Kadiskop UMKM & Perdagangan DKI Jakarta Alumni Diklat KPPD

Proram Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang diselenggarakan Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta pada 28 September 2018, di hotel berbintang 4, Safari Royal Garden, di kawasan wisata berudara sejuk, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, merupakan angkatan ke-9. Meski usianya sudah cukup panjang, 39 tahun, pembentukannya disepakati pada 30 Juli 1979 dan mendapatkan Badan Hukum (BH) 1324/BH/I tanggal 28 November 1979, namun diakui, memang baru 9 tahun terakhir KPPD DKI Jakarta menyelenggarakan Diklat secara berkesinambungan setiap tahun, sejak ketuanya di percayakan kepada H. Hasanuddin B.Sy, SH.

KPPD DKI Jakarta bisa dikatakan satu-satunya dari 315 koperasi primer anggota Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) DKI Jakarta yang melaksanakan Diklat secara rutin dan berjenjang. Jumlah pesertanya cukup besar antara 220 – 250 orang sekali Diklat. Karena selalu dilaksanakan di hotel berbintang untuk memberikan kenyamanan belajar, biayanya cukup besar, Rp 600 – Rp 700 juta sekali Diklat.  Awalnya, Diklat hanya diikuti anggota dari pegawai biasa, staf di lingkungan SKPD, namun sejak beberapa tahun terakhir pesertanya banyak dari kalangan pejabat. Ada Lurah, Wakil Camat, Camat, Kasubdit, Kabiro, dan sebagainya.

Semua itu tidak lepas dari kerja keras seluruh jajaran pengurus dan manajemen, dan sosialisasi tiada henti. Yang menggembirakan, dan layak dijadikan contoh, dari peserta Diklat, kini banyak yang menduduki jabatan penting di Pemprov DKI Jakrta. Salah satu peserta Diklat Angkatan ke-4 Aku Kader Koperasi yang kini menjadi pejabat teras adalah Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Perdagangan (Dinaskop UMKMP) DKI Jakarta, Adi Arintara yang dilantik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 25 September 2018.

Karena Kadiskop UMKM dan Perdagangan pernah mengikuti Diklat Aku Kader Koperasi, kata Hasanuddin, diharapkan apa yang pernah diterima dari Diklat bisa memberikan dampak positif dengan membuat kebijakan-kebijakan dan pembinaan yang dapat menudukung pertumbuhan dan perkembangan koperasi, khususnya di Jakarta. Dengan memohon maaf,  Hasanuddin mengatakan; “Pimpinan kita sekarang ini kurang begitu peduli terhadap koperasi. Sehingga timbul kesan koperasi itu jalan sendiri.”

Padahal, Undang Undang (UU) No 25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian, khususnya Pasal 60 – 64 jelas mengamanatkan kepada pemerintah sebagai Pembina Koperasi dalam rangka mengembangkan, mengayomi, mendukung, membantu melalui kebijakan. Tetapi kenyataannya, sungguh sulit kita harapkan. “Saya sudah keliling banyak Negara di Eropa, tempat asal muasal koperasi. Di sana tidak ada Kementerian Koperasi, atau lembaga yang diciptakan oleh pemerintah khusus untuk menangani masalah koperasi. Yang ada, lembaga yang dibentuk oleh gerakkan koperasi itu sendiri. Semacam Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Tetapi koperasi di Eropa itu bagus-bagus, dan kesadaran anggota berkoperasi sangat baik,” urai Hasanuddin.

Di Indonesia, lanjut dia, yang namanya Pembina koperasi luar biasa – banyak sekali. Mulai dari Presiden sampai Lurah itu Pembina. Tetapi faktanya di lapangan, seperti diakui Menteri Koperasi dan UKM sendiri bahwa dari jumlah koperasi di Indonesia yang berbadan hukum lebih dari 200.000 unit (sebelum regrestrasi ulang), tetapi yang melaksanakan kewajiban, terutama rapat anggota tahunan (RAT) tidak sampai 50%. Apalagi yang melaksanakan pendidikan, jumlahnya juah lebih sedikit. “Kalau koperasi tidak melaksanakan rapat anggota, berarti koperasi itu bermasalah. Koperasi itu sakit,” tegas Hasanuddin. Yang namanya sakit, lanjut dia, apakah harus dibiarkan mati sendiri, atau diobati. Di situlah peran pemerintah sebagai Pembina.

Menyadari begitu penting ilmu koperasi, berkoperasi secara baik dan benar yang harus dipahami semua anggota, maka pengurus KPPD DKI Jakarta bukan hanya melaksanakan RAT tepat waktu, juga melaksanakan pendidikan bagi anggota. Istilah sederhananya, memberikan pencerahan. Termasuk anggota yang mungkin calon pejabat, agar kelak peduli terhadap masa depan koperasi. Hanya saja, karena jumlah anggota KPPD DKI Jakarta telah mencapai 12.000 lebih, peserta Diklat terpaksa harus bergantian. Mereka yang telah mendapatkan pendidikan dasar dan lanjutan tidak boleh mengikuti Diklat lagi. Diharapkan semua anggota dapat kesempatan mengikuti Diklat, walau baru tingkat dasar. Diklat koperasi tidak membedakan, anggota itu pejabat atau bukan. Meskipun di kantornya pejabat, kalau baru kali pertama juga harus masuk kelas dasar.

Di era otonomi daerah, nasib koperasi itu mau dikubur atau dibangkitkan berada di Dinaskop masing-masing. Karena pembantu gubernur di bawah adanya di Dinas. Sebagai lembaga teknis, Dinas harus mengetahui secara pasti jumlah koperasi, dan kondisi koperasi yang sehat berapa, sakit berapa, yang perlu dibinda berapa dan berapa yang sudah mati. Saat ini, untuk mendapatkan data konret, dan terinci tidaklah mudah. Misalnya, berapa jumlah koperasi pegawai negeri di Jakarta, berapa jumlah koperasi karyawan, koperasi pasar, koperasi produksi, koperasi pedagang, koperasi nelayan, dan sebagainya. Jika kita ingin membuat peta pembangunan koperasi secara baik, data valid itu sangat penting.

Terkait dengan pencerahan – Diklat yang telah dilaksanakan selama ini, menurut Hasanuddin, efeknya sangat positif. Dicontohkan, bukan hanya jumlah pegawai DKI Jakarta semakin banyak yang tertarik menjadi anggota KPPD DKI, baik yang masih CASN maupun yang sudah ASN, kesadaran anggota meningkatkan tabungannya melalui Tabungan Sukarea juga sangat tinggi. Ada anggota yang jumlah tabungan sukarelannya mencapai Rp 100 juta lebih. “Itu hanya salah satu indikasi dari hasil. Karena mereka telah merasakan manfaatnya berkoperasi, kebetulan juga sudah menjadi pejabat punya penghasilan yang bisa disisihkan – ditabung cukup besar,” jelasnya.

Menjadi anggota koperasi itu, lanjut dia, manfaatnya dunia akhirat. Misalnya, kita banyak uang maka lebih baik ditabung di koperasi. Karena tidak butuh pinjam, berarti bisa membantu anggota lain yang membutuhkan uang. Ini ibadah, membantu, atau bisa dikatakan sebagai tabungan akhirat. Dampaknya, kita dapat pahala dari Allah. Sedang  dampaknya di dunia, kita dapat mengatasi kesulitan di sektor ekonomi secara cepat dan murah. “Karena itu saya selalu katakana; Pelayanan KPPD DKI untuk pinjaman Rp 10 juta sampai Rp 100 juta, cair. Itu garante, tidak ada alasan tidak bisa. Sebab, dananya selalu siap,” tegasnya.

Kalau tidak ada jaminan 10 menit bisa cair, lanjutnya, anggota akan berfikir; “Uang saya disimpan di koperasi aman tidak?” Selama masih dipercayaan, diberikan amanah oleh anggota untuk memimpin KPPD DKI, Hasanuddin berjanji akan mengawal “ekstrim keras” agar kekayaan anggota yang namanya koperasi, tetap aman.  Karena ekstrim keras, kepercayaan anggota pun menjadi tinggi. Anggota tidak mungkin menabung di koperasi sampai ratusan juta jika merasa uangnya tidak aman. Meskipun tidak disebutkan jumlah penabung sukarela, namun dampak dari Diklat selama 9 tahun itu sangat signifikan, dan jumlah anggota selalu bertambah. Memang betul, koperasi yang ingin maju harus mencerdasakan – meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM-nya), baik anggota, pengurus, pengawas, maupun pegawai – pengelolanya.

Diakui bahwa Diklat yang diselenggarakan selama ini baru jenjang, tingkat dasar dan lanjutan, namun ke depan, untuk mempersiapkan kader pimpinan; pengurus – pengawas dan manajer manajeman akan diadakan Diklat yang materi – kurikulumnya juga lebih tinggi. Sebab, pimpinan itu pengambil kebijakan – keputusan lembaga.  Ilmunya harus betul-betul dikuasai. Jika tidak, langkah-langkahnya akan ngawur. “Tidak ada koperasi di dunia ini mencapai sukses, kalau anggotanya tidak cerdas. Jika  anggota kritis dan cerdas, pengurus akan semakin hati-hati, dan lebih terbuka. Kalau mau berbuat tercela, dia akan berfikir 1000 kali,” urai Hasanuddin.

Yang harus dihindari, lanjut dia, jangan sampai menjadi bagian dari masalah. Itu prinsip hidup, kalau kita ingin selamat. Bila kita terbukti menjadi bagian dari masalah, “digoreng” dijadikan bahan pergunjingan tidak bisa ngomong, tidak bisa melawan. Di samping itu, kepercayaan juga tidak ada. Ditendang ke sana, kemari tidak bisa berkutik, karena bagian dari masalah tersebut. Namun, bila kita bukan dari masalah itu,  enjoy – nyaman. “Mau diseret kemana pun kita dilayani, tidak ada rasa rakut,” tegasnya.

Memang banyak pihak yang menilai dan mengakui, pengelolaan KPPD DKI telah menggapai sukses besar. Namun Hasanuddin mengaku, sebagai praktisi masih punya mimpi; Ingin ilmu koperasi dan metode berkoperasi secara baik dan benar itu bisa dikuasi oleh para pejabat di negeri tercinta ini, khususnya menengah – atas. Banyak yang bisa mengomong tentang koperasi, tetapi sulit melaksanakan, lantaran mereka tidak mengerti filosofi koperasi, dan peran koperasi. Banyak yang berpandangan, dan menganggap bahwa koperasi urusan rakyat kecil. Orientasinya, membantu rakyat kecil yang kekurangan. Koperasi adalah tempat mencari pinjaman uang – utang.

Contoh konkret, tidak usah jauh-jauh, di Kementerian Koperasi dan UKM, atau di Dinas Koperasi. Adakah koperasinya yang sehat dan sukses? Tidak ada! Koperasi di Kemneterian Koperasi dan UKM, kata Hasanuddin, sudah bertahun-tahun tidak pernah RAT, tidur. Padahal, ketuanya pejabat esalon I – Deputy, wakil menteri. Ini bukti tidak serius menangani koperasi. “Mereka bukan tidak mengerti, tetapi menganggap koperasi itu ada, namun tiada. Koperasi dianggap urusannya orang yang kekurangan, orang susah. Saya tahu, karena koperasi di Dinaskop dan Kementerian anggota Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) DKI Jakarta, saya sebagai ketuanya,” urai Hasanuddin.

Sebagai aktivis dan praktisi koperasi, Hasanuddin berusaha maksimal mengelola  koperasi, dan ingin menunjukan kepada pemimpin negeri ini bahwa jika koperasi dikelola dengan baik, benar, jujur akan ada hasil yang membanggakan. Hasanuddin sering berbicara di depan pejabat tinggi, karena tidak omdo (omong doang), tetapi mengimplementasikan; misi, teori dan filosofi koperasi. Hasanuddin telah berhasil membangun KPPD DKI. Sebagai Ketua PKP DKI Jakarta juga ingin menularkan kiat suksesnya kepada primer-primer anggota PKP DKI Jakarta. Salah satu contoh, KPPD membuka pintu lebar-lebar bagi primer anggota PKP DKI yang ingin study banding. Namun kesempatan itu belum dimanfaatkan optimal oleh anggota PKP DKI.

Koperasi yang berbasis komunitas pegawai, jenis dan permasalahannya hampir sama. Hanya skupnya berbeda-beda. Sebagai lembaga usaha, penguasaan ilmu baik teori maupun praktek bisnis sangat penting. Kemudian, pemenuhan pelayanan dalam hal ini ketercukupan modal, juga kecepatan – pelayanan. Ada anggota kebutuhannya tinggi, namun koperasinya tidak mampu, dan tidak bisa berbuat. Kalau pengurus menguasai ilmu, baik teori maupun praktek pasti mampu mencari solusi. Sebab posisi, status dan dagangannya sama. Sebagai pegawai negeri punya gaji, ada jaminannya. Tetapi ada yang bisa mengatasi persoalan secara cepat dan baik, ada juga yang tidak. “Berarti kembali lagi pada komitmen, kerja keras, kerja cerdas, dan jujur. Jujur itu tidak ada sekolahnya. Orang yang menurus koperasi jika tidak menyatu dengan jiwanya sama saja karyawan pabrik mencari upah,” tegas Hasanuddin.

Kunci di koperasi, lanjut dia, menjaga amanah dan kejujuran. Kemudian, fokus, anggota itu butuhnya apa. Sebagai koperasi pegawai, yang dibutuhkan anggota adalah pinjaman uang. Sebab gajinya relative lebih kecil dibandingkan pengusaha atau karyawan swasta. Karena dagangan yang laku adalah pinjaman, berarti harus ada uang. Bagaimana cara menyiasati? Itulah tantangan yang harus diselesaikan dengan cerdas dan baik. KPPD DKI sekarang anggotanya 12.000, butuh pelayanan. Kalau KPPD tidak siap dana, mereka lari dan Bank DKI sanggup menampung. Bank DKI uangnya banyak, perangkatnya cukup, kualitas SDM-nya tinggi. KPPD tidak mungkin mampu bersaing dengan Bank DKI.

Namun kenyataannya, loyalitas anggota KPPD DKI tetap tinggi. Itu bukan hanya buah dari adanya Diklat, tetapi juga pelayanan prima. “Dagangan saya laris, selalu kurang. Apalagi jika APBD DKI belum cair, kebutuhan pinjaman sangat tinggi. Pernah dalam satu hari harus mengeluarkan uang untuk pinjaman anggota di atas Rp 1 miliar.  Prosesnya harus cepat, 5 – 15 menit uang sudah diberikan. Dengan catatan, persyaratan yang diamanatkan harus terpenuhi,” tegas Hasanuddin.

Tentang kepuasan pelayanan kepada anggota, Hasanuddin selalu berusaha mendapatkan masukan secara obyektif dari anggota. Kunci setrateginya menerapkan etika berorganisasi, agar secara batiniah antara pengurus dengan anggota tidak ada jarak, setiap RAT sebelum naik mimbar melaporkan pertanggungjawaban pengurus selalu memanfaatkan kesempatan, keliling menemui anggota dan menanyakan apakah masih ada pelayanan pengurus yang mengecewakan. Dialog di luar forum resmi, mungkin sekedar curhat, dinilai efektif karena tidak setiap anggota berani bicara dalam forum, atau karena waktu terbatas tidak dapat kesempatan mengungkapkan fikirannya.

Masukan dari anggota menjadi bahan – referensi melakukan koreksi kinerja, karena yang merasakan puas – tidak puas, atau kecewa adalah anggota. Pengurus harus tahu, jika anggota kecewa karena apa. Sebelum menyampaikan materi pokok pleno pun Hasanuddin bertanya kepada anggota; “Adakah yang merasa kecewa atas pelayanan pengurus, pengawas dan manajemen?” Jawab anggota pada umumnya cukup merasa puas.

Program lain yang kini juga sedang dipersiapkan oleh KPPD DKI atas usulan anggota yaitu Diklat Kewirausahaan. Diklat Kewirausahaan tersebut akan diprioritaskan bagi anggota yang 5 tahun jelang memasuki purna tugas – pensiun. Bisa dipastikan setiap orang memiliki rencana yang telah diatur dalam hidupnya. Hal ini akan dijadikan sebagai pedoman hidup yang lebih baik, dan mampu meraih keinginan yang diimpikan. Salah satunya, bagaimana seseorang bisa menikmati hari tua, ketika tidak bekerja lagi. Bagi pegawai negeri, saat pensiun akan memperoleh dana pensiun setiap bulannya.

Banyak sekali tips memulai bisnis sebelum pensiun, sehingga di masa tua akan menikmati hidup lebih baik walau sudah tak berada dalam usia produktif. Bentuk investasi dalam hal bisnis memang lebih baik karena bisa juga diwariskan untuk anak cucu di masa depan, sekaligus digunakan sebagai cadangan pekerjaan. Cadangan pekerjaan ini adalah untuk anggota keluarga inti yang mungkin saja tiba-tiba dipecat dari pekerjaannya, atau juga belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu lama.

Peluang menjadi wirausaha pasti ada, dan terbuka lebar jika kita mau mencoba tetap ingin berkarir. Jika memilih berwirausaha, hal yang perlu dilakukan adalah melihat peluang usaha  yang memiliki prospek jangka panjang di masa depan. Untuk itu harus dipahami terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke dalamnya. Semua bisnis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan namun hal yang paling penting adalah bagaimana cara mengurangi kekurangan tersebut.

Sebelum terjun menuju dunia bisnis, perlu mengetahui bahwa setiap bisnis pasti mengalami masa-masa sulit yang harus dihadapi. Yang penting, menanamkan pikiran bahwa sebuah usaha merupakan sutau proses dimana ada saat bisnis kita sukses dan berkembang namun juga ada masa sulit yang datang dan seringkali membuat putus asa. Jika yang datang masa sulit, kita harus mengingat tujuan awal mulai berbisnis dan menjadi wirausaha sekaligus percaya jika yang namanya badai pasti akan berlalu.

Karenanya, kita harus tetap optimis menatap ke depan ada prospek yang lebih menjanjikan, dan mampu memikirkan berbagai macam ide baik untuk mengembangkan usaha yang sedang mengalami kesulitan. Jangan sampai rintangan kecil menghalangi atau bahkan menghentikan langkah menjadi pebisnis yang berakibat merugikan karena sudah berjalan setengahnya dan modal juga sudah keluar.

Yang perlu diketahui, untuk memulai sebuah bisnis tidak harus menunggu masa yang tepat, karena usaha dapat dilakukan kapan saja, baik saat masih dalam kondisi produktif maupun sudah memasuki masa pensiun dan membutuhkan dana untuk modal hidup di masa tua. Prinsipnya hanya satu; yaitu mengambil kesempatan ketika memang masih terbuka dengan lebar. Waktu yang baik untuk memulai usaha adalah lebih cepat, semakin baik. Apalagi jika kita masih cukup muda dan masih produktif, segala hal yang berkaitan dengan usaha, persiapan bisa dilakukan dengan cepat karena kekuatan yang dimiliki pun masih sangat prima. (mar)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *