Keuangan – Perbankan Syariah Harus Mampu Menjawab Isu Utama di Indonesia

Salah satu penyakit dari ekonomi konvensional adalah ketamakan dan kerakusan. Krisis 2008 di Amerika merupakan contoh dari ketamakan. Itulah yang kemudian muncul ekonomi Islam. Ekonomi yang diharapkan berbasis pada etika. Indonesia juga mempersiapkan, dan membangun ekonomi yang berbasis estetika, yaitu ekonomi syariah. Namun, besarnya jumlah penduduk Muslim di Indonesia sepertinya tidak berbanding lurus dengan perkembangan perbankan syariah di dalam negeri.

Hampir seperempat abad, tepatnya 24 tahun, bank syariah lahir di Indonesia hingga kini pangsa pasar perbankan syariah masih di bawah angka 5%. Apa yang membuat bank syariah tidak dipilih oleh masyarakat? Benarkah bank syariah kalah dalam berkompetisi? Padahal, sebelum 2023 bank syariah dituntut untuk mandiri, dan tak lagi bergantung pada bank induk. Dengan kondisi saat ini, sanggupkah bank syariah hidup di Negara dengan penduduk 200 juta umat Muslim, atau sekitar 85% dari jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 250 juta jiwa lebih.

Gambaran bank syariah dan perkembangannya di Indonesia berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memperlihatkan pangsa pasar atau pengguna bank syariah dibandingkan dengan bank umum.  Menurut data OJK, aset bank tahun 2015 untuk bank umum Rp61.32,5 triliun, sedangkan aset bank syariah hanya Rp213,4 triliun. Total aset perbankan dari tahun 2010 – 2014 juga tidak berubah banyak, hanya sekitar 4%. Bandingkan dengan Negara tetangga Malaysia, total banking aset dari tahun 2010 – 2014 relatif berkembang pesat, dari 17% menjadi 21,3%. Pertanyaannya, kalau Negara tetangga bisa, kenapa Indonesia tidak bisa?

Memang ironis, Indonesia yang memiliki penduduk beragama Islam terbesar di dunia, namun jumlah orang yang menggunakan perbankan syariah relatif kecil. Penetrasi bank syariah di Indonesia baru mencapai 3,7%, kurang dari 10% dari total perbankan. Sementara di Malaysia, sudah 21,3%, Bahrain 29,3%, Pakistan 10,4% dan di Saudi Arabia 51,2%. Kalau melihat data perbankan di Malaysia, ternyata yang menggunakan bank syariah di Malaysia bukan hanya umat Muslim. Sedikitnya 15% nasabah bank syariah di Malaysia adalah non Muslim. Artinya mereka percaya bahwa syariah itu baik adanya. Di Indonesia, pemerintah – Kementerian Agama saja menarik uang yang disimpan di bank syariah kemudian dipindahkan ke bank konvensional.

Kalau diperhatikan, Malaysia memang punya grand design dari awal ingin menjadi, tidak hanya Islamic Finance sebagai salah satu pilar utama dari sektor keuangan mereka, yang lebih penting lagi mereka memang sudah menargetkan Islamic Banking di Malaysia ingin menjadi global leader. Mereka melihat bahwa Islamic finance yang pada awalnya dari negara Arab, namun Malaysia melihat bahwa Negara-negara Arab tidak punya orientasi out box – keluar.  Malaysia sebagai Negara Islam yang modern mengadopsi apa yang berkembang di Negara Timur Tengah, kemudian dikembangkan secara besarbesar di Malaysia. Didukung penuh oleh pemerintah dan bank sentral sehingga cita-cita dari awal ingin menjadikan Malaysia sebagai Leader Global Islamic Finance – pemain kelas dunia menjadi kenyataan.

Bisnis syariah menurut kalangan perbankan modelnya harus pas. Menurut data hasil survey yang diselenggarakan oleh BI beberapa waktu yang lalu. Dalam data survey disebutkan bahwa nasabah bank syariah itu ada dua tipe. Pertama, loyalis, dan kedua flowting. Persoalannya, jumlah yang loyalis sedikit hanya 20%. Sedangkan yang flowting 80%. Untuk tipe kedua, nasabah hanya berpikir soal benefit – keuangan. Kendala yang dihadapi bank syariah, bagaimana memberikan pembiayaan dengan margin yang relative rendah. Kita tidak perlu malu untuk belajar dengan Malaysia, kenapa perkembangan keuangan – perbankan syariahnya berkembang cukup cepat.

Sebenarnya kita mempunyai pengalaman bagus, tahun 2008. Ketika terjadi krisis global, sistem keuangan konvensional mengalami masalah besar. Karena itu kita perlu melihat dan mendalami perbankan atau keuangan syariah agar dengan perbankan atau keuangan syariah semua transaksi keuangan harus jelas under line-nya. Karena itu kita berharap
keuangan Indonesia lebih berkembang lagi dengan sistem syariah. Kita juga ingin sistem keuangan – perbankan Indonesia jauh dari beresiko seperti yang terjadi pada tahun 2008. Sebenarnya, antusiasme masyarakat terhadap keuangan syariah  cukup besar.

Bank-muamalat2Dari sisi aturan, sejak hadirnya bank syariah pertama, Bank Mualamat Indonesia (BMI) tahun 1992, sebenarnya sudah sangat memadai. Antara lain; adamya perangkat Undang-undang (UU) tentang Perbankan Syariah. Juga ada peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, peraturtan dari Menteri Keuangan, peraturan dari OJK, ditambah lagi fatwa-fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI menjadi acuan beberapa negara lain, termasuk Malaysia. Hanya pemahaman yang belum merata di kalangan masyarakat mengenai perbankan syariah. Kalau perkembangan keuangan – perbankan syariah belum seperti yang diharapkan, inilah tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh pemangku kepentingan. Baik oleh pemerintaqh, kalangan perbankan, dan lain sebagainya.

Menurut para ekonom, komitmen pemerintah untuk membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) ke depan akan sangat besar perannya. Perkembangan ekonomi, keuangan dan perbankan syariah harus mampu menjawab isu utama di Indonesia. Isu utamanya adalah pembangunan, pengentasan kemiskinan, menekan jumlah pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja lebih luas. Untuk itu, pemerintah harus mendorong, dan fokus pada SUKUK dan Islamic Bond.

SUKUk – obligasi syariah yang sekarang dikuasai oleh pemerintah, ke depan diharapkan perusahaan-perusahaan juga bisa memilikinya. SUKUK sangat bermanfaat karena untuk kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), juga untuk membiayai defisit yang ada di APBN. Kita juga punya SUKUK riteil, sehingga bisa memperluas basis investor. Kita tahu, jumlah penduduk Indonesia sangat besar, butuh lapangan kerja semakin banyak. Karena itu kita butuh pengusaha, mulai mikro, kecil dan menengah (UMKM). Untuk memperkuat usahanya, UMKM membutuhkan akses keuangan yang mudah. Walau sudah ada akses mikro konvensional, karena sebagian besar umat Muslim, tidak ada salahnya jika mencoba micro finance syariah.

Tantangan lembaga keuangan syariah untuk bisa bersaing cukup berat karena yang dilihat oleh sebagian besar nasabah – konsumen Indoesia sangat pratical. Pertama mereka ingin melihat tingkat kepercayaan terhadap institusi keuangan itu sendiri. Termasuk institusi keuangan syariah. Kedua, mereka tentunya konsen dengan tingkat pengembaliannya. Kemudian yang ketiga tingkat pelayanan. Bila lembaga keuangan syariah ingin bersaing dengan yang konvensional, mereka harus mampu bersaing di ketiga hal tersebut. Yang harus dilakukan adalah memperbaiki daya saing mereka.  Pengembangan ekonomi syariah bukan hanya sekedar mengumpulkan zakat dan mendorong orang membayar zakat, tapi yang penting bagaimana mendistribusikan dan mendayagunakan zakat, sehingga orang yang membayar zakat bisa melihat manfaatnya untuk orang lain. (dm)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *