Kita Tidak Boleh Menjadikan Credit Union Kuburan

Credit union, kata Ketua BKCU Kalimantan itu, tidak hanya menonjolkan aktivitas keuangan semata – aktivitas simpan pinjam – aktivitas perkantoran, buka tutup kantor, tetapi mau mengembangkan koperasi yang sungguh memberdayakan anggotanya. Manfaat credit union tidak hanya bagi para anggota saja, tetapi untuk masyarakat luas, bangsa dan negara tercinta. “Kita harus berupaya saling peduli, saling menolong, saling bekerja sama, saling percaya sehingga bisa keluar dari kesulitan bersama yang kita hadapi,” tegasnya.

Gerakan credit union, kata dia, ingin mewujudkan terjadinya perubahan fisik, mental – spiritual anggota, berkomitmen untuk berjuang bersama kaum terpinggirkan, orang kecil, miskin untuk bersama-sama meningkatkan kualitas kehidupan sehingga mampu berdaulat secara ekonomi dan memberikan kontribusi dalam pembangunan. Jika orang-orang kecil diberikan semangat, diberikan motivasi, diberikan kepercayaan untuk mengelola hidupnya, mereka akan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Karena itu kebersamaan kita dengan orang-orang kecil adalah kebersamaan yang meneguhkan, kebersamaan yang sungguh meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan.

Credit union akan mengakar secara kuat karena mereka turut terlibat, turut bersama-sama mikirkan pengembangan dan kemajuan dirinya sendiri. Karena credit union dari oleh dan untuk mereka yang merupakan pemilik, sekaligus pengguna. Pengurus memfasilitasi terbentuknya usaha-usaha bersama dalam komunitas lokal sehingga pemanfaatan pinjaman akan diarahkan kepada pinjaman produktif yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan menjejahterakan. Inilah semangat baru, yang jika digali dari awal Raiffeisen mengembangkan credit union, itulah yang dituju.

Sunardi mengajak seluruh aktivis – gerakan credit union untuk “bertobat” apabila dalam mengembangkan credit union melupakan semangat misi sejati sehingga terbawa arus mengelola credit union hanya pada aktivitas keuangan. Sering terdengar di masyarakat banyak orang menarik kesimpulan credit union saat ini sudah sama dengan lembaga keuangan lain, ujung-ujungnya duit. Karena itu dia mengajak mengungkap tabir yang belum semua orang tahu, di mana credit union sesungguhnya dimulai dari menata kehidupan diri para anggota. “Uang hanyalah alat. Dalam berbagai pertemuan di BK3D, sekarang BKCU Kalimantan, selalu diingatkan bahwa uang hanyalah alat,” tegas Sunardi yang mulai mengenal credit union tahun 1993.

Sunardi mengakui, saat ini banyak dari kalangan generasi muda yang menjadi aktivis di lapangan tidak – kurang menghayati misi credit union yang sebenarnya. Mereka melihat, uang adalah kebanggaan. Karena itu banyak credit union yang berlomba mengejar aset, mengejar target-target supaya uangnya besar, agar nilai itu menjadi angka yang fantastis, melupakan prinsip dasar mengembangkan martabat kemanusiaan yang ada pada anggotanya. Tidaklah berlebihan, jika dikatakan bahwa penggerak credit union adalah martir, pejuang-pejuang kemanusiaan. Namun itu hanya berlaku jika kita mau menata kembali credit union yang sejati.

Sunardi mengajak semua aktivis credit union, terutama yang berada di dalam jejaring BKCU Kalimantan, maupun aktivis Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) untuk bersikap terbuka, bertindak positif terhadap berbagai upaya untuk memastikan bahwa credit union sungguh-sungguh credit union sejati. Bukan sejati huruf C dan U, tetapi kesejatian dari praktik tindakannya. “Kita tidak boleh menjadi mirip credit union. Pesan ini sudah berkali-kali saya sampaikan dalam berbagai forum pertemuan,” tegasnya. Credit union yang mirip credit union, hanya melabelkan diri bernama credit union, tetapi tidak mempraktikkan konsep dasar pengembangan, dan pemberdayaan manusia, hal yang utama bagi credit union. “Kita tidak boleh menjadi credit union kuburan, bagus di luar, tetapi di dalamnya bangkai – busuk – bobrok,” tegasnya.

Menurut dia, hanya credit union sejati yang akan mampu bertahan. Karena mereka didukung oleh anggota, terlibat ktif membicarakan dirinya, mencari solusi atas permasalahan yang ada di dalam diri mereka sendiri. Perlu dihindari cara pandang yang sempit dan keliru, yang menyatakan bahwa credit union tidak ada bedanya dengan lembaga keuangan lain. Ukuran – indikator keberhasilan credit union tidak boleh dilihat berapa banyak uang yang dikelola. Indikator keberhasilan credit union sejati adalah berapa banyak orang yang berubah, orang-orang yang kembali ke jalan yang benar dalam menata hidupnya, menciptakan citra dirinya sesuai dengan citra Allah dan mereka menjadi hidup berbahagia. Bukan karena uang melimpah, tetapi karena mengerti manfaat uang itu bagi kehidupannya. Jikalaupun kembali ke credit union sejati perkembangannya lambat, tidak apa-apa asal benar, dan selamat.

Dalam mengarungi perjalanan 25 tahun, BKCU Kalimantan pernah mengalami masa eforia luar biasa. Pernah terlalu bersemangat mengembangkan credit union sehingga benar uang mengalir deras, dan mencatat rekor luar biasa. Aset-aset credit union primer meningkat dengan cepat. Kini saatnya untuk koreksi diri, apakah peningkatan aset itu seimbang, beriringan dengan peningkatan kualitas mental spiritual para anggota. Perkembangan yang tidak seimbang, akan membuat jatuh, dan gagal.

Karena itu, ajak Sunardi, mari membantu para anggota untuk mempersiapkan diri, siap menerima keadaan baru, kenyataan baru, hidup lebih baik, dan akhirnya untuk kebersamaan, bukan untuk egoisme, atau mengembangkan kesombongan diri seperti yang banyak terjadi di dunia ini akibat tidak pahamnya makna rezeki – uang yang didapat. Diakui, belum 100% anggota paham tentang credit union yang sesungguhnya. Masih banyak penumpang gelap yang ingin memanfaatkan credit union dengan harapan dapat pinjaman besar, atau kalau pinjam tidak ditagih. Itu antara lain doa-doa para penumpang gelap.

Atas dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, gereja, dan agama lainnya serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta seluruh masyarakat Indonesia, sampai akhir tahun buku 2013 BKCU Kalimantan memiliki 49 anggota primer yang tersebar di 14 provinsi dari Batam sampai Merauke. Aset BKCU Kalimantan secara kelembagaan sekunder baru Rp81,537 miliar. Simpanan anggota tercatat Rp52,4 miliar, atau rata-rata simpanan masing-masing credit union primer Rp1 miliar. Belum semua anggota merata pertumbuhan dan merupakan pemilik, sekaligus pengguna. Pengurus memfasilitasi terbentuknya usaha-usaha bersama dalam komunitas lokal sehingga pemanfaatan pinjaman akan diarahkan kepada pinjaman produktif yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan menjejahterakan. Inilah semangat baru, yang jika digali dari awal Raiffeisen mengembangkan credit union, itulah yang dituju.

Sunardi mengajak seluruh aktivis – gerakan credit union untuk “bertobat” apabila dalam mengembangkan credit union melupakan semangat misi sejati sehingga terbawa arus mengelola credit union hanya pada aktivitas keuangan. Sering terdengar di masyarakat banyak orang menarik kesimpulan credit union saat ini sudah sama dengan lembaga keuangan lain, ujung-ujungnya duit. Karena itu dia mengajak mengungkap tabir yang belum semua orang tahu, di mana credit union sesungguhnya dimulai dari menata kehidupan diri para anggota. “Uang hanyalah alat. Dalam berbagai pertemuan di BK3D, sekarang BKCU Kalimantan, selalu diingatkan bahwa uang hanyalah alat,” tegas Sunardi yang mulai mengenal credit union tahun 1993.

Sunardi mengakui, saat ini banyak dari kalangan generasi muda yang menjadi aktivis di lapangan tidak – kurang menghayati misi credit union yang sebenarnya. Mereka melihat, uang adalah kebanggaan. Karena itu banyak credit union yang berlomba mengejar aset, mengejar target-target  supaya uangnya besar, agar nilai itu menjadi angka yang fantastis, melupakan prinsip dasar mengembangkan martabat kemanusiaan yang ada pada anggotanya. Tidaklah berlebihan, jika dikatakan bahwa penggerak credit union adalah martir, pejuang-pejuang kemanusiaan. Namun itu hanya berlaku jika kita mau menata kembali credit union yang sejati.

Sunardi mengajak semua aktivis credit union, terutama yang berada di dalam jejaring BKCU Kalimantan, maupun aktivis Gerakkan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) untuk bersikap terbuka, bertindak positif terhadap berbagai upaya untuk memastikan bahwa credit union sungguh-sungguh credit union sejati. Bukan sejati huruf C dan U, tetapi kesejatian dari praktik tindakannya. “Kita tidak boleh menjadi mirip credit union. Pesan ini sudah berkali-kali saya sampaikan dalam berbagai forum pertemuan,” tegasnya. Credit union yang mirip credit union, hanya melabelkan diri bernama credit union, tetapi tidak mempraktikkan konsep dasar pengembangan, dan pemberdayaan manusia, hal yang utama bagi credit union. “Kita tidak boleh menjadi credit union kuburan, bagus di luar, tetapi di dalamnya bangkai – busuk – bobrok,” tegasnya.

Menurut dia, hanya credit union sejati yang akan mampu bertahan. Karena mereka didukung oleh anggota, terlibat aktif membicarakan dirinya, mencari solusi atas permasalahan yang ada di dalam diri mereka sendiri. Perlu dihindari cara pandang yang sempit dan keliru, yang menyatakan bahwa credit union tidak ada bedanya dengan lembaga keuangan lain. Ukuran – indikator keberhasilan credit union tidak boleh dilihat berapa banyak uang yang dikelola. Indikator keberhasilan credit union sejati adalah berapa banyak orang yang berubah, orang-orang yang kembali ke jalan yang benar dalam menata hidupnya, menciptakan citra dirinya sesuai dengan citra Allah dan mereka menjadi hidup berbahagia. Bukan karena uang melimpah, tetapi karena mengerti manfaat uang itu bagi kehidupannya. Jikalaupun kembali ke credit union sejati perkembangannya lambat, tidak apa-apa asal benar, dan selamat.

Dalam mengarungi perjalanan 25 tahun, BKCU Kalimantan pernah mengalami masa eforia luar biasa. Pernah terlalu bersemangat mengembangkan credit union sehingga benar uang mengalir deras, dan mencatat rekor luar biasa. Aset-aset credit union primer meningkat dengan cepat. Kini saatnya untuk koreksi diri, apakah peningkatan aset itu seimbang, beriringan dengan peningkatan kualitas mental spiritual para anggota. Perkembangan yang tidak seimbang, akan membuat jatuh, dan gagal. Karena itu, ajak Sunardi, mari membantu para anggota untuk mempersiapkan diri, siap menerima keadaan baru, kenyataan baru, hidup lebih baik, dan akhirnya untuk kebersamaan, bukan untuk egoisme, atau mengembangkan kesombongan diri seperti yang banyak terjadi di dunia ini akibat tidak pahamnya makna rezeki – uang yang didapat. Diakui, belum 100% anggota paham tentang credit union yang sesungguhnya. Masih banyak penumpang gelap yang ingin memanfaatkan credit union dengan harapan dapat pinjaman besar, atau kalau pinjam tidak ditagih. Itu antara lain doa-doa para penumpang gelap.

Atas dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, gereja, dan agama lainnya serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta seluruh masyarakat Indonesia, sampai akhir tahun buku 2013 BKCU Kalimantan memiliki 49 anggota primer yang tersebar di 14 provinsi dari Batam sampai Merauke. Aset BKCU Kalimantan secara kelembagaan sekunder baru Rp81,537 miliar. Simpanan anggota tercatat Rp52,4 miliar, atau rata-rata simpanan masing-masing credit union primer Rp1 miliar. Belum semua anggota merata pertumbuhan dan perkembangannya. Belum semua mampu melaksanakan tata kelola yang baik sesuai standar yang diharapkan bersama. Masih banyak yang sedang berbenah, sehingga sampai akhir tahun buku 2013 masih terdapat 6 credit union primer anggota BKCU Kalimantan yang anggotanya kurang dari 1.000 orang.

Tetapi memperhatikan tata letak aset, seluruh anggota BKCU Kalimantan telah memiliki aset di atas Rp1 miliar, paling kecil Rp1,3 miliar. Dari ke-49 anggota tersebut yang sering didengar di luar adalah aset dari primer-primer yang terangkum menjadi aset bersama dalam BKCU Kalimantan. Total anggota individu sebanyak 424.988 orang dan aset Rp5,012 triliun. Simpanan anggota individu Rp4,6 triliun. Jika dihitung rata-rata simpanan anggota individu hanya Rp10.722.607,- per orang.

‘Saya pernah bertanya kepada banyak orang; ‘Andaikan Anda punya uang Rp10.700.000,- apakah Anda sudah termasuk orang kaya, atau sudah tak miskin lagi?’ Mereka menjawab; “masih miskin, karena Rp10.700.000,- belum bisa jadi rumah. Untuk beli sepeda motor saja tidak cukup.” Hal ini harus dilihat menjadi salah satu indikator yang menunjukan bahwa credit union, terutama yang berada di dalam jaringan BKCU Kalimantan masih merupakan kumpulan orang kecil, orang miskin, orang dengan paling tinggi pada kelas ekonomi menengah ke bawah. Credit union ini merupakan kumpulan orang miskin yang membangkitkan semangat bersama, dimana orang miskin seringkali hanya dijadikan sasaran suatu program kegiatan. Ternyata BKCU Kalimantan bisa memberdayakan untuk mewujudkan sebuah kenyataan,” urai Sunardi.

Dari ke-49 primer yang tergabung dalam BKCU Kalimantan pada akhir tahun 2013 ini ada 10 besar berdasarkan jumlah anggota yaitu; Credit Union Khatulistiwa Bakti (juara bertahan), disusul Credit Union Daya Lestari, Credit Union Betang Asi, Credit Union Sauan Sibarrung, Credit Union Sumber Rejeki, Credit Union Tilung Jaya, Credit Union Bonaventura, Credit Union Kasih Sejahtera, Credit Union Usaha Kita, dan Credit Union Canaga Antutn. Target mendirikan credit union adalah komunitas basis – berbasis masyarakat (orang). Makin banyak orang yang bergabung menjadi anggota credit union merupakan salah satu indikator bahwa credit union itu telah berguna – berdayaguna bagi banyak orang. Menurut aset, yang merupakan turunan atau akibat daripada anggota yang bergabung dan percaya kepada credit union, 10 besar tidak sama dengan 10 besar jumlah anggota. Peringkat 10 besar dari jumlah aset tahun 2013 pendatang baru, yaitu Credit Union Daya Lestari, kemudian disusul Credit Union Betang Asi, yang tahun 2012 menempati urutan pertama. Di sini tidak ada kalah mengalahkan, seperti Liga Primer. Semuanya menciptakan permainan terbaik, dan hasil akhir merupakan akibat.

Di BKCU Kalimantan tidak ada persaingan hanya untuk mendapatkan peringkat, tetapi bersaing untuk meningkatkan kualitas untuk kesejahteraan anggota. Peringkat ketiga Credit Union Khatulistiwa Bakti, lalu Credit Union Sumber Rejeki, Credit Union Sauan Sibarrung, Credit Union Kasih Sejahtera, Credit Union Tilung Jaya, Credit Union Bonaventura, Credit Union Remaung Kecubung, dan Credit Union Usaha Kita. Beberapa tahun silam ketika Kementerian Koperasi dan UKM membuat daftar 100 Koperasi Besar Indonesia ada 16 Credit Union anggota BKCU Kalimantan yang masuk daftar 100 Koperasi Besar Indonesia. Dalam jaringan Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Puskopdit BKCU Kalimantan memimpin pertumbuhan credit union di Indonesia, terbukti sejak 10 tahun terakhir tetap menjadi Puskopdit terbesar. BKCU Kalimantan telah melahirkan Puskopdit Kapuas, Puskopdit Khatulistiwa, dan Puskopdit Borneo. Semua Puskopdit tersebut dulu satu tubuh dengan BKCU Kalimantan, namun kemudian menjadi “anak kandung” yang juga sukses.

BKCU Kalimantan, kata Sunardi, ingin terus mengembangkan koperasi. “Walau dengan bahasa pemerintah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) seperti tercantum dalam Undang-undang (UU) No 17 tahun 2012, tidak apa-apa. Praktek memandirikan bangsa ini tidak terlalu salah. “Tidak mudah jadi besar, dan besar itu akibatnya meninggi. Kalau sudah tinggi, kelihatan. Namun tak semua sudi melihat. Karena itu terjadi persepsi yang mungkin keliru masuk ke Kementerian Koperasi dan UKM tentang sepak terjang aktivis credit union. Entah itu di BKCU Kalimantan atau di jaringan lain.

Ada ketidaknyamanan yang dirasakan para aktivis. Disangka credit union dibangun untuk menyaingi lembaga-lembaga keuangan yang telah ada. Kami berpikir bersaing pun tak pernah, karena mereka memang bukan saingan,” tutur Sunardi. Credit union sadar, hanyalah kumpulan orang-orang kecil yang ingin mandiri.

Kata Sunardi, banyak pemilik modal yang mencoba ingin mengakali dengan beberapa istilah, misalnya, hyper mart memberikan kartu member – anggota. Menjadi member hyper mart hanya pura-pura, jadi anggota, tidak pernah merasakan keuntungan. Kita ini sebenarnya hanya pengguna. Berbeda dengan credit union, walau kecil-kecil tidak pura-pura member – “memberi” tetapi sungguh-sungguh member – anggota. Walau kecil-kecil, memulai dengan Rp100.000,- atau Rp200.000,- Ada yang tak punya uang, tetapi punya semangat. Mereka datang ke credit union, tanya bagaimana caranya bisa menjadi anggota. Yang datang dengan semangat, tidak punya uang diberikan solusi, dengan cara mengangsur lewat pinjaman. Dia meminjam kemudian disimpan kembali untuk memenuhi kewajiban utama supaya sah menjadi anggota, yaitu membayar simpanan pokok dan simpanan wajib. Cara itu dampaknya sungguh luar biasa bagi orang-orang kecil yang menjadi fokus pelayanan credit union.

Sebutan credit union, mungkin kurang enak didengar pemerintah. Karena belum ada terjemahannya, maksudnya koperasi. Credit berasal dari kata credere – percaya, union – kumpulan. Jadi bisa diartikan kumpulan orang yang saling percaya. Karena itu kalau dikatakan simpan pinjam juga tidak cocok. Credit union aslinya yang utama bukan aktivitas keuangan, tapi hubungan antar manusia yang diberi pemberdayaan penguatan yang saling menumbuhkan sehingga mereka mulai mengerti bahwa menabung itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri sendiri, untuk keluarga di masa akan datang. Karena itu banyak orang kecil – miskin menabung di credit union.

Menabung di credit union mudah menghitungnya. Kalau setiap bulan menabung Rp 50.000.- setahun Rp 600.000,- pasti. Bahkan faktanya sedikit lebih, karena dapat balas jasa (BJ). Sedangkan menabung di tempat lain, di bank misalnya, menemukan kenyataan aneh. Setiap bulan menabung Rp50.000,- tapi setelah 1 tahun dilihat buku tabungannya yang terjadi tidak ada Rp600.000,- bisa berkurang. Bank itu banyak sandinya. Ada sandi biaya, sandi administrasi, sandi pajak atas bunga, dan sebagainya. Sedangkan di credit union sandi-sandi itu dikurangi, sebagai pembeda. Misalnya, biaya administrasi bulanan tidak perlu, karena sama-sama anggota.

“Benar, kami bukan credit union kalau orang membawa uang berapa pun diterima. Credit Union Sauan Sibarrung, contohnya, telah membatasi besarnya setoran tunai, maksimal Rp500.000,- per bulan. Kalau ada orang berniat jahat, sebut koruptor, mau menitipkan uangnya ke credit union Rp5 miliar, setor saja Rp500.000,- setiap bulan. Credit union sudah bertekat, ingin melawan ketidakadilan yang terjadi,” kata Sunardi penuh semangat.

Kalau ada credit union yang berani menerima uang hasil korupsi, walaupun hanya Rp500.000,- kata dia, umurnya tidak panjang. Do’a-do’a rakyat Indonesia yang akan menghancurkan perbuatan korup. Tapi bila uang itu sungguh benar dari kebiasaan menabung, jangan takut menerimanya. “Secara bertahap akan dimulai pembatasan menabung, agar credit union tidak dijadikan tempat menumpuk uang orang kaya,” jelasnya.

Melalui lokakarya dan seminar, Sunardi mengajak semua aktivis credit union dalam jaringan BKCU Kalimantan untuk melakukan refleksi, dan kembali menegaskan bahwa kegiatan utama credit union bukan aktivitas transaksi keuangan yang berorientasi profit, tetapi aktivitas pemberdayaan yang memungkinkan anggota credit union membangun diri, membuat impian, dan cita-cita. “Karena parahnya kemiskinan di negara ini, banyak orang tak berani membuat cita-cita. Kami temukan itu di pendidikan dasar credit union. Ketika ditanya, apa citacitamu, pasti banyak yang geleng-geleng, tak berani. Sebenarnya, mau kaya tapi takut,” tutur Sunardi seraya menambahkan, tidak boleh orang credit union sampai tidur di atas uang. Kalau banyak uang, buat aktivitas yang meningkatkan martabat kehidupan dan kualitas manusia Indonesia.

Sunardi merasa senang karena banyak orang yang memahami hal tersebut. Setahun silam, beberapa orang dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur menemuinya kemudian meminta BKCU Kalimantan membantu memotivasi mendirikan credit union. Maka lahirlah Credit Union Semangat Warga. BKCU Kalimantan tidak membuka cabang di Jombang, tetapi yang punya Credit Union Semangat Warga adalah masyarakat Jombang, dan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. BKCU juga tidak membuka cabang di Merauke, tetapi masyarakat Merauke-lah yang punya Credit Union Sinar Papua Selatan.

Credit Union Semangat Warga perkembangannya cukup baik. Dalam usia yang masih sangat belia, dan baru tahun 2014 ini resmi menjadi anggota BKCU Kalimantan, anggotanya sudah lebih dari 1000 orang, dan asetnya telah mencapai Rp 1,3 miliar. Sering terdengar sindiran miring terhadap gerakkan credit union bahwa credit union membawa misi agama tertentu, sebut saja Katolik. Persepsi itu salah. Di credit union ada ustadz, habib, maupun kiai. Ketika memimpin doa pun bergantian, ada Pastor, Pedeta dan Ustadz. Terbukti, warga Pondok Pesantren juga tertarik mendirikan credit union.

“Kami membangun credit union sungguh dengan semangat kebangsaan, dan prularilisme. Credit union bukan hanya untuk orang Dayak, tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegas Sunardi. Kalau dilihat datanya, memang banyak orang Dayak masuk credit union. Mereka masuk, kata dia, karena “dipaksa” untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Sumber dayanya potensial, punya kebun karet, bisa setiap hari menoreh. Tetapi setelah karetnya dijual tidak menabung. “Itu salah. Supaya uangnya aman, masuk credit union. Kami ingin paksa suku bangsa di Indonesia ini mempraktekan credit union. Karena sifat bangsa Indonesia itu sudah nyata. Berhemat adalah ciri khas bangsa Indonesia. Dulu, orang menangkap ikan dapat banyak digrami menjadi ikan asin karena tidak habis dimasak sekaligus. Musim durian, panenannya banyak dijadikan macam-macam makanan. Itu cara berhemat, positif, bisa kita kembangkan. Kerja sama juga begitu,” urainya.

Kata Sunardi, masyarakat credit union kalau disodori pembiayaan-pembiayaan, takut, tidak mampu membayar, takut tidak bisa mengelolanya, takut salah kelola. Karena itu berupaya mandiri. Ada atau tidak ada dana yang dimiliki, tergantung dari partisipasi setiap anggota. Ada pejabat pemerintah mengatakan; “gerakkan credit union itu sombong. Dikasih duit tidak mau.” Gerakkan credit union, kata Sunardi, menyambut baik lahirnya Undang-undang (UU) No 17 tahun 2012. Ini adalah upaya pemerintah untuk melindungi rakyat.

Pasti tidak ada hukum – aturan yang dibuat untuk menyakiti rakyat. Tetapi pelaksanaannya, jangan mengdertakgertak. Yang menggertak bukan Dinas Koperasi, tetapi instansi lain. Credit union di Kalimantan Timur, contohnya, digertak Polda. Mereka dipersalahkan karena tidak melaksanakan UU No 17 tahun 2012. Padahal menurut UU, saat ini masih dalam masa transisi, diberi kesempatan untuk memahami dan melakukan perubahan Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD – ART), baru tahun 2015 semua mengacu ke UU, jika juga peraturan-peraturan pendukung sudah ada.

Ada juga yang digertak-gertak dengan alasan tempat pencucian uang, dengan alasan transaksi mencurigakan, dan sebagainya yang nadanya mengintimidasi credit union. Credit Union Semangat Warga juga dipertanyakan, kenapa baru berdiri uangnya sudah Rp 1,3 miliar? “Oleh karena itu gerakkan credit union, khususnya BKCU Kalimantan siap bermitra dengan pemerintah untuk benar-benar mewujudkan koperasi yang sesungguhnya. Dalam pemahaman kami, koperasi yang sesungguhnya itu, acuannya bukan hanya UU No 17 tahun 2012, tetapi bisa ditarik lebih jauh lagi, yaitu UUD 1945. Gerakkan credit union sangat bersemangat untuk mewujudkan koperasi sejati,” tegas Sunardi penuh semangat. (marjono)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kita Tidak Boleh Menjadikan Credit Union Kuburan

  1. tonny says:

    Salut untuk gagasan dasar CU bagi masyarakat kecil. Pendapat saya: Sudah tepat bahwa lembaga CU menamakan dirinya sebagai lembaga :”Simpan-Pinjam”. Namun dalam sosialisasi dan bahkan pada pelakasanaan praktis kinerja CU lebih mengarah pada nuansa ” Menabung dan Meminjam” bagi anggotanya. kata ‘menabung” inilah yang tidak sesuai dengan semangat dasar CU dengan tujuan mulianya. Menurut saya, menyimpan dan menabung tidak boleh disamakan artinya. Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya ‘menabung’ sepatu di tempatnya, sebaliknya saya ‘menyimpan sepatu di tempatnya. CU seharusnya menggunakan kata ‘menyimpan’ untuk aktivitas keuangannya. Simpanan ‘uang’ saya itu yang akan ‘saya’ atau orang lain(anggota?) di’pinjam’ untuk kelangsungan usaha dan tujuan lain yang berguna. jadi kata ‘Menabung’ lebih cocok diarahkan ke dunia ‘Bank’ yang memiliki tujuan dan motivasi yang berbeda dengan lembaga CU. Mohon komentar…

  2. guntur sulasmana says:

    Saya salut dengan “spirit” yang dianut oleh cu, tetapi dalam prakteknya ada hal yang ingin saya tanyakan. Kok bisa CU mendapat undian hadiah bank? Bukankah ini bentuk mencari keuntungan yang merugikan nasabah individual bank tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *