Kiat Eksis Bakso Azis

Kalau pergi ke Jln. K.H. Samanhudi,  Pasar Baru, Jakarta Pusat atau Jln. Abdul Muis, Tanah Abang, jangan lupa mampir ke Bakso Azis. Begitu pula jika berkunjung ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Jln. Imam Bonjol, Menteng, di sana ada kios  Bakso Azis, tapi lebih populer dengani nama Bakso Jangkung.

Pemiliknya sama, Azis dari Tegal. Yang jualan juga anak-anaknya. Lantaran di Kantor KPU Pusat ada pejabat namanya Azis, dan kebetulan anak Azis penjual bakso tubuhnya jangkung, maka dijadikan merk dagang, “bakso jangkung”. Walau belum sepopuler Bakso Lapangan Tembak atau Bakso Titoti, namun, setelah melalui perjalanan panjang, popularitas Bakso Azis kini mulai menyebar. Menurut Azis (65 thn.) pemiliknya, laki-laki asal Tegal, Jawa Tengah, mulai merintis usaha sebagai pedagang bakso pikulan sejak berusia 14 tahun. Meski usianya cukup lanjut, tetapi ia masih trengginas menjalankan usahanya.

Ketika itu, 1971 – 1972, Azis ikut pamannya, pedagang bakso yang tinggal di kawasan Karanganyar, Kelurahan Kartini, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Wilayah operasional mendorong gerobak bakso sekitaran Pasar Baru, Kartini, Karanganyar sampai Jln. Gajah Mada. Azis mengaku, terampil membuat bakso sendiri. Setelah bertahun-tahun jualan bakso keliling, tahun 1980 mangkal di Jln. Samanhudi, depan bioskop Globe, dekat Suptan Film. Karena pelanggannya banyak bintang film dan penonton film, Bakso Azis makin populer. “Para bintang film itu menjadi pelanggan sejak saya masih jualan keliling,” kenangnya.

Karena jualannya persis di seberang Suptan Film, banyak karyawan Suptan menjadi langganan. Jika ada pemutaran film baru, Azis juga sering dapat kesempatan nonton gratis. Pengelola Bioskop Globe juga sering memberi kesempatan kepada Azis nonton gratis. Perjalanan panjang, sejak masih bujang sebagai tukang bakso, berbuah manis. Keenam anaknya berhasil mmenyelesaikan kuliah, meski Azis sendiri mengaku sekolahnya tidak tinggi.

Bukan hanya bintang film pelanggannya, tetapi juga politisi dan pejabat. Jika ada acara di kantor mereka sering booking bakso Azis. Maka, Bakso Azis pun makin eksis. Azis mengaku, ketika Sutiyoso (Bang Yos) masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan Hj. Rini Sutiyoso selaku Ketua Tim Penggerak PKK, juga sering pesan bakso Azis. Dan yang lebih menggembirakan, Azis diberi kesempatan membuka outlet di gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta di Jln. Abdul Muis, Tanah Abang. Outlet tersebut dikelola oleh salah seorang anaknya.

Banyak kenalan dengan pejabat atau orang-orang penting, banyak hikmahnya. Misalnya, mudah dapat lokasi untuk berdagang. Lantaran kenal Wenny Muhayat, isteri Muhayat, Walikota Jakarta Pusat, sejak Wenny masih sekolah di Sekolah Keterampilan Keluarga Putri (SKKP) Pasar Baru, yang juga Ketua Deskranada DKI Jakarta, maka Azis dapat outlet di Dekranasda DKI Jakarta. Hebatnya, yang meresmikan outlet Bakso Azis di Dekranasda itu adalah isteri Bang Yos, Rini Sutiyoso. Sejak saat itu, Beberapa instansi di lingkungan Pemprov DKI Jakarta jika rapat memborong Bakso Azis.

Bakso Azis yang memiliki rasa khas, ada beberapa macam, yaitu; bakso lunak, bakso urat, bakso kacang, bakso telur ayam, bakso telur puyuh, dan bakso keju. Semua untuk memanjakan lidah pelanggan. Untuk mempertahankan kualitas rasa, Azis terus mencari masukan dari pelanggan. Ketika ada klaim dari pelanggan, itu dianggap sebagai masukan yang sangat berharga untuk meningkatkan kuaitas.

Dari 4 orang anak laki-laki dan 2 orang perempuan, semua menjadi bakul bakso. Padahal, mereka ada yang bergelar sarjana teknik sipil, sarjana teknologi informatika (IT). Anehnya, tak seorang pun yang tertarik menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Karena istrinya berlatar belakang Sekolah Pendidikan Guru (SPG), 2 putrinya lebih fokus pada dunia pendidikan. Yang bungsu mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Karena selama ini sudah terbiasa mengajar di PAUD, akhirnya memantapkan diri ambil jurusan PAUD, sambil tetap memenej dagang bakso,” ujar Azis.

Sebagai pedagang bakso, Azis tidak pernah menyangka bisa membiayai kuliah keenam anak-anaknya. Azis mengaku, ketika masih di kampung halaman, masih kecil, kedua orang tuanya tak memperbolehkan dia sekolah. Dia disuruh ‘ngenger’ angon kerbau pada salah seorang familinya. “Pernah sekolah sambil angon, usia 14 tahun ke  Jakarta ikut jualan bakso paman. Alhamdulillah, anak-anak bisa kuliah. Ini kebanggaan, hasil dari bakul bakso,” katanya penuh syukur. Dulu, katanya menambahkan, boro-boro sekolah, bisa makan kenyang saja sudah bersyukur.

Bahan Mentah Bisa dibandingkan

Kalau kita pergi ke Jl. KH.Samanhudi,  Pasar Baru, Jakarta Pusat atau Jl.Abdul Muis, Tanah Abang, jangan lupa mampir ke Bakso Azis. Begitu pula  kalau kita berkunjung ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Jl. Imam Bonjol, Menteng,  di sana ada kios  Bakso Azis, tapi lebih populer dengani nama Bakso Jangkung.

Lho, kenapa ? Kan pemiliknya sama, Pak Azis dari Tegal. Yang jualan juga anak-anaknya, kenapa ada bakso Azis dan Bakso Jangkung ? Pasalnya, di kantor KPU Pusat itu konon ada pejabat yang bernama Azis. Kebetulan, anak Pak Azis yang jualan di Kios Bakso itu tubuhnya jangkung, sehingga namanya populer dengan Bakso Jangkung. Demikian informasi yang didapat dari penggemar Bakso Azis di kantin gedung DPRD DKI Jakarta, Jl.Kebon Sirih, dan gedung KPU, Menteng, Jakarta Pusat.

Walau mungkin tak sepopuler Bakso Lapangan Tembak atau Bakso Titoti, tetapi popularitas Bakso Azis diraih setelah melalui perjalanan panjang. Menurut Pak Azis (65) pemiliknya, laki-laki asal Tegal itu mulai merintis usahanya sebagai pedagang bakso pikulan sejak berusia 14 tahun. Kini, usianya  sudah mendekati 70 tahun. Tetapi ia masih trengginas menjalankan usahanya.

“ Ketika itu, saya ikut paman yang tinggal di walayah Karanganyar, Kelurahan Kartini, Pasar Baru, Jakarta Pusat ayng membuka usaha bakso. Wilayah operasional saya, selain Pasar Baru, Kartini, Karanganyar sampai Jl.Gajahmada sekitar tahun 1871-1972. Setelah itu, membuat bakso dan menjual bakso sendiri. Seiring perkembangan jaman, lalu saya jualan bakso pakai gerobak,“ kata Pak Azis mengawali kisahnya.

Setelah bertahun-tahun jualan bakso keliling,  pada tahun 1980 dapat tempat mangkal di Jl.Samanhudi, di depan gedung bioskop Globe dan dekat dengan perusahaan film, PT. Suptan Film. Sejak saat itu, Bakso Azis makin populer. Karena pembelinya bintang film dan penonton biskop. “Orang-orang film itu sudah menjadi langganan bakso saya sewaktu masih mikul keliling. Bahkan, kadang mereka kecewa karena tak kebagian bakso saya,” kenangnya.

Karena jualannya persis diseberang PT Suptan Film dan karyawannya banyak yang menjadi langganannya, jika ada pemutaran film baru atau film bagus, Pak Azis juga dapat kesempatan nonton film gratis. Bahkan sering diajak nonton priview film sebelum film itu diputar di bioskop. Demikian pula kalau ada film-film bagus, pengelola Bioskop Globe juga sering memberi kesempatan kepadanya untuk nonton.

“Wah, perjalanan usaha ini cukup panjang. Dari masih bujangan sampai enam orang anak-anak saya  sudah berhasil menyelesaikan  kuliahnya,” imbuhya sambil meracik bakso untuk pelanggan.

Bukan hanya orang-orang film  pelanggannya, tetapi juga politisi dan prjabat. Karena pelanggannya banyak pejabat, lama kelamaan baksonya sering  di booking untuk acara kantor dan beberapa hotel. Sejak saat itu, Bakso Azis semakin eksis. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Mayjen (Purn) Sutiyoso dan istrinya, Hj.Rini Sutiyoso selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta waktu itu  pun menjadi langganan tetapnya. Pak Azis mengaku, baksonya sering dibooking.

“Dalam  suatu acara PKK di Wali Kota Jakarta Pusat, Bu Rini Sutiyoso bertanya, di mana lokasi usaha bakso saya. Saya bilang, di Jl. Samanhudi Pasar Baru,. lalu beliau menawarkan, apakah saya mau membuka outlet di gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta di Jl. Abdul Muis, Tanah Abang.  Tawaran itu saya terima dan sampai sekarang, outltet Bakson Azis ada di situ. Nama populernya bukan Bakso Azis, tetapi Bakso Abdul Muis yang dikelola salah seorang anak saya;. Satu lagi outlet saya di Kantor KPU Pusat, Jl.Imam Bonjol, Menteng, tapi lebih populer dengan nama Bakso Jangkung. Dulu memang pake nama Bakso Azis, tetapi karena salah seorang pejabat di KPU Pusat itu ada yang bernama Azis, akhirnys disuruh ganti namanya menjadi  Bakso Jangkung. Apalah artinya nama, yang terpenting adalah rasa,” urai Pak Azis.

Banyak hikmahnya

Banyak kenalan pejabat teryata banyak hikmahnya bagi Pak Azis. Karena itu, ia sering memperoleh kumudahan untuk lokasi berdagang. Demikisn puls kemudshsn ysng diperoleh di Kantor Dekranasda DKI Jakarta di Jl.Abdul Muis, karena berkat kenal dekatnya dengan Ibu Wenny Muhayat (Isteri Wali Kota Jakarta Pusat, H Muhayat) sejak masih sekolah di Sekolah Keterampialn Keluarga Putri (SKKP) Pasar Baru. Karaena waktu itu Ibu Wenny  kebetulan juga menjadi Ketua Dekranasda DKI Jakarta.

“ Kebetulan, rumahnya juga tidak jauh dari rumah saya. Tetapi yang memberi rekomendasi Bu Rini Sutiyoso. Waktu pembukaan, Bu Rini yang membuka didampingi Bu Wenny serta sejumoah pengurus PKK Provinsi DKI Jakarta lainnya. Termasuk Ibu Tati Fauzi Bowo,”  kenangnya.

Sejak itu pula, beberapa instansi di Lingkungan Pemprov DKI Jakarta kalau rapat memborong Bakso Azis. Beberapa pejabat yang menjadi pelanggan Bakso Azis di Kantin DPRD menyebutkan, Bakso Aziz memiliki rasa yang khas. Bahkan Pak Azis menyediakan berbagai jenis bakso. Dari bakso lunak, bakso urat, bakso kacang, telur ayam, bakso telur puyuh, sampai bakso keju.

“ Ini saya produksi sesuai dengan selera konsumen. Tapi tetap mengutamakan  rasa. Untuk mempertahankan kualitas, saya terus melakukan berbagai survei. Klaim dari konsumen, merupakan masukan paling berharga buat kami untuk meningkatkan kuaitas pelayanan,” ujarnya.

Semua  bakul bakso

Dari empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuannya, semua menjadi bakul bakso. Padahal, mereka ada yang punya latar belakang sebagai sarjana teknik sipil, sarjana teknologi informatika (IT), dan sebagainya. Anehnya, tak seorang pun yang tertarik untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Karena  istrinya punya latar belakang  Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dua orang putrinya lebih fokus pada dunia pendidik. Yang bungsu mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“ Selama ini, ia memang sudah terbiasa mengajar di PAUD. Akhirnya memantapkan diri ambil jurusan PAUD, walau tetap ikut nemanage usaha dagang bakso,” ujar Pak Azis.

Walau eksis dagang bakso, Pak Azis tak pernah menyangka bisa membiayai kuliah keenam anak-anaknya. Apalagi ketika masih di kampung halamannya, kedua orang tuanya tak memperbolehkan dia sekolah. Bahkan dia disuruh ‘ngenger’ angon kerbau pada salah seorang familinya.

“Pernah sekolah sambil angon kerbau. Umur 14 tahun ke  Jakarta ikut jualan bakso paman sampai sekarang. Tapi alhamdulillah, anak-anak saya bisa mengenyam pendidikann tinggi. Ini kebanggaan tersendiri. Hasil dari bakul bakso. Berbeda dengan zaman muda saya. Mau sekolah saja orang tua tidak kasih. Terpaksa buruh angon kerbau milik saudara. Boro-boro bisa sekolah, bisa makan kenyang saja sudah bersyukur,,” kenangnya.

Ketika sudah buka usaha bakso sendiri, salah seorang adiknya pernah ikut berjualan bakso sambil sekolah. Suatu ketika, PT Pilkita mencari siswa  berprestasi untuk menerima beasiswa. Kebetulan, adiknya selalu meraih ranking terbaik disekolahnya.

“ Saya bilang, jangan sia-siakan kesempatan baik itu. Akhirnya, dia memperoleh beasiswa sampai perguruan tinggi. Setelah lulus,  salah seorang pimpinan KPU punya usaha catering. Lalu dia bekerja di catering itu. Karena dia anaknya  cerdas dan serba bisa, dan IP-nya tinggi suatu ketika ada yang  menemui dia dan bertanya, mau jadi pengusaha atau mau bekerja. Karena dia menjawab ingin bekerja, akhirnya masuk jadi pegawai KPU Pusat hingga sekarang. Itu sebabnya, sambil bekerja dia membuka outlet bakso, walau sekarang yang jaga anak saya. Itu semua hikmah dan hidayah dari Allah melalui dagang bakso,” kelakarnyaa. (sutarwadi k)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *