Kampung Batik Palbatu Menjadi Tujuan Wisata

Harry Domino, semula seorang entrepreneur – wirausaha yang bergerak di bidang pencetakan undangan pernikahan. Dia punya keinginan mulia, mengubah perkampungan Palbatu, menjadi kawasan yang lebih baik, dan atmosfir kehidupan yang positif. Harry memulai dengan mendirikan sebuah sanggar, melibatkan beberapa pendidik dan perajin batik yang bertugas mengajarkan seni batik kepada warga Palbatu, terutama anak-anak dan perempuan.

Rangkaian ide kreatif Harry Domino menciptakan terobosan baru, dan berhasil merubah kawasan Palbatu. Pada 21 Mei 2011, perkampungan Palbatu resmi menjadi Kampung Batik Palbatu. Sebuah pengakuan yang membanggakan, sebab Palbatu sebelumnya merupakan salah satu wilayah dengan track record kriminalitas yang tinggi. Peresmian ini menjadi rekonstruksi image – citra positif bagi seluruh warga yang bersemangat menyambut perubahan.

“Secara geografi, Palbatu yang terdiri dari 15 RT masuk wilayah Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Kawasan hunian itu sangat padat, jalan – gang juga sempit. Bangunan model rumah lama dapat dianalogikan seperti labirin terbentuk dari tembok-tembok rumah warga,” papar anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Ir. Endah Setia Dewi Pardjoko MM. Politisi dari Fraksi Partai Gerindra, putri mantan Wali Kota Jakarta Selatan itu lebih lanjut mengemukakan, Kampung Batik Palbatu ini bagaikan sebuah oase yang menyegarkan di tengah kondisi kota Jakarta yang gersang dan padat.

Tampilan dinding-dinding rumah warna-warni memiliki daya tarik tersendi bagi para turis, yang mengunjungi Kampung Batik Palbatu. Menyusuri gang-gang sempit dengan lukisan grafiti batik yang menghiasi sepanjang tembok jalan bagaikan rekreasi dengan sensasi unik sekaligus mendidik. Endah mengemukakan, perubahan dengan aspek edukasi itu memberikan pemahaman kepada anak-anak dan remaja untuk mampu menyaring tren globalisasi dan moderenisasi yang kian kencang. Salah satu melalui pendekatan pemberdayaan dengan belajar membatik di sanggar batik “Setapak”.

Sanggar ini memberikan pendidikan non-formal mengenai keterampilan membatik. Cara ini cukup ampuh untuk mendorong kreativitas generasi muda Palbatu, sehingga terhindar dari kenakalan remaja yang marak di Jakarta. Kini ada 2 sanggar, masing-masing menampung 20-an orang yang diberdayakan pengusaha batik di daerah sekitar untuk menjadi mentor bagi anak-anak sanggar.

Perubahan yang terjadi tidak hanya berdampak sosial, menjadi lebih baik, tapi juga pendidikan. Sejak diresmikan Kampung Batik Palbatu, sudah memiliki 7 gerai batik. Semula hanya 1 gerai. Ini merupakan indikator peningkatan ekonomi masyarakat Palbatu. Kini muncul harapan baru, kawasan Palbatu tidak hanya ikon batik, tetapi juga menjadi kawasan wisata dan belanja batik.

Melihat perubahan tersebut Kampung Batik Palbatu beberapa kali dicalonkan menjadi kawasan percontohan kampung mandiri. Apresiasi juga diberikan oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan dengan ugerah Adipura. Prestasi lain penghargaan MURI untuk motif batik terpanjang pada tahun 201 sepanjang 133,9 meter. (wien s) 

This entry was posted in Layar Budaya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *