Kita Harus Bekerja Esktra Cepat, Ekstra Inovatif dan Ekstra Efisien

Untuk mewujudkan nilai-nilai kerakyatan dan nilai-nilai nasionalisme demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tantangan pekerjaan yang akan dihadapi oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua bersama Wakil Presiden K.H Prof. Ma’ruf Amin, akan lebih berat. Isu intoleransi, radikalisme, menjadi kekawatiran dunia, dan menjadi ancaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ekonomi global juga mengalami pelambatan, akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kita pun harus hati-hati menghadapi revolusi industri 4.0, revolusi jilid 4 yang membawa perubahan radikal. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat dinamis. Dunia berubah begitu cepat ke arah yang sering tidak terduga. Persaingan dagang antar negara begitu ketat, dan semua negara ingin jadi pemenang. Karena itu tidak ada pilihan lain, kita harus bekerja ekstra cepat, ekstra inovatif, dan ekstra efisien. Karena itu Presiden mengajak semua komponen bangsa bergerak bersama, dan bekerja sama.

Kita harus melakukan lompatan kemajuan, membuat terobosan-terobosan yang sebelumnya tak pernah kita pikirkan, dan harus siap terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak popular sekalipun, tetapi itu penting untuk rakyat. Dan yang jelas ujungnya adalah keberpihakan untuk kebaikan rakyat. Contoh, tahun 2014 saat pemerintah memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM), Presiden mengakui kebijakan itu tidak popular. Namun Presiden paham bahwa 70% subsidi BBM itu justru dinikmati oleh kelompok menengah dan atas.

Oleh karena itu subsidi dipangkas kemudian dialokasikan, hampir 40% untuk masyarakat yang belum sejahtera lewat program bantuan sosial (Bansos) untuk rakyat mencakup; Program Indonesia Pintar (PIP), Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), & Bansos Rastra – Bantuan Pangan Non Tunai, Dana Desan dan sebagainya.

Kita juga butuh investasi untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Tetapi kita juga terkendala banyak hal. Misalnya, aturan regulasi ketenagakerjaan yang tidak ramah terhadap investasi. Hal ini menghambat terbukanya peluang kesempatan kerja sehingga tidak tumbuh dengan cepat. Padahal, pembukaan lapangan pekerjaan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu kita harus berani memperbaiki diri secara total. Memperbaiki iklim investasi, memperkuat daya saing, dan menggairahkan pertumbuhan ekonomi agar mampu membuka peluang kerja sebanyak mungkin.

Kita bisa mencontoh negara lain, Arab Saudi, misalnya. Bagaimana negara itu bisa melompat sangat maju. Tahun 1960-an, dari Dubai ke Abudabi masih naik onta. Sedangkan di Indonesia tahun 60-an sudah naik mobil Impala dan Holden. Tahun 1970-an dari Dubai ke Abudabi orang masih naik truk – mobil pick up. Indonesia sudah bisa membuat mobil Kijang kotak. Tetapi begitu menginjak tahun 1985 ke atas, mereka sudah naik mobil-mobil lux berkecepatan 180 Km per jam tak terasa ada goncangan.

Kuncinya di mana? Ternyata, ada di pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang konsisten, dan sistem manajemen dibangun sejak awal. Ceritanya, saat itu hampir semua perusahaan besar milik negara, seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) milik kita, dan manajemen di kantor-kantor pemerintah mengambil tenaga dari luar. Misalnya, CEO Dubai Airport, atau Dubai Almunium dipimpin orang asing. Sedangkan orang lokal menjadi pendamping – wakil, dan yang lain disekolahkan ke luar negeri.

Namun setelah 10 – 15 tahun mereka ditarik, menggantikan orang asing yang menjadi direktur utama – CEO. Begitu pentingnya SDM bagi sebuah pembangunan. Oleh sebab itu setelah 5 tahun pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur, 5 tahun ke depan harus fokus membangun SDM. Sebab, kejayaan minyak dan kayu telah selesai. Kejayaan komoditi sumber daya alam (SDA) juga hampir selesai. Karena itu pondasi ke depan harus mengandalkan SDM yang berkualitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas SDM harus mulai dibangun sejak masih dalam kandungan. Oleh sebab itu tidak boleh ada yang namanya stunting – kekerdilan. Itu sebabnya kesehatan ibu dan anak menjadi sebuah kunci. Terutama anak usia 7 – 8 tahun sebagai usia emas. (red)

This entry was posted in Dari Redaksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *