KKGJ Menjadi Solusi BOS yang Tersendat

DSCN3043
DITILIK dari usianya, Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) memang sudah cukup umur. Didirikan pada tanggal 14 September 1952, di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Kala itu namanya Koperasi Kredit Guru Djakarta Raya (KKDG). Pada perkembangannya berdasarkan Rapat Anggota Khusus tanggal 26 Januari 1991 dan ditetapkan dengan Akte Perubahan Nomor 815b/12-93 tanggal 10 Agustus 1993 koperasi mengalami perubahan penyebutan nama menjadi Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ).

Namanya koperasi, jatuh bangun pasti. Pernah terjadi salah menejemen atau salah urus sehingga tidak mampu melaksanakan RAT. Tahun 1984 diadakan RAT luar biasa minta pertanggungjawaban kepada pengurus yang tidak bisa mengurus koperasi secara baik. Dengan kondisi seperti itu, KKGJ mulai dirintis kembali. Drs H Saprawi MBA. mantan anggota TNI AL yang diperbantukan di Dinas Pendidikan DKI Jakarta, diberi tugas oleh Gubernur Ali Sadikin (Bang Ali) untuk memperbaiki dan menyelesaikan kasus di KKGJ. Setelah semua masalah terselesaikan dengan baik, kepercayaan anggota sedikit demi sedikit muncul lagi.

Kepengurusan H. Saprawi berakhir, digantikan Prof. Dr. H Agustitin Setiabudi. Sejak saat itu Anggaran Dasar (AD) membatasi kepengurusan hanya diperbolehkan dua periode saja. Pengganti professor guru SD itu adalah Drs. Yitno Suyoko, MM, lalu periode perikutnya Drs. Alim Suardi, M.Pd, dan sejak setahun silam ketua KKGJ dipercayakan kepada Drs Jamhuri Androfa, MM.Dari perjalanan panjangnya KKGJ mengalami beberapa periode, yaitu; periode perkebamgan, periode stagnasi, periode kemunduran, periode pemulihan kepercayaan anggota, periode pemantapan, periode pengembangan, dan sekarang dengan aset lebih dari Rp 244 miliar memasuki periode ekspansi usaha.

Sebagai koperasi besar, KKGJ terus berusaha menjaga eksistensinya, disiplin, mematuhi Undang-undang (UU), di antaranya melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tepat waktu. Tahun buku 2014, misalnya, koperasi guru-guru sekolah dasar (SD) itu melaksanakan RAT pada 25 Februari 2015 silam, di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta. Karena jumlah anggota belasan ribu orang, sulit melaksanakan RAT di satu tempat yang bisa dihadiri seluruh anggota. Jalan keluarnya, dan ini telah menjadi tradisi tahunan, agar pertanggungjawaban pengurus dan pengawas bisa dicermati lebih fokus oleh anggota maka dilaksanakan pra RAT di tingkat kecamatan di seluruh wilayah DKI Jakarta pada 11 – 20 Februari 2015. Jumlah peserta pra RAT sebanyak 2.165 orang, merupakan perwakilan KKGJ dari seluruh kecamatan di Provinsi DKI Jakarta, kemudian dipilih lagi sebanyak 176 orang yang merupakan representasi dari 17.600 anggota.

Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus, Ketua KKGJ menjelaskan bahwa kinerja pengurus – manajemen tahun buku 2014 menghasilkan sisa usaha (SHU) cukup signifikan yaitu sebesar Rp 8,840 miliar, atau naik sekitar 3,5% dari tahun buku 2013 silam. Menurut Jamhuri, kenaikan SHU tersebut tidak terlepas dari kerja keras pengurus Komisariat di tingkat kecamatan. Karena KKGJ merupakan koperasi keluarga guru sekolah dasar, khususnya guru pegawai negeri sipil (PNS) Pemprov DKI Jakarta, Jamhuri berharap agar pemerintah, melalui Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta segera mengangkat guru-guru honorer sehingga mereka bisa menjadi anggota KKGJ. Yang masih honorer, belum bisa menjadi anggota KKGJ. Jumlah anggota KKGJ sekitar 5 tahun silam lebih dari 20.000 orang, tetapi kemudian terus berkurang karena banyak yang memasuki masa purna tugas (pesiun). Setiap tahun yang pensiun sekitar 1500 orang. Sedangkan pengangkatan guru baru jumlahnya sangat kecil, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada.

Kecuali simpan pinjam sebagai usaha utama, KKGJ yang kini memiliki aset lebih dari Rp 244 miliar, juga mempunyai kegiatan bisnis lain, yaitu; Unit Perdagangan Umum, Unit P3GSD, Unit Agrobisnis, Unit Depot Air dan Usaha Pendamping, Unit SPBU, Unit Pendidikan, Unit Kolam Renang dan Usaha Pendamping, Unit Gas Elpiji dan Air Galon AMDK. Ketika anggaran Biaya Operasional Pendidikan (BOS) tersendat akibat “terlunta-lunta” pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta tahun 2015, dan banyak guru honorer yang sampai Februari 2015 belum menerima honor, maka KKGJ menjadi solusi. Pengurus menerbitkan produk pinjaman penanggulanang dana talangan BOS. Para Kepala Sekolah dipersilahkan pinjam uang di KKGJ, dengan catatan, setelah BOS turun segera dilunasi.

Melihat masih banyaknya anggota pasif, Jamhuri mengatakan; “Jangan bangga menjadi anggota KKGJ kalau belum pinjam”. Untuk “memaksa” anggota pasif tersebut mau pinjam, pengurus mengulirkan kebijakan khusus – pinjaman spesial bagi anggota yang belum pernah pinjam, dengan menetapkan bunga pinjaman sebesar 0,5%. Sedangkan pinjaman diberikan mulai dari Rp 20 juta sampai Rp 48 juta. Anggota pasif akan mempengaruhi pendapatan usaha koperasi – menurun, karena mereka tidak memberikan kontribusi berupa bunga pinjaman, tetapi menikmati SHU. Dalam upaya memperbesar modal sendiri, telah disepakti adanya kenaikan besaran tabungan wajib dari Rp 100.000,- per bulan menjadi Rp 150.000 per bulan. Dengan demikian setiap bulan akan diperoleh dana segar dari anggota sebesar Rp 2,640 miliar.

Potensi KKGJ sangat bagus. Yang dibutuhkan keberanian anggota memutuskan suatu hal. Misalnya, soal simpanan wajib anggota per bulan. Dengan modal usaha – investasi hanya Rp 150.000 sebulan kapan perusahaan akan bisa berkembang menjadi besar. Bahasa yang harus digunakan, investasi dari gaji untuk usaha di koperasi. Pola pikirnya harus diubah jangan lagi; “gaji saya dipotong untuk koperasi.” Menggunakan istilah investasi akan membawa dampak psikologis.” Dengan adanya remunerasi, tunjungan kerja daerah (TKD) dan gaji bulan, tidak ada lagi guru SD di DKI Jakarta yang membawa pulang uang hanya Rp 5 juta. Paling tidak sekitar Rp 7 juta – Rp 8 juta. Apalagi yang punya jabatan struktural. Tidak terlalu berat jika investasi dinaikkan menjadi Rp 500.000,- per bulan.

Jika anggota KKGJ yang 17.600 orang itu ada keberanian memutuskan untuk meningkatkan investasinya rata-rata Rp 500.000 per bulan dana yang terkumpul paling tidak Rp 8.800 miliar. Jika dikalikan 12 bulan sudah sekitar Rp 105,600 miliar. Suatu potensi yang luar biasa sehingga tidak harus pinjam ke bank. Bila anggota berani memutuskan rata-rata simpanan wajib Rp 500.000 per bulan, maka dalam 3 tahun ke depan (Rp 105,600 miliar X 3 = Rp 316,800 miliar), sudah tidak perlu lagi mencari pinjaman ke pihak ketiga – bank.

Adanya kekhawatiran pengurus atas semakin berkurangnya anggota KKGJ bukan tanpa alasa. Sebagai gambaran, tahun 2015 PNS guru SD di Jakarta yang usianya di atas 50 tahun kurang lebih 73%. Artinya, 10 tahun ke depan mereka sudah harus pensiun, dan mungkin akan terjadi “krisis” guru di DKI Jakarta. Jalan keluar untuk mengerem laju penurunan jumlah anggota sudah dilakukan 4 – 5 tahun silam dengan merubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD – ART). Kalau dulu anggota yang pensiun harus keluar, sekarang boleh tetap menjadi anggota. Alim Suardi contohnya. Walau sudah pensiun tetap jadi anggota, bahkan dipercaya sebagai ketua. Jalan keluar lain, sesuai namanya Koperasi Keluarga Guru, anggotanya bisa saja dari semua keluarga guru, baik isteri – suami dan anak-anak (sebagai anggota luar biasa) bagi yang masih di bawah umur. Membiasakan anak-anak menabung di koperasi, berarti pengkaderan – regenerasi dilakukan dari usia dini sehingga kelak mereka akan mencintai koperasi.

DSCN2984
Pengurus koperasi adalah aktivis. Karena itu harus selalu berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan anggota. Seorang penjaga sekolah, atau tukang kebun sekolah harus mendapat perhatian lebih besar dalam hal kesejateraan. Berarti harus ada upaya paksa untuk dirinya bahwa menabung adalah bagian daripada biaya. Itu memang konsep, dan harus ada kiat, bagaimana agar konsep itu bisa menjadi nyata. Mereka disentuh hatinya bahwa menabung bukan dari sisa uang, tapi sebaliknya, dari penghasilan dikurang menabung baru untuk biaya. “Menabunglah dari kekuranganmu supaya menjadi kelebihan. Kalau menabung dari sisa-sisa, tidak akan ada sisanya.”

Kalau sudah modal sendiri, koperasi tidak pinjam ke pihak ketiga. Koperasi berani menurunkan jasanya di bawah bunga bank. Kalau pinjam ke bank berarti keuntungan koperasi dibagi dengan bank, mensuplai memperbesar keuntungan bank. Berbeda, misalnya, bila berani berinvestasi rata-rata Rp 500.000 per bulan, kita sudah bisa mengatakan selamat tinggal bank. “Semua tergantung anggota, Walau pengurus menjelaskan sampai berbusa-busa jika tidak ada keberanian dari anggota, tidak akan pernah ada perubahan. Terpaksa koperasi banyak utang di bank.

Soal membayar angsuran pinjaman, anggota juga harus disiplin seperti halnya membayar angsuran di bank. Tetapi kenyataannya banyak anggota koperasi bayar angsurannya kurang disiplin. Kalau ada kerja sama dengan bank, soal angsuran juga bisa kerja sama. Di koperasi pegawai ada istilah serangan fajar. Tanggal 1 pagi-pagi ATM dikuras, sehingga bendahara – juru bayar tidak bisa lagi menagih ke bank, sebab gajinya sudah tidak cukup. Namun jika ada kerja sama dengan bank secara baik, bila sudah ada uang gaji masuk ke rekening langsung terblokir sejumlah kewaijban mereka ke koperasi. Dengan demikian tidak ada lagi istilah kredit macet. Kuncinya, berani tidak anggota mengamanatkan kepada pengurus. (my)

 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *