Kapan Kita Mampu Melepas Ketergantungan

Pemerintah Indonesia sejak zaman Orde Baru sampai era Reformasi dengan gema gegap gempitanya generasi milenial yang luar biasa, dalam hal perindustrian pengolahan sumber daya alam (SDA) masih saja bergantung pada negara-negara lain, dan menjadi pasar produk-produk mereka. Sebuah pertanyaan sederhana namun cukup mendasar, mampukah kita, terutama generasi muda – generasi milenial pengisi kemerdekaan menjawab tantangan dan melepaskan diri dari ketergantungan tersebut ?

Sebab sampai saat ini produk-produk industri agro dan perdagangan masih didominasi produk dari luar negeri. Kita dijadikan pasar besar mereka, karena berfikir dan merasa lebih mudah berdagang barang-barang jadi daripada berproduksi. Padahal, sebenarnya kita juga pernah membuat lompatan pada era Orba, di mana Prof. DR. Ign. B.J. Habibie mampu membuat pesawat terbang.

Namun apa yang dirintis Mantan Presiden RI ke-3 yang kala itu sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) “terputus” jalinan regenerasi semangatnya. Hal itu tercermin dari kenyataan bahwa sampai hari ini sepeda motor yang sangat dibutuhkan rakyat banyak, mulai dari perkotaan sampai perdesaan di seluruh pelosok negeri tidak mau membuat sendiri. Sering diberitakan akan diproduksi mobil murah, mobil lisrik. Kapan politicalwill dari perintah diwujudnyatakan?

Acuan pola pikir dan hukum untuk mengatur negeri tercinta ini sudah ada, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh para pendiri bangsa, perintis kemerdekaan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945. Yaitu merdeka berfikir, merdeka berbuat. UUD ’45 menegaskan bahwa kita bebas membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pasal 33 UUD ’45 ayat (1) menyebutkan; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan, dijabarkan sebagai berkoperasi. Artinya, ada gotong royong dalam per-ekonomi-an. Dan itu, seharusnya menjadi perilaku prioritas, bukan perilaku kapitalis. Ayat (3) Bumi dan air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bagaimana dengan air yang diminum? Bangsa kita sekarang minum air bermerk yang telah diusahakan oleh pemodal asing.

Bagaimana dengan produk-produk agro? Karet, sawit, kopi, dan sederet produk pertanian lainnya diekspor sebagai komoditas bahan mentah, lalu kita impor sebagai produk olahan dengan harga sangat tinggi. Negara kita ini berbasis pertaian dan perkebunan. Tetapi mengapa tidak dijadikan keunggulan daya saing bangsa? Di zaman VOC, rempah-rempah Indonesia luar biasa. Sehingga para pedagang bangsa Belanda itu akhirnya menjadi penjajah sampai 350 tahun.

Kini saatnya, generasi milenial sebagai penerus juang dan pengisi kemerdekaan harus berani melepaskan diri dari kekangan ketergantungan dengan negara lain. Jadilah pemimpin yang memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Olahlah hasil bumi pertiwi; karet, sawit, kelapa, kopi, pala, jagung, jahe, tanaman dan sejuta jenis tanaman lainnya menjadi produk unggulan. (red)

 

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *