Ketika Orang-Orang Miskin Dipersatukan

Secara spiritual, dalam iman Katolik, Pintu Air diartikan Yesus. Dalam Alkitab, Yesus berkata; “Akulah pintu, barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.” (Yoh. 10:9 ). Dan, “Akulah air kehidupan, barang siapa minum air dari padaKu, ia tidak akan haus untuk selamanya.” (Yoh.4:14 ). Bagi yang percaya kepada Yesus, tidak ada yang mustahil, semua bisa terjadi.

Dan air kehidupan itu telah mengalir sejak 24 tahun silam, tepatnya 1 April 1995, dari Pintu Air di Dusun Rotat, sebuah dusun terpencil di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski Dusun Rotat letaknya cukup jauh dari Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, namun air kehidupan itu terus mengalir sampai jauh, melampaui Bengawan Solo, yang oleh maestro keroncong, Gesang, diceritakan akhirnya ke laut.

NTT bukanlah “Negeri Tetap Tertinggal”, melainkan “Negeri Tanah Terjanji”. NTT adalah salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kaya raya dalam berbagai sektor kehidupan. Negeri ini seperti kata Koes Plus dalam syair lagunya: “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Alam ini tinggal kita olah, batu, tanah, dan air bisa jadi uang. Kita harus mengubah cara pandang untuk melihat negeri sendiri sebagai negeri yang kaya dengan pola pikir; gotong royong, semangat juang, kerja keras, batu, tanah, air, hutan, laut, ikan, cadas, dan karang sekalipun merupakan investasi yang tak ternilai, dan tidak pernah habis. Kalau kita mau menggalinya, di dalam perut bumi NTT ada harta karun melimpah.

Dengan usianya yang semakin dewasa, Tri Windu, sebagai sebuah lembaga ekonomi kerakyatan, dengan mazab Koperasi Simpan Pinjam (KSP) – Koperasi Kredit (Kopdit) Kopdit Pintu Air yang semakin popular dengan sebutan baru Kopdit Pintar, benar-benar pintar merebut hati orang-orang kecil seperti; nelayan, petani, peternak, buruh (NTTB) dan pedagang kecil lainnya. Terbukti, sampai minggu ke-2 Maret 2019 Kopdit Pintar telah mampu menghimpun 221.222 anggota yang sebagian terbesar adalah dari kelompok NTTB. Anggota Kopdit Pintar 90% berasal dari masyarakat miskin, orang-orang dusun.

Kalau pada akhir tahun buku 2018 aset lembaga baru sebesar Rp 918 miliar, namun aset tersebut terus meningkat, dan sampai triwulan pertama tahun 2019 telah mencapai Rp 1 triliun lebih. Targetnya, tahun buku 2019 “harus” mencapai Rp 1,670 triliun. “Bukan ambisius, tetapi ambisi untuk meraih mimpi adalah optimisme,” begitu kata Ketua Kopdit Pintar, Yakobus Jano, ketika berbincang dengan Majalah UKM setahun silam, dan itu akan tetap berlaku terus sampai kapanpun. Sebab, tanpa ambisi dan optimisme, tidak mungkin mimpi – cita cita itu akan tercapai.

Keberhasilan itu tercermin pula dari terselesaikannya pembangunan gedung megah tiga lantai sebagai Kantor Pusat Kopdit Pintar di tanah kelahirannya, Dusun Rotat, sekaligus sebagai Monumen Kepercayaan Anggota yang menghabiskan dana gotong-royong sebesar Rp 15 miliar. Rencananya, kantor pusat yang akan dijadikan pusat kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018 pada 4 April 2019, yang diawali kegiatan seminar, akan diresmikan oleh Gubernur NNT, pada 3 April 2019.

Dalam memberikan pelayanan kepada anggota Kopdit Pintar berpegang pada 3 hal pokok yaitu; menguntungkan, memuaskan, dan menyenangkan. Ketiga hal itu selalu menjadi yang terdepan. Adalah wajib hukumnya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada anggota. Karena maju mundurnya sebuah koperasi sangat bergantung pada anggota. Karena misinya adalah maju bersama, untung bersama, dan senang bersama. Tidak bisa setelah kita maju bersama lalu keuntugan atau profit itu hanya dinikmati oleh pengurus apalagi pendiri koperasi.

Meskipun Kopdit Pintu Air telah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia bukan berarti berjalan di atas permadani. Hal itu bisa diikuti dari pertumbuhannya, di mana saat didirikan 1 April 1995 jumlah pendiri 50 orang, kemudian tahun 1996 bertambah menjadi 74 orang, di tahun 1997 anggotanya menjadi 105 orang, tahun 1998 saat krisis melanda Indonesia pertambahan anggota lumayan banyak menjadi 164 orang, namun tahun 1999 hanya meningkat sedikit menjadi 185 orang, dan tahun 2000 baru mencapai 198 orang, kemudian tahun 2001 menjadi 232 orang dan tahun 2002 menjadi 329 orang.

Melihat perkembangan selama 7 tahun begitu lambat, maka dibuatlah rencana strategi (Renstra) jangka panjang 10 tahun, 2002 – 2012 jumlah anggota Kopdit Pintu Air harus mencapai 30.000 orang. Untuk itu dicetak selebaran dan pasang spanduk di mana-mana bahwa Kopdit Pintu Air tahun 2012 anggotanya akan mencapai 30.000. Banyak yang mengatakan; “terlalu ambisius”. Ada yang mengatakan, “gila”, logikanya tidak jalan. Selama 7 tahun anggota baru 329 orang, tetapi 10 tahun kemudian harus menjadi 30.000 orang.
Untuk mencapai mimpi, semua pengurus, pengawas. dan terutama manajemen dimotivasi, tetapi mereka ragu. Setiap orang punya impian, tekad Yakobus pun bulat. Mengutip firman Tuhan; “Imanmu sebesar biji sesawi, kamu akan pindahkan gunung ke laut.” Apa kata orang tak didengar, iman landasannya. “Jika mengandalkan Tuhan, merencanakan sesuatu harus di luar kemampuan manusia. Kenyataannya, terlampaui. Tahun 2012 anggota Kopdit Pintu Air mencapai 37.492 orang. Inilah kebesaran Tuhan. Dan pada 24 Agustus 2012 Kopdit Pintu Air memperoleh legalitas – badan hukum (BH) nomor; 02/PAD/BA/XXIX/VIII/2012.

Keberhasilan itu bukan karena doa semata, tetapi juga dibarengi kerja keras, kerja cerdas, disiplin, full time sampai malam, dan jujur. Sebelum bekerja, semua wajib berdoa. Karena banyak karyawan yang Muslim mereka berdoa secara Islam, dan yang Katolik berdoa secara Katolik. Dalam berkoperasi tidak dibeda-bedakan. Semua suku, dan semua umat beragama boleh menjadi anggota Kopdit Pintu Air.

Berkoperasi itu urusan kemanusiaan tidak menyebarkan agama. Yang namanya saling membantu, tidak membeda-bedakan; suku, agama, ras, antargolongan (Sara). Ketika sosialisasi, petugas lapangan juga masuk ke wilayah-wilayah yang mayoritas umat Muslim. Mereka sampai ke kampung-kampung, dan desa-desa terpencil. Ada yang mau masuk menjadi anggota bersyukur, karena itu yang diharapkan, tidak ada pun tak masalah. Yang penting kabar gembira telah disampaikan kepada masyarakat luas. Semua karena kuasa Tuhan, Kopdit Pintu Air disambut dengan suka cita. Setelah target 30.000 anggota terlampaui, mimpi baru pun bermunculan, misalnya; pingin punya swalayan, dan itu juga telah tercapai.

Selama tahun buku 2016, aktivitas utama Kopdit Pintu Air tetap pelayanan jasa keuangan. Prestasi kinerja diantaranya menempati ranking ke-4 nasional dalam jejaring Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Kalau pada tahun buku 2015 jumlah anggota baru mencapai 115.253 orang, menempati urutan ke-5 ranking Inkopdit, pada tahun buku 2016 meningkat menjadi 153.362 orang, dan ranking naik ke urutan 4 nasional. Untuk mendukung visi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) dengan target tahun 2020 total jumlah anggota 10 juta orang, maka Kopdit Pintu Air mematok target jumlah anggota tahun 2020 sebesar 550.000 orang. Namun saat ini, Maret 2019 baru tercapai 221.222 anggota.

Untuk mengembangkan jenis usaha, namun tetap bernaung di bawah bendera koperasi dalam RAT, diputuskan untuk mendirikan koperasi yang berbadan hukum Koperasi Serba Usaha (KSU), maka didirikanlah KSU Pintu Air Asia (PAS). Baik Kopdit Pintu Air maupun KSU PAS berstatus primer provinsi. Saat ini PAS yang beralamat di Jln. Diponegoro, Kota Uneng – Maumere, melayani warga sekitaran. Seperti kebanyakan Swalayan, KSU PAS juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan harga relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Karenanya KSU PAS juga menjadi pusat kulakan bagi anggota yang membuka warung kelontong di rumahnya. Terutama anggota yang jauh di pedesaan.

Dalam RAT tahun buku 2016, dilontarkan gagasan baru, sebelum ulang tahun ke-25 (2020) Kopdit Pintu Air sudah harus punya pesawat terbang. Pesawat tersebut untuk transportasi umum (komersial), bukan hanya untuk kepentingan Kopdit Pintu Air sendiri. Yakobus Jano menyadari, pasti ada yang sinis. Tetapi juga yakin, pasti ada yang merespon baik. Sebelumnya, mau beli kapal laut. Tanah di pinggir pantai untuk pelabuhan pun telah dibeli. Rencananya untuk pelayaran perintis melayani kawasan Indonesia Timur. Ternyata, bisnis transportasi laut itu sangat rumit. Urusan perizinan; izin bongkar muat, tidak mudah. Belum lagi soal keamanan dan pengelolaan kapal pun ribet. Relatif lebih simple bisnis transportasi udara. Pesawat tidak harus dikelola sendiri, tapi bisa bergabung dengan maskapai penerbangan yang sudah ada.

Yakobus mengaku, angan-angan awalnya sangat sederhana, agar kehidupan anggota lebih sejahtera, membangun rumah layak huni, anak-anaknya mengenyam pendidikan yang lebih baik, dan membangun ekonomi di daerah sendiri. Namun di dalam perjalanan juga harus melihat perkembangan dunia sesuai zamannya. Karena itu mulai berpikir ke arah seperti investor besar. Punya pesawat, punya kapal laut, punya usaha air minum dalam kemasan, maupun bisnis-bisnis lain yang bisa menghasilkan keuntungan bagi anggota. Walaupun sisa hasil usahanya (SHU) tidak besar. Karena itu, yang sifatnya bisnis semua diajak terlibat.
Menurut Yakobus, tahun 2016 merupakan tahun yang paling membanggakan, karena semua usaha berhasil. Keberhasilan membangun PAS, seperti mimpi di siang bolong. Keberhasilan membangun gedung 3 lantai dengan luas bangunan 15 meter x 40 meter, sesuatu yang luar biasa. “Bagi kami, yang orang kampung, kumpulan orang lumpuh, orang buta. Dengan Mata Si Lumpuh, Si Buta Bisa Melihat, dan Dengan Kaki Si Buta, Si Lumpuh Bisa Berjalan mencapai tujuan. Saya lihat, orang-orang kecil itu bangga punya swalayan sendiri, dan belanja di swalayan sendiri. Mereka bangga bisa bergotong-royong membangun kebersamaan,” tutur Yakobus.

Mengerjakan sesuatu harus fokus, dan yang telah direncanakan, harus berhasil terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan rencana yang lebih besar. Harus satu-satu, tidak boleh satu belum selesai menggarap yang lain. Itu bisa berbahaya. Kalau satu belum selesai sudah menggarap yang lain, itu boleh dikatakan “tidak waras”. “Kami juga harus hati-hati jangan sampai ada anggota yang akhirnya keluar atau minta dicoret tidak ikutan, karena merasa bebannya terlalu besar, satu belum selesai sudah diberi beban baru lagi,” jelasnya. Kopdit Pintu Air berupaya untuk membuka ruang kepedulian lebih lebar. Seperti air yang terus mengalir dan menghidupkan segala jenis tanaman.

Memberdayakan anggota adalah upaya menghapus stigma tak nyaman didengar telinga, masyarakat miskin. Pemberdayaan anggota yang sedang digalakkan adalah usaha penggemukan babi. Seekor babi anakan yang digemukkan dengan baik, dalam kurun waktu 4 bulan (120 hari) beratnya bisa mencapai 100 Kg. Usaha produktif, ternak babi untuk menjawab kebutuhan yang terus meningkat. Usaha penggemukan babi dengan pendampingan dari Kopdit Pintu Air, mengarahkan anggota dari cara beternak tradisional ke cara beternak modern dan profesional. Berternak babi, bagi masyarakat NTT sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Ternak babi secara tradisional pada umumnya tidak memperhitungkan untung rugi. Apalagi analisa usaha, hal yang dianggap tidak penting. Masyarakat memelihara babi hanya sebagai hobi dan tradisi. Meski waktunya lama, dan biayanya besar, tidak dipedulikan.

Bagi anggota yang ingin meningkatkan usaha ekonomi produktif, Kopdit Pintu Air menyiapkan dana pinjaman permodalan. Komponen biaya yang harus diperhitungkan adalah: anakan babi, pakan, kesehatan babi, administrasi kredit dan jasa pinjaman untuk 4 bulan. Apabila dana pinjaman setelah diperhitungkan dengan komponen pembiayaan masih punya kelebihan akan disimpan sebagai dana cadangan, dan bisa gunakan untuk pembelian tambahan pakan setelah usia 4 bulan andai belum terjual atau digunakan untuk modal tambahan pengembangan usaha berikutnya.

Dusun Rotat, boleh jadi hanya sebuah dusun kecil biasa-biasa saja, seandainya Kopdit Pintu Air gagal mengemban misinya membangun ekonomi rakyat berbasis kesetaraan dan kebersaman. Dari dusun kecil itu semangat berkoperasi menggelora untuk memperbaiki perekonomian masyarakat. Perubahan mulai terlihat ketika Yakobus turun langsung sebagai ‘motor’ penggerak. Awalnya, ia memang hanya bermain di balik layar (part-timer). Maklum kala itu masih berstatus pegawai Bank BRI. Saat memasuki masa pensiun, 2010, Yakobus melibatkan dirinya secara total (full-timer). Pengalaman panjang di perbankan menjadi modal besar bagi upaya menumbuhkan Kopdit Pintu Air.

Terbukti, pada puncak acara Harkopnas ke-68 di Kupang, 2015, koperasi ‘kampung’ itu mengejutkan banyak orang, karena berhasil meraih 3 penghargaan sekaligus, yaitu; Satyalencana Pembangunan Bidang Perkoperasian, Koperasi Berprestasi Nasional 2015, dan Koperasi Award 2015. Tak banyak koperasi yang dalam satu momen mendapat 3 penghargaan sekaligus. Juga pernah menerima penghargaan Indonesia Platinum Winner 2013 Best of the Best categori as the Best Service Excellent of the Year dari Rajasa Group. “Memperoleh penghargaan menjadi beban moril, kami harus bersatu, kerja keras, dan inovatif mengembangkan usaha. Semua pihak; pengurus, pengawas, dan manajemen tidak boleh terlena, harus terus kerja keras agar prestasi makin meningkat,” jelas Yakobus.
Kopdit Pintu Air yang semula hanya bergulat di Dusun Rotat dan Maumere, terus berkembang, di seantero NTT mulai dari; Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Alor, Lembata, Adonara, Larantuka, Mamuere, Paga, Masebewa, Watuneso, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Cancar, Lembor, hingga Labuan Bajo. Bahkan menyeberang ke Jawa Timur, DKI Jakarta dan Makasar, Sulawesi Selatan. Kini Kopdit Pintu Air telah menjadi Koperasi Primer Nasional.

Karena koperasi adalah milik anggota, maka anggota diwajibkan mengontrol pergerakan koperasi. Kontrol sosial dengan cara mengawasi perilaku pengelola, mulai dari kantor pusat sampai kelompok. Setiap bulan digelar pertemuan, dan anggota sebagai pemilik bisa menyampaikan hasil pengamatannya selama sebulan. Sehingga, bila ada kesalahan bisa langsung diperbaiki. (adit – mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *