KIKM Harus Memulai Dari Titik Awal

FOTO KIKM“Tahun-tahun sebelumnya, RAT kalau tidak diselenggarakan di hotel, di gedung yang lebih representative,” kata Ketua Koperasi Industri Kayu dan Mebel (KIKM) mengawali pembicaraannya terkait dengan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke 8 tahun buku 2013 yang dilaksanakan secara sederhana di Gedung Pusat Promosi Industri Kayu dan Mebel (PPIKM), Jakarta, pada 3 Februari 2014 silam.

Kami sebenarnya pengurus lama, tapi baru. Saya sendiri sejak pembentukan koperasi 21 Januari 2006 – 2011 dipercaya oleh anggota menjadi ketua KIKM,” tutur Ir Ade Firman yang sempat 2 tahun istirahat, “dilengserkan”, kemudian dipercaya kembali oleh anggota menjadi ketua mulai 1 Juni 2013 silam. Karena kondisinya cukup memprihatikan, KIKM harus memulai lagi dari titik awal, dan segera mengejar peluang.

Kalau disebut pertanggungjawaban kinerja pengurus sekarang ini, kata Ade, sebenarnya  baru 6 bulan. Selama kepengurusan baru, kondisi koperasi yang sempat kehilangan kepercayaan dari anggota mulai berangsur-angsur pulih. Selama 6 bulan, dengan simpanan pokok Rp 500.000,- dan simpanan wajib Rp 50.000,- setelah akhir tahun buku hanya Rp 300.000,- tertapi dalam pembagian sisa hasil usaha (SHU) ada yang mendapatkan Rp1,5 juta. Yang berperan besar tentu anggota itu sendiri. Making banyak anggota menabung dan melakukan transaksi di koperasi dia akan mendapatkan SHU lebih besar.

Para anggota KIKM, terutama yang belum memiliki show room – toko sendiri, merasa sangat terbantu oleh koperasi karena bisa mengikuti pameran secara bergilir di PPIKM. Selama pameran biasanya omzet meningkat, lantaran bukan saja produk yang dipamerkan laku, juga sering mendapat pesanan sesuai selera komsumen. “Bahkan lebih banyak yang pesan daripada yang beli,” tutur Ade. PPIKM, kata dia, merupakan pusat promosi industri kayu dan mebel terbesar di Provinsi DKI Jakarta. Lokasinya sangat strategis di Jl Raya Jatinegara Kaum, dan di sentra industri kayu dan mebel. Di tempat-tempat promosi mebel lainnya tidak aktif, bahkan tutup, dari segi lokasi, kondisi dan pesertanya kurang menarik. “Kalau di PPIKM, pas. Adanya di sentra perajin dan pengusaha mebel, diselenggarakan oleh koperasi yang anggotanya para perajin dan pengusaha mebel. Sampai saat ini sudah berjalan 8 tahun,” kata Ade penuh semangat.

PPIKM, kata dia, tidak hanya tempat menyelenggarakan pameran-pameran, dan festival yang sifatnya seremonial yang dikunjungi gunernur atau walikota, tetapi juga tempat untk menyelenggarakan pelatihan, studi banding, bahkan menjadi tujuan pariwisata. Tidak jauh dari PPIKM, sekitar 400 meter dari PPIKM ada makam Pangeran Jayakarta yang oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta, ditetapkan sebagai wisata sejarah. Para wisatawan banyak yang mampir ke PPIKM. Karena pamerannya bergiliran, setiap bulan ganti peserta sepanjang tahun ada pameran. “Liburnya 3 – 4 hari, pas pergantian peserta,” jelas Ade saraya menambahkan peserta pameran sekitar 30 – 40 anggota. Dijelaskan pula omzet rata-rata per anggota dikisaran Rp 80 – Rp 100 juta per bulan.

Pengurus KIKM saat ini sedang membangun kemitraan dengan berbagai pihak, baik dengan perbangkan, terutama dari Bank Indonesia (BI) yang selama ini terus melakukan pelatihan tentang perpajakan, keuangan, pendampingan dan membuatkan website, juga dengan media massa, Askrindo, dan lain sebagainya dengan harapkan KIKM bisa terus tumbuh dan berkembang. Hasil cukup menggembirakan, dimana pengunjung ke PPIKM terus meningkat. Terkait dengan website diakui Ade, banyak yang menanyakan tetapi pihaknya kurang meng-update karena sumber daya manusia (SDM) masih ketinggalan dengan teknologi yang ada.

Meskipun KIKM belum menjadi koperasi besar, karena kekhasannya, industri kayu dan mebel, banyak koperasi dan profesi-profesi lain dari berbagai daerah; Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari luar negeri China, berkunjung studi banding. “Hampir setiap bulan ada yang berkunjung ke KIKM,” jelas Ade.

Meskipun PPIKM bukan satu-satunya sentra primer, karena masih ada Perkambungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung, juga sentra batu mulia – batu akik di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, tetapi sebagai pusat promosi industri kayu dan mebel, menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta Timur, Ir Rommy Lesmana, mestinya PPIKM memiliki magnit yang luar biasa. Susah untuk menemukan pusat promosi di tengah-tengah sentra industri.

Sebagai pengurus Kadin Jakarta Timur, kata Rommy, Kadin mempunyai tanggung jawab untuk berperan serta memajukan sentra-sentra primer tersebut. Salah satu langkah yang diambil, tahun 2010 memperkenalkan PPIKM kepada delegasi 50 pengusaha dari China. “Pada umumnya mereka mengagumi kualitas produk-produk kita. Mereka pun ingin melakukan kerja sama dengan kita. Inilah yang harus kita tindaklanjuti,” tegasnya.

Belum lama ini Kadin juga membuat program jemput bola bekerja sama dengan Walikota Jakarta Timur memberikan pelayanan cepat one day service untuk pelayanan pengurusan izin usaha. Dalam satu hari itu ada sekitar 70-an perajin anggota KIKM yang mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) baru secara gratis. Pernah pula mengadakan pencerahan tentang kewirausahaan dengan nara sumber Dewi Motik Pramono, dengan tujuan agar tertular virus-virus wirausaha.

Sebentar lagi, Januari 2015 kita akan menghadapi ASEAN Economic Communty – masyarakat ekonomi ASEAN atau perdagangan bebas ASEAN, mau tidak mau, siap tidak siap, kita harus menerima kenyataan. Karena itu para produsen dituntut untuk bisa lebih berkreasi – berinovasi, terutama design, dan meningkatkan kualitas produksinya agar mampu bersaing dengan barang-barang produk dari Negara tetangga. Kendala yang dihadapi para perajin sepertinya klasik; soal modal, promosi dan pemasaran. “Inilah yang harus dicarikan terobosan jalan keluar,” tegas Rommy.

Pengurus KIKM perlu bersyukur karena mendapat amanah unruk menempati Gedung PPIKM, jangan sampai pindah ke perusahaan lain. Untuk itu KIKM harus dikelola dengan baik agar cepat menjadi besar. PPIKM pun harus dijaga dengan baik, makin hari harus makin diperbaiki, supaya menjadi tempat promosi yang representative berkelas internasional. Ke depan PPIKM diharapkan betul-betul dikelola oleh koperasi. Untuk itu, koperasi harus berbenah diri. Di PPIKM juga bisa dibikin untuk penyelenggaraan seminar atau work shop – pelatihan sehingga semakin banyak orang yang berdatangan. (yuni)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *