, punya kapal laut, punya usaha air minum dalam kemasan, maupun bisnis-bisnis lain yang bisa menghasilkan keuntungan bagi anggota. Walaupun sisa hasil usahanya (SHU) tidak besar. Karena itu, yang sifatnya bisnis semua diajak terlibat.

Menurut Yakobus, tahun 2016 merupakan tahun yang paling membanggakan, karena semua usaha berhasil. Keberhasilan membangun PAS, seperti mimpi di siang bolong. Keberhasilan membangun gedung 3 lantai dengan luas bangunan 15 meter x 40 meter, sesuatu yang luar biasa. “Bagi kami, yang orang kampung, kumpulan orang lumpuh, orang buta. Dengan Mata Si Lumpuh, Si Buta Bisa Melihat, dan Dengan Kaki Si Buta, Si Lumpuh Bisa Berjalan mencapai tujuan. Saya lihat, orang-orang kecil itu bangga punya swalayan sendiri, dan belanja di swalayan sendiri. Mereka bangga bisa bergotong-royong membangun kebersamaan,” tutur Yakobus.

Mengerjakan sesuatu harus fokus, dan yang telah direncanakan, kata dia, harus berhasil terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan rencana yang lebih besar. Harus satu-satu, tidak boleh satu belum selesai menggarap yang lain. Itu bisa berbahaya. Kalau satu belum selesai sudah menggarap yang lain, itu boleh dikatakan “tidak waras”. “Kami juga harus hati-hati jangan sampai ada anggota yang akhirnya keluar atau minta dicoret tidak ikutan, karena merasa bebannya terlalu besar, satu belum selesai sudah diberi beban baru lagi,” jelasnya.

Bagi Yakobus, NTT bukan “Negeri Tetap Tertinggal” melainkan “Negeri Tanah Terjanji”. NTT adalah salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kaya raya dalam berbagai sektor kehidupan. Negeri ini seperti kata Koes Plus dalam syair lagunya: “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Alam ini tinggal kita olah, batu, tanah, dan air bisa jadi uang. “Kita harus mengubah cara pandang untuk melihat negeri sendiri sebagai negeri yang kaya,” jelasnya sambil menyebutkan bebarapa contoh antara lain; “gotong royong, semangat juang, kerja keras, batu, tanah, air, hutan, laut, ikan, cadas, dan karang sekalipun merupakan investasi yang tak ternilai, dan tidak pernah habis”.

Kalau kita mau menggalinya, di dalam perut bumi NTT ini ada harta karun melimpah. Masyarakat NTT, hanya berpikir harta itu seperti batu kerikil yang ada di permukaan tanah dan kita hanya menyapunya saja. Mental masyarakat perlu mendapat pendampingan dan pendidikan khusus. Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, jangan dilihat sekadar mempunyai ijazah. Keterampilan merupakan ijazah kehidupan. Hal itu hanya ada di ‘universitas kehidupan’ bukan di lembaga universitas resmi. Ijazah yang didapat di universitas mendidik orang untuk jadi pemimpin. Namun memimpin bukan dengan hati, tetapi dengan harta. Pemimpin seperti ini tidak berjalan bersama domba tetapi membiarkan domba berjalan sendirian.

Kopdit Pintu Air berupaya untuk membuka ruang kepedulian lebih lebar. Seperti air yang terus mengalir dan menghidupkan segala jenis tanaman. Sebagai koperasi, berusaha untuk menyapa dan menjawab kebutuhan masyarakat – anggota menengah ke bawah. Realisasi untuk memenuhi ketiga komponen tersebut yakni; nelayan, pertanian dan peternakan. Fakta membuktikan, sumber air kehidupan dari Dusun Rotat memberikan kelimpahan kepada sesama warga seantero Flobamorata, sehingga benar Kopdit Pintu Air ada di mana-mana, dan anggotanya orang-orang kecil, nelayan, petani, peternak, dan buruh (NTT-B). Untuk mencapai perjuangan tersebut dibutuhkan seorang pemimpin yang jujur dan punya hati bagi sesama.

Tekad untuk memberdayakan kaum NTT-B bukan sekadar ucapan manis di mulut, melainkan suatu komitmen seluruh elemen koperasi. Untuk itu, tema yang diusung dalam RAT XX Tahun Buku 2015 adalah; Dengan Semangat RAT XX, Kopdit Pintu Air Siap Meningkatkan Wirausahawan Baru bagi Kaum Nelayan, Tani, Ternak, dan Buruh (NTT-B) untuk Membangun Masyarakat Indonesia Sejahtera Jasmani dan Rohani. Dalam upaya memberdayakan kaum marjinal, Kopdit Pintu Air siap mengucurkan pinjaman bagi anggota. “Koperasi ini merupakan kumpulan orang-orang kecil, kaum NTT-B. Koperasi siap memberikan kucuran dana untuk membuka usaha baru,” tegas Yakobus.
Memberdayakan anggota adalah upaya menghapus stigma tak nyaman didengar telinga, masyarakat miskin. Pemberdayaan anggota yang sedang digalakkan adalah usaha penggemukan babi. Seekor babi anakan yang digemukkan dengan baik, dalam kurun waktu 4 bulan (120 hari) beratnya bisa mencapai 100 Kg. Usaha produktif, ternak babi ini untuk menjawab kebutuhan anggota yang setiap tahun terus meningkat.  Usaha penggemukan babi dengan pendampingan dari Kopdit Pintu Air, untuk mengarahkan anggota dari cara beternak tradisional ke cara beternak modern dan profesional. Berternak babi, bagi masyarakat NTT sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Ternak babi secara tradisional pada umumnya tidak memperhitungkan untung rugi. Apalagi analisa usaha, hal yang dianggap tidak penting. Masyarakat memelihara babi hanya sebagai hobi dan tradisi. Meski waktunya lama, dan biayanya besar, tidak dipedulikan.

Salah seorang anggota kelompok ternak, Mama Mika Ela, yang tinggal di Rt 02 -Rw 002, Dusun Rotat mengaku, usaha ternak babi dengan cara penggemukan yang diajarkan Kopdit Pintu Air pasti berhasil. Sebab, semua direncanakan secara baik. Mama Mika memiliki 5 ekor babi. Meski usianya baru 3 bulan, karena kondisi sangat sehat dan gemuk, beratnya rata-rata 45-60 Kg per ekor. “Cara menggemukkan babi yang diajarkan luar biasa, jauh jika bandingkan dengan cara tradisional. Dulu, pelihara seekor babi hampir 2 tahun tidak gemuk, dan banyak biaya yang dikeluarkan untuk pakan. Karena sudah terbukti, dia mengajak anggota untuk tidak ragu-ragu memelihara babi yang dianjurkan Kopdit Pintu Air.

Bagi anggota yang ingin meningkatkan usaha ekonomi produktifnya, Kopdit Pintu Air menyiapkan dana pinjaman non saham. Komponen biaya yang harus diperhitungkan adalah: anakan babi, pakan, kesehatan babi, administrasi kredit dan jasa pinjaman untuk 4 bulan. Apabila dana pinjaman setelah diperhitungkan dengan komponen pembiayaan masih punya kelebihan akan disimpan sebagai dana cadangan, dan bisa gunakan  untuk pembelian tambahan pakan setelah usia 4 bulan andai belum terjual atau digunakan untuk modal tambahan pengembangan usaha berikutnya.

Dusun Rotat, boleh jadi hanya sebuah dusun kecil biasa-biasa saja, seandainya Kopdit Pintu Air gagal mengemban misinya membangun ekonomi rakyat berbasis kesetaraan dan kebersaman. Dari dusun kecil itu semangat berkoperasi menggelora untuk memperbaiki perekonomian masyarakat. Perubahan mulai terlihat ketika Yakobus turun langsung sebagai ‘motor’ penggerak. Awalnya, ia memang hanya bermain di balik layar (part-timer). Maklum kala itu masih berstatus pegawai Bank BRI. Saat memasuki masa pensiun, 2010, Yakobus melibatkan dirinya secara total (full-timer). Pengalaman panjang di perbankan menjadi modal besar bagi upaya menumbuhkan Kopdit Pintu Air.

Terbukti, pada puncak acara Harkopnas ke-68 di Kupang, 2015, koperasi ‘kampung’ itu mengejutkan banyak orang, karena berhasil meraih 3 penghargaan sekaligus, yaitu; Satyalencana Pembangunan Bidang Perkoperasian, Koperasi Berprestasi Nasional 2015, dan Koperasi Award 2015. Tak banyak koperasi yang dalam satu momen mendapat 3 penghargaan sekaligus. Juga pernah menerima penghargaan Indonesia Platinum Winner 2013 Best of the Best categori as the Best Service Excellent of the Year dari Rajasa Group. Meraih berbagai penghargaan, kata Yakobus, bahagia dan bangga. Penghargaan itu tak diduga, karena dalam melayani anggota yang terpenting memberikan layanan terbaik, tidak pernah berpikir soal penghargaan. “Memperoleh penghargaan menjadi beban moril, kami harus bersatu, kerja keras, dan inovatif mengembangkan usaha. Semua pihak; pengurus, pengawas, dan manajemen tidak boleh terlena, harus terus kerja keras agar prestasi makin meningkat,” jelas Yakobus.

Kopdit Pintu Air yang semula hanya bergulat di Dusun Rotat dan Maumere, terus  berkembang, kini memiliki 38 cabang dan cabang pembantu tersebar di 18 kabupaten – kota di seantero NTT mulai dari; Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Alor, Lembata, Adonara, Larantuka, Mamuere, Paga, Masebewa, Watuneso, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Cancar, Lembor, hingga Labuan Bajo. Juga memiliki beberapa produk di antaranya; Simpanan Bunga Harian (Sibuhar), Simpanan Dana Pendidikan (Sidandik), Simpanan Sukarela Berjangka (Sisuka), Simpanan Wisata Rohani (Sipintar). Khusus Tabungan Sipintar setoran awal senilai Rp100.000 dan Rp25.000 biaya administrasi. Untuk Sipintar waktunya ditentukan 5 tahun, diberikan jasa 1% per bulan – 12%, per tahun, dan anggota tidak diperkenankan menarik uang  sebelum jatuh tempo.

Ada pula produk pelayanan, khususnya bagi anggota yang meninggal dunia. Kepada ahli waris – keluarga diberikan santunan dan bantuan biaya pengurusan jenazah. Cukup mengirim SMS, perlengkapan seperti; pakaian, peti jenazah, hewan untuk dipotong, pemakaman dan acara selamatan ditangani dari koperasi. Pemakaman, sesuai tuntunan agama juga menggunakan cara adat. Produk ini sangat membantu anggota, karena perihal kematian harus ditangani secara sakral.

Karena koperasi adalah milik anggota, maka anggota diwajibkan mengontrol pergerakan koperasi. Kontrol sosial dengan cara mengawasi perilaku pengelola, mulai dari kantor pusat sampai kelompok. Karenanya setiap bulan digelar pertemuan, dan anggota sebagai pemilik bisa menyampaikan hasil pengamatannya selama sebulan. Sehingga, bila ada kesalahan bisa langsung diperbaiki. Yakobus meyakini, koperasi yang benar ditandai dengan jumlah anggota dan modal yang terus meningkat. (d mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *