Kepemimpinan Seni Mempengaruhi Perilaku

Dalam mengelola jalannya pemerintahan dan lembaga-lembaga publik perlu dipilih seni, gaya, teknik, dan metode kepemimpinan pemerintahan di tingkat nasional, lokal, dan supralokal.

Kepemimpinan pemerintahan perlu dilaksanakan dengan kemampuan pemimpin yang mampu mengemban misi, realisasi tujuan pemerintahan di samping kemampuan pribadi untuk menggerakkan perilaku organisasi publik dan manusia, sumber daya aparatur yang dipimpin agar dapat menggunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan.

Penafsiran kepemimpinan yang relevan, sehubungan dengan perilaku organisasi publik, kepemimpinan adalah perilaku seseorang pada waktu mengarahkan kegiatan kelompok ke suatu tujuan bersama, suatu tipe hubungan khusus kekuasaan yang dicirikan oleh persepsi anggota kelompok bahwa salah seorang anggota punya hak untuk menentukan pola perilaku anggota kelompok lainnya dalam kaitannya kegiatan mereka selaku anggota kelompok.

Berdasarkan pendapat beberapa pakar mengenai teori kepemimpinan, dalam kaitan penelitian ini penulis berpendapat bahwa kepemimpinan adalah personalia yang memiliki kapasitas – bakat, rasional, penuh prakarsa – inisiatif dengan kewibawaan dan kebijaksanaan, kecerdasan dalam pengambilan keputusan, kapabilitas dalam memecahkan masalah, akurasi dalam pengambilan keputusan dan prestasi dalam pemecahan masalah. Dengan demikian pimpinan dalam menentukan sikap dan gaya kepemimpinan, harus memperhatikan dan dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada di lingkungannya serta mau mengenal sifat-sifat masyarakat di sekitarnya.

Pimpinan dapat memberikan kesempatan kepada bawahan untuk melakukan kegiatan berdasarkan kreasi dan inisiatif sendiri agar bawahan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar, sehingga bawahan merasa seolah-olah perusahaan di mana tempat ia bekerja adalah miliknya. Proses pengintegrasian Sumber Daya Manusia ini dapat  dipandang sebagai suatu yang sangat krusial, sebagaimana yang diungkapkan oleh Harsey dan Blanchard yang mengatakan “many of our most critical problems are in the things in the world of people”. Dalam kerangka masalah inilah diperlukan suatu kepemimpinan yang memerhatikan sisi humanistik, agar masalah-masalah yang terkait dengan manusia tersebut dapat ditangani secara efektif.

Kepemimpinan dan teamwork pada koperasi pegawai yang dilakukan dengan baik di Sekjen Kemdikbud yang berdiri sejak 1972, akhirnya terealisasi yang sebelumnya Koperasi Kemdikbud mempunyai sejarah terpecah-pecah. Jika mengacu pada dimensi humaniora, koperasi itu tidak harus pecah menjadi unit-unit tersendiri sehingga bisa membantu anggota memberikan pelayanan yang prima. Di mana sudah wacana untuk memersatukan unit-unit koperasi yang ada di lingkungan Kemdikbud, dan Menteri pun menyambut dengan baik.

Berdasarkan uraian tentang kepemimpinan menurut penulis dapat disintesiskan bahwa kepemimpinan adalah sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintergrasikan tujuan individu guna mencapai tujuan tertentu, proses memengaruhi orang lain agar memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu efektif, untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif mencapai tujuan bersama. Berhasil tidaknya seseorang pemimpin di suatu perkantoran pemerintah, dapat dilihat indikatornya pada pemberian inspirasi bawahan, melaksanakan dan mengembankan, memberikan petunjuk pelaksanaan, menerima tanggung jawab dan menyelesaikan persoalan.

Berdasarkan landasan, teori yang ada serta rumusan hipotesis penelitian maka yang menjadi variabel bebas (independen) kepemimpinan dan teamwork, sedangkan variabel terikat adalah performans pegawai koperasi. Tempat penelitian koperasi di Sekjen Kemdikbud Senayan Jakarta, waktu penelitian dilakukan selama 4 bulan, dimulai sejak bulan Agustus s.d. November 2012. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepegawaian Sekjen Kemdikbud Senayan Jakarta. Sampel responden 20 orang pegawai. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup 3 variabel penelitian, yaitu (1) kepemimpinan, (2) Teamwork, (3) Performans pegawai koperasi, pelaksanaan pengumpulan data untuk semua variabel dilakukan oleh peneliti sendiri kemudian dilanjutkan dengan analisis data dengan uji validitas dan reabilitas, analisis korelasi dan pengujian hipotesis.

Maksud dilakukan pengujian hipotesis adalah untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan atau diterima pada taraf signifikan tertentu. Selanjutnya, dilakukan analisis regresi, pengaruh secara parsial dan ganda. Dalam penelitian ini, yang ingin diperoleh adalah seberapa besar kekuatan pengaruh yang terjadi antara kedua variabel bebas dengan satu variabel terikat, baik secara sendiri maupun secara bersama-sama dengan dikontrol oleh variabel lain atau tidak. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa besarnya koefisien korelasi berganda antara kepemimpinan dan teamwork dengan performans pegawai. Artinya ada keeratan hubungan antara kepemimpinan dan teamwork. Apabila kepemimpinan dan teamwork kuat, maka performans pegawai juga kuat berpengaruh atau sebaliknya.

Berdasarkan data penelitian yang telah diolah regresi sederhana, terdapat hubungan antara kepemimpinan dengan performans pegawai koperasi. Dengan kata lain seiring dengan peningkatan kepemimpinan akan menyebabkan peningkatan pada performans pegawai koperasi, sehingga tingkat hubungan dikategorikan cukup baik. Artinya semakin baik kepemimpinan, maka semakin tinggi performans pegawai. Kepemimpinan adalah seni memengaruhi perilaku manusia dan kemampuan menangani manusia. Di sini kepemimpinan merupakan satu sifat, kemampuan proses atau konsep yang ada pada seseorang sehingga dipatuhi dan diikuti dan orang lain bersedia melakukan dengan ikhlas. Kemampuan manajerialnya diukur dari kemampuan dan keterampilan menggerakkan orang lain tersebut mencapai prestasi kerja yang diharapkan.

Pemimpin menunjukkan segala hal agar sesuatu nampak menjadi jelas, yang penting dan mana yang kurang penting, mana yang utama dan mana tidak mana yang perlu prioritas dan mana yang boleh dibelakangkan. Pimpinan harus dapat memberikan teladan kepada anggota dan pegawainya, karena pimpinan menjadi panutan para bawahannya, dapat memberikan contoh yang baik, jujur, adil berdisiplin, mematuhi segala ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan.

Tidak semua anggota kelompok persepsinya sama, tidak semua anggota ketaatan, kepatuhan atau kegairahannya sama. Di antara anggota kelompok tentu ada yang mengalami  deviasi negatif, individu sering mengekspresikan perilaku yang berupa penyimpangan-penyimpangan sebagai pemimpin tugasnya mengendalikan keadaan tersebut. Sedangkan performans pegawai koperasi memenuhi kriteria nilai koefisien determinan 50,2% (pedoman korelasi), menunjukkan hubungan kepemimpinan terhadap performans pegawai Koperasi Kemdikbud Senayan Jakarta.

Dengan demikian kepemimpinan sangat besar pengaruhnya atau hubungan dengan tercapainya suatu performans sebagai koperasi dengan didukung faktor-faktor yang dimiliki yaitu karakteristik pribadi pimpinan terhadap performans, teamwork, salary, keluarga, organisasi, pengembangan karir, dan kepedulian. Sehingga implementasi kerja dapat dilakukan dengan kninerja sumber daya manusia.

Setelah didapatkan hasil perhitungan yang didasarkan atas data-data penelitian, maka dapat ditarik suatu pernyataan bahwa antara teamwork dengan performans sebagai koperasi memiliki koefisien korelasi antara  teamwork dengan performans pegawai koperasi. Dengan kata lain seiring dengan peningkatan teamwork akan menyebabkan peningkatan pada performans pegawai koperasi, sehingga tingkat hubungan dikategorikan kuat, artinya semakin baik kepemimpinan, maka semakin tinggi performans sebagai koperasi.

Teamwork harus diperkenalkan melalui sosialisasi kepada anggota baru, sehingga budaya dapat menjadi mekanisme untuk kontrol sosial dan dasar dalam menggunakan anggota secara terang-terangan untuk mengamati, berpikir untuk merasakan sesuatu. Teamwork didapatkan dari sikap kebiasaan anggota, namun dalam menentukan sikap mana yang merupakan teamwork harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjebak dengan sikap yang dibuat-buat.

Teamwork tidak lepas dari pegawai untuk bekerja – budaya kerja pegawai yang merupakan komponen kualitas manusia yang melekat dengan identitas bangsa dunia menjadi tolak ukur dasar dalam pembangunan. Teamwork pegawai merupakan falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat. Kebiasaan dan kekuatan membudaya dalam kehidupan masyarakat atau organisasi. Kemudian tercermin dalam sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai “kerja” atau “bekerja”.

Berdasarkan hal tersebut, yang dapat diambil ialah pola perilaku dari pegawai, kemudian adanya nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku dalam organisasi, yang berfungsi mengarahkan atau membimbing pegawai dalam menyelesaikan pekerjaannya. Lebih strategis lagi menjadi pedoman untuk menjawab bagaimana organisasi akan mencapai sukses dalam usahanya. Penilaian performans pegawai merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai kualitas kerja personel dan usaha untuk memperbaiki unjuk kerja personel dalam pekerjaan terlihat dalam teamwork yang dimiliki pegawai tersebut.

Penilaian kinerja dari hasil koefisien korelasi, menunjukkan bahwa hubungan kepemimpinan lebih kuat dibandingkan performans personel. Dari tiga langkah mendifinisikan pekerjaan, menilai kinerja dan memberikan umpan balik harus didukung faktor manusianya atau pendukung lain dari performans pegawai dan kepemimpinan tersebut. Untuk meningkatkan performans pegawai koperasi merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sangat sulit dan kompleks karena terkait dan saling berhubungan dengan faktor yang lain. Dengan demikian kinerja pegawai hanya dapat ditingkatkan jika sudah memenuhi beberapa persyaratan dan berpengaruh dengan faktor yang terkait. (penulis adalah mahasiswa S3 Universitas Padjajaran, Bandung)

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *