Kita Ingin Membuat Lompatan Besar

Gambar Kendaraan (20) Kapal barang kargo

Lompatan besar ingin kita lakukan. Target perkembangan ekonomi negeri ini ingin tumbuh 7% dalam 5 tahun ke depan. Bukan hanya itu, kita juga ingin membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 35.000 MW, membangun poros maritim, ingin meningkatkan ekspor sampai 300%. Ini bukan pekerjaan yang mudah, memang. Namun itu pilihan yang harus kita lakukan, kalau kita tidak ingin masuk perangkap negara dengan pendapatan menengah. Untuk merealisasikan itu, pilihannya adalah melahirkan para pengusaha yang handal. Pertanyaannya, mampukah kita melakukan lompatan besar itu.

Bank Indonesia (BI) menebar optimisme bahwa pekembangan ekonomi Indonesia akan terus tumbuh, meskipun pertumbuhan ekonomi dunia sampai saat ini belum stabil. Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin cepat setelah BI juga memangkas suku bunga ke angka 7,5%. Hal ini memberikan kesempatan besar bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang menggadang-gadang pertumbuhan ekonomi 5,7% per tahun jauh dari prediksi Bank Dunia yang hanya memperkirakan 5,2% per tahun. Lesunya perekonomian dunia sepertinya tidak memengaruhi optimisme pemerintah untuk mencapai pertumbuhan tinggi.

Potensi domestik yang belum tergarap dengan baik dianggap mampu menjadi motor penggerak untuk menggapai pertumbuhan 7% dalam 3 tahun mendatang. Pemerintah tentu tidak akan sanggup mewujudkannya sendiri. Karena itu harus memberi peran yang lebih besar kepada swasta dan investor. Menurut para pengamat dan pakar ekonomi, yang penting harus ada investasi besar-besaran, baik dari investor dalam negeri maupun investor dari luar. Dan yang terbaik, investasi itu bukan dari luar, tetapi justru dari dalam negeri sendiri. Jika para investor dari dalam negeri mau berinvestasi secara besar-besaran, hasilnya kelak tidak akan dinikmati orang asing, tetapi akan dinikmati bangsa Indonesia sendiri. Investasi akan timbul jika ada kepastian hukum dan keamanan terjamin.

Poros martim yang dicanangkan oleh Pemerintahan Jokowi – JK sebagai program unggul, memang cukup menjanjikan. Tetapi kondisi dunia pelayaran saat ini, sedang terpuruk. Bukan hanya di Amerika, dan Eropa, maupun Asia pada umumnya, terlebih di Indonesia. Kita melihat tarif pelabuhan cukup tinggi, namun kualitas pelayanannya masih sangat rendah, belum lagi nilai kurs rupiah terhadap dolar juga terus melemah. Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari service oriented menjadi profit center.

Di samping itu masih banyak sekali kebijakan yang belum pro kemaritiman. Untuk mencapai target pembangunan, yang paling penting, dan murah adalah arah kebijakan yang jelas. Kalau kita ingin membangun poros maritim – tol laut, kita harus membangun infrastruktur, dan membangun industri di kawasan timur Indonesia. Dan itu semua adalah biaya – investasi. Yang sangat diharapkan oleh para pengusaha adalah kebijakan fiskal dan moneter.

Salah satu kebijakan yang membuat para pengusaha kaget adalah kenaikan target perolehan pajak dan bea cukai, yang ketika diakumulasikan mencapai 40,3% dari perolehan tahun 2014 sebesar Rp1.058 triliun menjadi Rp1.484 triliun. Oke, target seperti itu, tetapi dalam kontek kondisi saat ini dimana makro ekonomi dunia masih kurang baik dan pemerintah sendiri sebetulnya masih mendapatkan ruang fiskal yang cukup besar karena subsidi bahan bakar minyak (BBM) dikurangi. Hal itu menurut para pengusaha menimbulkan kontraksi yang sangat serius. Bagusnya, pembangunan infrastruktur saat ini sangat agersif.

Para pengusaha sangat mendukung, namun mereka juga melihat secara realistis situasi dan kodisinya seperti apa. Apalagi sekarang sudah masuk bulan Maret. Kalau mau melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, harus memersiapkan segala sesuatunya, mulai dari perencanaan, desain, eksekusi, pemilihan material, dan sebagainya, perlu waktu. Kalau dipatok target seperti ini membuat nervous dunia usaha.

crane kapal angkutan barang
Disadari bahwa tahun pertama pemerintahan Jokowi – JK ini cukup sulit. Namun harus disadari bahwa harapan untuk menggapai pertumbuhan 7% pada 3 tahun ke depan itu besar sekali. Investor dari luar yang ingin masuk ke Indonesia juga besar. Pemerintah ingin supaya ekonomi menjadi kekuatan kita yang pertama. Memang sebulan terakhir kita habis waktu untuk urusan politik. Namun, kalau kita mengeluh terus menerus, persoalan tidak akan pernah selesai. Kita tahu, dunia sedang susah. Banyak negara, salah satunya Indonesia, ingin maju. Jika kondisi saat ini tidak dimanfaatkan dengan baik, kita akan rugi sendiri.

Investasi yang akan masuk, disamping ada yang masih janji, banyak juga yang sudah riil. Pengusaha akan selalu melihat, feasible atau tidak. Indonesia serius membangun infrastruktur atau tidak. Mereka menganggap Indonesia serius karena budget untuk pembangunan infrastruktur sudah dua kali lipat dari sebelumnya. Belum lagi bantuan luar negeri yang menawarkan ikut membangun infrastruktur, karena kelesuan ekonomi dunia, mereka juga perlu melempar produk-produknya, dan Indonesia dianggap pasar potensial. Kita harus memanfaatkan situasi ini, tidak boleh hanya mengeluh. Sebab, tak ada waktu lagi untuk mengeluh, karena juga tidak ada pilihan lain.

Ada catatan yang bisa dijadikan acuan agar kita bisa tumbuh di tahun 2015, misalnya, di tahun 2012 riilnya, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 9,98% hampir menyentuh angka 10%. Kemudian yang kedua sektor perdagangan dan hotel dan restoran tumbuh 8,15%. Ini mengkonfirmasi apakah benar kelesuan itu akan terjadi sampai tahun 2015. Sementara di tahun berikutnya, 2013, sektor yang bertumbuh paling banyak adalah pengangkutan dan komunikasi 9,8% disusul sektor keuangan, persewaan, dan jasa 7,5%. Yang menarik, tahun 2014 yang tumbuh paling besar tetap sektor pengangkutan dan komunikasi, bertumbuh 9,3%, lalu bangunan 6,85%. Jadi, kelihatannya pengangkutan dan komunikasi selama 3 tahun terakhir menjadi sektor yang paling bersinar. Ketika pemerintah ingin memajukan kemaritiman, seharusnya perkapalan itu juga mendapat porsi cukup besar.

Dengan adanya kemaritiman, untuk poros maritim – pelayaran – ekspor impor di Indonesia akan maju cepat sekali. Namun peluang yang paling hebat untuk tahun 2015 adalah bisnis kreatif. Mereka yang berbisnis di bidang kreatif akan untung luar biasa. Semua proyek yang dicanangkan pemerintah itu menarik. Namun yang terpenting, bagaimana menarik investor dari dalam negeri yang mengetahui keadaan Indonesia lebih banyak harus menginvestasikan dananya sebanyak mungkin sehingga pembangunan di Indonesia ini bisa sukses. Untuk pembangunan pelabuhan, sudah ada beberapa perusahaan pelayaran yaqng akan ikut serta membangun pelabuhan. PT Samudera Indonesia, contohnya, sudah membangun di Samarinda. Swasta sudah siap untuk ikut membangun pelabuhan. (dm)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *