Kehadiran CU Bima Sungguh Dirasakan Manfaatnya

 

Credit Union (CU) yang juga disebut Koperasi Kredit (Kopdit) di Indonesia diperkenalkan oleh seorang misionaris asal Jerman, negara kelahiran credit union, Pastor Karl Arbicht (Karim Arbie), SJ, kini telah menyebar ke berbagai daerah dari Aceh sampai Papua. Dari seribu lebih CU di Indonesia, salah satunya Credit Union Bina Masyarakat (CU Bima), CU pertama di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Adalah Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Sintang yang membidani kelahiran CU Bima dengan harapan ekonomi masyarakat bisa diberdayakan melalui kesadaran menabung. Para pendiri CU Bima antara lain; Paulus Jimbau, Oyotring, Syarbinus Pangkas, Agrianus, Agustinus Aboi, Yosef Adam, Bartholomeus Gani, Emil, Sesilia Sero, Yakobus Cil, Petrus Liging; dan seorang misionaris yaitu Pastor Yoep Van Lier, SMM. Dengan modal yang hanya Rp128.000 dan anggota baru belasan orang, belum layak disebut sebagai koperasi.

Karena sumber daya manusia (SDM) belum tersedia, kegiatannya ditangani Pastor Paroki Katedral Kristus Raja, Sintang, Yosep Van Lier, SMM. Untuk memenuhi kebutuhan SDM yang berkualitas salah seorang pendiri, Agrianus diberi tugas kuliah di STIE Perbanas Jakarta. Selesai kuliah tugasnya mengembangkan CU Bima. Kelahiran CU Bima yang bertepatan dengan hari ulang tahun kemerdekaan RI, 17 Agustus 1988 menginspirasi para pendiri untuk berjuang seperti para pejuang merebut kemerdekaan, pantang menyerah, dan tak kenal lelah, sehingga CU Bima kini menjelma menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia dengan jumlah anggota 25.347 orang dan memiliki aset sebesar Rp227 miliar lebih,-

Agar mandiri dan lebih berdaya, serta memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat luas, terutama warga yang kurang mampu, lemah, dan terpinggirkan, CU Bima “disapih” oleh pihak gereja. Kebijakan Pastor Bernard Keradec, OMI sekalu Vikaris Jenderal Keuskupan Sintang, yang menyerahkan sepenuhnya pengelolaan CU Bima kepada masyarakat, dan harus pindah dari lingkungan gereja, dimaksudkan agar masyarakat tidak memandang lembaga pemberdayaan itu hanya milik umat Katolik. Kebijakan tersebut menghasilkan buah yang luar biasa. Masyarakat dari berbagai etnis dan agama yang berbeda menyatu dalam kebersamaan. Bahkan boleh dibilang anggota CU Bima yang non Katolik justru lebih banyak.

Perkembangan CU Bima yang demikian pesat mengharuskan untuk membuka tempat pelayanan baru. Kantor pelayanan pertama dibuka tahun 1994 di kompleks Seminari Menengah Teluk Menyurai Keuskupan Sintang. CU Bima yang memeroleh Badan Hukum Nomor : 1555 / BH / X / 1995 dari Kanwil Provinsi Kalimantan Barat tertanggal 24 Januari 1995, pada tahun 1997 pindah kantor di depan Rumah Sakit Umum (RSU) Mohammad Jun, Sintang, menempati rumah milik yayasan Sukma Keuskupan Sintang, dan 2 tahun kemudian (1999) menempati kantor sendiri di Jln. S. Parman No. 47, Sintang, yang sekarang dijadikan Kantor Pusat dan Kantor Cabang Sintang.

Bulan November 2010, Cabang Sungai Durian, punya kantor baru berlantai 2 dibangun dengan gaya arsitektur perkantoran modern, di atas lahan seluas 1.000 M2, dan menghabiskan biaya Rp1 miliar. Lokasinya sangat strategis, di Jln. M.T. Haryono, berseberangan dengan Depot PT Pertamina UPMS VI, mudah diakses dari arah mana saja. CU Bima, adalah CU Primer yang berada di dalam jejaring Puskopdit Kapuas. Kecuali memiliki 1 kantor pusat, 6 kantor cabang dengan 20 kantor unit yang tersebar di 4 Kabupaten: Sintang; Melawi; Kapuas Hulu; dan Sekadau.

Berbagai produk CU Bima adalah upaya untuk menyejahterakan anggota. Produk-produknya antara lain; Simpanan Saham yang terdiri dari Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib. Kemudian ada simpanan non saham seperti; Simpanan Sukarela Anggota (SSA), Simpanan Masa Tua Taktis (Sintak), Simpanan Sukarela Berjangka (SSB), Simpanan Masa Tua (Simatu), dan Tabungan Beasiswa (Tawa). Sedangkan produk pelayanan terdiri dari Pinjaman Anggota Biasa dengan jasa 2% menurun, lalu Pinjaman Khusus, Pinjaman Jangka Pendek, dan Pinjaman Mikro. Pelayanan sosial terdiri dari Dana Perlindungan Bersama (Daperma), Sosial Kesehatan (Solkes), Pendidikan dan Pelatihan. Pinjaman di CU Bima dibagi menurut kegunaannya, yaitu pinjaman produktif, pinjaman kesejahteraan, dan pinjaman darurat, (sakit). Ada juga pinjaman untuk beli rumah atau membangun rumah. Yang selalu ditanamkan kepada anggota bahwa orang akan berhasil jika mampu membantu dirinya sendiri. Menjadi anggota CU sama dengan membantu diri sendiri. Prinsip yang dikembangkan semua berasal dari kita dan untuk kita.

Masyarakat Kabupaten Sintang, dan sekitarnya sungguh merasakan manfaat kehadiran CU Bima. Pelan, namun pasti perekonomian masyarakat terus bertumbuh. Salah satu contoh, Adrius Xaverius Tuah Mangasih, sebelum bergabung dengan CU Bima, usaha perkebunan karet yang ditekuninya sejak puluhan tahun silam, tak semaju sekarang. Dulu omzetnya hanya sekitar Rp10 juta per bulan. Tapi sekarang, bukan saja luas areal kebun karetnya terus bertambah, targetnya 5 hektare per tahun, dan kini telah mencapai 30 hektare, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp20 – 30 juta per bulan. ”CU sangat membantu, dan peduli dengan masyarakat. Mudah memberikan pinjaman kepada anggota, bunganya tidak tinggi, dan menggunakan sistem menurun,” tutur Adrius yang bergabung dengan CU Bima sejak tahun 2004, dan sudah berulang kali pinjam untuk menambah modal usaha, yang kini juga sebagai pengepul karet mentah.

Regina, pekebun karet sejak 1993, dan menjadi anggota CU Bima sejak 1999, juga mengaku sangat tertolong oleh CU Bima. Kalau kekurangan modal, pinjam uang ke CU. Isteri Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Bima Mandiri, Agrius, itu mengaku pinjam kali pertama ke CU Rp2,5 juta untuk biaya pembersihan karet dan penambahan luas lahan 1,5 hektare. Setelah lunas pinjam lagi untuk menambah lahan 3 hektare. Regina kini punya lahan karet 5 hektare yang bisa menghasilkan Rp1,5 juta per hari. Itu kalau musim hujan. Jika musim panas bisa mencapai Rp1,8 juta – Rp2 juta per hari.

Wirausaha lain yang juga anggota CU Bima, Dupun Cempaka, penjual eceran bahan bakar minyak (BBM) sejak tahun 1990. Sebelum bergabung menjadi anggota CU Bima, 1997, memang sudah punya kios kecil, omzetnya Rp3 juta per bulan. Sebagai anggota CU Bima kali pertama pinjam untuk modal beli besin, solar, dan oli sebesar Rp4 juta. Setelah lunas pinjam lagi Rp8 juta. Lalu pinjam lagi cukup besar, Rp40 juta untuk beli mobil sebagai sarana angkutan untuk memasok BBM ke berbagai perusahaan. Usahanya terus berkembang, kini sudah punya mobil tanki berkapasitas 15.000 liter BBM. Ketiga wirausaha tersebut hanya contoh kecil dari ribuan wirausaha anggota CU Bima.

Ada juga anggota CU Bima yang berkarir di Kepolisian, Briptu Yanto, contohnya. Anggota Polres Melawi itu menjadi anggota CU Bima sejak 2003, dan mengaku merasakan cukup besar manfaatnya untuk membantu kesejahteraan keluarga. Paling tidak, kata dia, bisa pinjam uang dengan bunga rendah. Pernah juga pinjam untuk modal buka warung kelontong di rumahnya, tetapi ditutup karena tidak ada yang mengurus. Padahal hasilnya lumayan, sehari bisa dapat untung Rp200.000 sampai Rp300.000. Obsesi bisnisnya tidak mau berhenti. Yanto beralih beternak ayam dan ternak ikan lele dumbo. Ia memulai usahanya dengan 5 ekor ayam, dan sekarang telah lebih dari 100 ekor. Setiap 40 hari, dia dapat tambahan penghasilan selain gaji tidak kurang dari Rp2 juta. Karena itu Yanto bisa memikirkan masa depan pendidikan anaknya, Virda M. Kumala Ningsih yang baru berusia 3 tahun, dengan menabung di Tabungan Beasiswa (Tawa). “Lebih baik ditabung di CU, aman, daripada ditabung di rumah. (dm)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *