Jangan Hanya Punya Mimpi Besar Milikilah Komitmen Yang Besar  “Saya Pasti Bisa !”

“Apakah Anda bisa? ‘Saya pasti bisa! Saya pasti bisa!’ Anda harus berani bermimpi besar. Mimpi saja memang harus besar. Jangan takut punya mimpi yang besar,” tegas Miss Merry Riana, penuh semangat. Selama 4 jam penuh, motivator papan atas, direktur dan pengusaha sukses itu membakar semangat kaum millennial anggota Credit Union (CU) Pancur Kasih yang memadati Function Hall Kapuas Palace Hotel, Pontianak, Kalimantan Barat, untuk menjadi pemenang.

Pengurus CU Pancur Kasih yang diketuai Gabriel Marto S.Pd, yang pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-72, di Purwokerto, Jawa Tengah, 12 Juli 2019 menerima anugerah Satyalencana Wirakarya, dari Presiden RI Joko Widodo, yang disematkan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasituion, menyadari pentingnya peran generasi milennial. Maka dalam berbagai kegiatan, selalu melibatkan dan memberikan peran kaum milennial sebagai ujung tombak. Itu sebabnya mengundang Merry Riana, untuk membakar semangat dan potensi generasi millennial CU Pancur Kasih sebagai agen perubahan dan penjaga kebersinambungan gerakkan.

Kepada kaum millenial CU Pancur Kasih, Merry Riana menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Saat berusia 17 tahun, lahir 29 Mei 1980, misalnya, terjadi kerusuhan hebat (1998) di tempat tinggalnya, Jakarta. Keluarganya yang notabene berasal dari etnis Tionghwa, pada saat itu menjadi sasaran utama kerusuhan. Rasa takut sungguh menyelimuti keluarganya. Meskipun tidak punya cukup uang, dia sangat bersyukur mempunyai orang tua yang mempedulikan anaknya. Sehingga Merry diungsikan ke Singapura, sekaligus untuk melanjutkan study – kuliah di sana.

Tidak pernah terfikir olehnya kalau akan bisa kuliah di Nanyang Technological University salah satu universitas terbaik di Singapur. Tempat ini juga yang menjadi saksi perjuangan Merry Riana. Bartahan hidup hanya dengan 10 dolar Singapura setiap minggunya. Bukan kebetulan namanya Merry, tidak mau kalah dengan keadaan. Dia selalu bersyukur setiap hal yang diberikan kepadanya. Kala itu, di ulang tahunnya ke-20, Merry memberanikan diri meminta kepada Tuhan, ingin mendapatkan kebebasan finansial sebelum menginjak usia 30 tahun.

Kelihatannya mustahil, tetapi mimpi itu gratis. Dengan beban utang ratusan juta, aset yang dimiliki saat itu hanya iman dan keberanian, Merry menyirami imannya dengan kerja keras. Tiada hari tanpa berjuang. Di saat teman-temannya bersenang-senang, dia sibuk membagikan brosur di jalan, menjadi karyawti restoran, sampai berjualan.  Bekerja 14 jam sehari, 7 hari seminggu selama bertahun-tahun.

Bukan hanya mimpi besar, tetapi juga komitmen dan kemauan besar. Disadari, perjalanan menuju kesuksesan tidak mudah. Banyak tantangan, rintangan, godaan, dan cobaan. “Kalau komitmen tidak sebesar mimpi, tidak mungkin kita akan bisa berjalan melalui semua rintangan. Jadi, jangan hanya punya mimpi besar, tetapi miliki juga komitmen – kemauan yang besar. Harus yakin dan harus percaya,” tegasnya.

Ketika punya mimpi, harus berani mendeklarasikan mimpi itu, dan menceritakan mimpi tersebut kepada orang-orang di sekitar. Apa yang akan terjadi? Pasti akan ada orang-orang yang mentertawakan, meremehkan, bahkan menentang. Baik teman-teman sendiri, keluarga, orang-orang yang dicintai. Di saat kita diremehkan dan ditertawakan, saat itu harus diingat; “Saya pasti bisa! Saya pasti bisa!” Buktikan kepada orang yang mentertawakan. Buktikan kepada orang yang sudah meremehkan, bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan. Buktikan kepada mereka sebagai seorang pemenang.

Dalam hidup ini ada yang namanya IQ. IQ – kecerdasan jelas penting. Namun, kata Merry, ada yang lebih penting daripada IQ, yaitu I can! Your will is far more important than your intelligence – kemauan jauh lebih penting daripada kecerdasan. Buat apa menjadi orang paling pintar, paling cerdas, tetapi kalau disuruh apa-apa tidak mau. Disuruh coba tidak mau, disuruh belajar dan berproses tidak mau. Disuruh bangkit juga tidak mau. Kecerdasan, tidak akan bisa membawa ke mana-mana bila kita tidak punya kemauan.

Sebaliknya, walau bukan orang paling pintar, namun punya kemauan luar biasa; mau mencoba, mau berproses, mau bertumbuh, mau bangkit ketika gagal. Mau belajar dari kesalahan dan mencoba lagi. Kemauan itulah yang akan membawa jauh melebihi orang-orang pintar tetapi sombong, tidak mau ngapa-ngapain – tidak mau bermuat. Mulai saat ini, milikilah keduanya. Kecerdasan, juga kemauan untuk bisa menghargai setiap proses. “Harus yakin dan harus percaya!” tegasnya.

Ketika gagal akan terjatuh, terinjak-injak, tidak ada seorang pun bisa menolong, kecuali diri sendiri. Pada saat itu yang harus diingat; Gagal, bangkit lagi! Gagal, bangkit lagi! Gagal, bangkit lagi! Ada yang bilang; “Saya sudah kerja keras, tetapi belum sukses juga.” Pertanyaannya, ikhlas tidak mengerjakannya? Banyak orang, kerja sich kerja. Tetapi tidak ikhlas mengerjakannya. Setiap hari ke kantor, namun berkeluh kesah, iri hati, dengki, dan tidak ikhlas mengerjakan pekerjaannya.

Kalau tidak ikhlas mengerjakan, apa pun pekerjaannya tidak kan bisa menikmati indah dan bahagianya hidup ini. Hidup, bagaikan sebuah bibit. Sebagus apa pun bibitnya, jika ditanam di ladang yang kering, apalagi beracun, bibit itu tidak bisa tumbuh, apalagi berbuah. Sebaliknya, walau tidak punya bibit, tetapi punya ladang yang subur, bibit tetangga yang tertiup angin jatuh di ladang kita, bibit kecil itu bisa tumbuh, berbuah dan menghasilkan sesuatu yang baik. Ladang itu adalah hati kita.

Apa pun kepercayaannya, sertakan dalam kehidupan sehari-hari. Apa pun pekerjaannya, lakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Bekerja adalah ibadah. Ketika bekerja jangan hitung-hitungan. Banyak orang suka berfikir; “Ach ngapain kerja lebih-lebih, gajinya segitu-segitu aja. Ngapain kerja capek-capek, lembur tidak dibayar, bonus akhir tahun juga tidak dapat.”

Jangan salah mengartikan, gaji dengan rezeki. Gaji dari perusahaan, rezeki dari Tuhan. Gaji itu berupa uang. Namun rezeki bisa berupa uang, bisa berupa kesehatan, keharmonisan rumah tangga, kemudahan, ketenangan dalam hidup, dan masih banyak lagi. Jadi, jangan takut untuk berbuat lebih, dan jangan takut selalu memberikan yang terbaik dalam melakukan pekerjaan. Sebab rezeki tak kan pernah tertukar. Semua akan kembali untuk diri sendiri. Dan, rezeki itu datang tak selamanya indah dibungkus kain sutera. Kadang, rezeki datang dibungkus dengan koran bekas – sebuah musibah.

Namun sesuatu yang awalnya terlihat sebagai musibah, ternyata berkah, anugerah yang dipersiapkan Tuhan untuk kita. Tugas kita hanya satu, terus melangkah dengan kesungguhan dan keikhlasan. Saat-saat paling sulit, kita sudah berusaha, kerja keras, banting tulang, berkorban, tidak kenal waktu, dan memberikan segalanya, tetapi belum ada hasil sama sekali. Banyak orang mengalami hal seperti itu. “Termasuk saya. Dulu, sudah kerja ekstra keras, banyak berkorban, tetapi belum ada hasilnya. Di saat hampir menyerah, berfikir; Ini benar tidak sich? Mungkinkah bisa sukses, atau hanya halusinasi – mimpi. Seperti apa rasanya sukses?” kata Merry Riana.

Ketika hampir menyerah, meragukan semua yang dilakukan, orang tercinta Alfa, sang pacar yang kini menjadi suami, selalu menyemangati. Dia bilang; “Biarlah semua kesulitan itu menjadi sebuah cerita yang bisa diceritakan kepada anak cucu kala meraih sukses.” Merry sangat bersyukur, bisa menceritakan pengalaman hidupnya bukan hanya kepada anak dan cucu nanti, tetapi kepada ribuan orang melalui seminar, buku, radio show, layar teve, film yang diangkat dari kisah hidupnya. Hidup itu, kata Merry Riana, bukan untuk ditangisi, tetapi untuk diperjuangkan dan disyukuri.

***

Setahun pertama hidup di Singapur, Merry mengaku penuh dengan kesulitan, keterbatasan, dan benar-benar bosan hidup susah. Dia bertanya pada diri sendiri; “Mau sampai kapan hidup susah seperti ini?” Hidup hanya sekali. Jikapun ada orang yang bisa mengubah hidup kamu, orang itu dirimu sendiri. Di usia ke-20, saat itulah Merry berubah, berhenti menyalahkan keadaan, berhenti mengasihi diri sendiri dan berjanji; “Pokoknya, sebelum ulang tahun ke-30 saya sudah harus bisa mempunyai kebebasan finansial, bisa membayar hutang-hutang pendidikan, dan membahagiakan orang tua. Bila suatu saat kembali ke Indonesia, harus kembali sebagai orang yang sukses.

Ketika Merry melontarkan pertanyaan kepada kaum millenial anggota CU Pancur Kasih tentang mimpi besarnya, Febrian mengaku ingin menjadi pengelola tempat wisata berbasis budaya, terutama di kampung halamannya. Kartika Wulan Wiliyanti mahasiswi Universitas Tanjungpura (Untan) Jurusan Fisipol Smester IV, mengaku punya mimpi jadi pengusaha sukses, dan suatu saat menjadi orang Indonesia yang luar biasa agar bisa membahagiakan kedua orang tuanya di kampung. Cita-cita luhur itu dilatarbelakangi keadaan keluarga. Ayahnya menoreh getah karet, dan ibunya bertani di sawah.

Sedangkan Octaviani yang baru saja menamatkan kuliahnya, juga dari keluarga sederhana, mimpi jadi YouTuber terkenal. Kalau kondisi ekonomi sudah memungkinkan ingin membangun sekolah gratis untuk anak-anak pedalaman, setidaknya di Kalimantan Barat. “Anak-anak di pedalaman, tidak mampu mendapatkan akses pendidikan dengan baik. Ketika kita berusaha, Tuhan akan memberikan jalan, dan kita pasti bisa,” katanya optimis. Sebagai orang Katolik, Abel, bermimpi ingin mengunjungi Gereja Roma Katolik Kuno, dan mengajak kedua orang tuanya. Untuk mewujudkan mimpinya Abel akan terus mengembangkan potensinya sebagai fotografer.

Untuk melihat perbedaan sudut pandang seseorang, Merry memberi contoh, gelas berisi air. Karena gelas tidak penuh, ada yang mengatakan, gelas itu setengah penuh, tetapi yang lain mengatakan gelas setengah kosong. Padahal, sebenarnya gelas itu tetap saja penuh. Namun isinya dua komponen yang berbeda, yaitu air dan udara. Jadi sebenarnya hanya cara pandang yang berbeda. Satu hal yang sama dilihat dari sudut pandang berbeda, bisa memberikan arti berbeda, bisa memberikan perasaan yang berbeda juga.

Kadang tanpa disadari kita terlalu fokus pada hal-hal yang salah. Fokus pada masalah – kekurangan. Sudah bertahun-tahun dicoba, tidak sukses juga. Mungkin tidak punya bakat, nasib sudah seperti ini, tidak ada yang peduli, tak ada yang men-support. Hidup itu tidak seperti video, tidak seperti film atau lagu yang bisa diputar berulang-ulang untuk diperhatikan, dipelajari dan dinikmati. Sedangkan waktu yang telah dilewati, tidak bisa diputar ulang. Karena terlalu fokus pada kekurangan, akhirnya banyak hal positif atau kesempatan lewat begitu saja.

Kita harus berani mengubah cara pandang, dan jangan pernah menganggap remeh diri sendiri. Dulu, kenang Merry, ketika berjuang sendirian di Singapur juga merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak punya uang untuk membayar utang, dan tidak bisa mengubah keadaan finansial keluarga. Merry bersyukur bisa mengubah cara pandang. Bila sebelumnya selalu mengeluh, membanding-bandingkan keadaan dengan yang lain dan iri hati, kemudian mensyukuri apa yang dimiliki.

Walau jauh dari orang tua, setidaknya masih punya orang tua. Walau waktu kuliah setiap hari makan roti ngumpet di toilet, setidaknya masih bisa kuliah. Sementara begitu banyak anak muda yang tidak pernah merasakan duduk di bangku kuliah. “Perlahan-lahan, ketika mulai mensyukuri apa yang masih ada, perlahan-perlahan pula hidup saya mulai berubah,” tuturnya.

Seperti banyak orang bilang; “Kalau Anda ingin mengubah hidup Anda, ubahlah cara pandang Anda. Bagi banyak orang, akan mengatakan; impossible. Coba diubah menjadi I’m possible. Bukan magic – bukan sihir, hurufnya sama. Yang membedakan, cara pandang. Banyak yang bilang; Opportunities is no were – tidak ada kesempatan. Ubah cara pandang menjadi opportunities is now were – kesempatan selalu ada.” Apalagi di Kalimatan Barat, kesempaan itu sangat besar.

Cara pandang, akan sangat mempengaruhi, khususnya para leader – pemimpin. Sering kali apa yang dilihat seorang pemimpin dengan apa yang dilihat bawahan, kelihatannya berbeda. Padahal, maksud dan artinya sama. Hanya karena berada di posisi berbeda, mereka mengartikan, dan memiliki persepsi berbeda. Dalam keluarga pun seperti itu. Di CU Pancur Kasih, generasi millenial dengan generasi kolonial melihat, berbeda persepsinya. Karena itu dibutuhkan kerendahan hati untuk mau melihat dari dua sudut pandang yang berbeda, menyamakan persepsi dan bersinergi. Sehingga semua bisa dimaksimalkan.

Seberapa besar seseorang bisa mewujudkan kesuksesan, bisa dilihat dari cara mengangkat tangan. Ketika ditanya, misalnya, mengangkat tangannya setengah-setengah, atau all out penuh semangat. Yang mengangkat tangan penuh semangat, tentu lebih capek karena menggunakan lebih banyak energy. Yang angkat tangan ogah-ogahan, merasa sudah tua – capek. Dia percaya, karena sudah berpartisipasi tidak akan disalahkan.

Di perusahaan pun seperti itu. Disuruh mengerjakan sesuatu, kerjakan saja yang penting jadi, tak akan disalahkan. Menurut Merry, inilah yang terjadi dalam kehidupan banyak orang. Mereka terjebak dalam zona nyaman. Dalam zona nyaman itu tidak ada pertumbuhan. Padahal, manusia itu kodratnya terus bertumbuh. Kuku atau rambut saja digunting bertumbuh. Usia juga bertambah. Jika berada di zona nyaman tidak ada yang namanya pertumbuhan.

Orang-orang extraordinary – sukses luar biasa, dan bisa punya karakter untuk mempertahankan kesuksesannya, mereka adalah orang-orang yang selalu berani untuk memberikan lebih, dan keluar dari zona nyaman. Mereka tidak takut pegel dan capek, karena tahu jika memberikan sepenuhnya, akan mendapatkan sepenuhnya. Itulah yang harus kita praktekan. Contoh kecil, soal angkat tangan, menurut Merry, erat kaitannya dengan kesuksesan. Jika dari hal kecil saja terbiasa dalan zona nyaman, apalagi dalam pekerjaan atau hal-hal yang lain.

Ingat, kebiasaan akan berubah menjadi sebuah karakter. Dan karakter itu akan bisa menentukan hidup kita. Jadi, hati-hati dengan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Karena itu yang nanti akan mempengaruhi hidup kita. Jadi kita harus berani memberikan semaksimal mungkin, dan berani mengeluarkan potensi diri. Merry mengaku, pada ulang tahun ke-20, masih kuliah Smester III, saat itu tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu mulai dari mana, dan bagaimana caranya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Merry sadar untuk benar-benar serius memulai hidup, bertahan saja tidak cukup. Bertahan hidup dengan US$ 10 per minggu, mau sesabar apa pun dan setabah apa pun bertahan, tidak mungkin bisa merubah hidup, dan tidak mungkin bisa mewujudkan mimpi-mimpi. “Saya harus berjuang, harus bergerak, berani melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah melakukan. Berani keluar dari zona nyaman, memutuskan untuk bekerja, cari uang tambahan, dan tidak menunggu sampai kuliah selesai. Apa pun yang bisa dikerjakan, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Namanya juga hidup, bukan berarti begitu punya mimpi, punya semangat, dan melangkah semua gampang. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketika punya mimpi, direncanakan, punya keberanian melangkah, tiba-tiba ujian datang, seperti ngetes hidup ini. Orang ini serius tidak ya mimpinya. Layak tidak untuk mendapatkan yang sudah dipersiapkan. Ujian itu penting, karena ujian akan menyortir, menyeleksi, mana yang benar-benar serius, dan mana yang hanya ngomong doang.

Hal itu juga terjadi pada diri Merry Riana. Sebelum sukses sebagai pengusaha, ketika Merry mencari pekerjaan di Singgapur, tidak ada satu pun perusahaan yang mau mempekerjakannya. Tanpa disadari, dia memang tidak punya izin kerja di sana. Merry hanya punya student pass Singapore – izin untuk kuliah. Kalau diterima kerja jatuhnya illegal. Sedangkan di Singgapur semua serba taat peraturan. Namun Merry tak pernah menyerah. Dia terus mencoba, dan mencoba, pada akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama sangat sederhana, membagi-bagi brosur. Namun pekerjaan tersebut amat sangat dihargai.

Sebagai pembagi brosur di jalanan setiap hari, pengalaman menyakitkan bukan penolakan dari orang-orang yang dikasih brosur dan tak dikenal, tetapi justru komentar pedas dari teman-teman sendiri. Banyak dari mereka yang mentertawakan dan bilang; “ich kok mau sich kamu kerja kayak gitu. Kamu khan mahasiswa, kerja di kantoran kek, ngapain kek, masa kerja bagiin brosur. Kayak nggak punya otak aja.” Olok-olokan itu seakan merampas, mencabik-cabik dan menginjak-injak harga diri Merry Riana.

Tetapi Merry bukanlah anak mami yang manja dan cengeng. Baru diomongi saja sakit hati, diomongi sedikit saja baperan langsung menyerah dan putus asa. Dia bilang pada diri sendiri; Bekerja bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk keren-kerenan. Bekerja untuk berjuang menggapai mimpi demi masa depan. Asal perkerjaan itu halal dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Pekerjaan-pekerjaan kecil; membagi-bagi brosur di jalanan, kerja di toko bunga, dan menjadi pelayan di resturan dengan upah harian, hanya itu yang bisa diperoleh, lainnya semua illegal.

***

Dari pekerjaan-pekerjaan kecil, Merry mengaku menemukan rahasia kehidupan. Sesungguhnya, untuk mendapatkan sesuatu yang besar tidak selamanya kita harus melakukan hal yang besar. Sekecil apa pun asal terus melangkah dan melangkah dengan tulus – ikhlas, Tuhan pasti akan melihatnya. Dari langkah kecil itu kita akan diberi kesempatan yang lebih besar dalam hidup ini.

Menurut Merry, banyak orang punya mimpi besar, apalagi anak millennial zaman sekarang pemikirannya bagus-bagus, mimpinya besar, dan sangat kreatif. Tetapi sayangnya, kadang, mereka juga punya ego besar. Hanya mau melakukan hal-hal yang dianggap keren. Ada yang berfikir, ‘saya khan lulusan dari luar negeri masak sich harus mulai dari bawah’. Dengan ego yang besar itu akhirnya sering menjadi penghambat untuk mencapai hal yang lebih baik lagi. “Karena itu, jangan hanya punya mimpi besar, tetapi miliki juga komitmen yang besar,” urai Merry berulang kali memotivasi dan membakar semangat generasi millennial anggota CU Pancur Kasih.

Kalau belum bisa melakukan hal yang besar, lanjut dia, lakukan hal-hal yang kecil, dengan jiwa yang besar. Tidak perlu gengsi, tidak perlu peduli kata orang, lakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan ketekunan, hasil yang besar akan dapat diraih. Gengsi, tidak akan pernah membawa kita sukses. Namun orang sukses pasti akan bergengsi. Kita juga harus mau melenturkan fikiran untuk belajar hal-hal yang baru, harus bisa beradaptasi dan menerima strategi-strategi terbaru. Karena zaman terus berubah, apalagi perubahan sekarang jauh lebih cepat dibandingkan dahulu.

Bila kita terus menerus melakukan hal yang sama, tidak mungkin hasilnya akan berbeda. Tetapi jika mau mengubah strategi, mengubah cara, hasilnya akan berbeda. Itu juga yang dipraktekan Merry Riana. Bermula dari mimpi, terus bekerja sebagai pembagi brosur, kerja di restoran tidak mungkin bisa dapat uang 1 juta dolar, dan tidak mungkin bisa membayar semua utang. Saat itu tidak punya modal, tidak punya kenalan, dan tidak punya ketrampilan apa-apa. Namun muncul keberanian untuk mulai usaha sendiri.

Tetapi sekali lagi, dia tak mau menjadi orang cengeng yang baru diomongi saja sakit hati, diomongi sedikit langsung baperan. Langsung menyerah, putus asa. Dia selalu bilang pada diri sendiri; “Bekerja bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk keren-kerenan, tetapi untuk berjuang.” Yang perlu diingat, semakin besar mimpinya, semakin besar juga ujiannya. Seperti halnya ujian anak SD dengan anak SMA, pasti lebih susah ujian SMA. Semua orang tahu, logikanya jelas. Namun, kenapa banyak orang terus menerus mengeluh, hidup makin susah, ujiannya makin berat. Tentu saja makin berat, karena tantangannya juga berbeda, lantaran kehidupannya juga sudah berbeda.

Kalau kita ingin mengupdrade mimpi, mengupgrade taraf hidup, perlu diingat, bukan hanya hidup yang akan terupgrade, ujiannya pun akan ikut terupgrade. Itu sudah satu paket. Merry memberi contoh, ketika membuka usaha di Singapur, tidak mudah. Banyak jatuh bangunnya. Rugi pernah, ditipu orang pernah, uang dibawa kabur orang juga pernah. Hampir seluruh uangnya ludes.

Merry sadar, tidak akan menyalahkan orang yang menipunya, karena dianggap tidak ada gunanya. Hidup selalu memberikan pelajaran. “Saya belajar dari pengalaman hidup itu. Berbisnis tidak sekedar ikut-ikutan. Berani bukan sekedar modal nekad, atau modal semangat, yang akhirnya sruduk sana sruduk sini. Itu kesalahan saya waktu itu. Berbisnis harus benar-benar dipelajari, difikirkan, direncakan, diperhitungkan. Belajar dari kegagalan, lalu mencoba lebih memperhatikan dan merencanakan kesempatan yang ada,” urai Merry.

Merry Riana telah membuktikan bahwa kerja keras selalu membuahkan hasil. Tahun pertama terjun ke dunia sales, bisa mendapatkan penghasilan lebih dari 220.000 dolar Singapur. Jika komisinya dikurs dengan rupiah kurang lebih Rp 2 miliar. Sehingga bisa membayar hutang-hutang pendidikan yang totalnya 4.000 dolar Singapur hanya dalam waktu 6 bulan setelah lulus kuliah.

Setelah punya modal, Merry sewa kantor, merekrut staf dan mengembangkan Merry Riana Organisation. Sebuah perusahaan jasa keuangan yang dibangun dengan kerja keras, tangis dan doa serta team work yang kuat. Disadari, sekarang bukan zamannya berkompetisi, tetapi era bersinergi – berkolaburasi satu dengan yang lain. Di situlah akhirnya Merry bisa mendapatkan penghasilan 1 juta US$ pada usia 26 tahun.

Hidup ini memang tak mudah. Kalau hanya mau melakukan hal-hal yang mudah, maka hidup kita akan susah. Sebaliknya, jika mau melakukan hal-hal yang sulit sekali pun, dan mau berproses, kita akan mendapatkan kesuksesan yang sesungguhnya. Berproses itu membuat kita akan menjadi tangguh. Merry menjadi pengusaha sukses, sekaligus motivator. Dia bagikan pengalamannya di Singapur, Malaysia dan negara-negara ASEAN lainnya.

Seiring berjalannya waktu, Tuhan memberikan 3 passion. Karena itu Merry ingin memberikan dampak positif kehidupan jutaan orang, khususnya orang Indonesia. Maka dia pun memutuskan pulang ke kampung halaman, Indonesia tercinta. Merry bersyukur pengalaman hidupnya bisa menginspirasi kepada begitu banyak orang. Kisah nyata dan perjuangan hidupnya telah dibukukan dengan judul; Mimpi Sejuta Dolar.

Semua diceritakan bukan untuk menunjukan betapa hebatnya Merry Riana, tetapi untuk menunjukan satu hal; “Kalau saya bisa, saya yakin Anda pun pasti bisa! Kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.” Jangan pernah takut untuk berproses, dan jangan takut memberikan yang terbaik dalam hidup ini. Karena pada akhirnya semua akan kembali kepada kita. Setuju! (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *