Kokarga, Menuju Kokarga Emas 2017

“Seluruh komponen Kokarga harus bersihbersih dan terus bersemangat, sehingga Kokarga tetap sinergi, bersatu dan tetap eksis dalam kegiatan usaha dan sosial, baik internal lingkungan Garuda Indonesia Grup, maupun eksternal yang pasti untung dan melayani,” tutur Ketua Kokarga, Sopyan Iskandar.

Dengan semangat baru, kata Sopyan, pengurus mengharapkan tetap dalam satu kesatuan utuh, sehingga tetap satu, bergerak dinamis dalam membangun bisnis dan sosial Kokarga ke depan, lebih maju dan modern berbasis IT dan pelayanan. Untuk pembangunan Kokarga yang baru, institusi bisnis ini harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Citra Kokarga yang semakin baik saat ini dapat menjadi modal membiayai proses pendidikan dan membentuk SDM yang kreaktif dan unggul. Dengan begitu Kokarga memiliki SDM yang berkualitas secara bertahap dan berkesinambungan dan berhasil guna sehingga dapat dirasakan karya nyatanya secara merata oleh seluruh karyawan Garuda.

Seluruh jajaran Kokarga diharapkan tetap semangat kreaktif, mendahulukan kewajiban sebagai pelayan dengan produk-produk berkualitas, dan pelayanan prima bagi 8000 anggota Kokarga saat ini. Artinya, para anggota harus terlayani secara baik, cepat, murah dan ramah. Sopyan juga menjelaskan bahwa sampai semester pertama, Juni, tahun buku 2013 Kokarga telah membukukan sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 1,4 miliar atau 42,51% dari target yang ditentukan. “Untuk mencapai target 100% masih harus kerja keras, kerja cerdas, bersinergi dan saling membantu ,” tegasnya.

Disadari, karena kekuatan koperasi di anggota, bukan di modal seperti persero (PT), keterlibatan anggota dalam pengembangan koperasi sangat penting. Sehingga untuk menggapai Kokarga Emas 2017 pengurus mengadakan lomba ide dan kreaktif bagi seluruh anggota. Ide dan gagasan kreaktif itu, kata Sopyan, kelak akan dijadikan program pengurus setelah mendapat persetujuan dari Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Direktur SDM dan Umum Garuda Indonesia, Hariyanto AP, sebagai Pembina Kokarga berpesan kepada pengurus agar Kokarga lebih konsentrasi pada core bisnis sehingga di dalam berbisnis benar-benar tahu di mana yang menjadi kekuatan dan kompotensinya untuk mendapatkan hasil yang optimal. “Jangan tergiur hal-hal yang kelihatannya menarik, tetapi ketika memasuki bisnis tersebut ternyata tidak berhasil. Pengurus, pengawas dan manajemen diharapkan mampu menjaga, bagaimana koperasi ini bis berjalan dengan baik, sesuai harapan dari seluruh anggota,” katanya.

Terkait dengan implementasi Undang-undang (UU) No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian, Hariyanto mengharapkan agar pengurus segera menyiapkan dan mengantisipasi hal-hal yang berkaitan dengan rencana implementasi UU tersebut. Kalau tidak disiapkan dari awal, kata dia, ketika UU itu sudah mulai berjalan tidak bisa cepat beradaptasi. “Beberapa koperasi sudah mulai melakukan perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD – ART), termasuk pola bisnisnya. Kita jangan sampai ketinggalan,” tegasnya.

Inti UU No 17 tahun 2012 yang sangat berbeda dengan UU No 25 tahun 1992, terkait dengan permodalan. Modal koperasi pada UU No 25 terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Sedangkan untuk UU No 17 modal koperasi terdiri dari setoran pokok yang dibayar sekali dan tidak dikembalikan, seperti kita menjadi anggota sebuah organisasi hanya untuk biaya administrasi pengurusan dokumen dan sebagainya. Kemudian sertifikat modal koperasi (SMK), yang bisa dikonversi dari simpanan wajib.

SMK sifatnya permanen, dengan nilai nominal tertentu, misalnya, Rp100.000,- setiap anggota ada kewajiban membeli SMK, dan boleh sebanyak-banyak. Ketika anggota akan ke luar, SMK-nya dijual kepada anggota lain. Apabila anggota lain tidak ada yang membeli, koperasi berkewajiban membeli SMK tersebut menggunakan dana cadangan, karena SMK tidak boleh dijual ke luar. Karena itu modal koperasi ke depan akan sangat kuat karena tidak akan pernah berkurang, bahkan sebaliknya akan terus bertambah. Berbeda dengan PT dimana hak suara ditentukan oleh jumlah saham, sedangkan di koperasi pemilik satu SMK dengan 10 SMK hak suaranya sama.

Kelemahan koperasi selama ini, karena modalnya dari simpanan. Ketika anggota keluar, simpanannya diambil, otomatis modal koperasi berkurang. Dengan sistem SMK, dan koperasi setiap saat boleh menerbitkan SMK baru sesuai kebutuhan, modal koperasi akan bertambah besar, serta membuat koperasi semakin kokoh.

Dalam UU No 17 dijelaskan bahwa usaha koperasi dikelompokan menjadi 4 jenis, yaitu Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Koperasi Produsen, Koperasi Konsumen dan Koperasi Jasa. Khusus KSP hanya boleh melayani anggota, dan tidak boleh berinvestasi di sektor riil. Sedangkan Koperasi Jasa, boleh melayani non anggota. Yang terpenting dicantumkan dalam AD – ART tentang jenis koperasinya. (yuni)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Kokarga, Menuju Kokarga Emas 2017

  1. agus salim says:

    kami atas nama Management BO BDJ0 sudah pesah sepeda 4 set email ke ical@kokarga.com sampai saat ini tidak ada konfirasi.

    sedangkan event yg kami buat sudah dekat yaitu 28feb15, kami harap segenap pengurus kokarga untuk segera merespon email tersebut.

    invoice atas 4 buah sepeda tersebut di tujukan ke bdjaaga dgn email nur.asih@garuda-indonesia.com / salim@garuda-indonesia.com

    kami tunggu kiriman sepeda pada kesempatan pertama, terima kasih atas kerjasamanya.

    brgds.

    a. salim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *