Jatuh Bangun Merintis Usaha

Agus Supriyadi

Suatu Negara akan kuat perekonomiannya jika jumlah wirausahanya minimal mencapai 2% dari jumlah penduduk Negara. Jumlah wirausaha Indonesia dari berbagai level, mulai dari tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sampai perusahaan besar saat ini baru mencapai 1,8% dari jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 255 juta jiwa. Karena itu pemerintah terus berupaya mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru, terutama dari generasi muda.

Banyak lembaga, baik perbankan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), juga perusahaan-perusahaan swasta besar, dan lembaga pendidikan – perguruan tinggi, mencari bibit-bibit wirausaha dengan menyelenggarakan lomba penulisan proposal inovatif, dan pengimplementasiannya. Artinya, proposal itu tidak hanya menyanjikan teori tetapi juga bisa dipraktekan oleh pembuat proposal itu sendiri. Hadiah bagi para juara cukup menarik, berupa modal usaha puluhan juta rupiah, juga bimbingan dan pendampingan mengelola usahanya sehingga mereka benar-benar mampu mandiri.

Untuk mengubah paradigma pola pikir generasi muda, dari berpikir mencari pekerjaan, baik sebagai aparat sipil Negara (ANS) maupun sebagai karyawan swasta, kemudian menjadi pencipta lapangan kerja, minimal untuk diri sendiri, tidaklah mudah. Lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi layak disebut sebagai pemegang peran utama. Dari dunia kampuslah seharusnya lahir wirausaha-wirusaha; cerdas tangguh, ulet, dan inovatif. Sementara ini, sebagian besar pelaku usaha adalah; otodidak, mencoba karena tidak punya pekerjaan, atau penerima warisan usaha orang tuanya. Banyak pengusaha muda “sukses” tetapi sebenarnya yang sukses adalah orang tuanya yang berjuang puluhan tahun membesarkan usahanya.

Wirausaha adalah profesi yang akan mempercepat pembangunan suatu Negara, dan menjadikan bangsanya makmur dan sejahtera. Kesadaran itulah yang harus ditanamkan kepada generasi muda. Sekecil apa pun kegiatan usahanya, seorang wirausaha telah memberikan sumbangsihnya kepada Negara mengurangi pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi jumlah orang miskin serta menyehterakannya. Agus Supriyanto, salah seorang warga RW 03 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Durensawit, Jakarta Timur, pemilik Barokah Collection adalah salah satu contoh wirausaha bermodal kecil.

Laki-laki asal Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah yang besar di Lampung ini mengaku, jiwa wirausahanya tumbuh saat masih menjadi karyawan perusahaan garmen di Pusat Industri Pulogadung. Ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1998, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) keinginan berwirausaha direalisasikan. Ini tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus untuk mandiri. “Modal awal, menabung dari hasil ngojek selama 2 tahun. Mangkalnya di dekat terminal bus Kampung Melayu, Jakarta,” tutur ayah dua orang putri Iutvita Dwi Utari dan Rahma Shabila Zulfa buah cintanya yang diikat perkawinan dengan Susan, wanita asal Purwokerto, Jawa Tengah yang setia mendampingi saat sang suami terpaksa menjadi tukang ojek.

Uang hasil ngojek yang diserahkan kepada sang istri sebagian ditabung untuk modal beli mesin jahit. Alhamdulillah, berkat ridho Allah SWT, usahanya mulai adaq titik terang. Order pun mulai banyak diterima. “Saya dan istri mengucap syukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya,” papar Agus.

Perkembangan ekonomi rumah tangga dari tahun ke tahun semakin baik. Suatu ketika ia memperoleh order membuat seragam tentara Timor Leste senilai Rp 175 juta. Order itu dikerjakan bersama dengan salah seorang mitra kerjanya asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Pihak Pemerintah Timor Leste telah melunasi kekurangan pembayaran order sebesar Rp 160 juta. Namun uang itu ternyata dibawa kabur oleh rekannya.

“Semula, dia berjanji sanggup membayar setelah rumahnya terjual. Tetapi ujung-ujungnya tak bisa membayar. Malah pasang badan, dan siap dipenjarakan. Kalau sudah demikian, harus bagaimana. Ini sudah untuk kesekian kalinya ditipu teman usaha. Saya petik hikmahnya saja. Alhamdulillah, usaha masih berjalan baik, order juga lumayan. Tahun lalu, kembali dapat order 1.500 stel seragam tentara Timor Leste, seragam Pemda Pandeglang dan seragam dari beberapa Bank nasional. Semua ada hikmahnya. Dengan berbagai pengalaman, membuat kita harus  lebih berhati-hati. Namanya juga usaha,” ujar Agus Supriyadi.

Keberhasilan itu, tambah Agus, akan diraih oleh mereka yang gigih, kerja keras, jujur dan tekun.  Menjadi pengusaha lebih baik dari sekadar menerima gaji kantoran. Itu pula yang dirasakan Agus lewat Barokah Collection yang dikelola sejak 15 tahun silam. Kontak order (021) 866.140.18 HP. 0813-1402-8645. (st).

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *