Jangan Takut Beli Ikat Pinggang

Beredar luas di kalangan pengusaha, lewat media sosial. Isinya, tawaran beli ikat pinggang. Ekonomi sedang sulit, dan masih akan sulit. Rupiah terus melemah, dan inflasi akan terjadi. Bank mengetatkan pemberian kredit, suku bunga akan tinggi, dan buntutnya akan terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawan swasta.

Anjurannya, berhematlah. Kendalikan pengeluaran, jangan boros. Yang juga sangat penting, siapkan uang yang cukup untuk biaya operasional perusahaan. Setidaknya, untuk 6 bulan ke depan. Beri pula pengertian kepada karyawan, untuk ikut berhemat agar tidak terjadi PHK di perusahaan. Bagi yang merencanakan proyek baru, tunda dulu, wait and see.

Anjuran yang beredar luas itu bersumber dari pihak perbankan. Tujuannya, untuk mengingatkan kepada para nasabah agar waspada. Bank yang baik selalu menjaga para nasabahnya. Kita setuju anjuran seperti itu. Turki, Iran, India, dan banyak Negara lagi sulit-sulitnya. Bahkan Iran sampai memecat 2 menteri ekonominya. Dipecat oleh DPR-nya. Kita juga lagi sulit, jangan salahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kalau kita tidak gagal di bidang ekspor, Sri Mulyani akan baik-baik saja. Kalau ambisi kita tidak berlebihan semua akan baik-baik saja.

Tetapi, siapa mau all out menggalakkan eksport? Politik bagi mereka lebih menggiurkan. Apa boleh buat. Kita harus mengencangkan ikat pinggang. Siapa yang tidak mau ikat pinggang tanggung sendiri resikonya. Siapa yang belum punya ikat pinggang, segeralah membelinya. Para pengusaha yang telah mengawiali bisnisnya sejak tahun 1980-an, sedikitnya telah mengalami 4 kali masa sulit – 4 periode 10 tahunan, yaitu tahun 1988, 1998, 2008 dan sekarang 2018.

Ikat pinggang pertama itu, sumbernya ; tight money policy (TMP). Kala itu begitu popular istilah TMP. Sedikit-sedikit beralasan TMP – kebijakan uang ketat. Kebijakan TMP bertujuan untuk mengendalikan inflasi. Karena ekonomi saat itu sedang “panas”. Terlalu baik, semua perusahaan ekspansi secara besar-besaran. Kalau tidak dikendalikan bisa mabruk. Akibat TMP tersebut sangat sulit mencari uang, sulit mencari kredit. Bunga bank sangat tinggi, 24% per tahun. Bahkan, banyak yang di atas itu.

Pelajaran yang didapat; menjalankan perusahaan dengan bunga 24% per tahun adalah melakukan efisiensi habis-habisan, bekerja lebih keras, tidak mengeluh, dan mandiri. Yang berhasil lolos dari krisis, tumbuh menjadi lebih kokoh. Kala itu, banyak perusahaan yang selamat, dan juga lebih kokoh. Namun yang abai pada keadaan itu terpaksa gulung tikar, bangkrut.

Hal yang sama terjadi 10 tahun berikutnya, bahkan lebih berat Krismon 1998. Karena punya bekal pengalaman lulus ujian 1988, usaha sudah lebih kokoh akhirnya 1998 pun lolos dari lubang jarum. Tetapi, mereka tidak lengah, dan tetap kencangkan ikat pinggang. Ratusan ide, puluhan terobosan, penghematan, kerja keras dilakukan. Sampai ada perusahaan yang melarang karyawannya beli baju baru, tidak boleh pakai dasi, dan ke kantor pun boleh pakai sandal. Mutasi besar-besaran dilakukan, karyawan berkorban habis-bahisan. Mau kerja apa saja, termasuk di luar bidangnya. Hal itu diceritakan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN yang juga pengusaha sukses, saat mengalami masa sulit.

Atas usul salah seorang karyawan dalam rapat umum perusahaan; “Pak Dahlan juga harus hemat. Tidak boleh lagi naik mercy,” maka bos besar itu pun spontan memutuskan; “Sejak rapat ini saya tidak naik mercy.” Dia pilih naik Hundai kecil, bekas. Dan mercy kebanggaan itu dikandangkan. Dua tahun kemudian diketahui mercy itu rusak, karena tidak pernah dipanasi. Namun beryukur, perusahaan lolos dari krisis. Menjadi sangat kokoh, bahkan luar biasa kuat. Ketika terjadi krisis 10 tahun kemudian; sepele. Krisis di tahun 2008 tidak terasa apa-apa di perusahaannya. Padahal, begitu banyak perusahaan kelimpungan. Prinsipnya sama; Jangan takut ikat pinggang. Sepanjang tujuannya untuk kelangsungan perusahaan. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *