Ketika Kita Setia dengan Si Kecil

Ny Th Tin Sunardi 

Koperasi Simpan Pinjam  Credit Union (KSP CU) Dharma Bakti adalah salah satu koperasi yang jika dilihat dari aset dan jumlah anggotanya cukup besar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogyakarta (DIY).Di Sleman ada 629 koperasi berbadan hukum, namun yang menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tidak lebih dari 50%.Dan KSP CU Dharma Bakti termasuk salah satu koperasi yang selalu menyelenggarakan RAT tepat waktu.Untuk tahun buku 2017, misalnya, KSP CU Dharma Bakti menyelenggarakan RAT di awal tahun, tepatnya tanggal 13 Januari 2018.Ukuran dari perkembangan koperasi yang sehat adalah perkembangan aset meningkat, jumlah anggota meningkat, dan SHU juga meningkat.

KSP CU Dharma Bakti genap berusia 36 tahun, didirikan pada 31 Desember 1981. Koperasi ini berawal dari lingkungan gereja, pemrakarsanya wanita katolik, yang merasa prihatin atas kondisi umat gereja yang sering mengalami kesulitan,orang kecil, lemah, miskin dan tersingkir sangat susah mengakses lembaga keuangan. “Atas dasar kenyataan seperti itu muncul konsep membangun ekonomi kerakyatan, ekonomi yang bersumber dari rakyat, dikekola oleh rakyat dan manfaatnya dinikmati oleh rakyat,” urai Genaral Manager (GM) KSP CU Dharma Bakti Yosep F Semana, SH, dalam sebuah perbincangan dengan Majalah UKM, di kantornya.

Kegigihan ibu-ibu Wanita Katolik (WK) Paroki Mlati, Sleman itu mendapat dukungan sepenuhnya dari Pastor Paroki, Romo Fx Murdisusanto Pr. Bahkan Pastor Kepala itulah yang mensponsori terbentuknya lembaga keuangan – KSP CU Dharma Bakti. Mereka (ibu-ibu) kemudian dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan.Adalah Ny. Theresia Supartinah Sunardi, salah seorangperintis – pendiri dan sampai saat ini, sudah 36 tahunmasih dipercaya oleh anggota sebagai ketua, pionir yang pantang menyerah untuk mengembangkan lembaga keuangan bukan bank tersebut

Wanita energik yang profesi utamanya pengajar ini memang aktif diberbagai kegiatan organisasi, misalnya, sebagai Ketua Pembina Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Kabupaten Sleman, kemudian di lingkup Paroki Mlati sebagai Ketua Seksi Sosial Ekonomi. Kebetulan waktu itu ada undangan dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) sekarang Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan, sering pula disebut penataran selama 10 hari, di Kaliurang, Jogyakarta. Pesertan ada 24 orang dari organisasi sosial seperti; PKBI, Keluarga Berencana, dan Wanita Katolik.

Pulang dari penataran dengan segepok ilmu baru segeramelapor kepada Pastor Paroki, RomoFx Murdisusanto Pr, sekarang di Paroki Klepu, Jogya. Setelah berembuk dengan para ketua di lingkungan paroki seperti; Romo Murdisusanto, Pr (Pastor Kepala Paroki), Ny. Th Tin Sunardi (Ketua WKRI Koord.Kab Sleman), Drs Y Sukardi (Ketua Dewan Paroki).Ny. C Sudomohadi (Seksi Sosial Ekonomi – SOSEK), Ny IM Sutopo (Ketua WKRI Cab. Mlati), Ny M Suratmi (Pengurus WK Mlati) dan Ny An Mulatinah Rahajo, disepakati untuk mendirikan lembaga keuangan non bank.Tujuannya untukmembantu umat mengatasi kesulitan keuangan, khususnya mengakses ke perbankan.

Untuk mememenuhi persyaratan mendirikan koperasi diundanglah umat yang dipandang mau mendukung pembentukan lembaga keuangan tersebut. Setelah mendapat dukungan 25 orang aktivis gereja, dibuatlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD – ART), menentukan uang pangkal Rp 50,- Simpanan Pokok Rp 250,- dan Simpana Wajib Rp 100,- per bulan serta simpanan sukarela. Setiap orang memiliki simpanan sebesar Rp 500,- maka terkumpul modal Rp 15.000,- ditambah dana hibah dari Paroki sebesar Rp 25.000,- sehingga total kekayaan KSP CU Dharma Bakti sebesar Rp 40.000,-

Susunan pengurus periode pertama sebagai berikut; Ketua Drs. Y Sukardi, Ny Th Tin Sunardi, Sekretaris Bambang Handoko – Sugiyanto, Bendahara Ny A Mulatinah Raharjo, Ny M Suratmi, Panitia Kredit Ny C Sudomohadi, Panitia Pendidikan Ny IM Sutopo, Pengawas Drs Lukas Sokimin, Pudjowasito dan Ny S Hartini.

Langkah awal untuk memberikan pelayanan kepada anggota, dan umat yang mau menjadi anggota,hanya dilakukan setiap minggu kedua setelah misa.Artinya, pelayanan hanya dilakukan sebulan sekali.Kantornya divasilitasi oleh gereja, termasuk meja kursi, lemari dan mesin ketik manual zaman dahulu.Besarnya pinjaman yang bisa diberikan kepada anggota sesuai dengan kemampuan keuangan lembaga, sedangkan agunannya adalah kepercayaan dan iman. Jangka waktu pinjaman di bawah Rp 1000,- diangsur 5 kali, dan pinjaman Rp 1000,- ke atas diangsur 10 kali dengan jasa pinjaman 2% menurun per bulan. Jika terjadi keterlambatan mengangsur dikenakan denda 0,5% dari sisa pinjaman.

Dharma Bakti, adalah sebuah kesepakatan bersama untuk berbakti kepada masyarakat, khususnya waktu itu untuk umat di Paroki Mlati agar mereka sejahtera.Dharma, pengurus mendarmabaktikan kinerjanya tanpa memperoleh imbalan apa pun. Sampai sekarang pengurus dan pengawas tidak mendapatkan gaji.Selama 10 tahun lebih, pengurus sama sekali tak dapat apa-apa.“Kebetulan, semua pengurus pegawai.Saya sendiri sebagai Kepala Sekolah SD Kanisius. Ada pengurus yang bukan pegawai, tetapi dia, R Suprapto orang kaya, punya toko,” jelas Ny Tin, seraya menambahkan bahwasekarang koperasiada danapengurus yang diambil dari sisa hasil usaha (SHU). Kalau koperasinya ada SHU, dapat bagian.Meski tidak dapat gaji, pengurus bahagia karena bisa membuat orang lain bahagia, sejahtera.

Perjuangan awal yang paling sulit, karena kondisi masyarakat waktu itu masih sangat sulit, ketikaanggota pinjam uang mengembalikannya repot. Awalanya, 1 – 2 bulan, biasanya memang lancar.Tetapi bulan ketiga dan seterusnya, mulai terkendala.Kondisi seperti itu cukup lama, dari 1981- 1995. KarenaCredit Union berasal dari katacredo – kepercayaan, dan waktu mengikuti penataran sudah ditekankan bahwa yang menjadi agunan bagi peminjam bukan sertifikat, bukan juga barang, melainkan iman dan kepercayaan, maka ketika ada anggota yang tidak segera melunasi pinjamannya pengurus hanya menghimbau agar segera melunasi utangnyakarena anggota lain juga mau pinjam.

Walau kehadiran lembaga yang dibangun secara bersama-sama telah memberi manfaat dikala anggota mengalami kesulitan, namun ternyata manfaat itu tak disyukuri, dengan misalnya, sikap disiplin pinjam mengembalikan tepat waktu, menabung secara teratur.KSP CU Dharma Bakti pun pernah terjerembab sampai titik nadir.Banyak faktor menjadi penyebabnya. Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) – Puskopdit, selalu memberikan pinjaman dengan jasa 1,85% per bulan, ketika dipinjamkan ke anggota hanya impas karena jasanya 2% menurun.Akhirnya minus, CU Dharma Bakti merugi untuk biaya operasional. Pelajaran yang paling berharga, ketika terjadi krisis multi demensi 1998 banyak anggota angsuranutangnya menunggak, dan ada perilaku pengurus tidak terpuji, tahun 1999CU Dharma Bakti membuatcatatan hitam sendiri, jatuhkolapp, dengan beban utang di BK3D Rp 250 juta. Jumlah yangcukup besar kala itu.

Melihat perilaku pengurus mencoreng wajah lembaga yang dibidani, membuat Ny. Th Tin sock.“Saya tidak tahu, ada3 orang pengurus, termasuk bendahara, setiap bulan ‘mencari anggota baru 10 orang’.Mereka pinjam kartu tanda penduduk (KTP) difoto coppy kemudiandilampirkan untuk mengajukan pinjaman ke BK3D.Pinjaman itu diatasnamakan mereka, namun ternyata, uangnya untuk kepentingan pribadi.Walau setiap bulan mengangsur, tetapi setiap bulan juga pinjam  ke BK3D, sehingga pinjaman‘lembaga’ makin membengkak.

Karena pengurus lain tak mau ikut bertanggung jawab, untuk menyelamatkan lembaga dan nama baik,terpaksa tahun 2000, menggadaikan sertifikat tanah pribadi pribadi ke PNPM Mandiri Rp 300 juta untuk melunasi pinjaman di BK3D, dan sebagian lainnya untuk menambah permodalan lembaga,” urai aktivis yang tidak ingin lembaga yang dibidani dan dirawatnya dengan susah payah, hancur dan tinggal nama.Ketiga orang yang menyalahgunakan lembaga untuk kepentingan pribadi dikeluarkan, dan dihitung semua yang menjadi tanggung jawabnya harus dikembalikan.Agar lembaga menjadi sehat anggota yang pinjamannya macet juga dikeluarkan dengan catatan, harus melunasi semua pinjaman.

Dengan perjuangan yang ribet, tidak semua umat gereja mau terlibat dalam kegiatan CU, maka perkembangan CU Dharma Bakti juga mengalami kesulitan.Belajar dari pengalaman, orang mau perecaya bila terlihat kenyataannya – hasilnya. Ketika ada porto folio, orang baru percaya. Dengan kegigihan Theresia Tin Sunardi simpanan pokok Rp 250,- dan simapan wajib Rp 100,- terus dikembangkan. Setia dengan hal-hal kecil, manfaatnya akan datang kemudian. Kalau tidak didukung oleh sikap mental yang baik untuk membangun kebersamaan, tidak mungkin kumpulan yang kecil-kecil itu akan menjadi besar seperti sekarang ini.

Sekarang simpanan pokok Rp 100.000,- simpanan wajib Rp 20.000,-  Karena setia dengan yang kecil, akhirnya menjadi besar. Saat ini merekrut anggota dengan simpanan pokok Rp 1 juta tidak terlalu sulit.Mengumpulkan dari sedikit demi sedikit menjadi banyak,tidak mudah – sulit dilakukan.Rintangannya banyak sekali, baik dari dalam maupun dari luar.Dari dalam, antar komunitas gereja sendiri sulit.Buktinya, dalam satu paroki, yang menjadi anggota CU Dharma Bakti belum semua.Justru yang terbanyak, sekitar 65% adalah saudara-saudara kita dari non katolik. Bahkan yang dari umat kristen hanya 35%. Selebihnya umat lain, terutama saudara kita umat Muslim.

“Yang membanggakan khususnya bagi pengurus dan pengelola KSP CU Dharma Bakti, ada pengakuan umat dari luar gereja, mereka mengatakan; ‘orang katolik itu hebat.Mereka mampu membuat sesuatu dari kecil menjadi besar, dan bisa dibanggakan’.“Kalau kita setia terhadap hal-hal yang kecil, kita akan dipercaya untuk menyelesaikan hal-hal besar.Itu yang kami alami dan dapatkan dari kegiatan-kegiatan ini,” tutur Yosef F Semena.

Dari instansi pemerintah pun untuk memberikan badan hukum, membutuhkan proses dan waktu cukup lama, tidak semudah yang kita bayangkan. Setelah Th Tin Sunardi memperjuangan dan membangun silahturahmi dengan pemerintah, akhirnya semua mencair.Legalitas dari pemerintah pun muncul.KSP CU Dharma Bakti baru mendapat badan hukum pada tahun 1999 No.45/BH/DK/III/1999.Itu berarti tantangan yang dihadapi tidak hanya dari dalam, tetapi juga dari luar.

Ketika Yosef bergabung di KSP CU Dharma Bakti tahun 2003, asetnya waktu itu baru Rp 300.000.000,- (1981 – 2003) karena memang mengumpulkan yang kecil-kecil itu tidak mudah. Ketika dipercaya mengelola gerakkan Dharma Bakti sebagai General Manager (GM) Yosef punya permintaan; “Koperasi ini harus dibuat system akuntansi yang modern.Harus menggunakan IT agar lebih dipercaya banyak orang.”Kalau manual, tidak membuat orang lebih percaya.”Karena persyaratannyadisetujui, Yosef menjadi garda terdepan dalam menangani manajemen.Dia pun bersyukur KSP CU Dharma Bakti terus berkembang, anggotanya sudah mencapai 5600 orang.

Membangun lembaga keuangan bukan bank memang tidak mudah. Mereka mengatakan, menabung di bank saja susah, bagaimana menabung di CU – koperasi. Itu image masyarakat. Faktor lain, terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang paham tentang gerakan CU. Banyak orang kenal CU tetapi yang paham secara detail tidak banyak. Visi misi CU jelas, membangun lembaga keuangan modern, swadaya, solidaritas dan legal. Membangun lembaga keuangan ke depan yang betul-betul solit, kendalanya tidak sedikit. Di Jawa pada umumnya, pemahaman masyarakat tentang CU sangat berbeda dengan di luar Jawa.Di luar Jawa, kedekatan dan toleransinya relative tinggi.

Di Jawa,kata Yosef, soal suku bunga saja sering dikaitkan dengan riba, dan haram hukumnya. Jalan keluar untuk menjelaskan tentang riba, ada pakarnya.“Kami menjalin silahturahmi dengan tokoh muslim – Ustadz yang bisa menjelaskan dan memberikan pemahaman tentang bunga. Di koperasi, istilahnya bukan bunga, tetapi jasa.Pengertiannya, memberikan penghargaan atas pengorbanan anggota itu sendiri.Karena itu, namanya jasa pinjaman, bukan bunga pinjaman. Ketika bahasa – istilah diperhalus, akhirnya umatmuslimmakin percaya. Sehingga ada kecenderungan komunitas di luar gereja semakin banyak yang bergabung.

Keterlibatantokoh muslim dalam gerakkan KSP CU Dharma Bakti memang belum banyak. Tetapi pengaruhnya sangat positif.Ada salah seorang ustad, yang kebetulan humas di kelurahan, setiap sawalan diundang untuk memberikan tausiah. Dia diberi kepercayaan untuk membangun silaturahim dengan umat muslim, akhirnya makin banyak umat muslim yang masukmenjadi anggota KSP CU Dharma Bakti. “Pak Ustadz sendiri telah menjadi anggota CU Dharma Bakti sehingga menjadi jembatan dengan umat muslim lainnya. Dia kalau tausiah ke mana-mana selalu menyelipkan tentang manfaat ber-CU. Menjadi anggota CU Dharma Bakti itu ada dana sosial, ada proteksi simpanan maupun pinjaman. Dana sosialnya, jika anggota dipanggil Tuhan ada layatan – dana duka Rp 3 juta.

Setiap tahun KSP CU Dharma Bakti selalu menyelenggarakan sawalan untuk bersilahturahim, saling maaf memaafkan.Ini adalah salah satu bentuk ungkapan kepada masyarakat bahwa CU tidak membeda-bedakan.CU tidak berbicara agama, CU tidak berbicara suku, CU tidak berbicara politik.CU berbicara tentang kesejahteraan anggota.Dengan melakukan kegiatan sawalan itu implementasi kebersamaan.Dan Pak Ustad selalu datang memberikan tausiah tentang manfaat membangun lembaga keuangan ini sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi, baik ekonomi keluarga maupun ekonomi makro. Jika dari keluarga sudah mampu membangun lembaga keuangan yang baik, ke depan tidak akan mengalami persoalan lagi yang serius.

Anggota lain yang juga besar pengaruhnya terhadap masyarakat masuk menjadi anggota CU Dharma Bakti adalah orang nomor 2 di Kabupaten Sleman, yang tidak lain adalah Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun, M.Kes yang sebelumnya dikenal sebagai bidan dan pengusaha Jasa Kesehatan. Sebelum terpilih sebagai Wakil Bupati Sleman periode 2017 – 2022 berpasangan dengan Bupati Drs H Sri Purnomo,M.Si, wanita energik yang terjun ke panggung politik melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu sebagai anggota DPRD Sleman.

Adanya tokoh-tokoh muslim menjadi anggota CU Dharma Bakti dampaknya sangat positif.Perkembangan anggota sekitar 30% – 40% per tahun.Sementara berjuang di internal lingkungan gereja sendiri sulit.“Kami sangat bersyukur ada saudara kita umat muslim yang mau mengajak saudara-saudara lainnya masuk menjadi anggota Dharma Bakti. Pastor paroki selalu mendukung keberadaan CU, tetapi pilihan umat itu berbeda-beda. Pastor hanya sekedar menghimbau, mereka mau masuk CU atau tidak, tergantung suara hati umat sendiri,” urai Yosef.

Promosi secara tidak langsung, kata Yosef, dilakukan seperti penyerahan dana sosial saat layatan – bela duka. Tetapi semau tergantung pada pilihan masyarakat itu sendiri.Khususnyan umat gereja.Dalam satu paroki (Mlati),yang menjadi anggota CU Dharma Bakti belum lebih dari 15%.Ini menjadi tantangan berat, karena CU lahir dari lingkungan gereja, namun umat gereja kurang meresponnya.Tantangannya saat ini, justru ke internal umat gereja sendiri. Ada pemahaman yang berbeda,terutama orang yang masih muda, susah menerima masukan dari orang lain. Kecenderungannya, lihat kenyataannya dahulu baru percaya. Begitu terjadi pada keluarganya, misalnya, menerima dana layatan, baru dia percaya dan masuk menjadi anggota. Menurut Yosef, meyakinkan saudara sendiri itu lebih susah dibandingkan meyakinkan orang lain.

Salah satu cara agar jumlah anggota tidak berkurang karena meninggal dunia, lembaga – organisasi menetapkan, dan didukung anggota, setiap ada anggota yang meninggal dunia,ahliwaris yang menerima dana layatan – bela duka, wajib menjadi anggota. “Walau menjadi anggota CU itu sukarela, namun ada kesepakatan yang mengikat, jika anggota dipanggil Tuhan,ahliwaris wajib menggantikan. Uang lawatan Rp 3 juta langsung dipotong Rp 300.000,- agar salah satu ahliwaris menjadi anggota.Sehingga naik turunnya jumlah anggota tidak menjadi krusial.Ini memang hanya merupakan kebijakan internal lembaga yang telah disepakati oleh anggota. Hal seperti ini di KSP CU yang lain belum tentu ada,” kata Yosep tentang kiatnya untuk menjaga stabilitas keanggotaan.

Peran Romo Slamet sebagai Pastor Kepaladi Paroki Mlati, lanjut Yosep, luar biasa.Imam yang satu ini sangat senang membangun pemberdayaan ekonomi umat.Dia memberi contoh terlebih dahulu, baru umat diberdayakan.Contoh, tentang berternak kambing etawa, Romo Slamet membelikan kambing etawa untuk dipelihara keluarganya sebagai pilot proyek.Setelah diketahui bisnis ternak kambing etawa potensinya luar biasa, umat dan tetangga dekat diarahkan untuk menjadi peternak kambing etawa.Seperti teori melempar batu ke dalam air, ketika batu jatuh, gelombang – riaknya semakin melebar dan semakin jauh.Begitu pula kabar baik pemberdayaan kambing etawa yang dilakukan Romo Slamet, kini meluas ke berbagai desa, sehingga banyak warga – umat makin sejahtera.

Anak-anak muda yang telah mempersiapkan pernikahan dibukakan rekening tabungan Simpanan Pendidikan di CU Dharma Bakti bagi anak-anak yang akan dilahirkan kelak. Jadi, seluruh pasangan calon pengantin disuruh menjadi anggota CU, buka rekening atas nama Romo Slamet. Kalau anaknya sudah lahir dan mau sekolah, tabungannya tinggal ambil di CU, dan tidak perlu sepengetahuan Romo Slamet. Imam muda gembala umat nanenergik itu memang mempunyai perhatian luar biasa terhadap pengembangan ekonomi umat.

Kepada umat juga diajarkan bagaimana menabung yang baik.Ada yang bilang; “Jangankan untuk menabung, untuk makan saja tidak cukup.”Pola pikir itu yang harus diubah.Menabung, bukan setelah ada kelebihan atau sisa dari penghasilan – gaji.Penghasilan – gaji itu harus disisihkan terlebih dahulu untuk ditabung.Selebihnya untuk memenuhi kebutuhan utama seperti; makan, minum, pakaian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.Jadi, kebutuhan yang npenting-penting harus diindentifikasi terlebih dahulu.Menabung tidak harus banyak, namunharus rutin.Jika penghasilannya mingguan, menabungnya setiap minggu.Jika dapat uangnya harian, menabungnya juga setiap hari.“Pola pikir seperti itulah yang harus ditanamkan oleh gerakkan CU,” tegas Yosef.Sayangnya, lanjut Yosef, penjelasannya tidak sampai pada melek keuangan.Merubah pola pikir yang salah itulah tugas yang harus dilakukan oleh pengelola CU.

KSP CU Dharma Bakti yang memulai dari kecil-kecil, sekarang sudah menjadi besar dan memiliki kantor pusat cukup megah, dan 4 kantor pelayanan lainnya. Yang dilakukan CU saat ini adalah mensuport para anggota yang sudah punya usaha.Yosef mengakui, belum seperti yang dilakukan oleh Romo Slamet, memberdayaakan dari awal dengan terobsan baru.“Kami melakukan suport anggota yang sudah punya kegiatan usaha, misalnya, beternak babi, untuk menambah ternaknya mereka pinjam ke CU, tidak pinjam ke bank. Ada juga mereka yang usaha membuat tempe atau tahu.Karena didukung dengan permodalan,yang awalnya beromzet kecil sekarang menjadi banyak.Hal-halseperti ini yang dilakukan CU Dharma Bakti, belum membuat terobosan besar,” jelas Yosef berterus terang.

Bukan juga sama sekali tidak ada pengembangan baru. Yang dilakukan CU Dharma Bakti, menjalin kemitraan dengan Yayasan BIRU, mengembangkan biogas untuk kebutuhan rumah tangga dengan energy terbarukan, memanfaatkan kotoran hewan; kotoran babi, kotoran sapi.Dengan hal yang baru ini akhirnya orang berfikir, ooh…., bergabung di CU itu ada manfaatnya.Rintisan mengolah kotoran hewan menghasilkan biogas dan pupuk tanaman baru dimulai tahujn 2016 silam.Di Sleman baru ada 6 anggota yang mengolah kotoran hewan untuk biogas dan pupuk organik.Namun sudah dikembangkan pula di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Kabupaten Manggarai.(mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *