Kopdit Pintu Air : Ingin Menghapus Stigma NTT Provinsi Miskin

Provinsial SVD Ende Pater Dr. Leo Kleden, SVDProvinsial SVD Ende Pater Dr. Leo Kleden, SVD menyerukan seluruh elemen masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) harus berani menghapus stigmanisasi (cap umum) yang mendiskriditkan NTT sebagai Provinsi miskin. Seruan moral Pater Leo itu disampaikan dalam homilinya ketika memimpin Perayaan Ekaristi Syukur Agung pada rapat anggota tahunan (RAT) ke XX Koperasi Kredirt (Kopdit) Pintu Air, bertempat di Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, 27 Februari 2016).

Perayaan Ekaristi yang dihadiri 1000 anggota Kopdit Pintu Air mengusung tema: Dengan Mata Si Lumpuh Si Buta Bisa Melihat dan Dengan Kaki Si Buta Si Lumpuh Bisa Berjalan. Menelisik tema tersebut Pater Leo mengakui Provinsi NTT kaya dengan sumber daya alam namun Pemerintah seolah buta mata sehingga stigma NTT Provinsi miskin. Sesungguhnya orang yang buta fisik tetapi tidak buta imannya, karena itu dia selalu bekerja sama dengan si lumpuh untuk saling menolong demi suatu tujuan.

Menurut Pater Leo jika dilihat dari sejarah dan perjuangan Kopdit Pintu Air dalam memberdayakan masyarakat terpinggirkan seperti; nelayan, petani, peternak dan buruh (NTT-B) merupakan suatu upaya mulia untuk menolong sesama keluar dari lingkaran setan kemiskinan dengan kerja keras, kerja sama, dan kerja cerdas dalam berbagai bidang kehidupan teristimewa bidang ekonomi kerakyatan.

Untuk mencapai perjuangan tersebut dibutuhkan seorang pemimpin yang jujur dan punya hati bagi sesama. “Saya percaya Kopdit Pintu Air akan sukses karena berhasil membantu sesama untuk keluar dari kemiskinan dengan kerja keras dan hidup hemat. Semuanya terlaksana jika kita punya pemimpin yang jujur dan punya hati untuk sesama, bekerja jujur akan berhasil” kata Dosen FTFK Ledalero itu.

Mantan Bupati Sikka, Drs. Alexander Longginus dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya kejujuran dan disiplin dalam berkoperasi. Setiap anggota yang pinjam harus tertip membayar angsuran. Bartholomeus Leksi dari Puskopdit Swadaya Utama menegaskan pentingnya kekompakan dan kebersamaan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah keharusan agar mampu berkerja profesional demi tercapainya penghapusan kemiskinan.

Ketua Kopdit Pintu Air Yakobus Jano menjelaskan, pertumbuhan Kopdit Pintu Air cukup pesat berkat kemauan keras dari semua anggota untuk maju. Motivasinya, supaya tidak dicap sebagai orang miskin. Caranya, gemar menabung meski uangnya recehan. “Kopdit Pintu Air bukan mencari orang kaya, melainkan orang kecil yang rela dan setia mengumpulkan recehan, lalu menyimpannya di Kopdit Pintu Air untuk diberdayakan dalam usaha ekonomi kerakyatan,” kata Yakobus, seraya meminta kepada pengurus, pengawas dan manajemen untuk bekerja serius memajukan Kopdit Pintu Air, sehingga stigma NTT sebagai provinsi miskin bisa terhapuskan. “Hanya dengan kerja keras, dan pantang menyerah cita-cita itu bisa dicapai,” tegasnya. Kopdit, kata dia, harus mau menuntun orang buta dan lumpuh agar keluar dari kemiskinan dengan cara berpikir dan bekerja untuk menghasilkan uang supaya bisa beli makanan, dan menabung di Kopdit Pintu Air untuk hari depan.

***

Memberdayakan anggota Kopdit Pintu Air adalah upaya menghapus stigma tak nyaman didengar telinga, yaitu masyarakat miskin. Pemberdayaan anggota yang kini sedang digalakan adalah usaha penggemukan babi. Seekor babi anakan yang digemukan dengan baik, dalam kurun waktu 4 bulan (120 hari) beratnya bisa mencapai 100 Kg. Usaha produktif, ternak babi ini untuk menjawab kebutuhan anggota yang setiap tahun terus meningkat.

Wakil Ketua Bidang Perkreditan Robertus Belarminus menjelaskan, usaha penggemukan babi dengan pendampingan dari Kopdit Pintu Air itu untuk mengarahkan anggota dari cara beternak tradisional ke cara beternak modern dan profesional. Berternak babi, bagi masyarakat NTT sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada umumnya, ternak babi secara tradisional tidak memperhitungkan untung rugi. Apalagi analisa usaha, hal yang dianggap tidak penting. Masyarakat memelihara babi hanya sebagai hobi dan tradisi. Meski waktunya lama, dan biayanya besar, mereka seakan tidak peduli. Mencermati kondisi tersebut, sesuai misinya, memberdayakan yang miskin dan tertinggal, maka Kopdit Pintu Air mendorong dan melakukan pendampingan kepada para peternak tradisional, agar berubah pola pikirnya menjadi peternak modern. Saat ini Kopdit Pintu Air telah mendampingi beberapa kelompok peternak babi. Setiap anggota kelompok, berhasil menggemukkan 3 – 5 ekor babi, dan siap dijual dalam waktu pelihara 120 hari atau 4 bulan.

Salah seorang anggota kelompok ternak, Mama Mika Ela, yang tinggal di Rt 02 -Rw 002, Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, mengakui bahwa usaha ternak babi dengan cara penggemukkan yang diajarkan Kopdit Pintu Air hasilnya pasti. Hal itu dimungkinkan karena semua direncanakan secara baik. Saat ini Mama Mika Ela memiliki 5 ekor babi. Meski usianya baru 3 bulan, karena kondisi sangat sehat dan gemuk dengan, beratnya rata-rata 45-60 Kg per ekor. “Saya merasakan cara menggemukkan babi yang diajarkan Kopdit Pintu Air luar biasa. Jauh jika bandingkan dengan cara saya. Dulu, pelihara seekor babi hampir 2 tahun tidak gemuk, dan banyak biaya yang dikeluarkan untuk pakan. Karena sudah terbukti, saya mengajak anggota untuk tidak ragu-ragu memelihara babi yang dianjurkan Kopdit Pintu Air ini.” Ajak Mama Mika Ela.

Sebagai pedoman untuk penggemukan babi yang sehat, sehingga mencapai berat 100 Kg dalam 120 hari, harus memperhatikan beberapa hal penting, antara lain; Kandang, termasuk tempat pakan dan air minum mutlak diperlukan. Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal dan istirahat babi. Kandang yang baik, tak harus dikbuat dari bahan-bahan yang harganya mahal. Menggunakan bahan lokal, seperti bambu untuk dinding dan atap kandang dapat mengurangi biaya.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, kandang hendaknya memenuhi beberapa persyaratan; (a) Kandang dibangun sesuai jumlah babi yang dipelihara, per ekor butuh ruang sekitar 0,85 m2. (b) Lantai disarankan terbuat dari semen dengan permukaan kasar. (c) Kandang baru, sebaiknya digunakan 3 minggu setelah dibangun, agar lantai kandang sudah keras dan terhindar dari congkelan babi. (d) Lantai kandang dibuat agak miring supaya air mudah mengalir, sehingga kondisi kandang tetap kering. Kandang yang basah kurang sehat, bisa menimbulkan penyakit. (e) Cukup memperoleh cahaya matahari, sirkulasi udadara baik, sehingga kandang terjaga tetap kering dan bersih. (f) Drainase di dalam atau di luar kandang harus baik. (g) Di dalam satu kandang, babi harus sejenis dan seumur. (h) Harus ada tempat pembuangan limbah – kotoran agar babi terhindar dari penyakit. (i) Contoh kandang ukuran 3 m x 2,5 m untuk ditempati 3 sampai 5 ekor babi.

Babi juga membutuhkan nutrisi – gizi untuk bisa cepat besar, sehat, bertenaga, bergerak dan terhindar dari penyakit, sehingga bisa dipotong tepat waktu. Maka pakan yang dibutuhkan, nutrisi – gizi yang mengandung karbohidrat, protein, mineral, vitamin yang cukup dan lengkap. Contoh pakan jadi, yang di jual di toko-toko saprotan

bagan 2

Ketersediaan air yang berfungsi menjaga suhu badan dan setamina, membawa zat makanan dan mengeluarkan bahan-bahan yang tidak berguna, harus tersedia dikandang agar babi tidak kekurangan air. Babi tergolong ternak yang cukup tahan terhadap penyakit. Apabila diberikan pakan yang bernutrisi – kaya gizi, kebersihan kandang, ketersediaan air minum, pemberian obat cacing secara berkala merupakan cara pencegahan yang baik. Motto “Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, sesendok pencegahan lebih baik daripada seember pengobatan.” Serangan penyakit bisa menimbulkan masalah berkepanjangan, seperti menghambat pertumbuhan dan kematian sehingga merugikan petani.

Pemeriksaan fisik babi dan pengobatan: (1) Dilakukan satu per satu, secara seksama, hati-hati, rutin setiap hari. Pencatatan dan saran oleh dokter hewan harus diperhatikan dengan baik. Sehingga penyuntikan babi bisa dilakukan sendiri oleh peternak atau karyawan. (2) Jika babi sakit lebih dari 50% populasi, hendaknya di obati sesuai anjuran dokter hewan – petugas melalui air minum. (3) Evaluasi dan monitor setiap ekor babi yang sakit harus dilakukan setiap hari. (4) Pisahkan babi yang sakit ke kandang karantina dan berikan pengobatan secara khusus.

Bagi anggota Kopdit Pintu Air yang berkomitmen meningkatkan usaha ekonomi produktifnya melalui ternak babi, maka Kopdit Pintu Air menyiapkan dana pinjaman non saham untuk mendukung usaha anggota. Komponen biaya yang harus diperhitungkan adalah: anakan babi, pakan, kesehatan babi, administrasi kredit dan jasa pinjaman untuk 4 bulan (120 hari). Anggota kelompok ternak diberi anakan babi antara 3 – 5 ekor.

Contoh sederhana, misal, 3 ekor dengan berat 33 Kg, maka biaya yang dikeluarkan adalah harga babi 33 kg x @ Rp.100.000,- = Rp.3.300.000,- Pakan ada 2 jenis Starter 1 ekor 1 karung untuk usia 1 – 2 bulan dengan harga Rp.450.000,- karung, total  3 x Rp.450.000,- = Rp.1.350.000,- Grower untuk usia 2 bulan, 1 ekor membutuhkan 3 karung pakan dengan harga Rp.350.000,- per karung, 3 ekor x 3 karung = 9 x Rp.350.000,-  = Rp.3.150.000,- untuk 4 bulan.

Administrasi dihitung 1% dari total pinjaman, jasa pinjaman 2% juga dihitung dari total pinjaman. Jasa pinjaman untuk 4 bulan keduanya dipotong pada saat pencairan dana pinjaman bersamaan dengan perhitungan biaya pembelian anakan babi dan pakan. Biaya kesehatan per ekor Rp.150.000,- (3 ekor = 3 x Rp.150.000,-) = Rp.450.000, juga dipotong langsung pada saat pencairan.

Apabila dana pinjaman setelah diperhitungkan dengan komponen pembiayaan masih punya kelebihan akan disimpan sebagai dana cadangan, dan bisa gunakan  untuk pembelian tambahan pakan setelah usia 4 bulan andai belum terjual atau digunakan untuk modal tambahan pengembangan usaha berikutnya. Jika 3 ekor babi dijual dengan harga Rp.4.000.000,- per ekor, maka total Rp.12.000.000. Andai besar pinjaman Rp.9.500.000 maka keuntungan yang diperoleh dalam kurun waktu 120 hari atau 4 bulan pelihara babi = Rp.12.000.000,- – Rp.9.500.000,- = Rp.2.500.000,- ini keuntungan bersih seorang peternak.

***

Ketua Kopdit Pintu Air Bapak Yakobus Jano ketika menerima Penghargaan di Semarang, Jawa TengahBerpijak pada Iman yang kokoh, dan harapan yang teguh dengan Cinta Kasih sebagai hukum tertinggi, suatu hari tepatnya 1 April 1995, di bawah rimbunan pohon kakao, Yakobus Jano, putera Dusun Rotat, mengajak sekitar 50-an saudara warga Desa Ladogahar, bicara bersama (kula babong). Meskipun beratapkan rimbunan kakao, dan beralaskan seadanya, mereka mengukir sejarah hebat. Seperti air mengalir dari Dusun Rotat untuk dunia. Luar biasa, mata air Wair Pu’ang yang mengalir dari ketinggian Dusun Rotat, mengalir sampai jauh ke lembah Flobamorata, bahkan menjadi incaran dunia untuk datang belajar dan studi banding di Dusun Rotat.

Berkat ilmu manajemen, dan pengalaman sebagai seorang karyawan bank terbesar, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dari diskusi di bawah pohon kakao itulah lahir Kopdit Pintu Air. Diilhami sumber mata air Wair Pu’ang, menjadi pintu untuk menyejukan dahaga orang seantero Kota Maumere, maka sempurnalah perpaduan nama Kopdit Pintu Air.

Fakta sejarah membuktikan, sejak terbentuk 1 April 1995, sumber air dari ketinggian Dusun Rotat memberikan kelimpahan kepada sesama warga seantero Flobamorata, sehingga benar Kopdit Pintu Air ada di mana-mana. Dan di mana-mana ada Kopdit Pintu Air yang beranggota orang-orang kecil, kaum nelayan, petani, peternak dan buruh (NTT-B). Kopdit Pintu Air punya semboyan; “kau susah aku bantu, aku susah kau bantu”. Semboyan ini melahirkan revolusi mental para anggota sebagai pemilik yang tersebar di 27 cabang.

Yakobus menjelaskan semangat kebersamaan 50 anggota perdana lahir dari rahim penderitaan dan kemiskinan. Usaha dan perjuangan telah membawa berkat bagi sesama Seantero Flobamorata. Dan kini, berkat sumber mata air Dusun Rotat, sebuah dusun terpencil, menjadikan Kopdit Pintu Air berkiprah di tengah pusaran global dan siap hidup 1000 tahun lagi. Karena Kopdit Pintu Air adalah koperasi yang sehat, dan aman. Juga siap menghadapi era global, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sekertaris Kopdit Pintu Air Martonsius Juang mengatakan; menghadapi era MEA Kopdit Pintu Air melakukan terobosan usaha membuka Toko Serba Ada (Toserba) berlantai 3 di jantung Kota Maumere. Selain itu membuka Kantor Cabang di beberapa Propinsi di Indonesia, meningkatkan SDM pengurus, meningkatkan kualitas pelayanan, membangun kemitraan dan jejaring kerja memperkuat organisasi dan pelbagai terobosan produktif lainnya.

Target kinerja keuangan Kopdit Pintu Air tahun buku 2015 tercatat.

bagan 1

Kepada wartawan, Yakobus mengatakan; salah satu program utama tahun 2016 adalah memprioritaskan pemberdayaan ekonomi kaum marjinal. Diakui tekad untuk memberdayakan kaum NTT-B bukan sekedar ucapan pemanis mulut melainkan suatu langkah yang menjadi komitmen seluruh elemen koperasi. Untuk itu, tema yang diusung dalam RAT ke XX adalah Dengan Semangat RAT XX Kopdit Pintu Air Siap Meningkatkan Warausahawan Baru Bagi Kaum Nelayan, Tani, Ternak dan Buruh (NTT-B) untuk Membangun Masyarakat Indonesia Sejahtera Jasmani dan Rohani.

Yakobus mengemukakan dalam upaya memberdayakan kaum marjinal, Kopdit Pintu Air siap mengucurkan pinjaman bagi anggota, yang notabene sebagian besar berasal dari kaum NTT-B. “Koperasi ini merupakan kumpulan orang-orang kecil, kaum NTT-B. Kami siap memberikan kucuran dana untuk membuka usaha baru bagi kelompok ini” tegasnya. (Agus Nong)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *