Kemiskinan Harus Dimusiumkan

Sebentar lagi, 17 Agustus 2016, Negara tercinta ini akan genap berusia 71 tahun. Bagi seseorang, usia yang sudah cukup lanjut. Tetapi bagi Indonesia yang kemerdekaannya diproklamirkan oleh dwi tinggal Soekarno – Hatta, tiada kan berakir. Cita-cita kemerdekaan adalah menyejahterakan seluruh warga bangsa. Bagi segelintir orang, sudah sejahtera. Secara materi, bahkan berlebih. Namun, bagi sebagian besar rakyat, kemiskinan dan pengangguran masih membalut kehidupan sehari-hari.

Masalah tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat belum diberdayakan secara optimal sebagai subyek pembangunan. Rakyat – wong cilik masih terpinggirkan dalam berbagai hal. Untuk menjawab derita bathin umat, sang gembala, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Pangkalpinang, melalui Yayasan Tunas Karya mengutus lima orang imam dan 7 orang awam untuk magang di credit union yang ada di Kalimantan selama  dua bulan. Mereka diutus berdua-dua untuk mengalami sendiri dinamika dalam melayani anggota sambil “ngangsu kaweruh”.

Sekembali dari Kalimantan para utusan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan credit union di Keuskupan Pangkalpinang. Dengan diawali lokakarya yang dilaksanakan 12-15 Januari 2009 akhirnya Credit Union Jembatan Kasih (CUJK) dinyatakan berdiri pada tanggal 15 Januari 2009 dengan ketua pengurus RD. Pieters Patrisius Padiservus. Namun demikian kedua belas utusan itu ternyata tidak setubuh. Pastor Felik Atawolo memisahkan diri, lalu mendirikan Credit Union Pelita Kasih di Pangkalpinang.

Dalam perjalanan waktu, semua utusan satu per satu mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Menghadapi kondisi tidak kondusif, pengurus periode 2015 -2017 bertekad melanjutkan cita-cita Mrg Hilarius, menyejahterakan semua umat Allah, tidak hanya untuk kelompok tertentu, umat Khatolik – Kristen, misalnya, juga tidak untuk etnis tertentu, tetapi untuk semua.

“Sri Paus Fransiskus dalam perjalanannya mengunjungi umat di Maxico, waktu itu kebetulan ada kampanye presiden Amerika Serikat, Donald Trum, kepada Sri Paus ditanyakan, bagaimana pendapat dia, mengenai rencana membangun tembok raksasa yang membentang panjang antara Amerika Serikat dan Mexico, untuk membendung arus pengungsi dari Maxico ke Amerika Serikat, Sri Paus mengatakan bahwa Donald Trum bukan orang Kristen yang baik,” kata Mrg Hilarius Moa Nurak, SVD, saat memberi wejangan kepada aktivis CUJK pada rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2015 yang dilaksanakan pada 13 Maret 2016 silam, di Kota Batam.

Tugas orang Kristen, lanjut Mrg Hilarius, bukan membangun tembok, tetapi membangun jembatan. Membangun jembatan inilah yang menjadi tugas kita semua. Apa yang kita laksanakan, melalui CU Jembatan Kasih, kita sudah berjalan di jalan seperti yang diharapkan oleh Sri Paus, bahwa kita harus membuka diri kepada semua. Dalam membangun ini untuk semua, bukan untuk diri sendiri. Jembatan adalah untuk menghubungkan kita dengan orang lain. “CUJK, menurut saya sudah melaksanakan hal itu. Sebab yang menjadi anggota CU Jembatan Kasih bukan hanya orang Khatolik, atau orang Kristen, tetapi juga ada saudara-saudara kita dari umat lain, dari umat Muslim. Ini sudah merupakan suatu hal yang sangat bagus. Itu berarti bahwa jembatan ini sudah mendapat hasil, dan menjangkau berbagai pihak,” urainya.

Melalui Jembatan Kasih, lanjutnya, bisa menyalurkan potensi yang ada kepada rang lain. Melalui CUJK, upaya menyejahterakan orang-orang kecil, menghapus kemiskinan diyakini bisa tercapai. “Kemiskinan, harus dimosiumkan. Kemiskinan kita jadikan kenangan masa lalu. Untuk itu kita harus mau bekerja keras, kerja …. kerja …. dan kerja. Karena pemerintah sendiri mengatakan; bukan operator, tetapi regulator, maka banyak hal didesentralisasikan – diberikan ke bawah. Sebetulnya, memang rakyat kecil yang menjadi operator. Banyak juga orang mengatakan, yang eksekutif bukan pemerintah pusat, tetapi masyarakat bawah,” tegasnya.

Dengan adanya UU Desa, lanjut Mrg, pemerintah mau memberikan lebih banyak wewenang kepada rakyat kecil untuk mengatur dirinya sendiri. Operator utama – eksekutor utama adalah masyarakat bawah, bukan lagi yang di atas. Karenanya, harus betul-betul kita ambil supaya kesempatan untuk mempromosikan CU Jembatan Kasih sebagai suatu bagian dari masyarakat kecil yang mau membangun dirinya tidak hilang. CUJK harus terus diperkuat. Pendidikan dan pelatihan bagi anggota merupakan faktor penting, sehingga tanggung jawab anggota menjadi lebih tinggi. Pelayanan keuangan secara professional pelan-pelan mulai tercapai, sedangkan pendidikan dan pelatihan masih harus mendapat perhatian serius.

Anggota CUJK per 31 Desember 2015 mencapai 8.955 orang. Anggota baru 1.942 orang, tetapi yang berhenti juga sangat banyak, 1.673 orang. Berarti yang keluar 20%. Ini bisa dikatakan green light – lampu kuning. Prosentase yang keluar semakin meningkat. Kalau tahun lalu, 2014 hanya 11% sekarang justru yang keluar menjadi 20%. “Kemungkinan, pendidikan dan pelatihan itu kurang, sehingga anggota belum punya tanggung jawab yang tinggi. Dalam pendidikan dan pelatihan hendaknya dibangun komunitas basis yang kuat,” tegas Mrg Hilarius, gembala umat yang juga sebagai penasehat CUJK.

Terkait dengan keanggotaan, lanjut Mrg, dimana anggota dari kaum perempuan jumlahnya sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan jumlah anggota laki-laki, bila pendidikan dan pelatihan dilakukan dengan baik, akan berhasil dengan baik pula. Perempuan merupakan andalan utama, dan mempunyai kekuatan luar biasa. “Karenan itu jangan dikatakan; ‘perempuan itu hanya’. M Junus yang memperoleh Nobel, membangun perekonomian di Bangladesh juga dimulai dari kaum perempuan. Junus mendapatkan nama besar, tetapi ibu-ibu yang bekerja. Di KBG Keuskupan, misalnya, tidak bisa mengandalkan kaum laki-laki. Janganlah mengandalkan orang yang tidak ada. Kaum perempuan saya harap diperhatikan dengan baik, dan perempuan harus diberdayakan,” pesan Uskup Pangkalpinang itu.

***

CUJK kini telah memasuki usia 7 tahun. Dalam perjalanannya selama 6 tahun, banyak hal yang membahagiakan. “Dari Bersabda, tahun 2016 diwujudkan dengan kata bersatu, kemudian diwujudkan dalam segala aspek kegiatan. Di samping itu juga akan dibangun komunitas mandiri. Yang membanggakan, tiap-tiap komunitas telah berupaya mewujudkan kemajuan tempat pelayanan (TP) masing-masing,” kata Ketua Dewan Pengurus, RD Yohanes Belang De Ornay, seraya menambahkan bahwa setiap tahun CUJK juga membuka TP baru. Pada tanggal 14 Maret 2016 telah diresmikan TP baru, TP ke-7 di daerah Tanjung Uncang, Batam. Dalam perjalanan CUJK, kata dia, pasti ada tantangan dan kesulitan. Tetapi diyakini, melalui kebersamaan, ingin mewujudkan cita-cita Keuskupan Pangkalpinang, yaitu memberantas kemiskinan dengan semboyan; “Lawan Kemiskinan Bangun Perdamaian.”

Masalah kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan penguasaan merupakan masalah pelik. Ketiga masalah tersebut, menjadi indikator bahwa masyarakat banyak belum berperan sebagai subyek dalam pembangunan. Credit union menjadikan rakyat sebagai subyek pembangunan, memberikan hak-haknya untuk berpartisipasi dalam pembentukan dan pembagian produksi nasional. Untuk sampai pada tujuan itu, rakyat perlu dibekali modal material dan mental. Dalam skenario menggerakan ekonomi rakyat, keberpihakan pemerintah sifatnya mutlak. Untuk itu, pemerintah harus mendukung penuh agar credit union dapat mengambil peran dalam menyumbang pembangunan ekonomi.

Ketika kita melawan kemiskinan, sebenarnya kita juga serentak membangun perdamaian. Kalau bisa melawan kemiskinan, pasti akan tercipta perdamaian. Kemiskinan itu tidak terbatas pada suatu suku tertentu, tidak terbatas pada suatu agama tertentu, dan tidak terbatas pada lapisan masyarakat tertentu. Karena itu kita berupaya untuk memberantas kemiskinan. Meminjam kata-kata M Junus, kemiskinan itu kita simpan dimosiumkan. Suatu hari kelak kita boleh bermimpi, bahwa kita tidak lagi miskin. Dan sesungguhnya, memang tidak miskin. Kalau orang pajak melihat aset CUJK Rp 139 miliar, akan tercengang. Mereka akan berpikir, uang itu berasal dari mana, dari luar negeri? Padahal, sesungguhnya uang anggota, uang kita sendiri.

DSCN7337Dalam usia yang masih relatif muda, menurut anggota pengurus Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan, Drs Herkulanus Cale, CUJK telah mampu membuktikan sebagai salah satu CU anggota BKCU Kalimantan yang cukup potensial. Dilihat dari jumlah anggota, misalnya, CUJK menduduki ranking ke-16 dari 44 CU primer. Sedangkan dari sisi aset CUJK menduduki ranking ke-14, dan untuk sisa hasil usaha (SHU) menduduki ranking ke-12. Jika dilihat dari analisis Pearls, ada 6 indikator yang sudah ideal, sedangkgan 7 indikator lainnya dari 13 indikator pearls masih harus dibenahi. Dengan jumlah staf 42 orang, berarti satu orang staf rata-rata harus melayani 214 orang anggota. Terkait dengan kredit lalai (KL) masih harus bekerja lebih keras lagi, untuk mencapai standar ideal, maksimal 5%.

“Kita bisa saling sharing dengan CU lain yang ada di dalam jejaring BKCU Kalimantan. Ada contoh yang sangat menarik, CU Sinar Saron di Larantuka, Flores, Nusa Tdenggara Timur (NTT), telah berhasil membentuk sebanyak 305 komunitas. Dari jumlah tersebut ada belasan komunitas yang berhasil menjaga kredit lali 0%,” tutur Herkulanus member contoh. Karena itu, lanjut dia, kita bisa belajar dari satu dengan yang lain. “Untuk membentuk komintas-komunitas tersebut memang sulit, tetapi bukan tidak mungkin bisa kita lakukan,” jelasnya. Di luar jejaring credit union, yang juga disebut Koperasi Kredit (Kopdit), sistem tanggung renteng – kelompok, yang juga mirip dengan sitem yang dilakukan CU Sinar Saron, juga dikembangkan oleh Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Budi – Malang dan Kopwan Setia Bhakti – Surabaya, Jawa Timur.

Prestasi yang telah diraih oleh CUJK, kata Cale, begitu panggilan akrabnya, tentu belum merupakan tujuan akhir dari cita-cita awal. Karena itu yang harus ditingkatkan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), baik pengurus, pengawas maupun jajaran manajemen, dan kualitas anggota, kemudian kualitas aset. Kualitas dari dalam harus dipastikan agar CUJK berkelanjutan, sehingga siap menghadapi persaingan di era MEA. Apalagi CUJK berbatasan langsung dengan luar negeri, Singapura. Tantangan yang paling besar bagi CU saat ini adalah kredit lalai. “Inilah yang harus dicari obatnya,” tegasnya.

Yang patut direfleksikan, kata dia, benarkah credit union ini milik kita? Pemilik CU adalah para angota CU itu sendiri. Karena itu menjadi tugas bersama untuk menciptakan CU menjadi sehat. Karena CU adalah kita, meminjam dan mengangsur harus sesuai perjanjian. Itu salah satu partisipasi anggota dalam menyehatkan CU. Terlibat aktif melaksanakan program-program CU yang ditujukan untuk anggota adalah cara menyehatkan CU. Mempraktekan keuangan keluarga sesuai dengan pedmonan dalam financial literasi juga cara menyehatkan CU.

Anggota harus mau terlibat membangun diri, merubah sikap dan perilaku, melakukan revolusi mental dalam menghadapi tantangan dari dalam diri kita. CU harus mendidik anggotanya agar memahami literasi keuangan, kemudian menggalakan jiwa wirausaha, memiliki semangat solidaritas, dan ramah lingkungan. CU harus konsisten menjadi gerakkan pemberdayaan melalui ekonomi berbagi, yang dilandasi oleh nilai-nilai yang memanusiakan.

“Mari terlibat dalam CU dengan baik. Karena dalam CU, sebetulnya kita sudah mempraktekan 4 pilar kebangsaan. Yaitu mengamalkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Eka. Melalui CU kita laksanakan pembangunan karakter bangsa. Makin jauh kita berjalan, CUJK sekarang sudah 6 tahun, maka kita dihadapkan pada kepatuhan hukum. Kita tentu tidak ingin CU CU dibubarkan, karena tidak memenuhi azas patuh hukum. Sebagai koperasi harus mematuhi peraturan yang terkait dengan aspek hukum kelembagaan, aspek operasional dan resiko,” urai Herkulanus.

***

“Gerakkan CU pada dasarnya adalah gerakkan revolusi mental. Revolusi mental yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah kita jalankan sejak beberapa tahun silam. Tetapi dalam revolusi mental itu kita menemukan banyak fakta. Baik fakta yang menggembirakan, maupun fakta yang menyedihkan. Fakta yang lebih mengerikan lagi, kita ini hamba uang. Kita bekerja untuk mendapatkan uang, dan uang memerintahkan kapan saja kita siap,” kata anggota pengawas CUJK, RD Alexius Jua, penuh semangat.

Fakta berikut, kata rohaniwan ini, anggota – kita semua, lebih ingin mendapatkan uang. Kita sudah mengetahui dan berpikir; “di CU saya menggunakan hak dan kewajiban saya sebesar-besaranya tanpa batas”. Tapi sayang banyak yang tidak punya tenaga. Hanya punya modal hayal. Fakta juga menunjukan, lebih banyak menggunakan uang daripada meningkatkan diri.

Coba dibayangkan 25 tahun yang lalu dibandingkan saat ini, dan bayangkan 25 tahun yang akan datang. Dulu, 25 tahun yang lalu, datang ke Batam susah payah, berhari-hari, berminggu-minggu. Kalau mau komunikasi dengan keluarga atau teman butuh waktu lama, bahkan tidak bisa apa-apa. Batam masih belantara. Kalau sakit, susah mencari rumah sakit terdekat. Sulit pula mencari pekerjaan. Mau sekolah, jauh. Ke pasar juga jauh. Rumah mewah belum ada.

Sekarang, setelah 25 tahun, mau ke Batam hanya terhitung menit dan jam, begitu cepatnya. Batam menjadi kota industri favorit. Banyak gedung pencakar langit. Kendaraan dan rumah mewah tak terhitung jumlahnya. Pelayanan kesehatan semakin gampang. Berkomunikasi dengan keluarga, kenalan sepersekian detik, sudah bisa. Pasar, swalayan, minimarket ada di mana-mana, semua jadi gampang.

Dari fakta tersebut menunjukan bahwa perkembangan dan kemajuan jaman tidak terelakan. Terima atau tidak, suka atau tidak zaman akan terus berubah. Dan kita sebagai pelaku berada di dalam zaman ini. Ketika tidak menggunakan perubahan, akan dilindas, disingkirkan, dimarginalkan. Akan dianggap oleh zaman sebagai sampah atau alat perubahan zaman. Jika alat tidak berguna lagi maka ditinggalkan sebagai barang rongsokan.

Kalau hidup kita tetap seperti sekarang, bagaimana 25 tahun ke depan. Masih gaya kampungan, hidup hanya cukup saat ini, masih sangat bangga tinggal di Ruli, mau dibayar terus, alias kuli murahan, utang sana, utang sini, bayar sana, bayar sini, suka menghayal dan mengandai-andai, bohong sana, bohong sini, dll. Apa jadinya 25 tahun nanti. Waktu itu kita sudah tua, tidak bisa bekerja, lalu mengharapkan dari anak cucu? Syukurlah kalau diperhatikan dengan baik. Jika tidak?

Masalah besar kita saat ini, bukan karena perubahan zaman, tetapi kita sendiri tak mau berubah. Menutup diri dari perubahan, lalu menganggap kita sudah berubah. Dulu, alam memanjakan kita, memberikan segalanya untuk hidup kita. Kemudahan dari alam membuat kita tidak mau berubah. Kini alam begitu keras, seakan tidak berpihak kepada kita, dan memaksa untuk berubah. Kalau tak mau berubah, akan ditelan alam. Sebaliknya, jika mau berubah akan menjadi sahabat yang paling dekat. Apa perubahan yang harus diwujudkan? Kerja sama.

Dengan kondisi saat ini, bekerja sama adalah sarana yang sangat ampuh untuk mendorong kita dari ketidak mampuan. Menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat dan pesat, usaha sendiri adalah sia-sia, dan kecewa. Pilihan istimewa, adalah kerja sama – gotong royong. CUJK adalah gerakan yang mau mengajak semua orang untuk merevolusi diri dengan cara: kerja sama, swadaya, solidaritas – sepenanggung, membantu bersama, pendidikan dan pelatihan.

Meningkatkan diri, berarti berpikir dan bertindak mengembangkan diri sendiri, mengubah mental, merevolusi diri. Diri yang selalu tidak terencana menggunakan uang, merasa tidak mampu, selalu boros, selalu menganggap tak punya modal, menganggap tidak punya penghasilan tetap, selalu merasa bodoh, merasa lemah, “didorong keluar”  diberdayakan. Untuk itu, sebelum melakukan perubahan, hal yang utama dan terutama tentukan dulu tujuan keuangan kita. Aku harus memiliki uang berapa. Lembaga mana yang mempermudah untuk meningkatkan diri dan uang saya ? Untuk apa uang, dan bagaimana caranya?

Sesungguhnya CUJK bekerja dalam sistem. Sistem bertugas mengontrol kinerja dan perilaku semua anggota. Sistem lahir dari visi dan misi. Dalam pengontrolan, mau memastikan bahwa perilaku, tindakan anggota tidak bertentangan dengan semangat hidup CU itu. Sebenarnya, yang diperjuangkan CUJK sebagai lembaga pemberdayaan, sungguh memberdayakan anggota supaya makin memberdayalkan diri untuk keluar dari kemiskinan. Harapannya, anggota semakin meningkatkan diri dan meningkatkan penggunaan keuangan CUJK. “Keduanya harus berjalan bersama,” tegas Alexius.

Sebagai lembaga pemberdayaan berbasis keuangan, CUJK berjuang, berusaha dan berpihak pada kelompok kurang mampu, lemah, terpinggirkan untuk mengangkat mereka dari kemiskinan pengetahuan, keterampilan dan materi serta spiritual melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan serta pelayanan keuangan professional, dan pada akhirnya semua anggota hidup sejahtera lahir batin. Jajaran pengurus, pengawas dan manajemen menyadari ada kelemahan pengetahuan dan pemahaman tentang semuanya. Tetapi dalam keterbatasan ini, CUJK terus berjuang dan meningkatkan kemampuan pemberdayaan manusia. Dan usaha ini terus berkembang dari waktu ke waktu.

CUJK sebagai gerakan pemberdayaan, dengan “pinjam dan simpan” kemudian “simpan dan pinjam” dan seterusnya menciptakan peluang sangat besar bagi tujuan keuangannya. Sebagai titik target atau tujuan yang mau dicapai, CUJK menetapkan titik aman pertama pencapaian aset Rp 50 juta per anggota. Ketika sudah menjadi anggota, di dalam pikiran, perasaan dan semangat, semua anggota adalah pencapaian titik aman pertama ini. Kalau pinjam semangatnya Rp 50 juta, maka kalau simpan semangatnya juga Rp 50 juta.

Ada pertanyaan, kalau pinjam tetap semangatnya Rp 50 juta, kenapa? Alasan pertama, supaya mengontrol penggunaan uang. Kedua, supaya terbiasa dengan perencanaan dalam menggunakan uang. Ketiga, supaya pencapiannya pasti. Keempat, supaya mulai terbiasa dengan tuan atas uang, bukan uang menjadi tuan. Jika simpanan anggota sudah mencapai Rp 50 juta, minimal sudah bisa pinjam Rp 15 juta untuk  usaha, tidak harus dari gaji untuk membayar pinjaman. Balas jasa simpanan (BJS) dari Rp 50 juta itu sudah bisa membayar pinjaman Rp 15 juta dengan jangka waktu pelunasan 60 bulan. Dengan demikian, anggota tidak mikir lagi bayar utang. Anggota fokus mengembangkan usaha untuk meningkatkan aset. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *