Jika Adaptif Terhadap Perubahan, KSP Kodanua Akan Jadi Pemenang

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, sebagai salah satu koperasi besar di Indonesia telah mengumpulkan segudang prestasi dan penghargaan. Mulai dari tingkat daerah sampai nasional. Termasuk penghargaan bergengsi Satyalencana Wirakarya. Sebenarnya, menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tepat waktu saja juga sudah merupakan prestasi.

Prestasi kinerja pengurus, pengawas, dan manajemen mengelola organisasi – lembaga bisnis yang dimiliki oleh ribuan anggota. Karena elemen tersebut mampu melakukan tugas dan kewajibannya secara baik, profesional dan berpedoman pada Jatidiri Koperasi dan 7 Prinsip Koperasi yang ditetapkan oleh International Cooperative Alliance (ICA) pada tahun 1995 di Kota Manchester, Inggris.

Harus diakui, saat ini sangat banyak koperasi yang tidak mampu mlaksanakan RAT secara rutin setiap tahun dan tepat waktu. Yang terlambat melaksanakan RAT masih dikatakan lumayan, karena banyak tidak melaksanakan RAT. Undang-undang (UU) Perkoperasian menetapkan bahwa koperasi harus melaksanakan RAT secara rutin setiap tahun, dan paling lambat 6 bulan setelah tutup tahun buku koperasi harus melaksanakan RAT.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) juga telah menunjukkan keseriusannya untuk membenahi koperasi di seluruh tanah air melalui Program Reformasi Total Koperasi. Mulai tahun 2018, seluruh koperasi di harusnya menggelar RAT sebagai salah satu syarat disebut; Koperasi Sehat.

RAT tepat waktu tidak saja mencerminkan bahwa koperasi tersebut tetap eksis, juga memberi kesempatan anggota berkontribusi kepada koperasi itu sendiri. Menurut cacatan, ada sekira 43.000-an koperasi sudah dibubarkan oleh pemerintah, masih ada sekira 150.000-an koperasi, 75.000-an di antaranya dalam kategori sehat dan 75.000-an sisanya sakit. Yang sakit terus diperbaiki supaya koperasi tersebut menjadi bagus, sehat, berkualitas dan bisa tingkatkan PDB.

Mengkoleksi penghargaan sebagai pengakuan dari pihak eksternal memang membanggakan. Sebab bisa dikatakan sebagai bukti keberhasilan kinerja koperasi. Namun bagi anggota sebagai pemilik, sekaligus pelanggan – pengguna jasa koperasi, koperasi yang sehat dan prima itu jauh lebih membanggakan. Karena, jika koperasi itu sehat dan mampu memenuhi kebutuhan anggota dengan layanan prima, maka tujuan berkoperasi menuju kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera, tercapai.

Pemerintah, seperti disampaikan oleh Deputi Pengawasan Kemenkop dan UKM, Drs. Suparno, MM, saat memberikan sambutan pada RAT tahun buku 2019 yang dilaksanakan pada 21 Maret 2020, di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta, untuk tahun 2019 KSP Kodanua mendapat penilian sebagai Koperasi Sehat. Bagi Kodanua yang didirikan pada 5 Maret 1976, dan memperoleh Badan Hukum (BH) tahun 1977, bukan kali pertama memperoleh predikat koperasi sehat, namun sudah sejak puluhan tahun silam, dan setiap tahun berturut-turut meraih predikat koperasi sehat.
“Namun, untuk meraih prestasi tersebut pengurus harus kerja keras dan banyak tantangan yang dihadapi. Diantaranya krisis moneter tahun 1997 – 1998. Kondisi saat itu sangat berat. Perekonomian kita morat-marit. Banyak perusahaan besar gulung tikar, bangkrut. Tetapi KSP Kodanua mampu keluar dari kesulitan tersebut. Bahkan pertumbuhan aset KSP Kodanua jutru meningkat,” kata Ketua Umum KSP Kodanua, H.R. Soepriyono SAB. Dalam krisis tahun 2008, lanjut dia, KSP Kodanua juga mampu bertahan, bahkan mampu membuka cabang baru di Kota Tegal, Jawa Tengah dan Bandung, Jawa Barat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita kembali diuji. Perekonomian secara global mengalami pelambatan akibat terjadi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Kemudian disusul kondisi yang lebih berat dengan adanya wabah virus corona atau Covid-19 yang menyerang umat manusia di 211 negara di dunia. Banyak sudah, perusahaan besar yang bertumbangan, bahkan gulung tikar, atau merumahkan karyawannya (PHK). Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi basis utama anggota KSP Kodanua, banyak yang menjadi korban.

“Untuk menghadapi kondisi yang sangat berat ini kita harus waspada dan bergandeng tangan, bersatu padu, saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan,” katanya mengingatkan. Kita bersyukur, lanjutnya, seraya menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus tahun buku 2019, dimana aset KSP Kodanua per 31 Desember 2019 sebesar Rp 153,9 miliar.

Dijelaskan bahwa pada tahun 2019 anggota mampu menyerap pinjaman sebesar Rp 207,4 miliar, sehingga surplus hasil usaha (SHU) yang dibukukan dan akan dibagikan kepada anggota sebesar Rp 1,8 miliar, atau naik ketimbang tahun 2018 yang sebesar Rp 1,760 miliar. Untuk keanggotaan, jumlah anggota KSP Kodanua pada 2019 juga mengalami peningkatan menjadi 5.537 orang. Sehngga RAT mulai tahun ini menggunakan system perwakilan.

Kepada para anggta, khususnya peserta RAT Soepriyono berpesan agar para anggota tidak perlu kawatir karena dalam menyalurkan pinjaman kepada anggota didasari kehati-hatian, dan selalu patuh dengan yang namanya SOP. Pijaman utamanya disalurkan kepada anggota yang memiliki kegiatan pruduktif. Tujuannya agar pengembalian pinjaman bisa lancar. Untuk mengadapi berbagai tantangan yang sangat berat ini, kata Soepriyono, salah satunya adalah meningkatkan persatuan dan semangat antara pengurus, pengawas, manajemen dan seluruh anggota.

“Untuk menghadapi berbagai tantangan, kita harus berpeganggang teguh pada jatidiri koperasi, yaitu; dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain,” tegas Soepriyono seraya menjelaskan bahwa modal koperasi adalah dari anggota, dan anggota pula yang harus meminjam di koperasi. Jadi, anggota tidak hanya menyimpan tetapi juga harus meminjam, atau sebaliknya, tidak boleh hanya meminjam, juga harus menyimpan. Dengan kata lain, anggota harus bertransaksi aktif dengan koperasinya. Tanpa anggota mau memanfaatkan produkproduk koperasi, dipastikan koperasi tidak akan berjalan dengan baik, tidak akan berkembang, dan bisa mati.

Untuk menumbuhkan rasa memiliki, dan semangat gotong-royong, kata Soepriyono, pada RAT ke-42 ini pengurus kembali memberikan penghargaan bagi anggota dan karyawan berprestasi. Juga pemberian beasiswa bagi 68 siswa putraputri anggota dan kayawan, tingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP. Juga memberikan bantuan biaya perjalanan umrah ke tanah suci bagi 3 orang anggota senilai masing-masing Rp 20 juta, melalui undian. Karena pemerintah Saudi masih belum mengizinkan pelaksanaan umrah, maka uang tersebut ditabung dulu di koperasi. Setelah dibuka kembali oleh Pemerintah Arabsaudi, uang boleh diambil untuk digunakan untuk umrah.

Menurut Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), DR Agung Sudjatmiko yang mengaku mengenal Ketua Umum KSP Kodanua 26 tahun silam, tantangan yang dihadapi dunia perkoperasian Indonsia, bukan hanya KSP Kodanua saja, memang sangat luar biasa. Bagaimana koperasi mengahadapi perubahan yang sangat cepat, terutama terkait dengan perkembangan teknologi, yang tidak mungkin kita menolaknya. Fintech sudah muncul dan berkembang kembang sangat lua biasa.

Fintech bukan hanya dimiliki oleh perusahaan Fintech, tetapi semua penyedia aplikasi seperti Tokopedia yang semula maketplace, Lazada yang semula juga marketplace, sekarang sudah berfungsi sebagai fintech. “Yang belum mereka lakukan adalah landing credit. Jika nanti Gojek, Lazada dan sebagai penyedia aplikasi marketplace sudah diberikan izin dan bisa melakukan landing credit, menjadi kekuatan luar biasa yang akan deihadapi oleh koperasi,” urai Agung, sekaligus mengingatkan kepada para praktisi koperasi untuk segera melakukan suatu perubahan, jika tidak mau tergilas oleh kemajuan teknologi.

Perubahan dinamika lingkar strategi bisnis yang dipicu oleh percepatan perkembangan teknologi telah merubah espektasi kehidupan manusia secara radikal. Jika kita saat bepergian ketinggalan dompet, tidak masalah. Asal tidak ketinggalan hand phone (HP). Kalau ketinggalan HP, bisa bengong seharian. Apalagi kalau antri menunggu sesuatu, apa yang bisa dilakukan. Tetapi kalau ada HP, kita masih bisa melakukan pekerjaan, bisa komunikasi dengan mitra bisnis, atau setidaknya bisa main games.

Gaya hidup yang berubah sehingga menimbulkan dampak pada perubahan perilaku pemenuhan kebutuhan konsumen atas produk dan jasa. Ini tantangan yang tidak bisa kita hindari, dan teknologi informasi telah mendorong dinamika yang sangat cepat untuk perubahan bisnis pada saat ini. Bisnis pada era revolusi industri 4.0, pemenang persaingan bukan karena besarnya aset, dan bukan karena volume bisnis.
Namun, yang akan memenangkan persaingan bisnis adalah mereka yang menguasai teknologi, informasi dan data. KSP Kodanua, menurut Agung Sudjatmoko tidak boleh menunggu lagi melakukan transformasi pengelolaan bisnis berbasis teknologi informasi, karena membutuhkan informasi data. Yang juga bisa menjadi pemenang adalah yang kreatif dan inovatif memanfaatkan teknologi. Kemudan yang mempunyai dan memanfaatkan jaringan komunitas. Dengan cara MGM – member get member atau anggota mencari anggota baru.

Gegarakkan Credit Union (CU) atau Koperasi Kredit (Kopdit) terutama CU di Kalimantan Barat atau di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak lama telah menerapkan sistem MGM, sehingga perkembangan jumlah anggota sangat pesat. Di gerakkan CU atau Kopdit, sebuah CU primer punya anggota di atas 100.000 orang, bahkan ada yang anggotanya lebih dari 200.000 orang, hal yang biasa. Keuntungan dari sistem MGM, mereka bisa saling mengingatkan dan menjaga kepercayaan.

Pemenang berikutnya adalah yang punya visi bisnis kuat dan adaptif terhadap perubahan. Kemudian yang mempunyai sistem regenarasi di organisasi koperasi berdasarkan perkembangan dan kebutuhan koperasi. “Itulah beberapa syarat untuk kita memenangkan persaingan. Eksistensi dan kelanjutan bisnis di era saat ini dan kedepan bukan ditentukan oleh besarnya aset, volume, modal, maupun skala usaha dalam sebuah perusahaan, termasuk perusahaan koperasi. Tetapi ditentukan oleh kelincahan adaptif pelaku bisnis memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atau anggotanya,” tegas Agung.

Yang harus dilakukan oleh koperasi di era perubahan dan tantangan zaman yang luar biasa cepat dan berat, suka tidak suka, kita harus membangun dan tetap fokus mengembangkan bisnis koperasi. Sebagai perusahaan milik anggota, koperasi harus mengarah ke kongklomerasi bisnis koperasi. Jika saat ini KSP Kodanua punya anggota dan calon anggota sebanyak 15.000 orang, misalnya, dan semua membeli token listriknya KSP Kodanua dengan sistem aplikasi yang dimiliki, masing-masing beli Rp 150.000,- – Rp 200.000,- per bulan, X 15.000, berapa besar volume bisnisnya.

Itu baru token listrik, belum isi pulsa untuk HP. Kalau masing-masing isi pulsa Rp 50.000,- per bulan, maka total volume bisnisnya sangat besar. Dengan memiliki aplikasi yang sekaligus bisa digunakan untuk pelayanan simpan pinjam anggota secara on line, maka koperasi akan mendapatkan penghasilan sangat signifikan dari loyalitas anggota. Jadi, bisnis koperasi harus fokus dan diarahkan ke kongklomerasi bisnis. Ke depan, produk-produk KSP Kodanua harus sesuai dengan keinginan anggota.

Jika anggota yang akan direkrut dari kalangan generasi milenial, yang mereka inginkan adalah pelayanannya cepat, mudah dan transparan pengelolaannya. Karena itu KSP Kodanua perlu mengembangkan pola bisnis berbasis teknologi informasi. Kesemuanya itu bisa berjalan dengan baik jika mempunyai kualitas suber daya manusia (SDM) yang unggul, yang mampu menangkap setiap peluang bisnis dan mampu membangun keahlian-keahlian tertentu terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang selalu berubah-ubah. Profesi sudah banyak yang berubah, bisnis sudah berubah. Kalau kita tidak melakukan perubahan, kita akan tergilas oleh perubahan. (adt – mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *