Jatra Miguna : Dibutuhkan Kader Militan Berfikir Cepat – Tepat – Akurat – Terukur

Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Jatra Miguna Yogyakarta sampai akhir tahun buku 2017 telah memiliki 24 anggota Kopdit Primer, yang tersebar di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Puskopdit yang sejak didirikan dipimpin seorang wanita tokoh Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI), khususnya di DIY Yogyakarta, Ny. Theresia Supartinah Sunardi, (71 thn.) berkembang pesat. Bahkan perkembangannya jauh lebih pesat dibandingkan Puskopdit BK3D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah) Yogyakarta, di mana Ny. Th. Tin Sunardi juga ikut membidani kelahirannya. Anggota individu Puskopdit Jatra Miguna sudah 30.000 orang lebih, dan memiliki aset sebesar Rp11.526.766.555, sedangkan BK3D baru belasan ribu, termasuk asetnya pun lebih besar dibandingkan BK3D Yogyakarta.

Sejak mendirikan Credit Union (CU) 36 tahun silam, Ny. Tin Sunardi masih terus dipercaya anggota untuk memimpin lembaga yang didirikan, Primer KSP CU Dharma Bakti, dan Puskopdit Jatra Miguna. Pernah suatu saat “lengser” dari posisi Ketua KSP CU Dharma Bakti, digantikan yang lebih muda, tetapi primer terbesar di DIY itu justru nyaris terjerembab dalam lubang kehancuran. Bersyukur KSP CU Dharma Bakti berhasil diselamatkan, dan kini semakin kokoh. Terkait dengan kepengurusan, Abat Elias, S.E., yang dulu di Puskopdit Jatra Miguna hanya sebagai penasehat, kini justru didaulat menjadi pengurus, berpesan sebaiknya yang muda-muda segera berani tampil menjadi pengurus, jangan yang sudah tua-tua terus.

Yang terpenting, menurut Abat Elias, pengurus itu seperti hymne credit union; saling percaya dan bekerja sama, apa yang dicita-citakan pasti tercapai. “Yang kita harapkan memang bekerja sama …., bekerja sama ….. bekerja sama …., dan saling percaya. Bukan berarti kita tidak boleh atau menutup kemungkinan memberikan saran atau mengkritik. Koperasi sebagai lembaga ekonomi demokrasi, berarti di sana ada saran dan ada kritik. Tentu, saran dan kritik yang membangun. Sepedas apa pun kritik itu, tidak harus menghancurkan lembaga. Perbedaan pendapat, dan perbedaan pandangan, wajar-wajar saja, sebagai bagian dari demokrasi dalam berkoperasi. Dan, pengurus pun harus menanggapinya secara bijak,” urai Abat yang dalam kepengurusan Inkopdit menjabat sebagai Ketua I.

Menghadapi kebijakan pemerintah tentang bunga murah, sebagai program strategis untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM), Abat berpesan kepada manajemen, harus hati-hati. Banyak lembaga keuangan mikro, termasuk koperasi terpukul. Gejalanya, banyak lembaga keuangan mikro mulai menurun. Padahal, biaya operasional tetap. Bahkan semakin tinggi lantaran ada beban inflasi. “Saran saya, perlu adanya penetapan jasa yang mampu bersaing dengan pasar,” Abat memberi saran. Tentu saja, lanjut dia, tidak mudah, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk menurunkan jasa simpanan jangka panjang, misalnya, tidak mungkin. Yang relatif bisa lebih cepat disesuaikan, jasanya diturunkan, adalah produk simpanan-simpanan baru.

Pemerintah – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan, bunga bank 1 digit, di bawah 10%. Kredit untuk rakyat (KUR), misalnya, yang di era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bunganya 22%, oleh Presiden Jokowi diturunkan menjadi 12%, kemudian diturunkan lagi menjadi 9% dan sekarang tinggal 7%. Penurunan bunga KUR memang sangat membantu usaha kecil menengah (UKM), tetapi membuat kalang kabut lembaga keuangan mikro lainnya. Koperasi juga harus menyiasati dengan jasa pinjaman yang bersaing, agar anggota yang punya kegiatan usaha tidak lari, pinjam ke bank. Bagi UKM, persyaratan untuk mendapatkan pinjaman KUR di bank penyalur, cukup mudah. “Hal-hal seperti ini yang harus kita cermati,” tegas Abat. Program terbaru yang diluncurkan oleh pemerintah, lanjut Abat, yaitu Pembiayaan Ultra Mikro, yang bunganya hanya 4% per tahun. Secara nasional, jasa pinjaman koperasi sudah mulai turun. Kalau dahulu bisa 2% per bulan, sekarang di kisaran 1,2% – 1,3% per bulan. Yang jasanya 1,5% saja sudah jarang.

Jika koperasi bertahan dengan jasa pinjaman 2 digit, 10% – 11% apalagi lebih dari itu, pasti kalah. Anggota koperasi juga sudah cerdas. Bisa jadi, bukan saja pinjam modal ke bank, tetapi juga pijam ke bank kemudian disimpan di koperasi. Misalnya, pinjam uang di bank Rp10 juta, bunga 7% per tahun. Yang Rp5 juta memang digunakan untuk menambah modal, kemudian yang Rp5 juta lainnya disimpan di koperasi – CU karena jasanya lebih tinggi dibandingkan disimpan di bank. Sebagai anggota, mereka menabung di koperasi – CU, tidak salah. Pengurus koperasi juga harus cerdas, bagaimana menciptakan jasa rendah.

Puskopdit Jatra Miguna Yogyakarta yang manajemennya dipimpin oleh Yosef F. Semana, S.H., sebagai General Manager (GM) terus tumbuh dan berkembang, karena kepercayaan dan kebersamaan terus dibangun. Saat ini, Puskopdit Jatra Miguna telah berhasil menjalin kemitraan dengan Yayasan Rumah Energi (YRE) sebuah lembaga nirlaba yang telah bekerja sama dengan Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) untuk pemberdayaan anggota, yang kaitannya dengan Program Biogas Rumah (Biru). Puskopdit Jatra Miguna diperkenalkan dengan YRE – Bram Wiratsongko yang kerja sama dengan Inkopdit.

Ketika memperoleh peluang untuk mengembangkan biogas, kata Yosef, segera diinformasikan kepada pengurus primer anggota Puskopdit Jatra Miguna. Ada 5 koperasi primer yang menerima program tersebut yaitu; Kopdit Dharma Bakti, Kopdit Dharma Prima Kita, Kopdit Argo Manunggal, dan Kopdit Danita. Puskopdit, sebenarnya tidak hanya berbicara tentang uang, tetapi juga berfikir bagaimana caranya supaya langkah taktis dan strategis dalam konteks pengembangan usaha anggota. Puskopdit Jatra Miguna juga bekerja sama dengan Koperasi Pedagang Pasar Indonesia (Koppasindo), yang berpusat di Jakarta, berbadan hukum nasional dan beroperasi di seluruh Indonesia. Kerja sama dengan Koppasindo menyediakan komoditi 9 bahan pokok. Visi misinya adalah untuk memotong rantai distribusi 9 bahan pokok, agar harga di pasaran – tingkat konsumen lebih rendah.

Program Biru memang lebih cocok dikembangkan di daerah-daerah pedesaan, terutama yang warganya masih senang berternak. Karena bahan baku biogas rumah itu utamanya kotoran hewan; sapi, kerbau, kuda, kambing, dan babi. Bahkan kotoran ayam, bebek, dan puyuh, kapasitas peternakan besar bisa menghasilkan biogas. Jika mau dikembangkan di perkotaan, hampir dipastikan mengalami kesulitan. Sebab di kota lahan untuk peternakan sulit didapatkan. Padahal, bahan baku biogas adalah kotoran hewan. Program Biru telah dikembangkan di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya di Flores, dan mendapat sambutan positif.

Di daerah tersebut potensi berkembangnya sangat besar, karena terdukung oleh peternakan masyarakat yang sangat besar. Di sana, banyak peternak sapi, dan sapinya banyak yang dibiarkan seperti sapi liar, tidurnya saja sampai di jalan. Dengan Program Biru itu akhirnya bisa merubah pola ternak, di mana sapi-sapi tidak dibiarkan liar, tetapi disentralkan di suatu tempat. Masyarakat pun tertarik masuk menjadi anggota CU. Nilai lebihnya, kalau dahulu harus mencari kayu bakar untuk memasak, akhirnya tidak ada lagi pola-pola mencari kayu bakar. Lahan-lahan yang ada, bisa dioptimalkan untuk pembudidayaan rumput pakan ternak, sehingga ternak tidak harus dilepas liar.

Puskopdit Jatra Migguna bisa menyediakan. Langkah berikutnya, telah menjajaki kerja sama dengan PT Jamu Air Mantjur. Sebagai sekunder, akan terus berusaha mencari terobosan untuk menjalin kerja sama dengan banyak pihak bagi kesejahteraan anggota. “Jika Puskopdit Jatra Miguna tidak mampu, akan minta bantuan kepada Inkopdit supaya dibantu, dibina, sekaligus didukung pembiayaannya,” jelasnya. Kalau koperasi sekunder tidak bisa memenuhi keperluan koperasi primer, maka koperasi sekunder bisa menggunakan silang pinjam nasional, mengajukan pinjaman ke Inkopdit. Sehingga antara Inkopdit – Puskopdit – Kopdit Primer bisa bersinergi dalam pemberdayaan anggota untuk mengembangkan berbagai program.

Pengurus memang terus berupaya untuk meningkatkan pemberdayaan anggota. Dan tidak sekadar retorika. Koperasi harus berwawasan nasional, kita harus bisa berfikir tentang gerakan seutuhnya. Credit Union itu bukan parsial, Credit Union adalah kebersamaan. Credit Union adalah lembaga yang mengajak kita membentuk sesuatu yang kecil menjadi besar, dan membuat gerakan menjadi berkelanjutan. Puskopdit sebagai kepanjangan tangan dari gerakan nasional – Inkopdit terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas anggota.

Untuk membuat gerakan menjadi berkelanjutan, kata Yosef, butuh kader-kader militan, berfikir cepat, tepat, akurat, dan terukur. Jadi, tidak cukup mengatakan; “Saya mau, lalu saya lakukan. Harus berorientasi pada hasil yang lebih besar. Jika tidak ada hasilnya, sia-sia.” Kader-kader militan itu berani kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan bekerja ikhlas. Puskopdit Jatra Miguna sangat merindukan primer-primer yang luar biasa, yang bisa dipercaya oleh Dinas Koperasi dan UKM. “Saat ini, Dinas Koperasi dan UKM DIY sangat percaya terhadap Kopdit-kopdit yang ada di Yogya. Ketika akan ada kunjungan dari Kementerian Koperasi dan UKM untuk pengecekan Kopdit primer yang siap setiap saat, Dinas Koperasi dan UKM DIY menujuk Kopdit Dharma Bakti. Ini hanya salah satu contoh,” jelas Yosef.

Tamu dari Kementerian itu tidak kecewa, karena Kopdit Dharma Bakti memiliki data lengkap, sehingga apa yang diminta bisa segera diberikan. Data itu sangat penting. Untuk mengembangkan gerakan harus memiliki porto folio yang cukup. “Kalau kita hanya sekadar ngomong saja, tidak akan pernah bisa diterima orang lain. Berbeda jika kita memiliki porto folio, orang akan percaya. Itu yang harus kita bangun supaya kita mendapat kepercayaan,” jelas Yosef. Kalau di tempat lain Kopdit bisa terus tumbuh dan berkembang, lanjut Yosef, di Yogya pun harus bisa maju. Untuk membangun kebersamaan menuju pertumbuhan yang lebih baik, dalam RAT yang diselenggarakan di Wisma Inkopdit, Jakarta, April 2018, ada usulan dari anggota, perlu adanya pertemuan rutin 3 bulanan untuk saling tukar informasi.

Komunikasi yang terbuka, komunikasi yang baik, menurut Ny. Tin Sunardi, akan menghasilkan hal yang baik. Termasuk peningkatan pendapatan melalui program kemitraan biogas, Koppasindo, Jamu Air Mantjur, semua bisa ditularkan kepada anggota. “Saya juga sanggup membantu anggota, terutama ibu-ibu yang minat. Sekarang peluang-peluang dari pengelolaan sampah itu sangat besar. Tetapi dari CU tidak ada yang tergerak. Sampah organik dari sisa-sia makanan, dan dedaunan bisa menjadi pupuk organik yang sangat baik. Kita bisa belajar bersama untuk menambah penghasilan,” jelas Ny. Tin Sumardi . (my)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *