Kiat Sukses Berwirausaha

Banyak bisnis yang dibangun dengan cara tradisional yang akhirnya sukses dan bertahan puluhan tahun. Sebaliknya, banyak pula bisnis yang dibangun dengan cara modern yang akhirnya sukses besar di awal, tetapi mati dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bisnis yang bisa bertahan lama membutuhkan kesabaran dan keistiqomahan. Tentunya semua orang berharap bisnisnya bisa bertumbuh cepat dan bertahan lama. Silakan Anda memacu motor Anda dengan kencang, tetapi Anda harus senantiasa menyiapkan jempol kaki kanan Anda di atas rem.

Seorang anak manusia dilahirkan ke dunia. Mulai bayi hingga baligh belum bisa mandiri, tidak bisa menghidupi diri sendiri. Bahkan pada usia segini sangat rawan terkena penyakit. Sehingga butuh perhatian dan penjagaan yang ekstra, ASI yang cukup, dan asupan gizi yang memadai, kemudian disekolahkan. Baru setelah dewasa mulai bisa mandiri menghidupi dirinya, bahkan bisa mensuplai kebutuhan orang tua dan keluarganya.

Nah, membangun bisnis seyogianya seperti halnya memelihara anak. Saat usaha Anda baru lahir (awal berdiri), jangan terburu-buru untuk diharapkan hasilnya (untungnya). Butuh pembiayaan dan investasi jangka panjang. Panjangnya waktu pemeliharaan akan sebanding dengan umur usaha tersebut.
Pada saat Sugito berumur 13 tahun, dia mulai belajar mencari uang jajannya sendiri. Istilah kerennya berbisnis, jualan kue. Kala itu Sugito baru duduk di kelas 2 SMP swasta. Karena sekolahnya masih “nebeng”, masuk siang, pagi untuk SD. Sebelum fajar menyingsing Sugito sudah bergegas kulakan kue ke Pasar Purwosari, kurang lebih 2 Km dari rumahnya. Modalnya hanya Rp35.000,- dari uang tabungan selama 1 tahun. Setiap hari dia mendapat keuntungan bersih Rp2.500,- – Rp3.000,- dan setiap hari pula dia menabung secara rutin Rp2.000,- sebagai persiapan untuk menambah modal.

Keseriusan Sugito dalam merintis bisnis memang luar biasa. Usaha yang ditekuni mendapatkan dukungan dari kakak sulungnya Sugiarti yang duduk di Kelas III SMK. Sugiarti yang kebetulan mengambil jurusan Tata Boga, mempraktikkan ilmu yang dipelajari membuat kue sendiri dengan inovasi, resep baru. Singkat cerita, bahu membahu kakak beradik itu terus berkembang, sampai mereka bisa menyewa kios kecil di pasar tempat Sugito kulakan. Karena terus berinovasi, pelanggannya makin hari terus bertambah. Artinya, produktivitas terus meningkat. Dengan demikian, usaha kecil bisa berkembang besar.

Kisah sukses pengusaha kecil itu harus menjadi contoh untuk memotivasi pengembangan kewirausahaan. Usaha kecil itu bisa menjadi model bagi pengembangan kewirausahaan yang produktif, untuk mendorong lebih banyak lagi industri baru.
Dengan berpikir kreatif, tercipta peluang usaha baru yang inovatif. Serangkaian kata inilah yang menggambarkan kesuksesan Dewi Lestari dalam menjalankan bisnis Batik Nusantara. Memilik posisi mapan di sebuah perusahaan besar ternyata tidak membuat Dewi, S1 lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jurusan Ekonomi itu merasa tidak nyaman dengan segala rutinitasnya. Dewi memilih mundur dari jabatannya saat itu, manajer produksi, dan memutuskan untuk memulai bisnis batik tulis di tahun 2009 silam.

Kisah sukses Dewi itu diawali ketika ia pulang ke kampung halamannya, Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, dan tak sengaja bertemu dengan Yesi, teman sekolahnya di SMP dulu. Kebetulan Yesi, anak tunggal juragan batik, Sukasno, melanjutkan usaha orang tuanya. Dewi yang pada dasarnya memiliki passion di bidang seni mulai tertarik untuk membangun kerja sama dengan Yesi. Bermodalkan uang Rp75 juta Dewi menyewa sebuah rumah di bilangan Pondok Gede, Jakarta Timur. Rumah yang dikontrak 2 tahun seharga Rp35 juta itu dijadikan Galeri Batik Nusantara. Namanya juga kerja sama dengan sobat lama, semua batik yang dipajang, barang titipan. Yesi dan Dewi sepakat, hanya batik tulis yang dijual. Sebulan penuh sejak dibuka 2 Mei 2009, hanya laku 3 potong kain kebaya senilai Rp1,5 juta.

Mengusung Batik Tulis Nusantara, awalnya memang berat mendapatkan pelanggan. Sampai 6 bulan pertama konsumen yang datang sehari kadang hanya 5 – 10 orang. Itu pun belum tentu semua beli. Baru jelang akhir tahun yang datang lumayan banyak. Itu setelah ada promosi mengundang teman-temannya sekantor dulu, makan-makan sambil karaokean. Kini, Galeri Batik Nusantara yang tidak hanya diisi batik tulis gaya Sragenan, tetapi juga batik-batik tulis dari daerah lain semakin ramai dikunjungi pelanggan. Soal kualitas dan keaslian batik tulis dijamin 100%. Itu pula yang membuat pelanggan tidak ragu dan puas. Pilihan hanya menyediakan batik tulis, merupakan kejelian Dewi dan Yesi, sekaligus menguri-uri budaya tradisional, yang menghantarkannya menjadi jutawan.

Tartini pernah mengalami segala macam masalah hidup. Namun, dari sanalah ibu 2 orang anak ini menempa diri sehingga bisa seperti sekarang, menjadi pelaku usaha yang mampu menghidupi orang di sekelilingnya. Perjalanan Tartini menjadi pengusaha jamu herbal berawal dari beragam cobaan hidup yang dia alami. Kisah Tartini membuat mata terbuka bahwa Tuhan sebenarnya selalu punya rencana di balik masalah demi masalah yang ditimpakan kepada umatnya. Tartini merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perusahaan yang telah mempekerjakannya selama 9 tahun gulung tikar pada 1999 lantaran diterjang krisis ekonomi global. PHK itu sekaligus menjadi akhir dari petualangannya sebagai karyawan 19 tahun. Sosok yang tegar ini bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain karena tuntutan ekonomi. Waktu terkena PHK dia benar-benar kebingungan karena masih punya tanggung jawab yang harus dituntaskan.

Tartini dikenal sebagai sosok yang peduli dengan kehidupan saudaranya. Uang hasil jerih payahnya bekerja sebagian digunakan untuk membantu pendidikan adik-adiknya. Dia rela mengorbankan kuliahnya demi melihat kakak dan adik-adiknya berhasil dalam pendidikan. Dia lebih baik mengalah asal mereka bisa menyelesaikan kuliahnya.

Di tengah kegamangan menghadapi cobaan hidup tersebut Tarti memutuskan mulai meracik jahe merah, resep yang dipelajarinya dari buku. Hasil racikan pertama dinikmati sendiri. Racikan berikutnya dibagi dengan tetangga kanan kiri. Dia sengaja tidak bilang kalau racikan jahe merah instan itu hasil produksinya. Karena tetangga memberi komentar enak – segerrrr, diam-diam racikannya ditambah. Tarti baru berani memperkenalkan hasil produksinya kepada tetangga secara terbuka ketika ada arisan di rumahnya.

Usahanya menunjukkan perkembangan positif ketika dia bekerja sama dengan warung-warung kopi pinggir jalan. Dia tidak merasa lelah untuk keliling mencari warung baru yang banyak pengunjungnya. Targetnya, setiap hari minimal harus bertambah 5 warung baru. Dengan menghitung setiap hari satu warung laku minimal 10 bungkus, maka perkembangannya menjadi deret ukur. Kini Tartini telah mempekerjakan 25 orang untuk produksi, dan 5 orang untuk pemasaran. Karena dia merasakan sakitnya kena PHK, dia berjanji tidak akan pernah berpikir untuk mem-PHK karyawannya.

Di saat usahanya terus berkembang, masalah baru kembali menghampirinya. Kali ini terkait dengan biduk rumah tangganya. Pernikahan yang telah terbina bertahun-tahun dengan suami yang telah memberinya dua buah hati kandas pada tahun 2005 silam. Kembali ke titik nol kehidupan karena perceraian, Tartini yang kini telah berusia 54 tahun membulatkan hati untuk hidup tanpa suami. Dia tidak merasa kesepian karena disibukkan dengan tanggung jawab memikiran karyawan dan keluarganya. (adt -my)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *