Jual Uang pun Kurang Laku

Mentahari yang melintasi Kota Khatulistiwa – Pontianak, Kalimantan Barat, telah lingsir sore. Warga masyarakat pun mulai meninggalkan aktivitas rutinnya. Mereka ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing, tak sedikit pula yang melepas penat santai di kedai-kedai kopi. Salah satu kedai kopi yang tampilannya sangat berbeda dengan kedai kopi pada umumnya yaitu Rumah Pantun di jalan raya menuju Desa Kapur, salah satu wilayah di perbatasan Kota Pontianak dan Kubu Raya yang kini telah berkembang pesat.

Singgah di Rumah Pantun suasananya memang sangat berbeda dengan kafe pada umumnya. Ada fasilitas Wifi gratis, itu biasa. Sehingga pengunjung, khususnya kaum muda, mahasiswa sambil menikmati kopi khas Kalimantan dan cemilan, bisa chating sambil menikmati hilir-mudik kesibukan di jalan raya. Perbedaan yang tiada duanya di mana pun, seluruh dinding tembok terpajang ribuan pantun karya Agus Rahman, yang popular dipanggil Agus Muare, si empunya Rumah Pantun. Ribuan pantun itu sebagian terbingkai apik, sebagian lainnya belum dibingkai, tetapi dipajang rapih.

Tamu-tamu yang baru kali pertama singgah, sambil menunggu pesanan kopi, biasanya membaca-baca pantun penuh makna yang ditulis dalam bahasa Melayu. Jika beruntung, Agus sendiri yang meracik dan menghidangkan kopinya, sejenak menemani berbincang. Itu jika dia tidak siaran di RRI Pontianak, atau selesai melayani warga Desa Kapur, karena Agus memang Kepala Desa Kapur, atau sedang tidak berkantor di CU Muare Pesisir, dimana dia juga sebagai ketuanya. Ngopi sambil menikmati pisang goreng hangat, membuat betah berbincang ngalor-ngidul. Ada yang ngobrol soal bisnis, pekerjaan kantor, ada yang ngomongi ekonomi dan politik. Di meja lain, ada yang mantengi layar laptop, chating atau menyelesaikan pekerjaan.

Terkait persoalan ekonomi, kinerja pemerintah di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo diapresiasi positif. Walau tidak cukup signifikan, namun dalam 2 tahun terakhir Kabinet Kerja mampu menunjukan kinerjanya dengan baik sehingga perekonomian Indonesia bertumbuh. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sampai akhir Mei 2017 misalnya, pertumbuhan mencapai 5,02% berada diurutan ke-13 dunia, atau urutan ke-3 di antara Negara-negara anggota G-20. Diharapkan, sampai akhir 2017 bisa mencapai kisaran 5,5%. Tahun 2016 pertumbuhannya 5,02% atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang hanya sebesar 4,88%.

Walau secara global perekonomian kita terus bertumbuh namun belum mampu mendorong daya beli masyarakat. Akibatnya, dagang uang pun tidak begitu laku. Hal itu diungkapkan, Agus Rahman. CUMP yang juga disebut Koperasi Kredit (Kopdit), dengan usaha tunggalnya simpan pinjam; menghimpun uang dari anggota dalam produk simpanan, kemudian menjual kembali kepada anggota sebagai pinjaman, tahun 2016 stagnan. Anggota ditawari pinjam, tidak mau pinjam. Yang pinjam pun kecil-kecil, hanya setara tabungannya. Mereka takut tidak bisa bayar karena harga karet dan sawit jatuh. Karena pendapatan menurun, sementara biaya operasional tetap, akibatnya merugi.

“Memang tidak ada sisa hasil usaha (SHU) namun semua hak-hak anggota, seperti balas jasa tabungan terpenuhi, tidak ada yang dikurangi,” kata Agus saat berbincang dengan Majalah UKM di Kafe Rumah Pantun, usaha baru yang dikelolanya. Dalam kegiatan – proses usaha, apa pun jenis usahanya, termasuk simpan pinjam, kata dia, lumrah terjadi turun naik. CUMP yang baru 14 tahun masih banyak kekurangan, dan harus belajar dari CU lain. Banyak juga CU besar yang pernah mengalami masa-masa tidak nyaman.

Agus mengaku, berprinsip pada logika alam. Sesuatu yang cepat tumbuh dan berkembang, jika tidak berhati-hati juga bisa cepat tewas. Sedangkan sesuatu yang berproses dengan segala kesulitan, suatu saat akan tumbuh menjadi besar dan kuat. “Saya yakin, CUMP pasti akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Pengalaman tahun buku 2016 akan menjadi energy baru untuk melangkah ke depan menuju lebih baik. Tanda-tanda koperasi – CU akan tetatp hidup – tumbuh – berkembang dan maju jika masih melaksanakan RAT. Dan CUMP masih mampu melaksanakan RAT di sebuah hotel berbintang. Tetapi semua pengurus dan pengawas, kerja setahun tidak dapat insentif. RAT pun pakai baju yang lama. Demikian pula manajemen tidak beli baju baru. Yang menggembirakan, anggota tetap semangat dan optimis,” urainya.

Karena itu, lanjut dia, suatu saat kelak, CUMP pasti tumbuh menjadi besar dan kuat. Saat ini ada faktor-faktor yang bukan dalam kuasa kita. Buktinya, tidak semua cabang – tempat pelayanan (TP) CUMP merugi. CUMP memiliki 6 cabang, ada 3 cabang untung, dan 3 cabang lainnya rugi. Rata-rata cabang yang di kota terjadi minus. Yang untung itu Cabang Punggur, Teluk Bagedai, dan Siantan. Sedangkan yang minus; Cabang Pontianak, Sungai Raya dan Kakap. Karena masih ada cabang yang surplus, itu yang membuat tidak kawatir. Kalau dibilang CUMP minus, itu secara konsulidasi, karena masih ada cabang yang surplus. Suatu saat, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti akan pulih kembali,” katanya optimis.

Setelah kinerja pengurus dan manajemen CUMP dipertanggungajawabkan dan dievaluasi dalam rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2016 yang dilaksanakan bulan Maret 2017, langkah yang segera dilakukan adalah meningkatkan kapasitas kinerja manajemen dengan me-rolling penempatan, khususnya untuk pimpinan cabang. Mereka juga diberikan tugas-tugas baru. Rotasi merupakan hasil keputusan bersama, tidak tiba-tiba keluar surat. Hal itu dimaksudkan untuk penyegaran, biar tidak jenuh.

DI CUMP semua terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi. Sebab, karyawan pun menjadi anggota. Semua memiliki, semua harus menjaga keutuhan lembaga. “Namun program prioritas”, tegasnya, “harus jual uang.” Pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi manajemen, pengurus, pengawas dan anggota juga keharusan. Kedua program itu dinilai merupakan solusi paling tepat. Diprediksi, tahun 2017 akan lebih baik, mengikuti tren positif pertumbuhan perekonomian nasional. “Apalagi para pekebun karet dan sawit anggota CUMP mulai tersenyum karena harga karet dan sawit mulai naik. Saya yakin, tahun 2017 akan lebih baik,” tegasnya.

Menurut Agus, anggota CUMP yang punya kegiatan produktif, walaupun usaha kecil-kecilan, buka warung kelontong di rumah atau dagang di pasar, jumlahnya cukup besar, sekitar 60% dari total anggota yang jumlahnya 3.800 orang. Tahun 2016 CUMP memang tidak fokus mengejar jumlah anggota dan aset, tapi fokus pada peningkatan kualitas sumber daya, dan bebenah menyeluruh guna memperkokoh pondasi lembaga. Termasuk mengurus legalitas lembaga. “Legalitas lembaga sangat penting untuk memenuhi perintah perundang-undangan. Apalagi CUMP juga semakin besar. Selama ini (13 th) baru memiliki akta pendirian dari notaris. Sejak 2016 CUMP telah memiliki badan hukum (BH) dari Kementerian Koperasi dan UKM,” jelasnya.

Kondisi sepanjang tahun 2016, menurut Agus memang berat. Pendapatan anggota rata-rata turun. “Saya sendiri punya beberapa tempat usaha, tetapi omzetnya semua turun,” katanya memberi contoh. Untuk mendorong agar anggota yang punya kegiatan bisnis bisa mengembangkan usahanya, mereka diberikan pendampingan. Guna mempermudah pendampingan, tahun 2017 CUMP meluncurkan program baru; KUMA – Kelompok Usaha Bersama atau kelompok basis. Karena program baru, baru terbentuk 2 kelompok. Setiap kelompok anggotanya 5 – 10 orang, tidak lebih. Walapun namanya kelompok basis, namun usaha mereka tidak sama, tetapi saling melengkapi. Kelompok peternak ikan, misalnya, ada anggota yang memproduksi pakannya. Jadi saling berkontribusi. Pekebun karet dan pekebun sawit juga bisa menjadi kelompok basis, tetapi sekarang belum terbentuk. “Program pemberdayaan kelompok basis ini baru, masih harus banyak belajar,” jelas Agus.

Sebagai lembaga keuangan, kata Agus, ke depan CUMP akan lebih fokus pada program pemberdayaan anggota guna meningkatkan taraf hidup. Anggota pinjam uang ke CU bukan untuk konsumtif, tetapi untuk kegiatan produktif. Ini memang tidak mudah, karena tidak setiap orang – anggota punya jiwa wirausaha. Seorang wirausaha harus mau kerja keras, tekun, teliti, dan inovatif. Agar tidak semata-mata sebagai penganjur – menyuruh anggota mempunyai kegiatan produktif, pengurus harus menjadi contoh. Saat ini rata-rata pengurus, pengawas, manajer dan beberapa staf manajemen CUMP sudah punya kegiatan usaha.

“Kalau kita mau mengajarkan orang berwirausaha, kita sendiri juga harus berwirausaha. Bagaimana mungkin kita bisa menyampaikan dengan baik kepada anggota tentang wirausaha jika kita sendiri tidak berwirausaha,” kata Agus yang memang sebelum bergabung dengan CUMP tahun 2010 telah berbisnis. Dengan memiliki usaha, ketika menyampaikan kepada orang lain mereka percaya, tidak hanya berteori. Saat masih bekerja di perusahaan parmasi (1997), Agus sudah berdagang kecil-kecilan sampai akhirnya punya Mini Market Pasundan.

Disamping bekerja, kata dia, kita harus punya usaha. Terutama jika kita kerja di swasta, harus ada persiapan – belajar, untuk berjaga-jaga bila terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), atau jenuh menjadi karyawan sudah punya usaha sendiri. Yang mengelola sehari-hari bisa saja orang lain, isteri atau saduadara, tidak masalah. General Manager (GM) CUMP, Mustain, misalnya, punya warung jualan sepatu dan sendal yang mengelola juga isterinya. Kalau usahanya belum meningkat, paling tidak mampu bertahan. Sebab, berusaha itu sangat tergantung bagaimana kondisi ekonomi pada umumnya.

Melihat pengurus, pengawas, manajer dan beberapa staf punya kegiatan usaha, anggota pun kemudian banyak yang ingin punya kegiatan usaha. Anggota yang sudah berwirausaha, kata dia, walau masih kecil-kecilan sudah cukup banyak, lebih dari 60%. “Namu belum cukup untuk bercerita bahwa mereka telah mencapai taraf sejahtera,” katanya berterus terang. Untuk meningkatkan sumber daya, ada program pendidikan, pelatihan dan pendampingan. Karena GM CUMP sendiri pernah mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, dialah salah satu tutor, disamping juga sering mengundang narasumber lain. Bila orang yang menjadi pemateri juga berwirausaha, secara psologis peserta akan lebih percaya. Berbeda, misalnya, jika apa yang disampaikan narasumber itu hanya teori, peserta akan bilang; “dia hanya ngomong”.

Terkait dengan Rumah Pantun, merk usaha barunya, Agus mengatakan; “Saya mencintai seni, khususnya pantun, satu yang menjadi pertanyaan sampai saat ini, kenapa seni pantun kurang diminati masyarakat. Karena itu saya menulis pantun dan membuat rumah pantun. Saya bersyukur di lingkungan credit union, khususnya dalam jejaring BKCU Kalimantan yang anggotanya dari Sumatera sampai Papua, saya diberi ruang untuk berkarya. Dalam berbagai pertemuan saya selalu diberi kesempatan untuk berbantun. Ini luar biasa.” Ketika membuat rumah pantun, kata dia, ada orang yang datang melihat sebentar, lalu pergi lagi. Kemudian Agus berfikir, bagaimana kalau membuat kedai kopi di dalamnya penuh dengan pantun.

Dengan menjual kopi, dan cemilan ringan, ada wifi gratis, anak-anak muda diharapkan duduk berlama-lama menikmati kopi sambil melihat sebuah karya yang sangat sederhana dari seniman kampung. Pesan dari Warung Kopi Pantun adalah bagaimana memasyarakat pantun dengan kopi. Sebab kopi bisa ninikmati oleh segala lini, mulai dari anak-anak muda sampai orang tua bisa menikmati kopi. “Melalui kopi saya bisa melampiaskan hasrat seni yang ada dalam pikiran. Pantun itu dituangkan di gelasnya, atau mugnya. Sebagai buah tangan dijua jual juga kaos yang ada pantunya,” jelas Agus. Dengan cara seperti itu seni pantun diharapkan makin digemari masyarakat, sehingga tidak punah, Menurut saya, respon dari masyarakat luar biasa. Semua yang datang, membaca pantun dan berkomentarm,” katanya berbunga-bunga.

Biasanya, kata dia, dating di warung kopi tidak ada yang foto-foto selfi. Tetapi hampir semua yang datang di kedai ini berswafoto. “Ada juga yang minta foto bersama dengan saya,” jelasnya seraya menambahkan bahwa sudah mulai ada mahasiswa yang datang dan menanyakan seluk-beluk tentang pantun. Seni pantun itu ada, dan indah pada zamannya. “Saya pun pingin punya museum pantun. Itu mimpinya. Apakah menjadi kenyataan, tak tahu. Tetapi mulai sekarang harus disampaikan kepada banyak orang bahwa museum pantun itu penting. Museum pantun bukan hanya untuk karyanya Agus Muare, tetapi untuk karya pantun dari seluruh pelosok Nusantara,” tegasnya.

Saat ini sedang menjalin kerja sama dengan berbagai mass media untuk mempromosikan pantun. RRI Pontianak telah membuka pintu sejak 2 tahun silam, seminggu sekali Agus siaran – berinteraksi dengan pendengar. Juga melalui teve lokal, RUI TV, dan berbagai mass media di Kalimantan Barat. Dari Dinas Pariwisata juga memberikan respon positif. “Kedai Pantun atau Warkop Pantun akan dijadikan ikon. Kalau mau dijadikan ikon, butuh modal cukup besar karena harus ada di mana-mana. Sedangkan Warkop Pantun ini mengumpulkan uang recehan, kecil-kecil. Apakah ada yang mau berkolaburasi, yang keuntungannya boleh diambil bukan hanya untuk kehidupan, tetapi juga untuk membangun museum pantun,” tanya  Agus. (my)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *